Kategori: Lingkungan

  • D.0149 Termoregulasi Tidak Efektif.

    D.0149 Termoregulasi Tidak Efektif.

    Loading

    Loading

    D.0149 Termoregulasi Tidak Efektif

    Definisi : kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.

    Penyebab :

    1. stimulasi pusat termoregulasi hipotalamus.
    2.  fluktuasi suhu lingkungan.
    3. Proses penyakit misal infeksi.
    4. Proses Penuaan.
    5. Dehidrasi.
    6. Ketidak sesuaian pakaian untuk suhu lingkungan.
    7. Peningkatan kebutuhan oksigen.
    8. Perubahan laju metabolisme.
    9. Suhu lingkungan ekstrim.
    10. Ketidakadekuatan suplai lemak subkutan.
    11. Berat badan ekstrem.
    12. Efek agen farmalogis (mis. sedasi).

     

    Gejala dan Tanda Mayor :

    • Subjektif : (tidak tersedia)
    • Objektif :
      • 1.kulit dingin/hangat.
      • 2.Menggigil.
      • 3.Suhu tubuh flukuatif.

     

    Gejala dan Tanda Minor :

    • Subjektif : (tidak tersedia)
    • Objektif :
      • 1.Piolereksi.
      • 2.Pengisian kapiler >3 detik.
      • 3. Tekanan darah meningkat.
      • 4.Pucat.
      • 5.Frekuensi nafas meningkat.
      • 6.Takikardia.
      • 7.Kejang.
      • 8.Kulit kemerahan.
      • 9.Dasar kuku sianotik.

     

    Kondisi Klinis Terkait :

    1. Cedera medula spinalis.
    2. Infeksi/spesis.
    3. Pembedahan.
    4. Cedera otak akut.
    5. Trauma.

    Tautan SDKI – SIKI

    Intervensi Utama :

    • Edukasi pengukuran suhu tubuh.
    • Edukasi Termogoregulasi.

     

    Intervensi Pendukung :

    • Edukasi Aktivitas / Istirahat.
    • Edukasi Berat Badan Efektif.
    • Edukasi Dehidrasi.
    • Edukasi Diet.
    • Edukasi Terapi Cairan
    • Kompres Dingin
    • Kompres Panas
    • Manajemen Cairan
    • Manajemen Lingkungan
    • Pencegahan Hipertemia Maligna
    • Perawatan Bayi
    • Promosi Teknik Kulit ke kulit
    • Kompros Dengin
    • Kompress tanggal.
    • Regulasi Temperatur.

     

     


    sumber :  



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0149 Termoregulasi Tidak Efektif

    Definisi

    Fluktuasi suhu tubuh di luar rentang normal akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengatur suhu secara efektif.


    Penyebab

    1. Gangguan hipotalamus — Kerusakan pada pengatur suhu pusat akibat cedera, tumor, atau infeksi.
    2. Penurunan metabolisme — Gangguan metabolik menurunkan kemampuan tubuh menghasilkan atau melepaskan panas.
    3. Paparan suhu ekstrem — Paparan terhadap suhu sangat panas atau sangat dingin dalam waktu lama.
    4. Efek agen farmakologis — Obat-obatan tertentu mengganggu mekanisme termoregulasi.
    5. Proses penuaan — Penurunan fungsi termoregulasi pada lansia.
    6. Penyakit sistemik — Gangguan thyroid, infeksi, atau gangguan autoimun yang mempengaruhi pengaturan suhu.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Demam — Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal (> 37,5°C).
    2. Hipotermia — Suhu tubuh turun di bawah rentang normal (< 35°C).
    3. Menggigil — Respons tubuh untuk meningkatkan produksi panas melalui kontraksi otot.
    4. Berkeringat berlebihan — Respons tubuh untuk melepaskan panas melalui evaporasi.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Suhu Inti Tubuh — Suhu inti tubuh kembali dan tetap dalam rentang normal (36–37,5°C).

    Luaran Tambahan:

    1. Kenyamanan Termal — Pasien merasa nyaman secara termal tanpa menggigil atau berkeringat berlebihan.
    2. Pengetahuan — Pasien/keluarga memahami cara menjaga stabilitas suhu tubuh.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Termoregulasi Tidak Efektif

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Termoregulasi — Mengatur lingkungan dan menggunakan pakaian/selimut yang sesuai untuk mempertahankan suhu tubuh tetap stabil.

