Kategori: Sirkulasi

  • D.0017 Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif.

    D.0017 Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif.

    Loading

    Loading

    D.0017 Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif

    Definisi

    Risiko perfusi serebral tidak efektif adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan aliran darah ke otak, yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi neurologis, penurunan kesadaran, dan kerusakan sel-sel saraf permanen.


    Faktor Risiko

    Faktor-faktor yang meningkatkan risiko gangguan perfusi serebral meliputi:

    1. Hipertensi — Tekanan darah tinggi yang berkepanjangan merusak dinding pembuluh darah serebral dan meningkatkan risiko stroke hemoragik.
    2. Aterosklerosis serebral — Penumpukan plak lemak pada pembuluh darah otak yang menyempitkan lumen dan mengurangi aliran darah ke jaringan otak.
    3. Aritmia — Gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium yang dapat menyebabkan penggumpalan darah dan emboli ke pembuluh darah otak.
    4. Hipotensi — Penurunan tekanan darah yang menyebabkan hipoperfusi serebral, terutama pada pasien dengan gangguan autoregulasi serebral.
    5. Stenosis karotid — Penyempitan arteri karotis yang mengurangi aliran darah ke otak bagian anterior dan tengah.
    6. Penyakit darah — Polisitemia, anemia berat, atau gangguan koagulasi yang mempengaruhi viskositas dan aliran darah di pembuluh serebral.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko perfusi serebral tidak efektif meliputi:

    1. Stroke iskemik — Kematian sel-sel otak akibat penyumbatan pembuluh darah serebral yang menyebabkan defisit neurologis fokal.
    2. Transient ischemic attack (TIA) — episode defisit neurologis sementara yang disebabkan oleh gangguan aliran darah serebral sementara.
    3. Demensia vaskular — Penurunan fungsi kognitif akibat kerusakan pembuluh darah kecil di otak yang menyebabkan berbagai mini-stroke.
    4. Hipertensi intrakranial — Peningkatan tekanan di dalam tengkorak yang dapat mengganggu aliran darah serebral.
    5. Krisis hipertensi — Peningkatan tekanan darah akut yang parah yang dapat menyebabkan ensefalopati hipertensi dan stroke.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Perfusi Serebral Adekuat — Aliran darah ke otak mencukupi untuk mempertahankan fungsi neurologis, ditandai dengan status mental jernih, orientasi baik, pupil isokor dan responsif terhadap cahaya, serta tidak ada defisit neurologis fokal.

    Luaran Tambahan:

    1. Status Neurologis Stabil — Kesadaran, orientasi, dan fungsi kognitif tetap stabil tanpa perubahan yang mengkhawatirkan.
    2. Tidak Ada Defisit Neurologis Fokal — Tidak ditemukan kelemahan anggota gerak, gangguan bicara, atau gangguan penglihatan yang baru terjadi.
    3. Skor GCS Stabil — Glasgow Coma Scale tetap dalam rentang normal (15) tanpa penurunan yang bermakna.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif

    Intervensi Utama:

    • Pemantauan Neurologis — Evaluasi status neurologis secara rutin termasuk kesadaran, orientasi, pupil, kekuatan anggota gerak, dan fungsi bicara untuk mendeteksi dini gangguan perfusi serebral.
    • Manajemen Tekanan Darah — Pertahankan tekanan darah dalam rentang target untuk menjaga perfusi serebral adekuat tanpa menyebabkan hipertensi berat atau hipotensi.
    • Manajemen Posisi — Pastikan kepala pasien berada pada posisi netral atau sedikit elevasi untuk memfasilitasi venous drainage serebral tanpa mengganggu arterial inflow.

    Intervensi Pendukung:

    • Terapi Oksigen — Berikan suplementasi oksigen untuk memastikan saturasi oksigen darah adekuat bagi kebutuhan metabolik otak.
    • Pencegahan Komplikasi — Cegah peningkatan tekanan intrakranial dengan menghindari batuk berat, mengejan berlebihan, dan posisi yang mengganggu venous drainage.
    • Pendidikan Stroke — Edukasi tentang tanda-tanda stroke (FAST: Face, Arms, Speech, Time) dan pentingnya penanganan segera jika terjadi gejala neurologis baru.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0016 Risiko Perfusi Renal Tidak Efektif.

    Loading

    Definisi

    Risiko perfusi renal tidak efektif adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan aliran darah ke ginjal, yang dapat mengganggu fungsi filtrasi, ekskresi, dan regulasi cairan serta elektrolit tubuh.


    Faktor Risiko

    Faktor-faktor yang meningkatkan risiko gangguan perfusi renal meliputi:

    1. Hipoperfusi sistemik — Penurunan cardiac output akibat syok, gagal jantung, atau perdarahan berat yang mengurangi aliran darah ke ginjal.
    2. Oklusi arteri renal — Penyumbatan arteri renal oleh bekuan darah atau plak aterosklerotik yang mengganggu suplai darah ke ginjal.
    3. Nefrotoksin — Paparan zat-zat yang bersifat merusak ginjal seperti obat-obatan tertentu (NSAID, aminoglikosida), logam berat, atau kontras radiologi.
    4. Stenosis arteri renal — Penyempitan arteri renal akibat aterosklerosis atau fibromuskular displasia yang mengurangi aliran darah ke ginjal.
    5. Gagal jantung dekompensata — Penurunan cardiac output berat yang menyebabkan hipoperfusi ke seluruh organ termasuk ginjal.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko perfusi renal tidak efektif meliputi:

    1. Cedera ginjal akut — Penurunan fungsi ginjal secara tiba-tiba yang dapat disebabkan oleh hipoperfusi, nefrotoksin, atau obstruksi saluran kemih.
    2. Penyakit ginjal kronik — Kerusakan ginjal progresif yang mengakibatkan penurunan fungsi filtrasi dan ekskresi secara bertahap.
    3. Syok — Berbagai jenis syok (kardiogenik, hipovolemik, sepsis) yang menyebabkan hipoperfusi renal signifikan.
    4. Gagal hati — Gangguan perfusi hepatorenal yang dapat menyebabkan disfungsi ginjal sekunder.
    5. Diabetes mellitus — Nefropati diabetik yang merusak glomerulus dan pembuluh darah kecil di ginjal.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Perfusi Renal Adekuat — Aliran darah ke ginjal mencukupi untuk mempertahankan fungsi filtrasi dan ekskresi, ditandai dengan output urin adekuat (0,5 mL/kg/jam), kadar kreatinin dan BUN dalam batas normal, dan tidak ada tanda-tanda retensi cairan berlebih.

