Imunosupresi, atau penekanan sistem kekebalan tubuh, dapat menjadi faktor risiko meningkatnya serangan organisme patogenik. Ini disebabkan oleh melemahnya kemampuan tubuh untuk mendeteksi, mengenali, dan merespons mikroorganisme penyebab penyakit. Beberapa alasan mengapa imunosupresi meningkatkan risiko infeksi melibatkan:

  1. Penurunan Aktivitas Sel-sel Kekebalan: Sistem kekebalan tubuh melibatkan berbagai jenis sel, termasuk sel T dan sel B, yang memiliki peran penting dalam melawan infeksi. Imunosupresi dapat mengakibatkan penurunan aktivitas dan fungsi normal sel-sel kekebalan, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap serangan organisme patogenik.
  2. Penghambatan Respon Inflamasi: Imunosupresi dapat menghambat respons inflamasi, yang merupakan bagian penting dari respons kekebalan tubuh terhadap invasi mikroorganisme. Respon inflamasi membantu tubuh melawan dan membersihkan area yang terinfeksi.
  3. Efek pada Produksi Antibodi: Imunosupresi dapat mempengaruhi produksi antibodi oleh sel-sel B, yang berperan dalam perlindungan terhadap infeksi. Penurunan produksi antibodi dapat menyebabkan kurangnya perlindungan spesifik terhadap patogen.
  4. Gangguan pada Sel T Pembunuh (Killer T Cells): Imunosupresi dapat memengaruhi fungsi sel T pembunuh yang berperan dalam mengenali dan menghancurkan sel yang terinfeksi. Penurunan aktivitas sel T pembunuh dapat meningkatkan risiko infeksi.
  5. Peningkatan Risiko Reaktivasi Infeksi Tertidur: Beberapa mikroorganisme, seperti virus yang biasanya tidak aktif, dapat menjadi aktif kembali (reaktivasi) pada kondisi imunosupresi. Ini dapat menyebabkan infeksi sekunder yang mungkin lebih sulit diatasi oleh tubuh.
  6. Pengaruh pada Fungsi Sel Dendritik: Sel dendritik memiliki peran penting dalam mempresentasikan patogen kepada sel-sel kekebalan tubuh. Imunosupresi dapat menghambat fungsi sel dendritik, menghambat kemampuan tubuh untuk merespons dengan cepat terhadap infeksi.
  7. Kurangnya Koordinasi Respons Kekebalan Tubuh: Imunosupresi dapat mengganggu koordinasi dan regulasi respons kekebalan tubuh, menyebabkan respons tubuh yang kurang efektif dan lebih lambat terhadap invasi mikroorganisme.

Ketidakadekuatan pertahanan tubuh akibat imunosupresi sering terjadi pada kondisi medis tertentu, seperti setelah transplantasi organ, dalam pengobatan kanker, atau pada penyakit autoimun. Penting untuk memahami risiko infeksi dan menjalani manajemen yang tepat di bawah pengawasan tenaga medis saat mengalami imunosupresi untuk meminimalkan risiko komplikasi infeksi.