    Intervensi Pendukung:

    • Pengelolaan Lingkungan — Mengatur suhu ruangan agar tetap nyaman dan stabil bagi pasien.
    • Pemantauan Suhu Tubuh — Memantau suhu inti tubuh secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas intervensi.
    • Edukasi Termoregulasi — Memberikan edukasi tentang tanda-tanda ketidakseimbangan suhu tubuh dan cara mengatasinya.
    • Pemantauan Status Klinis — Memantau tanda vital dan gejala yang berkaitan dengan perubahan suhu tubuh.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0148 Risiko Termoregulasi Tidak Efektif.

    D.0148 Risiko Termoregulasi Tidak Efektif.

    Loading

    Loading

    D.0148 Risiko Termoregulasi Tidak Efektif

    Definisi :

    Berisiko mengalami kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.

     

    Faktor Resiko

    • 1. cedera otak akut.
    • 2. dehidrasi.
    • 3. pakaian yang tidak sesuai untuk suhu lingkungan.
    • 4. peningkatan area permukaan tubuh tehrhadap rasio berat badan
    • 5. Kebutuhan oksigen meningkat
    • 6. Perubahan laju metabolisme
    • 7. Proses penyakit (mis.infeksi).
    • 8. Suhu lingkungan ekstrim.
    • 9. Suplai lemak subkutan tidak memadai.
    • 10. Proses penuaan.
    • 11. Berat badan ekstrim.
    • 12. Efek agen farmaksologis (mis.sedasi).

     

    Kondisi Klinis Terkait

    • 1.Cedera otak akut.
    • 2.dehidrasi.
    • 3.trauma.

     

     


    sumber :  

    .



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0148 Risiko Termoregulasi Tidak Efektif

    Definisi

    Berisiko mengalami fluktuasi suhu tubuh di luar rentang normal akibat ketidakmampuan tubuh dalam mengatur suhu secara efektif.


    Faktor Risiko

    1. Usia ekstrem — Bayi dan lansia memiliki mekanisme termoregulasi yang belum atau sudah tidak optimal.
    2. Penurunan metabolisme — Gangguan metabolik menurunkan kemampuan tubuh menghasilkan atau melepaskan panas.
    3. Gangguan hipotalamus — Kerusakan atau gangguan pada pengatur suhu pusat.
    4. Paparan suhu ekstrem — Paparan terhadap suhu sangat panas atau sangat dingin.
    5. Obat-obatan tertentu — Agen farmakologis tertentu mengganggu mekanisme termoregulasi.
    6. Penyakit sistemik — Gangguan thyroid, infeksi, atau gangguan autoimun.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Fluktuasi suhu tubuh — Suhu tubuh berubah-ubah di luar rentang normal (demam atau hipotermia).
    2. Menggigil atau berkeringat berlebihan — Respons tubuh terhadap perubahan suhu yang tidak efektif.
    3. Perubahan laju metabolisme — Peningkatan atau penurunan laju metabolisme yang tidak sesuai.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Suhu Inti Tubuh — Suhu inti tubuh tetap dalam rentang normal (36–37,5°C).

    Luaran Tambahan:

    1. Proteksi — Tubuh terlindungi dari fluktuasi suhu yang ekstrem.
    2. Pengetahuan — Pasien/keluarga memahami cara menjaga stabilitas suhu tubuh.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Termoregulasi Tidak Efektif

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Termoregulasi — Mempertahankan suhu tubuh tetap stabil dengan mengatur lingkungan dan menggunakan selimut atau pakaian yang sesuai.

    Intervensi Pendukung:

    • Manajemen Lingkungan — Mengatur suhu ruangan agar tetap nyaman dan stabil.
    • Pemantauan Suhu Tubuh — Memantau suhu inti tubuh secara berkala untuk mendeteksi perubahan dini.
    • Edukasi Termoregulasi — Memberikan edukasi tentang cara menjaga stabilitas suhu tubuh.
    • Pemantauan Status Klinis — Memantau tanda vital dan gejala yang berkaitan dengan termoregulasi.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0147 Risiko Perlambatan Pemulihan Pasca bedah

    Loading

     

    D.0147 Risiko Perlambatan Pemulihan Pasca bedah

    Definisi :

    Beresiko mengalami pemanjangan jumlah hari pascabedah untuk memulai dan melakukan aktivitas sehari-hari

    Faktor resiko

    1.  Skor klasifikasi status fisik American Soiciety of  Anesthesiologists (ASA) >3

    2.  Hiperglikimia

    3.  Ederma dilokasi pembedahan

    4.  Prosedur pembedahan ekstensif (luas)

    5.  Usia ekstrim

    6,  Riwayat perlambatan penyembuhan luka

    7.  Gangguan mobilitas

    8.  Mainutrisi

    9.  obesitas

    10. Infeksi luka perioperatif

    11. Mual/muntah persisten

    12. Respon emosional pasca operasi

    13. Pemanjangan proses operasi

    14. Gangguan psikologis pasca operasi

    15. Kontaminasi bedah

    16. trauma luka operasi

    17. Efek agen farmkologis

    Kondisi klinis Terkait

    1.   Tindakan operasi besar

    2 .  Trauma yang memerlukan intervensi bedah


    sumber :

     



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

     

    D.0147 Risiko Perlambatan Pemulihan Pasca bedah

    Definisi

    Berisiko mengalami pemanjangan jumlah hari pascabedah untuk memulai dan melakukan aktivitas sehari-hari.


