Kategori: Keamanan dan Proteksi

  • D.0139 Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan

    D.0139 Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan

    Loading

    Loading

    D.0139 Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan

    Definisi :

    Beresiko mengalami kerusakan kulit (dermis, dan/atau epidermis) atau jaringan (membran mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi dan/atau ligamen)

    Faktor Risiko

    1. Perubahan sirkulasi
    2. Perubahan status nutrisi (kelebihan atau kekurangan)
    3. Kekurangan/kelebihan volume cairan
    4. Penurunan mobilitas
    5. Bahan kimia initatif
    6. Suhu lingkungan yang ekstrem
    7. Faktor mekanis (mis. penekanan, gesekan) atau faktor elektris (elektrodiatermi, energi listrik bertegangan tinggi)
    8. Terapi radiasi
    9. Kelembaban
    10. Proses penuaan
    11. Neuropati perifer
    12. Perubahan hormonal
    13. Penekanan pada tonjolan tulang
    14. Kurang terpapar informasi tentang upaya mempertahankan/ melindungi integritas jaringan

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Imobilitas
    2. Gagal jantung kongesif
    3. Gagal ginjal
    4. Diabetes melitus
    5. Imunodefisiensi (mis. AIDS)
    6. Kateterisasi jantung

    Keterangan

    • Dispesifikkan menjadi kulit atau jaringan
    • Kulit hanya terbatas pada dermis dan epidermis, sedangkan jaringan relojes breitling imitacion meliputi tidak hanya kulit tetapi juga mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi dan/atau ligamen.

    Tautan SDKI – SIKI 

    Intervensi Utama :

    • Perawatan Integritas Kulit
    • Perawatan Luka

    Intervensi Pendukung :

    • Dukungan perawatan diri
    • Edukasi perawatan diri
    • Edukasi perawatan kulit
    • Edukasi Perilaku Upaya Kesehatan
    • Edukasi Pola Perilaku Kebersihan
    • Edukasi Program Pengobatan
    • Konsultasi
    • Latihan Rentang Gerak
    • Manajemen Nyeri
    • Pelaporan Status Kesehatan
    • Pemberian Obat
    • Pemberian Obat Intradermal
    • Pemberian Obat Intramuskular
    • Pemberian Obat Intravena
    • Pemberian Obat Kulit
    • Pemberian Obat Subkutan
    • Pemberian Obat Topikal
    • Penjahitan Luka
    • Perawatan Area Insisi
    • Perawatan Imobilisasi
    • Perawatan Kuku
    • Perawatan Luka Bakar
    • Perawatan Luka Tekan
    • Perawatan Pasca Seksio Sesaria
    • Perawatan Skin Graft
    • Teknik Latihan Penguatan Otot dan Sendi
    • Terapi Lintah
    • Skrining Kanker

    sumber :



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0139 Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan

    Definisi

    Berisiko mengalami perubahan integritas epidermis dan/atau dermis lokal.


    Faktor Risiko

    1. Imobilitas — Keterbatasan gerak meningkatkan tekanan pada area kulit tertentu.
    2. Usia ekstrem — Bayi dan lansia memiliki kulit yang lebih tipis dan rentan terhadap kerusakan.
    3. Malnutrisi — Kekurangan protein dan vitamin mengganggu proses penyembuhan kulit.
    4. Paparan zat iritan — Kontak dengan urin, feses, atau bahan kimia dapat merusak integritas kulit.
    5. Sirkulasi darah terganggu — Penurunan aliran darah ke area kulit tertentu.
    6. Pelembapan berlebihan — Kelembapan yang berkepanjangan melemahkan barrier kulit.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Riwayat luka tekan — Pernah mengalami luka tekan menunjukkan risiko berulang.
    2. Edema — Pembengkakan pada jaringan meningkatkan tekanan pada kulit.
    3. Penurunan status nutrisi — Berat badan turun atau albumin serum rendah.
    4. Perubahan sensasi kulit — Penurunan sensasi pada area tertentu meningkatkan risiko cedera tanpa disadari.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Integritas Kulit — Integritas kulit/jaringan tetap utuh tanpa adanya kerusakan.

    Luaran Tambahan:

    1. Keamanan — Area kulit terlindungi dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan.
    2. Pengetahuan — Pasien/keluarga memahami cara menjaga integritas kulit.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Gangguan Integritas Kulit/Jaringan

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Integritas Kulit — Melakukan mobilitas dan penggantian posisi secara berkala untuk mengurangi tekanan pada area kulit.