    Luaran Tambahan:

    1. Balance Cairan Adekuat — Input dan output cairan seimbang dengan tidak ada tanda retensi cairan atau dehidrasi.
    2. Elektrolit Normal — Kadar natrium, kalium, kalsium, dan fosfor dalam batas normal.
    3. Fungsi Ginjal Stabil — Laju filtrasi glomerulus dan fungsi ekskresi ginjal tetap stabil.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Perfusi Renal Tidak Efektif

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Volume Cairan — Pantau intake dan output cairan secara akurat, hitung balance cairan, dan pastikan hidrasi adekuat untuk menjaga perfusi renal.
    • Pemantauan Fungsi Ginjal — Pantau output urin, berat jenis urin, kadar kreatinin, BUN, dan elektrolit serum secara rutin untuk mendeteksi dini gangguan fungsi ginjal.
    • Penghindaran Nefrotoksin — Identifikasi dan hindari paparan zat nefrotoksin, termasuk penggunaan obat-obatan nephrotoxic dan kontras radiologi tanpa indikasi jelas.

    Intervensi Pendukung:

    • Manajemen Tekanan Darah — Pertahankan tekanan darah dalam rentang adekuat untuk memastikan perfusi renal tanpa menyebabkan hipertensi yang merusak glomerulus.
    • Diet Renal — Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyediakan diet rendah sodium, kalium, dan fosfor sesuai kondisi ginjal pasien.
    • Pendidikan Kesehatan Ginjal — Edukasi tentang pentingnya hidrasi, penghindaran nefrotoksin, dan tanda-tanda gangguan ginjal yang harus diwaspadai.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0015 Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif.

    Loading

    Loading

    D.0015 Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif

    Definisi

    Risiko perfusi perifer tidak efektif adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan aliran darah ke ekstremitas (tangan dan kaki), yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan, gangguan penyembuhan luka, dan risiko amputasi.


    Faktor Risiko

    Faktor-faktor yang meningkatkan risiko gangguan perfusi perifer meliputi:

    1. Penyakit arteri perifer — Aterosklerosis pada pembuluh darah ekstremitas yang menyempitkan lumen dan mengurangi aliran darah ke tangan dan kaki.
    2. Diabetes mellitus — Kerusakan pembuluh darah kecil (mikroangiopati) dan saraf (neuropati) akibat kadar gula darah tinggi yang berkepanjangan.
    3. Merokok — Nikotin menyebabkan vasokonstriksi dan kerusakan endotel pembuluh darah perifer.
    4. Hipertensi — Tekanan darah tinggi yang merusak dinding pembuluh darah dan mempercepat proses aterosklerosis.
    5. Syok atau hipoperfusi sistemik — Penurunan cardiac output yang menyebabkan pengaliran darah dari ekstremitas ke organ vital.
    6. Obstruksi vena — Trombosis vena dalam yang mengganggu aliran darah balik dari ekstremitas.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko perfusi perifer tidak efektif meliputi:

    1. Gangren — Kematian jaringan akibat kekurangan aliran darah yang parah, sering memerlukan amputasi.
    2. Ulkus kaki diabetik — Luka pada kaki penderita diabetes yang sulit sembuh akibat gangguan sirkulasi dan neuropati.
    3. Penyakit Raynaud — Kejang pembuluh darah di jari tangan dan kaki yang menyebabkan perubahan warna kulit dan rasa sakit.
    4. Deep vein thrombosis (DVT) — Pembentukan bekuan darah pada vena dalam ekstremitas bawah yang mengganggu aliran darah balik.
    5. Emboli paru — Bekuan darah dari vena perifer yang terlepas dan menuju ke paru-paru, komplikasi serius dari DVT.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Perfusi Perifer Adekuat — Aliran darah ke ekstremitas mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik jaringan, ditandai dengan kulit hangat dan kering, denyut nadi perifer teraba, kapilari refill kurang dari 3 detik, dan sensasi normal.

    Luaran Tambahan:

    1. Kulit Ekstremitas Sehat — Tidak ada perubahan warna, suhu, atau tekstur kulit yang mengindikasikan gangguan sirkulasi.
    2. Tidak Ada Luka atau Ulkus — Tidak ditemukan luka atau ulkus pada ekstremitas yang disebabkan oleh gangguan perfusi.
    3. Sensasi Normal — Tidak ada rasa kebas, kesemutan, atau nyeri pada ekstremitas yang mengindikasikan gangguan sirkulasi atau neuropati.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Sirkulasi Perifer — Pantau denyut nadi perifer, suhu kulit, warna kulit, dan kapilari refill pada ekstremitas secara rutin untuk mendeteksi dini gangguan perfusi.
    • Pencegahan Cedera Ekstremitas — Edukasi tentang penggunaan alas kaki yang sesuai, penghindaran suhu ekstrem, dan perawatan kaki yang benar pada penderita diabetes.
    • Manajemen Nyeri — Identifikasi dan pengelolaan nyeri pada ekstremitas, termasuk pemberian analgesik dan teknik non-farmakologis untuk kenyamanan pasien.

    Intervensi Pendukung:

    • Edukasi Penghentian Merokok — Bantu pasien memahami dampak merokok terhadap sirkulasi perifer dan dukung upaya penghentian kebiasaan merokok.
    • Posisi Ekstremitas — Ajarkan teknik pengangkatan ekstremitas untuk mengurangi edema dan meningkatkan aliran darah balik vena.
    • Pencegahan Trombosis — Kolaborasi dalam pemberian terapi antitrombotik dan penggunaan stocking kompresi sesuai indikasi klinis.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0014 Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif.

    Loading

    Loading

    D.0014 Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif

    Definisi

    Risiko perfusi miokard tidak efektif adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan aliran darah ke otot jantung (miokard), yang dapat menyebabkan iskemia miokard dan kerusakan sel-sel jantung karena kekurangan oksigen dan nutrisi.