    Faktor Risiko

    1. Usia ekstrem — Bayi dan lansia memiliki waktu pemulihan lebih lama setelah operasi.
    2. Malnutrisi — Kekurangan nutrisi mengganggu proses penyembuhan luka dan pemulihan.
    3. Obesitas — Berat badan berlebih meningkatkan risiko komplikasi pasca bedah.
    4. Prosedur pembedahan ekstensif — Operasi berat dan luas membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.
    5. Gangguan mobilitas — Keterbatasan gerak pasca bedah memperlambat aktivitas sehari-hari.
    6. Diabetes mellitus — Hiperglikemia mengganggu proses penyembuhan luka.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Peningkatan waktu rawat inap — Durasi perawatan di rumah sakit lebih lama dari yang diharapkan.
    2. Kelelahan — Rasa lelah yang berkepanjangan setelah prosedur bedah.
    3. Penurunan motivasi — Ketidakmampuan atau ketidakberanian untuk melakukan aktivitas pasca bedah.
    4. Ketergantungan orang lain — Membutuhkan bantuan orang lain untuk aktivitas sehari-hari.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Proteksi — Pasien memulihkan fungsi dan aktivitas sehari-hari dalam waktu yang sesuai.

    Luaran Tambahan:

    1. Status Nutrisi — Status nutrisi pasien adekuat untuk mendukung proses pemulihan.
    2. Nyeri — Nyeri terkontrol sehingga tidak mengganggu mobilisasi.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Perlambatan Pemulihan Pasca bedah

    Intervensi Utama:

    • Pengelolaan Risiko Perlambatan Pemulihan — Mengidentifikasi faktor risiko dan menerapkan intervensi pencegahan yang sesuai.

    Intervensi Pendukung:

    • Edukasi Mobilisasi Dini — Memberikan edukasi tentang pentingnya mobilisasi dini setelah operasi.
    • Manajemen Nutrisi — Memastikan asupan nutrisi adekuat untuk mendukung penyembuhan.
    • Pengelolaan Nyeri — Memberikan intervensi pengurangan nyeri agar pasien dapat melakukan aktivitas dengan nyaman.
    • Pemantauan Status Klinis — Memantau tanda vital, status luka, dan kemajuan pemulihan secara berkala.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0146 Risiko Perilaku Kekerasan

    Loading

    Loading

     

    D.0146 Risiko Perilaku Kekerasan

    Definisi :
    Berisiko membahayakan secara fisik, emosi dan / atau seksual pada diri sendiri atau orang lain.

    Faktor Risiko :

    1. Pemikiran waham/delusi.
    2. Curiga pada orang lain.
    3. Halusinasi.
    4. Berencana bunuh diri.
    5. Disfungsi sistem keluarga.
    6. Kerusakan kognitif.
    7. Disorientasi atau konfusi.
    8. Kerusakan kognitif.
    9. Persepsi pada lingkungan tidak akurat.
    10. Alam perasaan depresi.
    11. Riwayat kekerasan pada hewan.
    12. Kelainan neurologis.
    13. Lingkungan tidak teratur.
    14. Penganiayaan atau pengabaian anak.
    15. Riwayat atau ancaman kekerasan terhadap diri sendiri atau orang lain atau destruksi properti orang lain.
    16. Impulsif.

     

    Kondisi Klinis Terkait :

    1. Penganiayaan fisik, psikologis atau seksual.
    2. Sindrom otak organik (mis. penyakit Alzheimer).
    3. Gangguan perilaku.
    4. Oppositional defiant disorder.
    5. Depresi.
    6. Serangan panik.
    7. Gangguan Tourette.
    8. Delirium.
    9. Demensia.
    10. Gangguan Amnestik.
    11. Halusinasi.
    12. Upaya bunuh diri.
    13. Abnormalitas neurotransmitter otak.

     

     

     


    sumber :



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0146 Risiko Perilaku Kekerasan

    Definisi

    Berisiko mengalami kemarahan yang diekspresikan secara berlebihan dan tidak terkendali secara verbal sampai dengan mencederai orang lain dan/atau merusak lingkungan.