    Intervensi Pendukung:

    • Perawatan Kulit — Menjaga kebersihan dan kelembapan kulit serta menggunakan bantalan tekanan.
    • Manajemen Nutrisi — Memastikan asupan nutrisi adekuat untuk menjaga kesehatan kulit.
    • Edukasi Pencegahan — Memberikan edukasi tentang pencegahan kerusakan kulit kepada pasien/keluarga.
    • Pemantauan Kulit — Memantau kondisi kulit secara berkala untuk mendeteksi perubahan dini.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0138 Risiko Cedera Pada Janin

    Loading

    Loading

    D.0138 Risiko Cedera Pada Janin

    Definisi :

    Berisiko mengalami bahaya atau kerusakan fisik pada janin selama proses kehamilan dan persalinan

    Faktor Risiko

    1. Besarnya ukuran janin
    2. Malposisi janin
    3. Induksi persalinan
    4. Persalinan lama kala |, || dan |||
    5. Disfungsi uterus
    6. Kecemasan yang berlebihan tentang proses persalinan
    7. Riwayat persalinan sebelumnya
    8. Usia ibu (<15 tahun atau >35 tahun)
    9. Paritas banyak
    10. Efek metode/intervensi bedah selama persalinan
    11. Nyeri pada abdomen
    12. Nyeri pada jalan lahir
    13. Penggunaan alat bantu persalinan
    14. Kelelahan
    15. Merokok
    16. Efek agen farmakologis
    17. Pengaruh budaya
    18. Pola makan yang tidak sehat
    19. Faktor ekonomi
    20. Konsumsi alkohol
    21. Terpapar agen teratogen

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW)
    2. Infeksi
    3. Penyakit penyerta: asma, hipertensi, penyakit menular seksual, AIDS
    4. Masalah kontraksi
    5. Efek pengobatan pada ibu

     


    sumber :



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0138 Risiko Cedera Pada Janin

    Definisi

    Berisiko mengalami cedera fisik pada janin selama proses kehamilan, persalinan, atau shortly setelah lahir.


    Faktor Risiko

    1. Prematuritas — Janin lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu memiliki organ yang belum matang.
    2. Berat lahir rendah (< 2500 g) — Janin dengan berat badan kurang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.
    3. Distosia bahu — Kesulitan lahirnya bahu janin meningkatkan risiko cedera.
    4. Prolapsus tali pusat — Tali pusat keluar sebelum janin, mengganggu aliran darah.
    5. Gawat janin — Penurunan oksigenasi ke janin selama proses persalinan.
    6. Macrosomia — Janin dengan berat badan berlebih (> 4000 g) meningkatkan risiko cedera persalinan.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Penurunan gerakan janin — Pergerakan janin berkurang atau tidak terasa oleh ibu.
    2. Gawat janin intrapartum — Pola detak jantung janin abnormal selama persalinan.
    3. Skor APGAR rendah — Penilaian kondisi bayi baru lahir menunjukkan penurunan.
    4. Kuning pada kulit bayi — Ikterus neonatal yang mengindikasikan masalah hati atau darah.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Proteksi — Janin/bayi tidak mengalami cedera fisik selama atau setelah proses persalinan.

    Luaran Tambahan:

    1. Keamanan — Persalinan berjalan aman tanpa komplikasi yang membahayakan janin.
    2. Status Perkembangan — Janin/bayi menunjukkan perkembangan yang sesuai dengan usia.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Cedera Pada Janin

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Risiko Cedera Janin — Memantau detak jantung janin secara berkala dan mengidentifikasi tanda-tanda gawat janin.

    Intervensi Pendukung:

    • Pemantauan Kehamilan — Melakukan pemantauan kehamilan secara rutin untuk mengidentifikasi komplikasi dini.
    • Edukasi Ibu — Memberikan edukasi tentang tanda-tanda gawat janin dan kapan harus ke fasilitas kesehatan.
    • Persiapan Persalinan — Memastikan persiapan persalinan memadai untuk mengurangi risiko komplikasi.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0137 Risiko Cedera Pada Ibu

    Loading

    Loading

    D.0137 Risiko Cedera Pada Ibu

    Definisi : 

    Berisiko mengalami bahaya atau kerusakan fisik pada ibu selama masa kehamilan sampai dengan proses persalinan

