Kategori: Respirasi

  • D.0006 Risiko Aspirasi.

    Loading

    D.0006 Risiko Aspirasi

    Definisi

    Risiko Aspirasi adalah risiko mengalami masuknya sekresi gastrointestinal (cairan dari saluran pencernaan), sekresi orofaring (cairan dari mulut dan tenggorokan), benda cair atau padat ke dalam saluran trakeobronkhial (saluran napas utama di tenggorok dan bronkus) akibat disfungsi mekanisme protektif saluran napas (gangguan pada sistem pertahanan alami yang melindungi saluran napas).


    Faktor Risiko

    Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya aspirasi:

    1. Penurunan tingkat kesadaran — Pasien mengantuk atau tidak sadar sehingga tidak bisa melindungi saluran napasnya.
    2. Penurunan refleks muntah dan/atau batuk — Refleks tubuh untuk membuang benda asing dari saluran napas berkurang.
    3. Gangguan menelan — Kesulitan dalam menelan makanan atau minuman.
    4. Disfagia — Gangguan medis pada proses menelan yang membuat makanan atau cairan masuk ke saluran napas.
    5. Kerusakan mobilitas fisik — Pasien tidak bisa bergerak sendiri sehingga tidak bisa melindungi diri dari aspirasi.
    6. Peningkatan residu lambung — Sisa makanan di lambung terlalu banyak sehingga mudah naik ke kerongkongan.
    7. Peningkatan tekanan intragastrik — Tekanan di dalam lambung meningkat sehingga isi lambung terdorong naik.
    8. Penurunan motilitas gastrointestinal — Pergerakan saluran pencernaan melambat sehingga makanan tertinggal di lambung.
    9. Sfingter esofagus bawah inkompeten — Katup antara kerongkongan dan lambung tidak menutup dengan baik sehingga isi lambung bisa naik.
    10. Perlambatan pengosongan lambung — Lambung terlalu lama dalam mengosongkan isinya ke usus.
    11. Terpasang selang nasogastrik — Selang yang dimasukkan dari hidung ke lambung bisa memicu muntah atau refluks.
    12. Terpasang trakeostomi atau endotracheal tube — Selang di tenggorokan melewati katup pelindung alami saluran napas.
    13. Trauma atau pembedahan leher, mulut, dan/atau wajah — Cedera atau operasi pada area ini bisa mengganggu mekanisme protektif.
    14. Efek agen farmakologis — Obat-obatan tertentu (seperti obat bius atau penenang) bisa menekan refleks batuk dan menelan.
    15. Ketidakmatangan koordinasi menghisap, menelan, dan bernafas — Pada bayi prematur, koordinasi antara menghisap, menelan, dan bernapas belum sempurna.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai risiko aspirasi:

    1. Cedera Kepala — Cedera pada otak yang mengganggu kesadaran dan refleks protektif.
    2. Stroke — Gangguan aliran darah ke otak yang bisa memengaruhi fungsi menelan dan batuk.
    3. Cedera Medula Spinalis — Cedera sumsum tulang belakang yang memengaruhi saraf pengatur menelan dan batuk.
    4. Guillain-Barre Syndrome — Penyakit autoimun yang melemahkan otot-otot tubuh termasuk otot menelan.
    5. Penyakit Parkinson — Gangguan neurologis yang memengaruhi koordinasi menelan.
    6. Keracunan Obat dan Alkohol — Zat beracun menekan kesadaran dan refleks protektif.
    7. Pembesaran Uterus — Kehamilan lanjut bisa menekan lambung dan meningkatkan risiko refluks.
    8. Myasthenia Gravis — Penyakit autoimun yang melemahkan otot-otot termasuk otot menelan.
    9. Fistula Trakeoesofagus — Koneksi abnormal antara trakea dan esofagus.
    10. Striktura Esofagus — Penyempitan kerongkongan yang mengganggu jalannya makanan.
    11. Sclerosis Multiple — Penyakit neurologis yang memengaruhi saraf pengatur menelan.
    12. Labiopalatoskizis — Celah pada bibir dan langit-langit mulut yang mengganggu koordinasi menelan.
    13. Atresia Esofagus — Ketidaksempurnaan bentuk kerongkongan sejak lahir.
    14. Laringomalasia — Jaringan laring yang lunak dan mudah kolaps, terutama pada bayi.
    15. Prematuritas — Bayi lahir sebelum waktunya dengan koordinasi menelan dan bernapas yang belum matang.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Tingkat Aspirasi — Risiko masuknya benda asing ke saluran napas terkontrol atau tidak terjadi.

    Luaran Tambahan:

    1. Kontrol Mual/Muntah — Rasa mual dan muntah terkontrol sehingga tidak memicu aspirasi.
    2. Kontrol Risiko — Faktor-faktor risiko aspirasi berhasil diminimalkan.
    3. Status Menelan — Kemampuan menelan pasien terjaga atau membaik.
    4. Status Neurologis — Fungsi sistem saraf tetap stabil untuk mendukung refleks protektif.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Aspirasi

    Intervensi Utama:

    • Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya benda asing ke saluran napas melalui pengaturan posisi, pengaturan makanan, dan pemantauan.
    • Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas dan memastikan mekanisme protektif berfungsi.

    Intervensi Pendukung:

    • Dukungan Nutrisi — Memastikan asupan nutrisi yang aman sesuai kemampuan menelan pasien.
    • Edukasi Teknik Menelan — Mengajarkan cara menelan yang aman untuk mencegah aspirasi.
    • Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien dalam posisi semi-fowler (setengah duduk) saat makan dan setelah makan.
    • Penghisapan Jalan Napas — Menyedot sekresi dari mulut dan saluran napas untuk menjaga kepatenan.
    • Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk mengatasi faktor risiko.
    • Pencegahan Infeksi — Menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi saluran napas.
    • Perawatan Jalan Napas Buatan — Merawat trakeostomi atau endotracheal tube jika terpasang.
    • Pemantauan Tanda Vital — Memantau tanda vital termasuk saturasi oksigen secara rutin.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0005 Pola Napas Tidak Efektif

    Loading

    D.0005 Pola Napas Tidak Efektif

    Definisi

    Pola Napas Tidak Efektif adalah inspirasi (masuknya udara) dan/atau ekspirasi (keluarnya udara) yang tidak memberikan ventilasi adekuat (cukup). Artinya, cara bernapas pasien tidak mampu memasukkan atau mengeluarkan udara dari paru-paru secara memadai untuk kebutuhan tubuh.