    Faktor Risiko

    1. Gangguan jiwa — Skizofrenia, gangguan bipolar, atau gangguan kepribadian tertentu.
    2. Penyalahgunaan zat/alkohol — Pengaruh zat terlarang atau alkohol meningkatkan perilaku agresif.
    3. Riwayat kekerasan sebelumnya — Pernah melakukan atau menjadi korban kekerasan.
    4. Stres berat — Tekanan emosional atau situasional yang ekstrem.
    5. Gangguan impulsivitas — Ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah.
    6. Lingkungan yang tidak mendukung — Kekerasan di rumah atau komunitas.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Ekspresi marah verbal — Mengancam, memaki, atau berbicara dengan nada kasar.
    2. Agitasi motorik — Gerakan gelisah, mengepalkan tangan, atau menendang benda.
    3. Ekspresi wajah marah — Mimik wajah menunjukkan kemarahan yang intens.
    4. Riwayat kekerasan — Pernah melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain atau benda.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Perilaku — Pasien tidak menunjukkan perilaku kekerasan terhadap orang lain atau lingkungan.

    Luaran Tambahan:

    1. Kesejahteraan Emosional — Pasien mengalami penurunan intensitas kemarahan.
    2. Interaksi Sosial — Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain tanpa kekerasan.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Perilaku Kekerasan

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Risiko Perilaku Kekerasan — Mengidentifikasi pemicu kemarahan dan menerapkan intervensi deeskalasi.

    Intervensi Pendukung:

    • Edukasi Pengendalian Impuls — Memberikan edukasi tentang cara mengenali tanda-tanda awal kemarahan dan strategi pengendalian diri.
    • Pengelolaan Lingkungan — Mengurangi stimulus yang dapat memicu perilaku kekerasan.
    • Promosi Dukungan Keluarga — Melibatkan keluarga dalam proses pengendalian perilaku kekerasan.
    • Pemantauan Perilaku — Memantau dan mendokumentasikan episode perilaku kekerasan serta pemicunya.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0145 Risiko Mutilasi Diri

    Loading

    Loading

     

    D.0145 Risiko Mutilasi Diri

    Definisi :
    Berisiko sengaja mencenderai diri yang menyebabkan kerusakan fisi untuk memperoleh pemulihan ketegangan.

    Faktor Resiko

    1. Perkembangan remaja
    2. Individu autistik
    3. Gangguan kepribadian
    4. Penyakit keturunan
    5. Penganiayaan (mis. fisik, psikologis, seksual)
    6. Gangguan hubungan interpersonal
    7. Perceraian keluarga
    8. Keterlambatan perkembangan
    9. Riwayat perilaku mencederai diri
    10. Ancaman kehilangan hubungan yang bermakna
    11. Ketidakmampuan mengungkapkan ketegangan secara verbal
    12. Ketidakmampuan mengatasi masalah
    13. Harga diri rendah
    14. Peningkatan keteganganyang tidak dapat ditoleransi

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Gangguan kepribadian
    2. Gangguan mental organik
    3. Autisme
    4. Skizofrenia
    5. Depresi mayor
    6. Dissociative Identify Disorder (DID)
    7. Masokisme seksual
    8. Gangguan afektif atau mania
    9. Riwayat penganiayaan

     


    sumber :

    .



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0145 Risiko Mutilasi Diri

    Definisi

    Berisiko mengalami cedera fisik yang mengakibatkan kehilangan atau kerusakan bagian tubuh secara permanen.


    Faktor Risiko

    1. Gangguan jiwa berat — Skizofrenia, gangguan kepribadian, atau gangguan jiwa berat lainnya.
    2. Gangguan impulsivitas — Ketidakmampuan mengendalikan dorongan untuk melakukan tindakan berbahaya.
    3. Penyalahgunaan zat — Pengaruh narkoba atau alkohol meningkatkan perilaku berisiko.
    4. Keterbelakangan mental — Keterbatasan kemampuan kognitif mengganggu penilaian bahaya.
    5. Riwayat perilaku menyakiti diri — Pernah melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri.
    6. Stres berat &#8212 Tekanan emosional yang ekstrem mendorong perilaku destruktif.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Ekspresi keinginan menyakiti diri — Mengungkapkan keinginan untuk melakukan tindakan berbahaya terhadap tubuh.
    2. Perilaku mencari bahaya — Sengaja mendekati objek atau situasi berbahaya.
    3. Cedera sebelumnya — Pernah mengalami cedera akibat perilaku menyakiti diri.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Keamanan — Pasien terhindar dari tindakan yang menyebabkan cedera permanen pada tubuh.