    Faktor risiko

    1. Besarnya ukuran janin
    2. Malposisi janin (posisi posterior)
    3. Induksi persalinan
    4. Persalinan lama kala |, || dan |||
    5. Disfungsi uterus
    6. Efek metode/intervensi bedah selama persalinan
    7. Kurangnya dukungan keluarga dan orang tua
    8. Kurang adekuatnya observasi dan antisipasi
    9. Keterlambatan pengambilan keputusan dan manajemen
    10. Skrining dan perawatan prenetal yang tidak adekuat
    11. Kecemasan berlebihan pada proses persalinan
    12. Riwayat cidera pada persalinan sebelumnya
    13. Usia ibu (<15 tahun atau >35 tahun)
    14. Paritas banyak
    15. Perubahan hormonal 
    16. Perubahan postur tubuh
    17. Ketuban pecah
    18. Proses infeksi
    19. Penyakit penyerta
    20. Masalah kontraksi

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Posisi tubuh lordosis
    2. Kelelahan
    3. Ketuban pecah
    4. Penurunan kadar hermoglobin

     


    sumber : Buku SDKI – PPNI Edisi 1.



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0137 Risiko Cedera Pada Ibu

    Definisi

    Berisiko mengalami cedera fisik pada ibu selama masa kehamilan, persalinan, atau masa nifas.


    Faktor Risiko

    1. Usia ibu < 20 tahun — Ibu muda memiliki risiko lebih tinggi karena organ reproduksi belum matang sepenuhnya.
    2. Usia ibu > 35 tahun — Ibu dengan usia lanjut memiliki risiko komplikasi kehamilan lebih tinggi.
    3. Paritas tinggi — Ibu yang sudah melahirkan banyak kali memiliki risiko komplikasi lebih besar.
    4. Riwayat kehamilan berisiko — Pernah mengalami komplikasi pada kehamilan sebelumnya.
    5. Kehilangan darah berlebih — Perdarahan yang tidak terkendali selama atau setelah persalinan.
    6. Infeksi — Infeksi selama kehamilan atau persalinan meningkatkan risiko cedera.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Perdarahan pervaginam — Perdarahan abnormal selama kehamilan atau setelah persalinan.
    2. Nyeri abdomen — Nyeri perut bagian bawah yang hebat dapat mengindikasikan komplikasi.
    3. Preeklamsia — Tekanan darah tinggi dan protein dalam urin selama kehamilan.
    4. Persalinan lama — Proses persalinan yang berkepanjangan meningkatkan risiko cedera.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Proteksi — Ibu tidak mengalami cedera fisik selama masa kehamilan, persalinan, atau masa nifas.

    Luaran Tambahan:

    1. Keamanan — Kehamilan dan persalinan berjalan tanpa komplikasi yang membahayakan.
    2. Pengetahuan — Ibu memahami tanda bahaya dan kapan harus mencari pertolongan medis.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Cedera Pada Ibu

    Intervensi Utama:

    • Manajemen Risiko Cedera Ibu — Melakukan asesmen risiko komplikasi kehamilan secara rutin dan memberikan intervensi pencegahan.

    Intervensi Pendukung:

    • Edukasi Kehamilan — Memberikan edukasi tentang tanda bahaya kehamilan dan persalinan.
    • Pemantauan Status Klinis — Memantau tekanan darah, protein urin, dan tanda-tanda komplikasi.
    • Promosi Dukungan Keluarga — Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan selama kehamilan.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0136 Risiko Cedera

    Loading

    Loading

    D.0136 Risiko Cedera

    Definisi :

    Berisiko mengalami bahaya atau kerusakan fisik yang menyebabkan seseorang tidak lagi sepenuhnya sehat atau dalam kondisi baik

    Faktor Risiko

    Eksternal

    1. Terpapar patogen
    2. Terpapar zat kimia toksik
    3. Terpapar agen nosokomial
    4. Ketidaknyamanan Transportasi

    Internal

    1. Ketidaknormalan profil darah
    2. Perubahan orientasi afektif
    3. Perubahan sensasi
    4. Disfungsi autoimun
    5. Disfungsi biokimia
    6. Hipoksia jaringan
    7. Kegagalan mekanisme pertahanan tubuh
    8. Malnutrisi
    9. Perubahan fungsi psikomotor
    10. Perubahan fungsi kognitif

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Kejang
    2. Sinkop
    3. Vertigo
    4. Gangguan penglihatan
    5. Gangguan pendengaran
    6. Penyakit parkinson
    7. Hipotensi
    8. Kelainan nervus vestibularis
    9. Retardasi mental

    sumber : Buku SDKI – PPNI Edisi 1.