    Faktor Risiko

    Faktor-faktor yang meningkatkan risiko gangguan perfusi miokard meliputi:

    1. Aterosklerosis koroner — Penumpukan plak lemak pada pembuluh darah koroner yang menyempitkan lumen dan mengurangi aliran darah ke miokard.
    2. Vasospasme koroner — Kejang pembuluh darah koroner yang menyebabkan penurunan aliran darah sementara, sering dikaitkan dengan stres atau penggunaan zat tertentu.
    3. Trombosis koroner — Pembentukan bekuan darah pada pembuluh koroner yang menyumbat aliran darah secara tiba-tiba.
    4. Hipertensi — Peningkatan afterload jantung yang meningkatkan kebutuhan oksigen miokard sekaligus memperberat kerja jantung.
    5. Diabetes mellitus — Kadar gula darah tinggi yang merusak dinding pembuluh darah dan mempercepat proses aterosklerosis.
    6. Merkokonsumsi rokok — Nikotin dan zat kimia lainnya menyebabkan vasokonstriksi dan kerusakan endotel pembuluh darah koroner.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko perfusi miokard tidak efektif meliputi:

    1. Penyakit jantung iskemik — Kondisi kronis di mana aliran darah ke miokard berkurang akibat penyumbatan pembuluh darah koroner.
    2. Angina pektoris — Nyeri dada yang terjadi saat kebutuhan oksigen miokard melebihi suplai, sering dipicu oleh aktivitas fisik atau stres.
    3. Infark miokard — Kematian sel-sel miokard akibat penyumbatan total atau hampir total pada pembuluh darah koroner.
    4. Gangguan metabolisme lipid — Kolesterol LDL tinggi dan HDL rendah yang mempercepat pembentukan plak aterosklerotik.
    5. Syok kardiogenik — Penurunan cardiac output berat akibat kerusakan miokard luas yang mengancam jiwa.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Perfusi Miokard Adekuat — Suplai oksigen dan nutrisi ke otot jantung mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik, ditandai dengan tidak ada nyeri dada iskemik, fungsi jantung stabil, dan tidak ada tanda-tanda iskemia miokard pada EKG.

    Luaran Tambahan:

    1. Tidak Ada Nyeri Dada Iskemik — Pasien tidak mengalami episode nyeri dada yang mengindikasikan iskemia miokard.
    2. Hasil EKG Normal — Tidak ada perubahan ST-T yang mengindikasikan iskemia atau infark pada rekaman elektrokardiogram.
    3. Troponin Normal — kadar troponin dalam darah tetap normal, mengindikasikan tidak ada kerusakan sel miokard.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Perfusi Miokard Tidak Efektif

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Beban Kerja Jantung — Batasi aktivitas fisik sesuai toleransi, berikan periode istirahat yang cukup, dan pantau respons hemodinamik terhadap aktivitas.
    • Terapi Oksigen — Berikan suplementasi oksigen untuk meningkatkan saturasi oksigen darah dan memastikan pasokan oksigen ke miokard adekuat.
    • Pengelolaan Nyeri Dada — Identifikasi dan dokumentasikan karakteristik nyeri dada, berikan nitroglicerin sesuai program dokter, dan pantau respons terhadap terapi.

    Intervensi Pendukung:

    • Pemantauan EKG — Lakukan monitoring EKG secara kontinu atau periodik untuk mendeteksi perubahan yang mengindikasikan iskemia miokard.
    • Manajemen Faktor Risiko — Bantu pasien mengontrol hipertensi, diabetes, kadar lipid, dan menghentikan kebiasaan merokok.
    • Pendidikan Kardiovaskular — Edukasi tentang pengelolaan stres, pola makan jantung sehat, dan pentingnya kepatuhan terhadap program pengobatan.
    • Pengelolaan Stres — Bantu pasien mengidentifikasi pemicu stres dan ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi kebutuhan oksigen miokard.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0013 Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif.

    Loading

    Loading

    D.0013 Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif

    Definisi

    Risiko perfusi gastrointestinal tidak efektif adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan aliran darah ke organ saluran cerna, yang dapat mengganggu fungsi pencernaan dan absorbsi nutrisi, serta berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan gastrointestinal.


    Faktor Risiko

    Faktor-faktor yang meningkatkan risiko gangguan perfusi gastrointestinal meliputi:

    1. Hipoperfusi sistemik — Penurunan cardiac output atau syok yang mengurangi aliran darah ke organ viseral termasuk saluran cerna.
    2. Oklusi pembuluh darah mesenterik — Penyumbatan arteri atau vena mesenterik yang mengganggu suplai darah ke usus.
    3. Vasokonstriksi berlebihan — Pengaktifan sistem saraf simpatis yang mengakibatkan pengaliran darah dari saluran cerna ke organ vital lain.
    4. Penyakit arteri koroner — Aterosklerosis pada pembuluh koroner dapat juga mempengaruhi pembuluh darah mesenterik.
    5. Gagal hati — Gangguan sirkulasi portosistemik dan perubahan hemodinamik yang mempengaruhi perfusi gastrointestinal.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko perfusi gastrointestinal tidak efektif meliputi:

    1. Iskemia mesenterik — Kekurangan aliran darah ke usus yang dapat menyebabkan nyeri abdomen berat, diare berdarah, dan nekrosis usus jika tidak ditangani.
    2. Penyakit arteri perifer — Aterosklerosis sistemik yang juga mempengaruhi pembuluh darah mesenterik.
    3. Syok kardiogenik — Penurunan cardiac output berat yang menyebabkan hipoperfusi ke seluruh organ termasuk saluran cerna.
    4. Pankreatitis akut — Peradangan pankreas yang dapat mempengaruhi suplai darah ke organ abdomen lainnya.
    5. Hipertensi portal — Peningkatan tekanan dalam sistem vena portal yang mengganggu aliran darah normal ke dan dari saluran cerna.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Perfusi Gastrointestinal Adekuat — Aliran darah ke saluran cerna mencukupi untuk mendukung fungsi pencernaan dan absorbsi, ditandai dengan tidak ada nyeri abdomen berat, fungsi usus normal, dan absorbsi nutrisi baik.

    Luaran Tambahan:

    1. Fungsi Pencernaan Normal — Proses pencernaan dan absorbsi makanan berjalan tanpa gangguan signifikan.
    2. Tidak Ada Nefro Abdominal Berat — Pasien tidak mengalami nyeri abdomen iskemik yang parah atau tanda-tanda abdomen akut.
    3. Status Nutrisi Adekuat — Berat badan stabil dengan asupan dan absorbsi nutrisi yang memadai.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Perfusi — Monitor tanda-tanda hemodinamik, pertahankan tekanan darah dan cardiac output dalam rentang adekuat untuk memastikan aliran darah ke saluran cerna.
    • Pengelolaan Nyeri Abdomen — Identifikasi karakteristik nyeri abdomen (lokasi, intensitas, onset), dan kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai anjuran dokter.
    • Manajemen Cairan dan Elektrolit — Pantau keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam-basa untuk mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat.