    Luaran Tambahan:

    1. Perilaku Pelindung — Pasien mampu mengenali dan menghindari situasi berbahaya.
    2. Kesejahteraan Emosional — Pasien mengalami penurunan impulsivitas dan dorongan destruktif.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Mutilasi Diri

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Risiko Mutilasi Diri — Mengidentifikasi faktor risiko dan menyediakan lingkungan yang aman bagi pasien.

    Intervensi Pendukung:

    • Pengawasan Keamanan — Memantau pasien secara ketat dan memastikan tidak ada benda berbahaya dijangkau.
    • Pembentukan Hubungan Terapeutik — Membangun kepercayaan dan komunikasi terbuka dengan pasien.
    • Edukasi Koping — Mengajarkan strategi koping sehat dan teknik pengelolaan impuls.
    • Promosi Dukungan Keluarga — Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan dan pengawasan.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0144 Risiko Luka Tekan

    Loading

    Loading

    D.0144 Risiko Luka Tekan

    Definisi :
    Berisiko mengalami cedera lokal pada kulit dan / atau jaringan, biasanya pada tonjolan tulang akibat tekanan dan atau gesekan.

    Faktor Risiko

    1. Skor skala Braden Q < 16 (anak) atau skor skala Braden <18 (dewasa)
    2. Perubahan fungsi kognitif 
    3. Perubahan sensasi
    4. Skor ASA (American in Sensation Anethesiologist) <2
    5. Anemia
    6. Penurunan mobilisasi
    7. penurunan kadar albumin
    8. Penurunan oksigenasi jaringan
    9. Penurunan perfusi jaringan
    10. Dehidrasi
    11. Kulit kentang
    12. Ederma
    13. Peningkatan suhu kulit 1-2’C
    14. Periode imobilisasi yang lama diatas permukaan yang keras (mis. prosedur operasi 22jam)
    15. Usia >65 tahun
    16. Berat badan lebih
    17. Fraktur tungkai
    18. Riwayat stroke
    19. Riwayat luka tekan
    20. Riwayat trauma
    21. Hipertermi
    22. Inkontinensia
    23. Ketidakadekuatan nutrisi
    24. Skor RAPS (Risk Assisment Preddure Score)  rendah
    25. Klasifikasi fungsional NYHA (New York Heart Association) <2
    26. Efek agen farmakologis (mis. anatesi umum, vasopresor, antidepresan, norepinefrin)
    27. Imobilisasi fisik
    28. Penekanan di atas tonjolan tulang
    29. penurunan tebal lipatan kulit trisep
    30. Kulit bersisik
    31. Gesekan permukaan kulit

    Kondisi Klinis Terkait 

    1. Anemia
    2. Gagal jantung kongestif
    3. Trauma
    4. Stroke
    5. Malnutrisi
    6. Obesitas
    7. Fraktur tungkai
    8. Cedera medula spinalis dan/atau kepala
    9. Imobilisasi 

    sumber :



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0144 Risiko Luka Tekan

    Definisi

    Berisiko mengalami kerusakan jaringan lokal akibat tekanan atau kombinasi tekanan, geser, gesekan, kelembapan, dan imobilitas.


    Faktor Risiko

    1. Imobilitas — Keterbatasan gerak meningkatkan tekanan berkepanjangan pada area kulit tertentu.
    2. Usia ekstrem — Bayi dan lansia memiliki kulit yang lebih rentan terhadap kerusakan.
    3. Penurunan status nutrisi — Malnutrisi mengganggu kemampuan kulit memperbaiki diri.
    4. Pelembapan berlebihan — Kelembapan dari urin atau feses melemahkan integritas kulit.
    5. Penurunan sirkulasi darah — Aliran darah terbatas ke area tertentu.
    6. Kehilangan respons sensitivitas — Pasien tidak merasa nyeri pada area yang tertekan.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Riwayat luka tekan — Pernah mengalami luka tekan menunjukkan risiko berulang.
    2. Edema jaringan — Pembengkakan meningkatkan tekanan pada kulit.
    3. Suhu tubuh abnormal — Demam atau hipotermia meningkatkan risiko kerusakan kulit.
    4. Skala Braden ≤ 18 — Skrining risiko luka tekan menunjukkan risiko tinggi.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Integritas Kulit — Integritas kulit tetap utuh tanpa adanya luka tekan.

    Luaran Tambahan:

    1. Keamanan — Area kulit terlindungi dari tekanan berkepanjangan.
    2. Pengetahuan — Pasien/keluarga memahami pencegahan luka tekan.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Luka Tekan

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Risiko Luka Tekan — Melakukan mobilitas dan penggantian posisi secara berkala untuk mengurangi tekanan pada area kulit.