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0136 Risiko Cedera

    Definisi

    Berisiko mengalami cedera fisik akibat interaksi dengan lingkungan.


    Faktor Risiko

    1. Usia ekstrem — Bayi dan lansia memiliki risiko cedera lebih tinggi karena keterbatasan proteksi diri.
    2. Gangguan mobilitas — Keterbatasan gerak meningkatkan risiko jatuh dan cedera.
    3. Gangguan penglihatan — Penurunan visi meningkatkan risiko cedera akibat tidak melihat bahaya.
    4. Lingkungan yang tidak aman — Permukaan licin, pencahayaan buruk, atau peralatan tidak memadai.
    5. Gangguan kognitif — Penurunan kemampuan berpikir mengganggu penilaian bahaya.
    6. Penyalahgunaan zat — Pengaruh zat terlarang meningkatkan risiko cedera akibat penurunan koordinasi.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Riwayat jatuh sebelumnya — Pernah mengalami jatuh menunjukkan risiko berulang.
    2. Kelemahan otot — Penurunan kekuatan otot mengganggu keseimbangan dan stabilitas.
    3. Vasovagal atau sinkop — Episode pingsan mendadak meningkatkan risiko cedera.
    4. Kurang pengawasan — Tidak ada pendamping pada pasien dengan risiko tinggi.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Proteksi — Pasien tidak mengalami cedera fisik akibat faktor risiko yang ada.

    Luaran Tambahan:

    1. Keamanan — Pasien berada dalam lingkungan yang aman dan bebas dari bahaya.
    2. Pengetahuan — Pasien/keluarga memahami faktor risiko cedera dan cara pencegahannya.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Cedera

    Intervensi Utama:

    • Pengelolaan Risiko Cedera — Mengidentifikasi faktor risiko cedera dan menerapkan intervensi pencegahan yang sesuai.

    Intervensi Pendukung:

    • Pengelolaan Lingkungan — Memastikan lingkungan aman (pencahayaan adequate, permukaan tidak licin, pegangan tangan tersedia).
    • Edukasi Pencegahan Cedera — Memberikan edukasi tentang cara menghindari bahaya di lingkungan.
    • Pemantauan Keamanan — Memantau kondisi pasien secara berkala dan mengidentifikasi potensi bahaya.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0135 Risiko Bunuh Diri

    D.0135 Risiko Bunuh Diri

    Loading

    Loading

    D.0135 Risiko Bunuh Diri

    Definisi :

    Berisiko melakukan upaya menyakiti diri sendiri untuk mengakhiri kehidupan

    Faktor Risiko

    1. Gangguan perilaku (mis. euforia mendadak setelah depresi, perilaku mencari senjata berbahaya, membeli obat dalam jumlah banyak, membuat surat warisan)
    2. Demografi (mis. lansia, status perceraian, janda/duda, ekonomi rendah, pengangguran)
    3. Gangguan fisik (mis. nyeri kronis, penyakit terminal)
    4. Masalah sosial (mis. berduka, tidak berdaya, putus asa, kesepian, kehilangan hubungan yang penting, isolasi sosial)
    5. Gangguan psikologis (mis. penganiayaan masa kanak kanak, riwayat bunuh diri sebelumnya, remaja homoseksual, gangguan psikiatrik, penyakit psikiatrik, penyalahgunaan zat)

     

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Sindrom otak akut/kronis
    2. Ketidakseimbangan hormon (mis. premenstrual syndrome, postpartum psychosis)
    3. Penyalahgunaan zat
    4. Post traunatic stress disorder (PTSD)
    5. Penyakit kronis/terminal (mis. kanker)

     


    Tautan Luaran

    Luaran Utama :

     

    Luaran Tambahan :

     


    sumber : Buku SDKI – PPNI Edisi 1.



     

    D.0135 Risiko Bunuh Diri

    Definisi

    Berisiko melakukan tindakan disengaja untuk mengakhiri kehidupan diri sendiri.