    Intervensi Pendukung:

    • Pemantauan Tanda Iskemia — Observasi tanda-tanda iskemia mesenterik seperti nyeri abdomen setelah makan, penurunan berat badan, dan diare berdarah.
    • Pendidikan Nutrisi — Edukasi tentang pentingnya asupan nutrisi yang tepat dan penghindaran makanan yang dapat memperberat beban kerja saluran cerna.
    • Pencegahan Trombosis — Kolaborasi dalam pemberian profilaksis trombosis untuk mencegah oklusi pembuluh darah mesenterik.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0012 Risiko Perdarahan.

    Loading

    Loading

    D.0012 Risiko Perdarahan

    Definisi

    Risiko perdarahan adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan volume darah atau kehilangan darah akibat gangguan proses koagulasi atau kerusakan pembuluh darah, yang dapat mengancam hemodinamik dan keselamatan jiwa.


    Faktor Risiko

    Faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya perdarahan meliputi:

    1. Terapi antikoagulan — Penggunaan obat pengencer darah seperti warfarin, heparin, atau obat antiplatelet yang mengganggu mekanisme pembekuan darah.
    2. Penurunan jumlah trombosit — Kondisi trombositopenia yang menyebabkan kemampuan pembekuan darah berkurang.
    3. Gangguan fungsi hati — Hati memproduksi faktor-faktor pembekuan; gangguan fungsi hati mengurangi sintesis protein koagulasi.
    4. Riwayat perdarahan sebelumnya — Pernah mengalami perdarahan berat atau riwayat kelainan perdarahan menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi.
    5. Trombositopenia — Jumlah platelet di bawah 100.000/µL yang meningkatkan risiko perdarahan spontan atau setelah cedera ringan.
    6. Hipertensi tidak terkontrol — Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol meningkatkan tekanan pada dinding pembuluh darah.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko perdarahan meliputi:

    1. Gangguan keganasan darah — Leukemia, limfoma, atau myelodysplastic syndrome yang mempengaruhi produksi dan fungsi sel darah.
    2. Sindrom disseminated intravascular coagulation (DIC) — Gangguan koagulasi masif yang menyebabkan perdarahan dan pembekuan darah simultan di seluruh tubuh.
    3. Penyakit hati lanjut — Sirosis atau gagal hati berat yang mengganggu sintesis faktor koagulasi.
    4. Gangguan ginjal — Uremia dapat menyebabkan disfungsi trombosit dan peningkatan risiko perdarahan.
    5. Prosedur invasif — Pembedahan, pemasukan kateter, atau tindakan medis lain yang berisiko menyebabkan perdarahan.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Tidak Ada Perdarahan — Tidak ditemukan tanda-tanda perdarahan aktif maupun tersembunyi, termasuk tidak ada perdarahan dari luka, membran mukosa, atau saluran cerna.

    Luaran Tambahan:

    1. Stabilitas Hemodinamik — Tekanan darah, denyut nadi, dan hemoglobin tetap stabil dalam rentang normal.
    2. Pencegahan Cedera — Tidak ada cedera atau trauma yang dapat memicu perdarahan.
    3. Pengetahuan Pencegahan Perdarahan — Pasien dan keluarga memahami tanda-tanda perdarahan dan cara pencegahannya.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Perdarahan

    Intervensi Utama:

    • Monitor Tanda-tanda Perdarahan — Observasi secara rutin tanda perdarahan dari luka, gusi, urine, feses, dan muntahan; catat warna, jumlah, dan frekuensinya.
    • Pengelolaan Terapi Antikoagulan — Kolaborasi dengan dokter untuk memantau hasil laboratorium (INR, aPTT, trombosit) dan menyesuaikan dosis antikoagulan sesuai kebutuhan.
    • Pencegahan Cedera — Berikan instruksi untuk menghindari aktivitas berisiko tinggi, gunakan sikat gigi berbulu halus, dan hindari penggunaan obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko perdarahan.

    Intervensi Pendukung:

    • Pemantauan Laboratorium — Lakukan pemeriksaan darah rutin untuk memantau kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit, dan parameter koagulasi.
    • Pendidikan Kesehatan — Edukasi pasien tentang tanda-tanda perdarahan yang harus diwaspadai dan kapan harus segera mencari pertolongan medis.
    • Manajemen Nutrisi — Pastikan asupan nutrisi Adekuat untuk mendukung produksi sel darah dan faktor koagulasi, termasuk vitamin K dari sayuran hijau.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0011 Risiko Penurunan Curah Jantung.

    Loading

    Loading

    D.0011 Risiko Penurunan Curah Jantung

    Definisi

    Risiko penurunan curah jantung adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan volume darah yang dipompa oleh jantung per menit, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan tubuh secara adekuat.


    Faktor Risiko

    Faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya penurunan curah jantung meliputi:

    1. Perubahan afterload — Peningkatan resistensi yang harus diatasi jantung saat memompa darah, misalnya akibat hipertensi berat atau stenosis aorta.
    2. Perubahan frekuensi jantung — Detak jantung yang terlalu cepat (takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia) dapat mengganggu efisiensi pemompaan.
    3. Perubahan irama jantung — Gangguan irama seperti fibrilasi atrium atau blok jantung mengganggu koordinasi kontraksi jantung.
    4. Perubahan kontraktilitas — Penurunan kekuatan kontraksi otot jantung akibat kerusakan miokard, misalnya setelah infark miokard atau pada kardiomiopati.
    5. Perubahan preload — Penurunan volume darah yang masuk ke jantung akibat dehidrasi, perdarahan, atau penumpukan cairan di paru.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko penurunan curah jantung meliputi:

    1. Gagal jantung kongestif — Ketidakmampuan jantung memompa darah secara adekuat, menyebabkan sesak napas, edema, dan kelelahan.
    2. Sindrom koroner akut — Aliran darah ke otot jantung terganggu akibat penyumbatan pembuluh koroner, yang dapat merusak kemampuan kontraksi.
    3. Gangguan katup jantung — Stenosis atau regurgitasi pada katup aorta, pulmonalis, trikuspidalis, atau mitralis yang mengganggu aliran darah intrakardiak.
    4. Defek septum atrial/ventrikel — Lubang pada dinding pemisah ruang jantung yang menyebabkan pencampuran darah dan penurunan efisiensi pemompaan.
    5. Aritmia — Gangguan irama jantung yang mengakibatkan penurunan cardiac output secara bermakna.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Cardiac Output Adekuat — Jantung mampu memompa volume darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, ditandai dengan denyut nadi teratur, tekanan darah dalam batas normal, dan tidak ada tanda-tanda sirkulasi tidak adekuat.