    Intervensi Pendukung:

    • Perawatan Kulit — Menjaga kebersihan dan kelembapan kulit serta menggunakan bantalan tekanan.
    • Pengelolaan Nutrisi — Memastikan asupan protein dan vitamin adekuat untuk menjaga kesehatan kulit.
    • Edukasi Pencegahan — Memberikan edukasi tentang pencegahan luka tekan kepada pasien/keluarga.
    • Pemantauan Kulit — Memantau kondisi kulit secara berkala untuk mendeteksi perubahan dini.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0143 Risiko Jatuh

    D.0143 Risiko Jatuh

    Loading

    Loading

    D.0143 Risiko Jatuh.

    Definisi :

    Berisiko mengalami kerusakan fisik dan gangguan kesehatan akibat terjatuh.

     

    Faktor Risiko

    1. Usia >65 tahun (pada dewasa) atau <2 tahun (pada anak).
    2. Riwayat jatuh.
    3. Anggota gerak bawah prostesis (buatan).
    4. Penggunaan alat bantu berjalan.
    5. Penurunan tingkat kesadaran.
    6. Perubahan fungsi kognitif.
    7. Lingkungan tidak aman (mis. licin, gelap, lingkungan asing).
    8. Kondisi pasca operasi.
    9. Hipotensi ortostatik.
    10. Perubahan kadar glukosa darah.
    11. Anemia.
    12. Kekuatan otot menurun.
    13. Gangguan pendengaran.
    14. Gangguan keseimbangan.
    15. Gangguan penglihatan (mis. glaukoma, katarak, ablasio, retina, neuritis optikus).
    16. Neuropati.
    17. Efek agen farmakologis (mis. sedasi, alkohol, anastesi umum).

     

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Osteoporosis.
    2. Kejang.
    3. Penyakit sebrovaskuler.
    4. Katarak.
    5. Glaukoma.
    6. Demensia.
    7. Hipotensi.
    8. Amputasi.
    9. Intoksikasi.
    10. Preeklampsi.

     

     


    sumber :



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0143 Risiko Jatuh

    Definisi

    Berisiko mengalami penurunan posisi tubuh ke tingkat yang lebih rendah sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan.


    Faktor Risiko

    1. Gangguan keseimbangan — Gangguan pada sistem vestibular atau propriosepsi meningkatkan risiko jatuh.
    2. Gangguan penglihatan — Penurunan visi mengganggu kemampuan melihat bahaya.
    3. Kelemahan otot — Penurunan kekuatan otot tungkai dan inti mengganggu stabilitas.
    4. Gangguan mobilitas — Keterbatasan gerak atau penggunaan alat bantu jalan.
    5. Usia ekstrem — Bayi dan lansia memiliki risiko jatuh lebih tinggi.
    6. Lingkungan yang tidak aman — Permukaan licin, pencahayaan buruk, atau kekacauan di lantai.
    7. Gangguan kognitif — Penurunan kemampuan berpikir mengganggu penilaian bahaya.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Riwayat jatuh sebelumnya — Pernah mengalami jatuh menunjukkan risiko berulang.
    2. Presyncope atau sinkop — Perasaan mau pingsan atau pingsan mendadak.
    3. Gerakan tidak stabil — Berjalan dengan langkah tidak mantap atau berat sebelah.
    4. Ketidakmampuan menggunakan alat bantu — Tidak mampu menggunakan tongkat atau kursi roda dengan benar.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Proteksi — Pasien tidak mengalami jatuh selama perawatan.

    Luaran Tambahan:

    1. Keamanan — Lingkungan perawatan bebas dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan jatuh.
    2. Pengetahuan — Pasien/keluarga memahami cara mencegah jatuh.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Jatuh

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Risiko Jatuh — Melakukan skrining risiko jatuh secara berkala dan menerapkan intervensi pencegahan yang sesuai.

    Intervensi Pendukung:

    • Pengelolaan Lingkungan — Memastikan lingkungan aman dengan pencahayaan adequate, permukaan tidak licin, dan pegangan tangan tersedia.
    • Edukasi Pencegahan Jatuh — Memberikan edukasi tentang cara berpindah dengan aman dan penggunaan alat bantu.
    • Pemantauan Mobilitas — Memantau kemampuan mobilitas pasien dan memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
    • Promosi Dukungan Keluarga — Melibatkan keluarga dalam pencegahan jatuh.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0142 Risiko Infeksi

    D.0142 Risiko Infeksi

    Loading

    Loading

    D.0142 Risiko Infeksi.

    Definisi :

    Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik.