    Penyebab

    1. Depresi pusat pernapasan — Bagian otak yang mengatur pernapasan tidak berfungsi dengan baik, misalnya karena cedera atau efek obat.
    2. Hambatan upaya napas — Halangan yang membuat napas terasa sulit, misalnya nyeri saat bernapas atau kelemahan otot pernapasan.
    3. Deformitas dinding dada — Kelainan bentuk pada dinding dada yang menghambat ekspansi paru.
    4. Deformitas tulang dada — Kelainan bentuk pada tulang dada yang mengganggu pergerakan paru.
    5. Gangguan neuromuskular — Gangguan pada sistem saraf dan otot yang mengatur pernapasan.
    6. Gangguan neurologis — Gangguan pada otak atau saraf, misalnya dari hasil EEG positif, cedera kepala, atau gangguan kejang.
    7. Maturitas neurologis — Kematangan sistem saraf yang belum sempurna (sering pada bayi prematur).
    8. Penurunan energi — Tubuh kekurangan tenaga untuk bernapas dengan baik.
    9. Obesitas — Berat badan berlebih yang memberikan tekanan pada paru dan menghambat ekspansi.
    10. Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru — Posisi berbaring atau duduk yang membuat paru sulit mengembang.
    11. Sindrom hipoventilasi — Kondisi di mana paru tidak mampu memasukkan udara cukup secara terus-menerus.
    12. Kerusakan inervasi diafragma — Kerusakan saraf yang mengatur diafragma (otot utama pernapasan), misalnya kerusakan saraf CS ke atas.
    13. Cedera pada medula spinalis — Cedera pada sumsum tulang belakang yang memengaruhi pengaturan pernapasan.
    14. Efek agen farmakologis — Pengaruh obat-obatan yang membuat napas menjadi lambat atau dangkal.
    15. Kecemasan — Rasa cemas yang berlebihan membuat napas menjadi cepat dan tidak teratur.

    Gejala dan Tanda Mayor

    Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan pola napas ini.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    1. Dispnea — Pasien merasa sesak napas atau sulit bernapas.

    Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):

    1. Penggunaan otot bantu pernapasan — Otot di leher, bahu, atau dada terlihat ikut bekerja keras saat bernapas.
    2. Fase ekspirasi memanjang — Waktu mengeluarkan udara dari paru lebih lama dari biasanya.
    3. Pola napas abnormal — Bisa berupa takipnea (napas cepat lebih dari 20 kali/menit), bradipnea (napas lambat kurang dari 12 kali/menit), hiperventilasi (napas sangat cepat dan dalam), pola Kussmaul (napas dalam dan cepat pada asidosis metabolik), atau pola Cheyne-Stokes (napas yang semakin dalam lalu semakin dangkal secara berulang).

    Gejala dan Tanda Minor

    Minor berarti tanda-tanda tambahan yang mungkin menyertai gangguan pola napas ini.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    1. Ortopnea — Kesulitan bernapas saat berbaring datar, sehingga harus duduk atau menegak untuk bernapas lebih lega.

    Objektif (yang bisa diamati):

    1. Pernapasan pursed-lip — Napas melalui bibir yang mengerucut untuk memperlambat pengeluaran udara (umum pada PPOK).
    2. Pernapasan cuping hidung — Cuping hidung mengembang saat bernapas, menandakan upaya napas berat.
    3. Diameter thoraks anterior-posterior meningkat — Jarak dada depan ke belakang membesar (bentuk barrel chest pada PPOK).
    4. Ventilasi semenit menurun — Jumlah udara yang bergerak masuk dan keluar paru per menit berkurang.
    5. Kapasitas vital menurun — Jumlah udara maksimal yang bisa dikeluarkan setelah tarikan napas penuh berkurang.
    6. Tekanan ekspirasi menurun — Tekanan saat mengeluarkan udara berkurang.
    7. Tekanan inspirasi menurun — Tekanan saat menarik udara berkurang.
    8. Ekskursi dada berubah — Pergerakan dada saat bernapas tidak normal (misalnya berkurang atau tidak simetris).

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Pola Napas Efektif — Pola pernapasan pasien adekuat dengan frekuensi, kedalaman, dan ritme yang normal.

    Luaran Tambahan:

    1. Pertukaran Gas — Masuknya oksigen dan keluarnya karbon dioksida berjalan adekuat.
    2. Pengetahuan: Prosedur Medis — Pasien memahami prosedur dan tindakan medis yang dilakukan.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Pola Napas Tidak Efektif

    Intervensi Utama:

    • Pemantauan Respirasi — Memantau frekuensi, kedalaman, pola napas, dan saturasi oksigen secara rutin.

