![]()
D.0010 Risiko Gangguan Sirkulasi Spontan
Definisi
Risiko Gangguan Sirkulasi Spontan adalah kondisi berisiko mengalami ketidakmampuan untuk mempertahankan sirkulasi (aliran darah) yang adekuat untuk menunjang kehidupan. Artinya, pasien memiliki faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan sirkulasi yang mengancam jiwa.
Faktor Risiko
Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan sirkulasi spontan:
- Kekurangan volume cairan — Dehidrasi atau perdarahan yang mengurangi volume darah.
- Hipoksia — Kekurangan oksigen dalam jaringan tubuh.
- Hipotermia — Suhu tubuh terlalu rendah yang memperlambat fungsi jantung.
- Hipokalemia/Hiperkalemia — Kadar kalium terlalu rendah atau terlalu tinggi, yang mengganggu irama jantung.
- Hipoglikemia/Hiperglikemia — Kadar gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi.
- Asidosis — Kadar asam dalam darah terlalu tinggi.
- Toksin (mis. keracunan, overdosis obat) — Zat beracun yang memengaruhi fungsi jantung dan sirkulasi.
- Tamponade Jantung — Penumpukan cairan di sekitar jantung yang menekan jantung sehingga tidak bisa memompa dengan baik.
- Tension Pneumothorax — Udara terjebak di rongga dada dengan tekanan tinggi yang menghimpit jantung dan pembuluh darah besar.
- Trombosis Jantung — Pembentukan bekuan darah di dalam jantung.
- Trombosis Paru (Emboli Paru) — Bekuan darah menyumbat pembuluh darah paru.
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai risiko gangguan sirkulasi spontan:
- Bradikardia — Detak jantung sangat lambat (kurang dari 60 kali/menit).
- Takikardia — Detak jantung sangat cepat (lebih dari 100 kali/menit).
- Sindrom Koroner Akut — Penyumbatan pembuluh darah jantung yang menyebabkan serangan jantung.
- Gagal Jantung — Jantung tidak mampu memompa darah dengan baik.
- Kardiomiopati — Penyakit pada otot jantung yang mengganggu kemampuan memompa.
- Miokarditis — Radang pada otot jantung.
- Disritmia — Gangguan irama atau frekuensi detak jantung.
- Trauma — Cedera fisik yang bisa menyebabkan syok dan gangguan sirkulasi.
- Perdarahan — Perdarahan berat dari berbagai lokasi seperti gastrointestinal, ruptur aorta, atau perdarahan intrakranial.
- Keracunan — Masuknya zat beracun yang memengaruhi fungsi jantung.
- Overdosis — Konsumsi obat berlebihan yang menekan fungsi kardiovaskular.
- Tenggelam — Kekurangan oksigen akibat tenggelam yang memengaruhi jantung.
- Emboli Paru — Penyumbatan pembuluh darah paru oleh bekuan darah.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Sirkulasi Spontan — Jantung mampu memompa darah secara adekuat untuk menjaga kehidupan.
Luaran Tambahan:
- Keseimbangan Asam-Basa — Kadar keasaman darah dalam rentang normal.
- Perfusi Gastrointestinal — Aliran darah ke saluran pencernaan berjalan adekuat.
- Perfusi Perifer — Aliran darah ke ekstremitas berjalan adekuat.
- Perfusi Renal — Aliran darah ke ginjal berjalan adekuat.
- Perfusi Serebral — Aliran darah ke otak berjalan adekuat.
- Status Sirkulasi — Sistem sirkulasi berfungsi dengan baik.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
Gangguan Sirkulasi Spontan
Intervensi Utama:
- Manajemen Defibrilasi — Memberikan kejutan listrik ke jantung untuk mengembalikan irama normal jika diperlukan.
- Resusitasi Cairan — Memberikan cairan infus untuk menjaga volume darah dan tekanan darah.
- Resusitasi Jantung Paru (RJP) — Tindakan darurat berupa kompresi dada dan ventilasi untuk mempertahankan sirkulasi jika jantung berhenti.
Intervensi Pendukung:
- Code Management — Koordinasi tim dalam situasi darurat jantung (code blue).
- Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan — Membantu pasien patuh dengan pengobatan yang diresepkan.
- Manajemen Spesimen Darah — Pengambilan dan pengelolaan sampel darah untuk pemeriksaan.
- Manajemen Penyalahgunaan Zat — Mengatasi efek penyalahgunaan zat yang memengaruhi sirkulasi.
- Pemantauan Cairan — Memantau asupan dan output cairan tubuh.
- Pemantauan Hasil Laboratorium — Memeriksa hasil pemeriksaan darah dan cairan tubuh.
- Pemantauan Hemodinamik Invasif — Memantau tekanan darah dan fungsi jantung menggunakan alat khusus.
- Pemantauan Tanda Vital — Memantau tekanan darah, nadi, suhu, dan saturasi oksigen secara rutin.
- Insersi Intravena — Memasang infus untuk pemberian obat dan cairan.
- Insersi Jalan Napas Buatan — Memasang alat bantu napas buatan jika diperlukan.
- Kateterisasi Urine — Memasang selang ke kandung kemih untuk memantau produksi urin.
- Manajemen Alat Pacu Jantung Sementara — Mengatur dan memantau penggunaan alat pacu jantung sementara.
- Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk mendukung fungsi sirkulasi.
- Manajemen Asam-Basa: Alkalosis Metabolik — Mengatasi kondisi darah terlalu basa akibat gangguan metabolik.
- Pemberian Obat Intramuskular — Memberikan obat melalui suntikan ke otot.
- Manajemen Asam-Basa: Asidosis Metabolik — Mengatasi kondisi darah terlalu asam akibat gangguan metabolik.
- Pemberian Obat Intraoseous — Memberikan obat melalui jarum yang dimasukkan ke tulang.
- Manajemen Asam-Basa: Asidosis Respiratorik — Mengatasi darah terlalu asam akibat penumpukan karbon dioksida.
- Manajemen Elektrolit: Hiperkalemia — Mengatasi kadar kalium terlalu tinggi dalam darah.
- Manajemen Elektrolit: Hiperkalsemia — Mengatasi kadar kalsium terlalu tinggi.
- Manajemen Elektrolit: Hipermagnesemia — Mengatasi kadar magnesium terlalu tinggi.
- Pengambilan Sampel Darah Vena — Mengambil sampel darah dari pembuluh vena untuk pemeriksaan.
- Manajemen Elektrolit: Hipernatremia — Mengatasi kadar natrium terlalu tinggi.
- Manajemen Elektrolit: Hipokalemia — Mengatasi kadar kalium terlalu rendah.
- Manajemen Elektrolit: Hipokalsemia — Mengatasi kadar kalsium terlalu rendah.
- Manajemen Elektrolit: Hipomagnesemia — Mengatasi kadar magnesium terlalu rendah.
- Perawatan Emboli Paru — Merawat kondisi penyumbatan pembuluh darah paru.
- Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas.
- Manajemen Jalan Napas Buatan — Merawat alat bantu napas buatan.
- Manajemen Medikasi — Mengelola pemberian obat-obatan secara tepat.
- Manajemen Overdosis — Mengatasi efek kelebihan dosis obat.
- Pemberian Obat Intravena — Memberikan obat melalui infus.
- Pemeriksaan Kelengkapan Set Emergensi — Memastikan perlengkapan darurat siap digunakan.
- Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya benda asing ke saluran napas.
- Pengambilan Sampel Darah Arteri — Mengambil sampel darah dari pembuluh nadi untuk pemeriksaan.
- Penghisapan Jalan Napas — Menyedot lendir dari saluran napas.
- Pengontrolan Perdarahan — Mengendalikan perdarahan yang terjadi.
- Perawatan Alat Topangan Jantung Mekanik — Merawat alat bantu jantung mekanik jika digunakan.
- Perawatan Jantung Akut — Merawat kondisi darurat jantung.
- Perawatan Jenazah — Merawat jenazah jika pasien meninggal.
- Pertolongan Pertama — Memberikan pertolongan pertama yang diperlukan.
- Stabilisasi Jalan Napas — Memastikan saluran napas tetap terbuka dan aman.
Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

Tinggalkan Balasan