     

    Faktor Risiko

    1. Penyakit kronis (mis. diabetes. melitus).
    2. Efek prosedur invasi.
    3. Malnutrisi.
    4. Peningkatan paparan organisme patogen lingkungan.
    5. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer :
    6. Ketidakdekuatan pertahanan tubuh sekunder :

     

    Kondisi Klinis Terkait

    1. AIDS.
    2. Luka bakar.
    3. Penyakit paru obstruktif.
    4. Diabetes melitus.
    5. Tindakan invasi.
    6. Kondisi penggunaan terapi steroid.
    7. Penyalahgunaan obat.
    8. Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW).
    9. Kanker.
    10. Gagal ginjal.
    11. Imunosupresi.
    12. Lymphedema.
    13. Leukositopedia.
    14. Gangguan fungsi hati.

    sumber :

    .



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0142 Risiko Infeksi

    Definisi

    Berisiko mengalami invasi dan proliferasi organisme patogen ke dalam jaringan tubuh.


    Faktor Risiko

    1. Terpapar patogen — Paparan terhadap mikroorganisme di lingkungan kesehatan atau komunitas.
    2. Terpapar alat invasif — Penggunaan kateter, ventilator, atau peralatan invasif lainnya meningkatkan risiko infeksi.
    3. Imunosupresi — Penurunan daya tahan tubuh akibat penyakit atau pengobatan (mis. kemoterapi, steroid).
    4. Prosedur pembedahan — Sayatan kulit selama operasi membuka jalur masuk mikroorganisme.
    5. Cedera jaringan — Luka terbuka atau luka bakar memberikan jalur masuk bagi patogen.
    6. Penurunan hemoglobin — Anemia menurunkan kemampuan tubuh melawan infeksi.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Luka operasi merah, panas, bengkak — Tanda-tanda infeksi pada luka bedah.
    2. Demam — Peningkatan suhu tubuh sebagai respons terhadap infeksi.
    3. Peningkatan sel darah putih — Leukositosis menunjukkan respons infeksi.
    4. Pus atau drainage abnormal — Pengeluaran cairan tidak normal dari luka atau kateter.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Proteksi — Pasien tidak mengalami infeksi selama perawatan.

    Luaran Tambahan:

    1. Pengetahuan — Pasien/keluarga memahami cara mencegah infeksi.
    2. Keamanan — Lingkungan perawatan bebas dari kontaminasi.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Infeksi

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Risiko Infeksi — Menerapkan teknik pencegahan infeksi (cuci tangan, aseptik) dan memantau tanda-tanda infeksi.

    Intervensi Pendukung:

    • Pengelolaan Lingkungan — Menjaga kebersihan lingkungan perawatan dan peralatan medis.
    • Edukasi Kebersihan — Memberikan edukasi tentang pentingnya kebersihan tangan dan pencegahan infeksi.
    • Pemantauan Status Klinis — Memantau suhu tubuh, jumlah sel darah putih, dan tanda-tanda infeksi.
    • Manajemen Nutrisi — Memastikan asupan nutrisi adekuat untuk mendukung daya tahan tubuh.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0141 Risiko Hipotermia Perioperatif

    D.0141 Risiko Hipotermia Perioperatif

    Loading

    Loading

    D.0141 Risiko Hipotermia Perioperatif

     

    Definisi :

    Berisiko mengalami penurunan suhu tubuh dibawah 36 derajat Celcius secara tiba-tiba yang terjadi satu jam sebelum pembedahan hingga 24 jam setelah pembedahan.

    Faktor Risiko

    1. Prosedur pembedahan.
    2. Kombinasi anastesi regional dan umum.
    3. Skor American Society of Anestesiologist (ASA) >1.
    4. Suhu pra-operasi rendah (<36’C).
    5. Berat badan rendah.
    6. Neuropati diabetik.
    7. Komplikasi kardiovaskuler.
    8. Suhu lingkungan rendah.
    9. Transfer panas (mis. volume tinggi infus yang tidak dihangatkan, irigasi >2 liter yang tidak dihangatkan).

     

    Kondisi Klinis Terkait

    • Tindakan pembedahan

     


    sumber :

    .



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0141 Risiko Hipotermia Perioperatif

    Definisi

    Berisiko mengalami penurunan suhu inti tubuh di bawah rentang normal selama periode perioperatif (pra-operasi, intra-operasi, atau pasca-operasi dini).


    Faktor Risiko

    1. Usia ekstrem — Bayi dan lansia lebih rentan terhadap hipotermia selama operasi.
    2. Prosedur bedah berkepanjangan — Operasi lama meningkatkan waktu paparan terhadap suhu ruangan operasi yang dingin.
    3. Usia < 6 bulan atau > 65 tahun — Kelompok usia ini memiliki mekanisme termoregulasi yang terbatas.
    4. Paparan suhu lingkungan operasi — Suhu kamar operasi yang rendah meningkatkan kehilangan panas.
    5. Anestesi umum — Anestesi mengganggu mekanisme pengaturan suhu tubuh.
    6. Suplai darah atau cairan intravena dingin — Pemberian cairan dingin menurunkan suhu inti tubuh.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Suhu inti < 36°C selama periode perioperatif — Penurunan suhu tubuh selama atau segera setelah operasi.
    2. Menggigil pasca bedah — Respons tubuh untuk meningkatkan produksi panas setelah operasi.
    3. Peningkatan kebutuhan oksigen — Metabolisme meningkat untuk menghasilkan panas.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Proteksi — Suhu inti tubuh tetap dalam rentang normal selama periode perioperatif.