    Intervensi Pendukung:

    • Dukungan Emosional — Memberikan dukungan psikologis agar pasien merasa tenang dan tidak panik.
    • Edukasi Pengukuran Respirasi — Mengajarkan cara memantau pernapasan sendiri.
    • Fisioterapi Dada — Teknik untuk membantu pengeluaran lendir dari paru-paru.
    • Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas dari sumbatan.
    • Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya cairan atau makanan ke saluran napas.
    • Pencegahan Infeksi — Menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi saluran napas.
    • Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien dalam posisi semi-fowler atau yang memudahkan pernapasan.
    • Pemberian Obat Inhalasi — Memberikan obat melalui hirupan untuk membuka saluran napas.
    • Penghisapan Jalan Napas — Menyedot lendir dari saluran napas untuk menjaga kepatenan.
    • Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk membantu pernapasan.
    • Pemeriksaan Kelengkapan Set Emergensi — Memastikan perlengkapan darurat tersedia jika diperlukan.
    • Pencegahan Luka Tekan — Mencegah luka akibat tekanan pada kulit.
    • Reduksi Ansietas — Mengurangi rasa cemas pasien.
    • Stabilisasi Jalan Napas — Memastikan saluran napas tetap terbuka dan aman.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0004 Gangguan Ventilasi Spontan

    D.0004 Gangguan Ventilasi Spontan

    Loading

    D.0004 Gangguan Ventilasi Spontan

    Definisi

    Gangguan Ventilasi Spontan adalah penurunan cadangan energi yang mengakibatkan individu tidak mampu bernapas secara adekuat (cukup) tanpa bantuan alat. Artinya, otot pernapasan sudah terlalu lelah untuk memompa udara masuk dan keluar paru-paru dengan baik.


    Penyebab

    1. Gangguan metabolisme — Gangguan pada proses pengubahan makanan menjadi energi di dalam tubuh, sehingga otot pernapasan kekurangan tenaga.
    2. Kelelahan otot pernafasan — Otot-otot yang membantu pernapasan (seperti diafragma dan otot interkostal) sudah terlalu lelah dan tidak mampu bekerja dengan baik.

    Gejala dan Tanda Mayor

    Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan ini.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    1. Dispnea — Pasien merasa sesak napas atau sulit bernapas.

    Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):

    1. Penggunaan otot atas meningkat — Otot di leher, bahu, dan dada terlihat ikut bekerja keras saat bernapas.
    2. Volume tidal menurun — Jumlah udara yang masuk dan keluar setiap tarikan napas berkurang.
    3. PCO2 meningkat — Karbon dioksida menumpuk dalam darah karena paru tidak mampu membuangnya dengan baik.
    4. PO2 menurun — Jumlah oksigen dalam darah berkurang.
    5. SaO2 menurun — Saturasi oksigen dalam darah menurun (normal minimal 95%).

    Gejala dan Tanda Minor

    Minor berarti tanda-tanda tambahan yang mungkin menyertai gangguan ini.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    • Tidak tersedia.

    Objektif (yang bisa diamati):

    1. Gelisah — Pasien tidak tenang, sulit diam karena kekurangan oksigen.
    2. Takikardia — Detak jantung lebih cepat dari normal (lebih dari 100 kali/menit) sebagai kompensasi.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai gangguan ventilasi spontan:

    1. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) — Penyakit paru yang menyebabkan penyumbatan saluran napas permanen dan kelelahan otot pernapasan.
    2. Asma — Radang kronis pada saluran napas yang membuat napas berat dan membutuhkan banyak tenaga.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Ventilasi Spontan — Kemampuan pasien bernapas mandiri dengan adekuat tanpa bantuan alat.

    Luaran Tambahan:

    1. Respirasi — Proses pernapasan berjalan dengan frekuensi dan kedalaman yang adekuat.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Gangguan Ventilasi Spontan

    Intervensi Utama:

    • Dukungan Ventilasi — Membantu pernapasan pasien melalui alat bantu napas jika diperlukan.
    • Pemantauan Respirasi — Memantau frekuensi, kedalaman, dan pola napas secara rutin.

    Intervensi Pendukung:

    • Dukungan Emosional — Memberikan dukungan psikologis agar pasien merasa tenang.
    • Dukungan Perawatan Diri — Membantu pasien dalam aktivitas sehari-hari agar tidak kelelahan.
    • Edukasi Keluarga: Pemantauan Respirasi — Mengajarkan keluarga cara memantau pernapasan pasien di rumah.
    • Edukasi Pengukuran Respirasi — Mengajarkan cara mengukur frekuensi dan kedalaman napas.
    • Fisioterapi Dada — Teknik untuk membantu pengeluaran lendir dari paru-paru.
    • Konsultasi — Berkonsultasi dengan dokter spesialis paru atau tim medis lainnya.
    • Pemberian Obat Intraoseous — Memberikan obat melalui jarum yang dimasukkan ke tulang.
    • Pemberian Obat Intradermal — Memberikan obat melalui suntikan ke lapisan kulit.
    • Pemberian Obat Intramuskular — Memberikan obat melalui suntikan ke otot.
    • Pemberian Obat Intravena — Memberikan obat melalui infus ke pembuluh darah.
    • Manajemen Asam-Basa — Menjaga keseimbangan asam-basa dalam tubuh.
    • Manajemen Asam-Basa: Alkalosis Respiratorik — Mengatasi darah terlalu basa akibat pernapasan berlebih.
    • Manajemen Asam-Basa: Asidosis Respiratorik — Mengatasi darah terlalu asam akibat penumpukan karbon dioksida.
    • Manajemen Energi — Membantu pasien mengatur aktivitas agar tidak kelelahan.
    • Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas.
    • Manajemen Jalan Napas Buatan — Merawat alat bantu napas buatan.
    • Manajemen Ventilasi Mekanik — Mengatur penggunaan mesin ventilator jika diperlukan.
    • Pemantauan Asam-Basa — Memeriksa kadar asam-basa dalam darah.
    • Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk membantu pernapasan.
    • Pemberian Obat Inhalasi — Memberikan obat melalui hirupan untuk membuka saluran napas.
    • Pemeriksaan Kelengkapan Set Emergensi — Memastikan perlengkapan darurat tersedia jika diperlukan.
    • Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya cairan ke saluran napas.
    • Pencegahan Infeksi — Menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi.
    • Pencegahan Luka Tekan — Mencegah luka akibat tekanan pada kulit pasien yang berbaring lama.
    • Pengambilan Sampel Darah Arteri — Mengambil sampel darah untuk pemeriksaan gas darah.
    • Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien dalam posisi terbaik untuk pernapasan.
    • Penghisapan Jalan Napas — Menyedot lendir dari saluran napas.
    • Pengontrolan Infeksi — Mengendalikan infeksi yang terjadi.
    • Perawatan Jenazah — Merawat jenazah jika pasien meninggal.
    • Perawatan Mulut — Menjaga kebersihan mulut pasien.
    • Perawatan Tirah Baring — Merawat pasien yang berbaring di tempat tidur.
    • Perawatan Trakeostomi — Merawat lubang di tenggorokan untuk pemasangan selang napas.
    • Reduksi Ansietas — Mengurangi rasa cemas pasien.
    • Stabilisasi Jalan Napas — Memastikan saluran napas tetap terbuka dan aman.
    • Pemberian Obat Interpleura — Memberikan obat ke dalam rongga pleura (selaput paru) jika diperlukan.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D0003 Ganguan Pertukaran Gas