    Luaran Tambahan:

    1. Stabilitas Hemodinamik — Tekanan darah, denyut nadi, dan curah jantung tetap stabil dalam rentang normal selama aktivitas dan istirahat.
    2. Perfusi Jaringan Adekuat — Aliran darah ke organ dan jaringan perifer cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik sel.
    3. Tidak Ada Tanda Sirkulasi Tidak Efektif — Tidak ditemukan edema paru, edema perifer, atau tanda-tanda renjana jantung.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Penurunan Curah Jantung

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Afterload — Monitor dan intervensi untuk mengontrol faktor-faktor yang meningkatkan resistensi pembuluh darah, termasuk pengelolaan hipertensi dan pemberian vasodilator sesuai program terapi.
    • Manajemen Frekuensi Jantung — Pantau denyut nadi secara rutin, identifikasi bradikardia atau takikardia, dan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiaritmia jika diperlukan.
    • Manajemen Irama Jantung — Lakukan pemantauan EKG secara kontinu, identifikasi gangguan irama, dan siapkan alat pacu jantung eksternal jika ada indikasi.
    • Manajemen Kontraktilitas — Kolaborasi dalam pemberian inotropik positif untuk meningkatkan kekuatan kontraksi miokard sesuai anjuran dokter.

    Intervensi Pendukung:

    • Manajemen Preload — Pantau intake dan output cairan, batasi asupan sodium sesuai program diet, dan kolaborasi dalam pemberian diuretik untuk mengontrol volume intravaskular.
    • Istirahat dan Aktivitas — Rencanakan aktivitas bertahap dengan periode istirahat yang cukup untuk mengurangi beban kerja jantung.
    • Suplementasi Oksigen — Berikan oksigen tambahan jika terdapat tanda hipoksia untuk memastikan pasokan oksigen ke jaringan tetap adekuat.
    • Pendidikan Kesehatan — Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda perburukan, pentingnya kepatuhan obat, dan modifikasi gaya hidup untuk menjaga fungsi kardiovaskular.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0010 Risiko Gangguan Sirkulasi Spontan.

    D.0010 Risiko Gangguan Sirkulasi Spontan.

    Loading

    D.0010 Risiko Gangguan Sirkulasi Spontan

    Definisi

    Risiko Gangguan Sirkulasi Spontan adalah kondisi berisiko mengalami ketidakmampuan untuk mempertahankan sirkulasi (aliran darah) yang adekuat untuk menunjang kehidupan. Artinya, pasien memiliki faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan sirkulasi yang mengancam jiwa.


    Faktor Risiko

    Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan sirkulasi spontan:

    1. Kekurangan volume cairan — Dehidrasi atau perdarahan yang mengurangi volume darah.
    2. Hipoksia — Kekurangan oksigen dalam jaringan tubuh.
    3. Hipotermia — Suhu tubuh terlalu rendah yang memperlambat fungsi jantung.
    4. Hipokalemia/Hiperkalemia — Kadar kalium terlalu rendah atau terlalu tinggi, yang mengganggu irama jantung.
    5. Hipoglikemia/Hiperglikemia — Kadar gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi.
    6. Asidosis — Kadar asam dalam darah terlalu tinggi.
    7. Toksin (mis. keracunan, overdosis obat) — Zat beracun yang memengaruhi fungsi jantung dan sirkulasi.
    8. Tamponade Jantung — Penumpukan cairan di sekitar jantung yang menekan jantung sehingga tidak bisa memompa dengan baik.
    9. Tension Pneumothorax — Udara terjebak di rongga dada dengan tekanan tinggi yang menghimpit jantung dan pembuluh darah besar.
    10. Trombosis Jantung — Pembentukan bekuan darah di dalam jantung.
    11. Trombosis Paru (Emboli Paru) — Bekuan darah menyumbat pembuluh darah paru.

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai risiko gangguan sirkulasi spontan:

    1. Bradikardia — Detak jantung sangat lambat (kurang dari 60 kali/menit).
    2. Takikardia — Detak jantung sangat cepat (lebih dari 100 kali/menit).
    3. Sindrom Koroner Akut — Penyumbatan pembuluh darah jantung yang menyebabkan serangan jantung.
    4. Gagal Jantung — Jantung tidak mampu memompa darah dengan baik.
    5. Kardiomiopati — Penyakit pada otot jantung yang mengganggu kemampuan memompa.
    6. Miokarditis — Radang pada otot jantung.
    7. Disritmia — Gangguan irama atau frekuensi detak jantung.
    8. Trauma — Cedera fisik yang bisa menyebabkan syok dan gangguan sirkulasi.
    9. Perdarahan — Perdarahan berat dari berbagai lokasi seperti gastrointestinal, ruptur aorta, atau perdarahan intrakranial.
    10. Keracunan — Masuknya zat beracun yang memengaruhi fungsi jantung.
    11. Overdosis — Konsumsi obat berlebihan yang menekan fungsi kardiovaskular.
    12. Tenggelam — Kekurangan oksigen akibat tenggelam yang memengaruhi jantung.
    13. Emboli Paru — Penyumbatan pembuluh darah paru oleh bekuan darah.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Sirkulasi Spontan — Jantung mampu memompa darah secara adekuat untuk menjaga kehidupan.

    Luaran Tambahan:

    1. Keseimbangan Asam-Basa — Kadar keasaman darah dalam rentang normal.
    2. Perfusi Gastrointestinal — Aliran darah ke saluran pencernaan berjalan adekuat.
    3. Perfusi Perifer — Aliran darah ke ekstremitas berjalan adekuat.
    4. Perfusi Renal — Aliran darah ke ginjal berjalan adekuat.
    5. Perfusi Serebral — Aliran darah ke otak berjalan adekuat.
    6. Status Sirkulasi — Sistem sirkulasi berfungsi dengan baik.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Gangguan Sirkulasi Spontan

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Defibrilasi — Memberikan kejutan listrik ke jantung untuk mengembalikan irama normal jika diperlukan.
    • Resusitasi Cairan — Memberikan cairan infus untuk menjaga volume darah dan tekanan darah.
    • Resusitasi Jantung Paru (RJP) — Tindakan darurat berupa kompresi dada dan ventilasi untuk mempertahankan sirkulasi jika jantung berhenti.