    Luaran Tambahan:

    1. Keamanan — Pasien menjalani prosedur bedah tanpa komplikasi hipotermia.
    2. Status Klinis — Suhu tubuh pasien stabil setelah prosedur bedah.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Hipotermia Perioperatif

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Hipotermia Perioperatif — Mempertahankan suhu tubuh tetap hangat selama periode perioperatif dengan selimut hangat dan pemanas udara.

    Intervensi Pendukung:

    • Pengelolaan Lingkungan Operasi — Mengatur suhu kamar operasi pada level yang sesuai untuk menjaga kehangatan pasien.
    • Pemanasan Cairan Infus — Memanaskan cairan intravena sebelum pemberian untuk mencegah penurunan suhu tubuh.
    • Pemantauan Suhu Tubuh — Memantau suhu inti tubuh selama dan setelah prosedur bedah.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0140 Risiko Hipotermia

    Loading

    Loading

    D.0140 Risiko Hipotermia

    Definisi :

    Berisiko mengalami kegagalan termoregulasi yang dapat mengakibatkan suhu tubuh berada dibawah rentang normal

    Faktor Risiko

    1. Berat badan ekstrem
    2. Kerusakan hipotalamus
    3. Konsumsi alkohol
    4. Kurangnya lapisan lemak subtukan
    5. Suhu lingkungan rendah
    6. Malnutrisi
    7. Pemakaian pakaian yang tipis
    8. Penurunan laju metabolisme
    9. Terapi radiasi
    10. Tidak beraktivitas
    11. Transfer panas (mis.konduksi, konveksi, evaporasi, radiasi)
    12. Trauma
    13. Prematuritas
    14. Penuaan
    15. Bayi baru lahir
    16. berat badan lahir rendah
    17. Kurang terpapar informasi tentang pencegahan hipotermia
    18. Efek agen farmakologis

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Berat badan ekstrem
    2. Dehidrasi
    3. Kurang mobilitas fisik

     


    sumber :



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0140 Risiko Hipotermia

    Definisi

    Berisiko mengalami penurunan suhu inti tubuh di bawah rentang normal akibat paparan suhu dingin atau gangguan termoregulasi.


    Faktor Risiko

    1. Paparan suhu lingkungan dingin — Berada di lingkungan dengan suhu rendah dalam waktu lama.
    2. Usia ekstrem — Bayi dan lansia memiliki kemampuan termoregulation yang terbatas.
    3. Malnutrisi — Kekurangan nutrisi menurunkan kemampuan metabolisme menghasilkan panas.
    4. Imobilitas — Keterbatasan gerak mengurangi produksi panas dari aktivitas otot.
    5. Penurunan metabolisme — Gangguan metabolik yang menurunkan produksi panas internal.
    6. Obat-obatan tertentu — Agen farmakologis tertentu (mis. sedatif, anestesi) mengganggu termoregulasi.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Suhu inti < 35°C — Suhu tubuh turun di bawah batas normal.
    2. Kulit terasa dingin — Permukaan kulit teraba dingin akibat vasokonstriksi perifer.
    3. Menggigil — Respons tubuh untuk meningkatkan produksi panas melalui kontraksi otot.
    4. Bradikardia — Denyut jantung melambat sebagai respons terhadap suhu tubuh rendah.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Proteksi — Suhu inti tubuh tetap dalam rentang normal (36–37,5°C).

    Luaran Tambahan:

    1. Pengetahuan — Pasien/keluarga memahami cara mencegah hipotermia.
    2. Keamanan — Lingkungan dirawat agar tetap hangat dan nyaman.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Hipotermia

    Intervensi Utama:

    • Pengelolaan Risiko Hipotermia — Mencegah kehilangan panas dengan menjaga lingkungan tetap hangat dan menggunakan selimut.

    Intervensi Pendukung:

    • Manajemen Lingkungan — Mengatur suhu ruangan agar tetap hangat dan terhindar dari angin.
    • Edukasi Pencegahan — Memberikan edukasi tentang cara menjaga kehangatan tubuh.
    • Pemantauan Suhu Tubuh — Memantau suhu tubuh secara berkala untuk mendeteksi penurunan dini.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)