    D0003 Ganguan Pertukaran Gas

    Loading

    D.0003 Gangguan Pertukaran Gas

    Definisi

    Gangguan Pertukaran Gas adalah kelebihan atau kekurangan oksigenasi (masuknya oksigen ke dalam tubuh) dan/atau eliminasi (pengeluaran) karbondioksida pada membran alveolus-kapiler (selaput tipis di paru tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida terjadi antara udara dan darah).


    Penyebab

    1. Ketidakseimbangan ventilasi-perfusi — Ketidaksesuaian antara aliran udara ke paru (ventilasi) dan aliran darah di paru (perfusi), sehingga pertukaran gas tidak optimal.
    2. Perubahan membran alveolus-kapiler — Selaput paru menjadi tebal, kaku, atau rusak sehingga pertukaran oksigen dan karbon dioksida terganggu.

    Gejala dan Tanda Mayor

    Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan ini.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    1. Dispnea — Pasien merasa sesak napas atau sulit bernapas.

    Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):

    1. PCO2 meningkat atau menurun — Tekanan parsial karbon dioksida dalam darah tidak normal (tinggi berarti karbon dioksida tidak terbuang, rendah berarti terlalu banyak terbuang).
    2. PO2 menurun — Tekanan parsial oksigen dalam darah rendah, menandakan tubuh kekurangan oksigen.
    3. Takikardia — Detak jantung lebih cepat dari normal (lebih dari 100 kali/menit) sebagai kompensasi kekurangan oksigen.
    4. pH arteri meningkat atau menurun — Kadar keasaman darah dari pembuluh nadi tidak normal, bisa terjadi asidosis (terlalu asam) atau alkalosis (terlalu basa).
    5. Bunyi napas tambahan — Terdengar suara napas abnormal seperti mengi (wheezing) atau krekels (crackles) saat diperiksa dengan stetoskop.

    Gejala dan Tanda Minor

    Minor berarti tanda-tanda tambahan yang mungkin menyertai gangguan ini.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    1. Pusing — Pasien merasa kepala berputar atau ringan karena kurang oksigen ke otak.
    2. Penglihatan kabur — Penglihatan menjadi tidak jelas karena kurangnya suplai oksigen ke mata.

    Objektif (yang bisa diamati):

    1. Sianosis — Warna bibir, ujung jari, atau kulit kebiruan karena kekurangan oksigen dalam darah.
    2. Diaforesis — Banyak berkeringat, terutama di wajah dan dada.
    3. Gelisah — Pasien tidak tenang, sulit diam, sering bergerak-gerak.
    4. Napas cuping hidung — Cuping hidung mengembang saat bernapas, menandakan upaya napas berat.
    5. Pola napas abnormal — Pola napas bisa cepat (takipnea) atau lambat (bradipnea), teratur atau tidak teratur, dalam atau dangkal.
    6. Warna kulit abnormal (pucat, kebiruan) — Kulit tampak pucat atau kebiruan karena kurang oksigen.
    7. Kesadaran menurun — Pasien menjadi bingung, mengantuk, atau sulit diajak bicara.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai gangguan pertukaran gas:

    1. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) — Penyakit paru yang menyebabkan penyumbatan saluran napas secara permanen.
    2. Gagal Jantung Kongestif — Jantung tidak mampu memompa darah dengan baik sehingga cairan menumpuk di paru.
    3. Asma — Radang kronis pada saluran napas yang membuat napas berat dan mengi.
    4. Pneumonia — Infeksi pada jaringan paru yang mengisi kantung udara dengan cairan atau nanah.
    5. Tuberkulosis Paru — Infeksi bakteri yang merusak jaringan paru.
    6. Penyakit Membran Hialin — Penumpukan membran tipis di kantung udara paru, sering pada bayi prematur.
    7. Asfiksia — Kekurangan oksigen total yang mengancam jiwa.
    8. Persistent Pulmonary Hypertension of Newborn (PPHN) — Tekanan darah tinggi di pembuluh darah paru pada bayi baru lahir.
    9. Prematuritas — Bayi lahir sebelum waktunya dengan paru yang belum matang.
    10. Infeksi Saluran Napas — Infeksi yang mengganggu aliran udara di saluran pernapasan.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Pertukaran Gas — Proses masuknya oksigen dan keluarnya karbondioksida di paru-paru berjalan adekuat.

    Luaran Tambahan:

    1. Keseimbangan Asam-Basa — Kadar keasaman darah dalam rentang normal.
    2. Konservasi Energi — Kemampuan mengatur tenaga agar tidak cepat lelah.
    3. Perfusi Paru — Aliran darah ke jaringan paru-paru berjalan lancar.
    4. Respons Ventilasi Mekanik — Tubuh merespons baik terhadap bantuan mesin ventilator jika diperlukan.
    5. Tingkat Delirium — Tingkat kebingungan atau gangguan kesadaran terkontrol.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Gangguan Pertukaran Gas

    Intervensi Utama:

    • Pemantauan Respirasi — Memantau frekuensi, kedalaman, pola napas, dan saturasi oksigen secara rutin.
    • Terapi Oksigen — Memberikan suplementasi oksigen tambahan sesuai kebutuhan pasien.