    Intervensi Pendukung:

    • Code Management — Koordinasi tim dalam situasi darurat jantung (code blue).
    • Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan — Membantu pasien patuh dengan pengobatan yang diresepkan.
    • Manajemen Spesimen Darah — Pengambilan dan pengelolaan sampel darah untuk pemeriksaan.
    • Manajemen Penyalahgunaan Zat — Mengatasi efek penyalahgunaan zat yang memengaruhi sirkulasi.
    • Pemantauan Cairan — Memantau asupan dan output cairan tubuh.
    • Pemantauan Hasil Laboratorium — Memeriksa hasil pemeriksaan darah dan cairan tubuh.
    • Pemantauan Hemodinamik Invasif — Memantau tekanan darah dan fungsi jantung menggunakan alat khusus.
    • Pemantauan Tanda Vital — Memantau tekanan darah, nadi, suhu, dan saturasi oksigen secara rutin.
    • Insersi Intravena — Memasang infus untuk pemberian obat dan cairan.
    • Insersi Jalan Napas Buatan — Memasang alat bantu napas buatan jika diperlukan.
    • Kateterisasi Urine — Memasang selang ke kandung kemih untuk memantau produksi urin.
    • Manajemen Alat Pacu Jantung Sementara — Mengatur dan memantau penggunaan alat pacu jantung sementara.
    • Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk mendukung fungsi sirkulasi.
    • Manajemen Asam-Basa: Alkalosis Metabolik — Mengatasi kondisi darah terlalu basa akibat gangguan metabolik.
    • Pemberian Obat Intramuskular — Memberikan obat melalui suntikan ke otot.
    • Manajemen Asam-Basa: Asidosis Metabolik — Mengatasi kondisi darah terlalu asam akibat gangguan metabolik.
    • Pemberian Obat Intraoseous — Memberikan obat melalui jarum yang dimasukkan ke tulang.
    • Manajemen Asam-Basa: Asidosis Respiratorik — Mengatasi darah terlalu asam akibat penumpukan karbon dioksida.
    • Manajemen Elektrolit: Hiperkalemia — Mengatasi kadar kalium terlalu tinggi dalam darah.
    • Manajemen Elektrolit: Hiperkalsemia — Mengatasi kadar kalsium terlalu tinggi.
    • Manajemen Elektrolit: Hipermagnesemia — Mengatasi kadar magnesium terlalu tinggi.
    • Pengambilan Sampel Darah Vena — Mengambil sampel darah dari pembuluh vena untuk pemeriksaan.
    • Manajemen Elektrolit: Hipernatremia — Mengatasi kadar natrium terlalu tinggi.
    • Manajemen Elektrolit: Hipokalemia — Mengatasi kadar kalium terlalu rendah.
    • Manajemen Elektrolit: Hipokalsemia — Mengatasi kadar kalsium terlalu rendah.
    • Manajemen Elektrolit: Hipomagnesemia — Mengatasi kadar magnesium terlalu rendah.
    • Perawatan Emboli Paru — Merawat kondisi penyumbatan pembuluh darah paru.
    • Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas.
    • Manajemen Jalan Napas Buatan — Merawat alat bantu napas buatan.
    • Manajemen Medikasi — Mengelola pemberian obat-obatan secara tepat.
    • Manajemen Overdosis — Mengatasi efek kelebihan dosis obat.
    • Pemberian Obat Intravena — Memberikan obat melalui infus.
    • Pemeriksaan Kelengkapan Set Emergensi — Memastikan perlengkapan darurat siap digunakan.
    • Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya benda asing ke saluran napas.
    • Pengambilan Sampel Darah Arteri — Mengambil sampel darah dari pembuluh nadi untuk pemeriksaan.
    • Penghisapan Jalan Napas — Menyedot lendir dari saluran napas.
    • Pengontrolan Perdarahan — Mengendalikan perdarahan yang terjadi.
    • Perawatan Alat Topangan Jantung Mekanik — Merawat alat bantu jantung mekanik jika digunakan.
    • Perawatan Jantung Akut — Merawat kondisi darurat jantung.
    • Perawatan Jenazah — Merawat jenazah jika pasien meninggal.
    • Pertolongan Pertama — Memberikan pertolongan pertama yang diperlukan.
    • Stabilisasi Jalan Napas — Memastikan saluran napas tetap terbuka dan aman.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0009 Perfusi Perifer Tidak Efektif.

    Loading

    D.0009 Perfusi Perifer Tidak Efektif

    Definisi

    Perfusi Perifer Tidak Efektif adalah penurunan sirkulasi darah pada level kapiler (pembuluh darah paling kecil) yang dapat mengganggu metabolisme tubuh di area ekstremitas (tangan dan kaki). Artinya, darah tidak mengalir dengan baik ke jaringan-jaringan di bagian tubuh yang jauh dari jantung.


    Penyebab

    1. Hiperglikemia — Kadar gula darah terlalu tinggi yang merusak pembuluh darah kecil dan memperlambat aliran darah.
    2. Penurunan konsentrasi hemoglobin — Hemoglobin (protein pembawa oksigen dalam darah) berkurang, sehingga oksigen yang sampai ke jaringan berkurang.
    3. Peningkatan tekanan darah — Tekanan darah tinggi yang merusak dinding pembuluh darah kecil.
    4. Kekurangan volume cairan — Cairan dalam tubuh kurang sehingga volume darah berkurang dan aliran ke ekstremitas menurun.
    5. Penurunan aliran arteri dan/atau vena — Aliran darah dari jantung ke ekstremitas (arteri) atau dari ekstremitas kembali ke jantung (vena) berkurang.
    6. Kurang informasi tentang faktor pemberat — Pasien tidak mengetahui faktor yang memperburuk kondisi seperti merokok, gaya hidup monoton, trauma, obesitas, asupan garam berlebih, atau imobilitas (kurang gerak).
    7. Kurang informasi tentang proses penyakit — Pasien tidak memahami penyakit yang dialami seperti diabetes melitus atau hiperlipidemia (kolesterol tinggi).
    8. Kurang aktivitas fisik — Kurangnya gerak tubuh memperlambat sirkulasi darah ke ekstremitas.

    Gejala dan Tanda Mayor

    Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan perfusi perifer ini.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    • Tidak tersedia.

    Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):

    1. Pengisian kapiler >3 detik — Setelah ditekan, kulit membutuhkan waktu lebih dari 3 detik untuk kembali berwarna normal (tanda aliran darah ke kulit berkurang).
    2. Nadi perifer menurun atau tidak teraba — Denyut nadi di pergelangan tangan atau kaki lemah atau tidak teraba sama sekali.
    3. Akral teraba dingin — Ujung-ujung tubuh (jari tangan, jari kaki) teraba dingin karena kurang aliran darah hangat.
    4. Warna kulit pucat — Kulit ekstremitas tampak pucat karena kurang aliran darah.
    5. Turgor kulit menurun — Kulit lambat kembali ke bentuk semula saat dijepit (tanda dehidrasi atau kurang aliran darah).

    Gejala dan Tanda Minor

    Minor berarti tanda-tanda tambahan yang mungkin menyertai gangguan perfusi perifer ini.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    1. Parestesia — Sensasi abnormal pada kulit seperti kesemutan, kebas, atau rasa terbakar di tangan atau kaki.
    2. Nyeri ekstremitas (klaudikasi intermiten) — Nyeri pada kaki saat berjalan yang membaik saat berhenti sebentar, karena otot kekurangan aliran darah saat bekerja.

    Objektif (yang bisa diamati):

    1. Edema — Pembengkakan pada tangan atau kaki akibat penumpukan cairan.
    2. Penyembuhan luka lambat — Luka atau goresan membutuhkan waktu lama untuk sembuh karena kurang oksigen dan nutrisi ke jaringan.
    3. Indeks ankle-brachial <0,90 — Perbandingan tekanan darah di pergelangan kaki dengan lengan menunjukkan penyumbatan pembuluh darah.
    4. Bruit femoral — Suara abnormal yang terdengar saat mendengar pembuluh darah di area selangkangan dengan stetoskop (tanda penyumbatan).

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai gangguan perfusi perifer:

    1. Tromboflebitis — Peradangan pada pembuluh vena yang disertai pembentukan bekuan darah.
    2. Diabetes Melitus — Penyakit gula darah tinggi yang merusak pembuluh darah kecil.
    3. Anemia — Kekurangan sel darah merah atau hemoglobin sehingga oksigen ke jaringan berkurang.
    4. Gagal Jantung Kongenital — Kelainan jantung bawaan yang mengganggu sirkulasi.
    5. Kelainan Jantung Kongenital — Struktur jantung abnormal sejak lahir.
    6. Trombosis Arteri — Bekuan darah menyumbat pembuluh nadi.
    7. Varises — Pembengkakan pembuluh vena di kaki.
    8. Trombosis Vena Dalam — Bekuan darah di pembuluh vena dalam kaki.
    9. Sindrom Kompartemen — Tekanan tinggi di dalam ruang otot yang mengganggu aliran darah.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Perfusi Perifer — Aliran darah ke ekstremitas (tangan dan kaki) berjalan adekuat.

    Luaran Tambahan:

    1. Fungsi Sensori — Kemampuan persepsi sensori di ekstremitas tetap terjaga.
    2. Mobilitas Fisik — Kemampuan bergerak ekstremitas tetap terjaga.
    3. Penyembuhan Luka — Luka pada ekstremitas sembuh dengan baik.
    4. Status Sirkulasi — Sistem sirkulasi ke ekstremitas berfungsi dengan baik.
    5. Tingkat Cedera — Risiko cedera pada ekstremitas terkontrol.
    6. Tingkat Perdarahan — Risiko perdarahan pada ekstremitas terkontrol.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Perfusi Perifer Tidak Efektif

    Intervensi Utama:

    • Pemantauan Sirkulasi Perifer — Memantau sirkulasi darah di ekstremitas secara rutin.
    • Manajemen Luka — Merawat luka pada ekstremitas untuk mendukung penyembuhan.

    Intervensi Pendukung:

    • Edukasi Pengukuran Respirasi — Mengajarkan cara memantau pernapasan.
    • Edukasi Pengukuran Tanda Vital — Mengajarkan cara memantau tanda vital sendiri.
    • Edukasi Pengukuran Berat Badan — Mengajarkan cara memantau berat badan.
    • Edukasi Pengukuran Tekanan Darah — Mengajarkan cara mengukur tekanan darah sendiri.
    • Edukasi Pengukuran Kadar Glukosa Darah — Mengajarkan cara memantau kadar gula darah.
    • Edukasi Pengukuran Glikosilasi Hemoglobin — Mengajarkan tentang pemeriksaan HbA1c.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Vaskular — Mengajarkan cara memeriksa sirkulasi darah di kaki.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Saraf — Mengajarkan cara memeriksa fungsi sensori di kaki.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Motorik — Mengajarkan cara memeriksa kemampuan gerak kaki.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Integumen — Mengajarkan cara memeriksa kondisi kulit kaki.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Eliminasi — Mengajarkan cara memantau fungsi buang air kecil.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Kognitif — Mengajarkan cara memantau fungsi berpikir.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Psikososial — Mengajarkan cara memantau kondisi psikologis.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Seksual — Mengajarkan tentang dampak penyakit terhadap fungsi seksual.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Reproduksi — Mengajarkan tentang dampak penyakit terhadap fungsi reproduksi.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Saluran Cerna — Mengajarkan cara memantau fungsi pencernaan.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Saluran Kemih — Mengajarkan cara memantau fungsi kandung kemih.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Saluran Pernapasan — Mengajarkan cara memantau pernapasan.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Saluran Reproduksi — Mengajarkan tentang dampak penyakit terhadap saluran reproduksi.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Penglihatan — Mengajarkan cara memeriksa penglihatan.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Pendengaran — Mengajarkan cara memeriksa pendengaran.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Penciuman — Mengajarkan cara memeriksa penciuman.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Peraba — Mengajarkan cara memeriksa sensasi sentuh.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Pengecap — Mengajarkan cara memeriksa fungsi rasa.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Keseimbangan — Mengajarkan cara memeriksa keseimbangan tubuh.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Koordinasi — Mengajarkan cara memeriksa koordinasi gerak.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Refleks — Mengajarkan cara memeriksa refleks tubuh.
    • Edukasi Pengukuran Fungsi Respon — Mengajarkan cara memeriksa waktu reaksi.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0008 Penurunan Curah Jantung.

    Loading

    D.0008 Penurunan Curah Jantung

    Definisi

    Penurunan Curah Jantung adalah ketidakadekuatan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Artinya, jantung tidak mampu memompa darah yang cukup untuk membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh sel tubuh.


    Penyebab

    1. Perubahan irama jantung — Jantung berdetak tidak teratur, sehingga pompaan darah tidak efektif.
    2. Perubahan frekuensi jantung — Jantung berdetak terlalu cepat (takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia).
    3. Perubahan kontraktilitas — Kekuatan pompaan otot jantung berkurang, sehingga darah tidak terpompa dengan baik.
    4. Perubahan preload — Volume darah yang masuk ke jantung berubah, sehingga jantung terisi terlalu penuh atau terlalu kosong.
    5. Perubahan afterload — Resistensi yang harus dilawan jantung saat memompa darah berubah, sehingga jantung bekerja lebih berat atau kurang efektif.

    Gejala dan Tanda Mayor

    Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari penurunan curah jantung.

    Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

    1. Perubahan irama jantung: Palpitasi — Pasien merasa detak jantungnya tidak teratur, berdegup kencang, atau melambat.
    2. Perubahan preload: Lelah — Pasien merasa sangat capek karena tubuh kekurangan oksigen dan nutrisi.
    3. Perubahan afterload: Dispnea — Pasien merasa sesak napas karena paru penuh cairan akibat penumpukan darah.
    4. Perubahan kontraktilitas: Paroxysmal Nocturnal Dyspnea (PND), Ortopnea, Batuk — Pasien terbangun tiba-tiba di malam hari karena sesak napas (PND), sulit bernapas saat berbaring (ortopnea), dan batuk karena cairan di paru.

    Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):

    1. Perubahan irama jantung:
      • Bradikardia / Takikardia — Detak jantung terlalu lambat (<60/menit) atau terlalu cepat (>100/menit).
      • Gambaran EKG aritmia atau gangguan konduksi — Hasil rekaman jantung menunjukkan irama tidak teratur atau gangguan penghantaran sinyal listrik.
    2. Perubahan preload:
      • Edema — Pembengkakan pada kaki, tangan, atau wajah akibat penumpukan cairan.
      • Distensi vena jugularis — Pembuluh darah di leher membengkak karena tekanan darah di jantung kanan meningkat.
      • Central Venous Pressure (CVP) meningkat/menurun — Tekanan darah di vena besar dekat jantung tidak normal.
      • Hepatomegali — Pembesaran hati akibat penumpukan darah.
    3. Perubahan afterload:
      • Tekanan darah meningkat/menurun — Tekanan darah tidak stabil.
      • Nadi perifer teraba lemah — Denyut nadi di pergelangan tangan atau kaki lemah.
      • Capillary refill time >3 detik — Setelah ditekan, kulit membutuhkan waktu lama untuk kembali berwarna normal.
      • Oliguria — Produksi urin sangat sedikit (<500 ml/24 jam).
      • Warna kulit pucat dan/atau sianosis — Kulit pucat atau kebiruan karena kurang oksigen.
    4. Perubahan kontraktilitas:
      • Terdengar suara jantung S3 dan/atau S4 — Suara jantung tambahan yang tidak normal saat didengar dengan stetoskop.
      • Ejection Fraction (EF) menurun — Persentase darah yang dipompa jantung setiap detak berkurang (normal 55-70%).

    Kondisi Klinis Terkait

    Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai penurunan curah jantung:

    1. Gagal Jantung Kongestif — Jantung tidak mampu memompa darah dengan baik sehingga cairan menumpuk di paru dan tubuh.
    2. Sindrom Koroner Akut — Penyumbatan pembuluh darah jantung yang menyebabkan kerusakan otot jantung.
    3. Stenosis Mitral — Penyempitan katup mitral yang mengganggu aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri.
    4. Regurgitasi Mitral — Katup mitral tidak menutup rapat sehingga darah mengalir balik.
    5. Stenosis Aorta — Penyempitan katup aorta yang mengganggu aliran darah ke seluruh tubuh.
    6. Regurgitasi Aorta — Katup aorta tidak menutup rapat sehingga darah mengalir balik ke ventrikel.
    7. Stenosis Pulmonal — Penyempitan katup pulmonal yang mengganggu aliran darah ke paru.
    8. Regurgitasi Trikuspidal — Katup trikuspidal tidak menutup rapat.
    9. Regurgitasi Pulmonal — Katup pulmonal tidak menutup rapat.
    10. Aritmia — Gangguan irama jantung yang memengaruhi efisiensi pompaan.
    11. Penyakit Jantung Bawaan — Kelainan struktur jantung sejak lahir.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Curah Jantung — Jantung mampu memompa darah adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.

    Luaran Tambahan:

    1. Perfusi Miokard — Aliran darah ke otot jantung berjalan adekuat.
    2. Perfusi Renal — Aliran darah ke ginjal berjalan adekuat.
    3. Perfusi Perifer — Aliran darah ke ekstremitas berjalan adekuat.
    4. Perfusi Serebral — Aliran darah ke otak berjalan adekuat.
    5. Status Cairan — Keseimbangan cairan tubuh terjaga.
    6. Status Neurologis — Fungsi sistem saraf tetap stabil.
    7. Status Sirkulasi — Sistem sirkulasi berfungsi dengan baik.
    8. Tingkat Keletihan — Rasa lelah pasien terkontrol.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Penurunan Curah Jantung

    Intervensi Utama:

    • Pemantauan Hemodinamik — Memantau tekanan darah, detak jantung, dan fungsi jantung secara terus-menerus.
    • Pemantauan Tanda Vital — Memantau tekanan darah, nadi, suhu, dan frekuensi napas secara rutin.

    Intervensi Pendukung:

    • Manajemen Cairan — Mengatur asupan dan output cairan sesuai kebutuhan.
    • Manajemen Medikasi — Memberikan obat-obatan jantung sesuai resep.
    • Pemberian Oksigen — Memberikan suplementasi oksigen untuk membantu kerja jantung.
    • Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien dalam posisi semi-fowler untuk mengurangi beban jantung.
    • Manajemen Energi — Membantu pasien mengatur aktivitas agar tidak kelelahan.
    • Restriksi Cairan dan Garam — Membatasi asupan cairan dan garam untuk mengurangi beban jantung.
    • Pencegahan Tromboemboli — Mencegah pembentukan bekuan darah yang berbahaya.
    • Pemantauan Berat Badan Harian — Memantau perubahan berat badan sebagai indikator penumpukan cairan.
    • Pemantauan I/O (Input/Output) — Mencatat asupan cairan dan produksi urin.
    • Reduksi Ansietas — Mengurangi rasa cemas pasien.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)