    Intervensi Pendukung:

    • Dukungan Berhenti Merokok — Membantu pasien berhenti merokok untuk menjaga kesehatan paru.
    • Dukungan Ventilasi — Merawat dan memastikan alat ventilator berfungsi dengan baik.
    • Edukasi Berhenti Merokok — Memberikan informasi tentang bahaya rokok bagi kesehatan paru.
    • Edukasi Pengukuran Respirasi — Mengajarkan cara memantau pernapasan sendiri.
    • Edukasi Fisioterapi Dada — Mengajarkan teknik latihan untuk membersihkan lendir dari paru.
    • Fisioterapi Dada — Teknik fisik untuk membantu pengeluaran lendir dari saluran napas.
    • Manajemen Ventilasi Mekanik — Mengatur dan memantau penggunaan mesin ventilator.
    • Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya cairan atau makanan ke saluran napas.
    • Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk mengatasi gangguan pertukaran gas.
    • Pemberian Obat Inhalasi — Memberikan obat melalui hirupan untuk membuka saluran napas.
    • Pemberian Obat Interpleura — Memberikan obat ke dalam rongga pleura (selaput paru) jika diperlukan.
    • Pemberian Obat Intradermal — Memberikan obat melalui suntikan ke lapisan kulit.
    • Pemberian Obat Intramuskular — Memberikan obat melalui suntikan ke otot.
    • Pemberian Obat Intravena — Memberikan obat melalui infus ke pembuluh darah.
    • Manajemen Asam-Basa — Menjaga keseimbangan asam-basa dalam tubuh.
    • Manajemen Asam-Basa: Alkalosis Respiratorik — Mengatasi kondisi darah terlalu basa akibat pernapasan berlebih.
    • Manajemen Asam-Basa: Asidosis Respiratorik — Mengatasi kondisi darah terlalu asam akibat penumpukan karbon dioksida.
    • Manajemen Energi — Membantu pasien mengatur aktivitas agar tidak kelelahan.
    • Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas dari sumbatan.
    • Manajemen Jalan Napas Buatan — Merawat alat bantu napas buatan seperti ventilator.
    • Pemberian Obat Oral — Memberikan obat melalui mulut.
    • Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien dalam posisi terbaik untuk pernapasan.
    • Pengambilan Sampel Darah Arteri — Mengambil sampel darah dari pembuluh nadi untuk pemeriksaan gas darah.
    • Penyapihan Ventilasi Mekanik — Membantu proses pelepasan ventilator secara bertahap.
    • Perawatan Emboli Paru — Merawat kondisi penyumbatan pembuluh darah paru oleh bekuan darah.
    • Perawatan Selang Dada — Merawat selang chest tube yang membuang cairan dari rongga dada.
    • Reduksi Ansietas — Mengurangi rasa cemas pasien.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0002 Gangguan Penyapihan Ventilator

    Loading

    D.0002 Gangguan Penyapihan Ventilator

    Definisi

    Gangguan Penyapihan Ventilator adalah ketidakmampuan pasien untuk beradaptasi dengan pengurangan bantuan ventilator mekanik (mesin bantu napas) sehingga menghambat dan memperlama proses penyapihan (penurunan bertahap dari mesin ventilator menuju napas mandiri).


    Penyebab

    Penyebab Fisiologis (berasal dari kondisi tubuh):

    1. Hipersekresi jalan nafas — Produksi lendir berlebih di saluran pernapasan yang menyumbat aliran udara.
    2. Ketidakcukupan energi — Tubuh kelelahan atau kekurangan tenaga untuk bernapas sendiri tanpa bantuan mesin.
    3. Hambatan upaya napas — Halangan yang membuat napas terasa sulit, misalnya nyeri saat bernapas, kelemahan otot pernapasan (otot yang membantu tarikan napas menjadi lemah), atau efek sedasi (obat penenang yang membuat napas lebih lambat).

    Penyebab Psikologis:

    1. Kecemasan — Rasa takut atau cemas yang berlebihan saat dicoba lepas dari ventilator.
    2. Perasaan tidak berdaya — Merasa tidak mampu bernapas sendiri dan sangat bergantung pada mesin.
    3. Kurang informasi tentang proses penyapihan — Pasien tidak memahami bagaimana dan kapan ventilator akan diturunkan, sehingga merasa tidak siap.
    4. Penurunan motivasi — Semangat untuk sembuh dan berlatih bernapas mandiri menurun.

    Penyebab Situasional (berasal dari lingkungan/keadaan):

    1. Ketidakadekuatan dukungan sosial — Kurangnya dukungan dari keluarga atau tenaga kesehatan.
    2. Ketidaktepatan kecepatan proses penyapihan — Penurunan ventilator dilakukan terlalu cepat atau terlalu lambat.
    3. Riwayat kegagalan berulang dalam upaya penyapihan — Pernah gagal melepas ventilator beberapa kali sebelumnya.
    4. Riwayat ketergantungan ventilator lebih dari 4 hari — Sudah lama bergantung pada ventilator sehingga sulit lepas.

    Gejala dan Tanda Mayor

    Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan ini. Tanda ini menunjukkan bahwa pasien benar-benar mengalami kesulitan saat proses penyapihan ventilator.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    • Tidak tersedia.

    Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):

    1. Frekuensi napas meningkat — Jumlah napas per menit lebih tinggi dari normal (normal 12–20 kali/menit).
    2. Penggunaan otot bantu napas — Otot di leher, bahu, atau dada terlihat ikut bekerja keras saat bernapas.
    3. Napas megap-megap (gasping) — Napas dalam dan cepat seperti kehabisan napas.
    4. Upaya napas dan bantuan ventilator tidak sinkron — Ritme napas pasien tidak cocok dengan ritme mesin ventilator.
    5. Napas dangkal — Tarikan napas tidak dalam, sehingga oksigen yang masuk sedikit.
    6. Agitasi — Pasien gelisah, tidak tenang, sulit dikendalikan.
    7. Nilai gas darah arteri abnormal — Hasil pemeriksaan darah dari pembuluh nadi menunjukkan kadar oksigen atau karbon dioksida di luar batas normal.

    Gejala dan Tanda Minor

    Minor berarti tanda-tanda tambahan yang bisa menyertai gangguan ini, namun tidak se-khas tanda mayor.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    1. Lelah — Pasien merasa sangat capek saat berusaha bernapas sendiri.
    2. Kuatir mesin rusak — Pasien khawatir ventilator akan mati atau tidak berfungsi.
    3. Fokus meningkat pada pernafasan — Pasien hanya memikirkan cara bernapas dan sulit fokus pada hal lain.

    Objektif (yang bisa diamati):

    1. Auskultasi suara inspirasi menurun — Saat didengar dengan stetoskop, suara napas masuk terdengar lebih pelan dari biasanya.
    2. Warna kulit abnormal (pucat, sianosis) — Kulit tampak pucat atau kebiruan karena kurang oksigen.
    3. Napas paradoks abdominal — Perut bergerak naik-turun tidak wajar saat bernapas.
    4. Diaforesis — Banyak berkeringat, terutama di wajah dan dada.
    5. Ekspresi wajah takut — Wajah pasien terlihat tegang atau ketakutan.
    6. Tekanan darah meningkat — Tekanan darah lebih tinggi dari biasanya (respons terhadap kekurangan oksigen).
    7. Frekuensi nadi meningkat — Detak jantung lebih cepat dari normal.
    8. Kesadaran menurun — Pasien menjadi bingung, mengantuk, atau sulit diajak bicara.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai atau menyebabkan gangguan penyapihan ventilator:

    1. Cedera Kepala — Cedera pada otak yang memengaruhi pusat pernapasan.
    2. Coronary Artery Bypass Graft (CABG) — Operasi bypass jantung yang membutuhkan ventilator pascaoperasi.
    3. Gagal Napas — Ketidakmampuan paru untuk memasukkan dan mengeluarkan udara secara adekuat.
    4. Cardiac Arrest — Henti jantung mendadak yang membutuhkan resusitasi dan ventilator.
    5. Transplantasi Jantung — Operasi penggantian jantung yang membutuhkan ventilator dalam masa pemulihan.
    6. Displasia Bronkopulmonal — Kerusakan jaringan paru yang sering terjadi pada bayi prematur yang menggunakan ventilator.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Penyapihan Ventilator — Keberhasilan pasien dalam melepaskan diri dari ketergantungan ventilator mekanik secara bertahap hingga mampu bernapas mandiri.

    Luaran Tambahan:

    1. Konservasi Energi — Kemampuan pasien mengatur tenaga agar tidak cepat lelah saat beraktivitas atau bernapas.
    2. Motivasi — Semangat dan kemauan pasien untuk berpartisipasi aktif dalam proses penyapihan ventilator.
    3. Pertukaran Gas — Proses masuknya oksigen dan keluarnya karbon dioksida di dalam paru-paru berjalan adekuat.
    4. Perfusi Paru — Aliran darah ke jaringan paru-paru berjalan lancar untuk mendukung pertukaran gas.
    5. Pola Tidur — Kualitas dan pola tidur pasien terjaga dengan baik selama proses penyapihan.
    6. Status Kenyamanan — Pasien merasa nyaman secara fisik dan psikologis selama proses perawatan.
    7. Status Neurologis — Fungsi sistem saraf pasien tetap stabil (kesadaran, orientasi, respons).
    8. Status Nutrisi — Asupan makanan dan nutrisi pasien memadai untuk mendukung pemulihan.
    9. Tingkat Agitasi — Tingkat kegelisahan pasien terkontrol sehingga tidak mengganggu proses penyapihan.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Gangguan Penyapihan Ventilator

    Intervensi Utama:

    • Penyapihan Ventilasi Mekanik — Membantu proses penurunan ventilator secara bertahap sesuai kondisi pasien.
    • Pemantauan Respirasi — Memantau frekuensi, kedalaman, dan pola napas pasien secara rutin.

    Intervensi Pendukung:

    • Dukungan Emosional — Memberikan dukungan psikologis agar pasien merasa aman dan termotivasi.
    • Dukungan Ventilasi — Membantu perawatan alat ventilator dan memastikan fungsinya optimal.
    • Edukasi Pengukuran Respirasi — Mengajarkan cara mengukur dan memantau pernapasan sendiri.
    • Ektubasi Selang Endotrakheal — Melepas selang intubasi dari tenggorokan saat pasien sudah siap.
    • Manajemen Asam-Basa — Menjaga keseimbangan asam dan basa dalam tubuh melalui pemantauan dan intervensi.
    • Manajemen Energi — Membantu pasien mengatur aktivitas agar tidak kelelahan.
    • Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas dari sumbatan lendir atau benda asing.
    • Manajemen Jalan Napas Buatan — Merawat alat bantu napas buatan seperti ventilator dan oksigen.
    • Manajemen Ventilasi Mekanik — Mengatur dan memantau penggunaan mesin ventilator sesuai kebutuhan pasien.
    • Manajemen Medikasi — Memberikan dan memantau obat-obatan yang diperlukan selama proses penyapihan.
    • Pemantauan Asam-Basa — Memeriksa kadar asam-basa dalam darah secara berkala.
    • Pemberian Obat Interpleura — Memberikan obat ke dalam rongga pleura (selaput paru) jika diperlukan.
    • Pemberian Obat Intradermal — Memberikan obat melalui suntikan ke lapisan kulit.
    • Pemberian Obat Intramuskular — Memberikan obat melalui suntikan ke otot.
    • Pemberian Obat Intravena — Memberikan obat melalui infus ke pembuluh darah.
    • Pemberian Obat Oral — Memberikan obat melalui mulut.
    • Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya cairan atau makanan ke saluran napas.
    • Pencegahan Infeksi — Menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi saluran napas.
    • Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien dalam posisi terbaik untuk memudahkan pernapasan.
    • Penghisapan Jalan Napas — Menyedot lendir dari saluran napas untuk menjaga kepatenan.
    • Pemantauan Tanda Vital — Memantau tekanan darah, nadi, suhu, dan frekuensi napas secara rutin.
    • Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk membantu pernapasan.
    • Pemberian Obat Inhalasi — Memberikan obat melalui hirupan untuk membuka saluran napas.
    • Reduksi Ansietas — Mengurangi rasa cemas pasien melalui teknik relaksasi dan edukasi.
    • Terapi Relaksasi — Teknik untuk menenangkan pasien seperti pernapasan dalam dan meditasi.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif

    D.0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif

    Loading

    D.0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif

    Definisi

    Kondisi di mana seseorang tidak mampu membersihkan lendir (sekret) atau mengatasi penyumbatan di saluran pernapasan, sehingga jalan napas tidak bisa tetap terbuka (paten) dengan baik.

    Jalan napas adalah saluran udara dari hidung/mulut hingga ke paru-paru. “Paten” berarti terbuka dan tidak ada sumbatan. Ketika jalan napas tersumbat oleh lendir, bengkak, atau benda asing, oksigen tidak bisa masuk ke paru-paru dengan lancar.

     

    Penyebab

    A. Fisiologis (Berasal dari gangguan fungsi tubuh)

    1. Spasme jalan napas — Kejang atau penyempitan tiba-tiba pada saluran napas, membuat udara sulit melewati. Mirip seperti asma.
    2. Hipersekresi jalan napas — Produksi lendir (dahak) berlebihan di saluran napas, sehingga jalan napas tersumbat.
    3. Disfungsi neuromuskuler — Gangguan pada saraf atau otot yang mengatur pernapasan. Otot pernapasan tidak bisa bekerja dengan baik untuk membuang dahak.
    4. Benda asing dalam jalan napas — Sesuatu yang tidak seharusnya ada (makanan, minuman, benda kecil) tersangkut di saluran napas.
    5. Adanya jalan napas buatan — Penggunaan alat bantu napas seperti ventilator (mesin pernapasan) ataupipa endotrakeal.
    6. Sekresi yang tertahan — Lendir yang sudah terkumpul tidak bisa keluar karena berbagai sebab.
    7. Hiperplasia dinding jalan napas — Penebalan abnormal pada dinding saluran napas, membuat saluran menjadi lebih sempit.
    8. Proses infeksi — Infeksi pada saluran napas (misalnya pneumonia atau bronkitis) menyebabkan peradangan dan produksi lendir berlebih.
    9. Respon alergi — Reaksi alergi yang menyebabkan pembengkakan dan produksi lendir berlebih di saluran napas.
    10. Efek agen farmakologis — Efek samping obat-obatan tertentu, misalnya anestesi (obat bius) yang bisa membuat otot pernapasan rileks berlebihan.

    B. Situasional (Berasal dari faktor lingkungan/gaya hidup)

    1. Merokok aktif — Asap rokok merusak saluran napas dan meningkatkan produksi lendir.
    2. Merokok pasif — Menghirup asap rokok dari orang lain juga berdampak serupa.
    3. Terpapar polutan — Debu, asap kendaraan, atau bahan kimia di udara yang mengiritasi saluran napas.

     

    Gejala dan Tanda Mayor (Tanda Utama)

    Mayor berarti “utama” — ini adalah tanda-tanda paling khas yang wajib diperhatikan.

    Subjektif: (tidak tersedia)

    Objektif (yang bisa dilihat atau diperiksa oleh tenaga kesehatan):

    1. Batuk tidak efektif — Batuk ada tapi tidak menghasilkan dahak, atau terlalu lemah untuk membuang dahak.
    2. Tidak mampu batuk — Pasien sama sekali tidak bisa batuk, sehingga dahak tetap menumpuk.
    3. Sputum (dahak) berlebih — Produksi dahak terlalu banyak dan tidak bisa dikeluarkan.
    4. Mengi (wheezing) dan/atau ronkhi kering — Bunyi napas abnormal: mengi adalah bunyi peluit saat bernapas; ronkhi kering adalah bunyi gemeratak karena udara melewati saluran yang menyempit.
    5. Mekonium di jalan napas pada neonatus — Pada bayi baru lahir, tinja pertama (mekonium) bisa masuk ke paru-paru dan menyumbat saluran napas.

     

    Gejala dan Tanda Minor (Tanda Tambahan)

    Minor berarti “tambahan” — tanda pendukung yang mungkin muncul, tetapi tidak selalu ada.

    Subjektif (yang dirasakan oleh pasien):

    1. Dispnea — Sesak napas atau sulit bernapas. Pasien merasa kekurangan udara.
    2. Sulit bicara — Karena napas terganggu, pasien kesulitan bicara dalam kalimat panjang.
    3. Ortopnea — Sesak napas yang memburu saat berbaring telentang, sehingga pasien harus duduk atau bersandar untuk bernapas lebih lega.

    Objektif (yang bisa diamati oleh tenaga kesehatan):

    1. Gelisah — Pasien terlihat tidak tenang karena kekurangan oksigen.
    2. Sianosis — Wbiru keunguan pada bibir, ujung jari, atau kulit. Ini tanda darah kekurangan oksigen.
    3. Bunyi napas menurun — Suara napas yang didengar melalui stetoskop menjadi lebih pelan atau hilang.
    4. Frekuensi napas berubah — Napas menjadi lebih cepat (tachipnea) atau lebih lambat dari normal.
    5. Pola napas berubah — Irama pernapasan tidak teratur, misalnya napas dangkal atau intermitten (terputus-putus).

     

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi-kondisi medis yang bisa menyebabkan atau memperburuk masalah bersihan jalan napas tidak efektif:

    1. Sindrom Guillain-Barré — Gangguan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang saraf-saraf, menyebabkan kelemahan otot termasuk otot pernapasan.
    2. Sklerosis Multipel — Penyakit yang merusak saraf pusat, bisa mengganggu kontrol otot pernapasan.
    3. Myasthenia Gravis — Penyakit yang menyebabkan kelemahan otot kronis, termasuk otot yang membantu batuk dan bernapas.
    4. Prosedur diagnostik — Pemeriksaan medis seperti bronkoskopi (memasukkan kamera ke paru-paru) atau TEE (pemeriksaan jantung melalui kerongkongan) bisa menyebabkan iritasi saluran napas.
    5. Depresi sistem saraf pusat — Penekanan pada saraf pusat (bisa karena obat atau cedera) yang mengurangi keinginan dan kemampuan untuk batuk.
    6. Cedera kepala — Cedera pada otak yang mengganggu kontrol pernapasan.
    7. Stroke — Gangguan aliran darah ke otak yang bisa memengaruhi fungsi pernapasan.
    8. Kuadriplegia — Kelumpuhan pada keempat anggota tubuh, biasanya mengganggu fungsi otot pernapasan.
    9. Sindrom aspirasi mekonium — Bayi baru lahir yang menelan mekonium (tinja pertama) saat masih di dalam kandungan, yang kemudian masuk ke paru-paru.
    10. Infeksi saluran napas — Pneumonia, bronkitis, atau infeksi lain yang menyebabkan peradangan dan lendir berlebih.

    SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    • Bersihan Jalan Napas — Kemampuan pasien untuk mempertahankan jalan napas tetap bersih dan terbuka.

    Luaran Tambahan:

    • Kontrol Gejala — Gejala seperti sesak dan batuk bisa dikendalikan.
    • Pertukaran Gas — Pertukaran oksigen dan karbon dioksidi di paru-paru berjalan normal.
    • Respons Alergi Lokal — Reaksi alergi hanya terjadi di area terbatas, tidak menyebar.
    • Respons Alergi Sistemik — Reaksi alergi yang melibatkan seluruh tubuh bisa ditangani.
    • Respons Ventilasi Mekanik — Pasien merespons dengan baik terhadap bantuan mesin pernapasan.
    • Tingkat Infeksi — Infeksi tidak menyebar atau memburuk.

    SIKI — Standar Intervensi Keperawatan Indonesia

    Intervensi Utama (Penanganan Pokok):

    • Latihan Batuk Efektif — Mengajari pasien teknik batuk yang benar agar dahak bisa keluar dengan optimal.
    • Manajemen Jalan Napas — Memastikan jalan napas tetap terbuka dan bersih melalui berbagai teknik perawatan.
    • Pemantauan Respirasi — Rutin memeriksa frekuensi, kedalaman, dan pola napas pasien.

    Intervensi Pendukung:

    • Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan — Membantu pasien agar disiplin minum obat sesuai anjuran.
    • Pemberian Obat Interpleura — Pemberian obat melalui rongga di sekitar paru-paru.
    • Edukasi Fisioterapi Dada — Mengajari teknik fisioterapi untuk membantu membersihkan dahak dari paru-paru.
    • Edukasi Pengukuran Respirasi — Mengajari pasien cara mengukur dan memantau pernapasan sendiri.
    • Fisioterapi Dada — Tindakan fisioterapi langsung untuk membantu pengeluaran dahak.
    • Konsultasi Via Telepon — Konsultasi jarak jauh dengan tenaga kesehatan jika diperlukan.
    • Manajemen Asma — Penanganan khusus bagi pasien dengan asma.
    • Manajemen Alergi — Penanganan reaksi alergi yang memicu masalah pernapasan.
    • Manajemen Anafilaksis — Penanganan darurat reaksi alergi berat yang mengancam jiwa.
    • Manajemen Isolasi — Isolasi pasien dengan penyakit menular untuk mencegah penularan.
    • Manajemen Ventilasi Mekanik — Perawatan pasien yang menggunakan mesin pernapasan (ventilator).
    • Manajemen Jalan Napas Buatan — Perawatan pipa atau alat bantu napas yang dipasang pada pasien.
    • Pemberian Obat Inhalasi — Pemberian obat melalui inhaler atau nebulizer langsung ke paru-paru.
    • Pemberian Obat Intradermal — Pemberian obat ke lapisan kulit (biasanya untuk tes alergi atau vaksin).
    • Pemberian Obat Nasal — Pemberian obat melalui hidung.
    • Pencegahan Aspirasi — Pencegahan masuknya makanan atau cairan ke saluran napas.
    • Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien pada posisi terbaik untuk memperlancar pernapasan.
    • Penghisapan Jalan Napas — Sedot lendir dari saluran napas menggunakan alat khusus (suction).
    • Penyapihan Ventilasi Mekanik — Proses perlahan melepas pasien dari mesin pernapasan saat kondisi membaik.
    • Perawatan Trakheostomi — Perawatan lubang buatan di leher (trakea) yang dibuat untuk akses jalan napas.
    • Skrining Tuberkulosis — Pemeriksaan dini untuk mendeteksi TBC (tuberkulosis).
    • Stabilisasi Jalan Napas — Tindakan darurat untuk membuka dan menstabilkan jalan napas yang tersumbat.
    • Terapi Oksigen — Pemberian suplementasi oksigen untuk memastikan kadar oksigen dalam darah tetap cukup.

     

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)