    Faktor Risiko

    1. Gangguan jiwa — Depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, atau gangguan kejiwaan lainnya meningkatkan risiko.
    2. Riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya — Pernah melakukan percobaan bunuh diri merupakan faktor risiko kuat.
    3. Kehilangan orang terkasih — Kematian atau perpisahan dengan orang yang dicintai memicu keputusasaan.
    4. Isolasi sosial — Keterbatasan hubungan sosial dan kurangnya dukungan emosional.
    5. Nyeri kronis atau penyakit terminal — Penderitaan berkepanjangan dapat mendorong keinginan mengakhiri hidup.
    6. Penyalahgunaan zat — Pengaruh alkohol atau narkoba meningkatkan impulsivitas dan risiko bunuh diri.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Ekspresi keinginan mati — Mengungkapkan keinginan untuk tidak hidup lagi atau ingin mati.
    2. Perilaku mencari kematian — Mencari cara untuk melakukan percobaan bunuh diri.
    3. Perubahan suasana hati mendadak — Perubahan emosi yang drastis dari sangat sedih menjadi tenang.
    4. Penarikan diri dari aktivitas — Menghindari interaksi sosial dan kegiatan yang sebelumnya disukai.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Keamanan — Pasien terhindar dari tindakan yang membahayakan diri sendiri.

    Luaran Tambahan:

    1. Perilaku Pelindung — Pasien menunjukkan kemampuan untuk mencari bantuan ketika mengalami krisis.
    2. Interaksi Sosial — Pasien mampu menjalin hubungan sosial yang mendukung.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Bunuh Diri

    Intervensi Utama:

    Intervensi Pendukung:


    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0134 Risiko Alergi

    Loading

    Loading

    D.0134 Risiko Alergi

    Definisi :…

    Berisiko mengalami simulasi respon imunitas yang berlebihan akibat terpapar alergen.

    Faktor Risiko

    1. Makanan (mis. alpukat, pisang, kiwi, kacang, makanan olahan laut, buah tropis, jamur)
    2. Terpapar zat alergen (mis. zat kimia, agen farmakologis)
    3. Terpapar alergen lingkungan (mis. debu, serbuk sari)
    4. Sengatan serangga

    Kondisi klinis Terkait

    1. Kondisi penurunan imunitas
    2. Riwayat pembedahan
    3. Riwayat alergi sebelumnya
    4. Asma

    sumber : Buku SDKI – PPNI Edisi 1.



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0134 Risiko Alergi

    Definisi

    Berisiko mengalami stimulasi respon imunitas yang berlebihan akibat terpapar alergen.


    Faktor Risiko

    1. Makanan penyebab alergi — Makanan tertentu (mis. kacang, seafood, susu, telur, gandum) dapat memicu reaksi alergi.
    2. Terpapar zat alergen — Paparan terhadap bahan kimia, agen farmakologis (mis. antibiotik, kontrasepsi), atau lateks.
    3. Terpapar alergen lingkungan — Deb u, serbuk sari, jamur, atau tungau debu yang terhirup.
    4. Sengatan serangga — Racun dari sengatan lebah, tawon, atau serangga lain dapat memicu reaksi alergi.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Riwayat alergi sebelumnya — Pernah mengalami reaksi alergi terhadap zat tertentu.
    2. Asma — Penderita asma memiliki risiko lebih tinggi mengalami reaksi alergi.
    3. Riwayat keluarga atopik — Riwayat keluarga dengan alergi atau asma meningkatkan risiko.
    4. Imunoglobulin E (IgE) meningkat — Peningkatan kadar IgE menunjukkan kecenderungan alergi.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Proteksi — Pasien tidak mengalami reaksi alergi setelah paparan alergen.

    Luaran Tambahan:

    1. Pengetahuan — Pasien memahami faktor risiko alergi dan cara menghindarinya.
    2. Pengelolaan Risiko — Pasien mampu mengidentifikasi dan menghindari alergen potensial.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Alergi

    Intervensi Utama:

    Intervensi Pendukung:


    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0133 Perlambatan Pemulihan Pasca bedah

    Loading

    Loading

    D.0133 Perlambatan Pemulihan Pasca bedah

    Definisi :

    Pemanjangan jumlah hari pascabedah untuk memulai dan melakukan akitivitas sehari-hari.

    Penyebab

    1. Skor klasifikasi status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) >3
    2. Hiperglikemia
    3. Ederma pada lokasi pembedahan
    4. Prosedur pembedahan ekstensif (luas)
    5. Usia ekstrem
    6. Riwayat perlambatan penyembuhan luka
    7. Gangguan mobilitas
    8. Malnutrisi
    9. Obesitas
    10. Infeksi luka periotif
    11. Mual/muntah persisten
    12. Respon emosional pascaoperasi
    13. Pemanjangan pasca operasi
    14. Gangguan psikologis pascaoperasi
    15. Kontaminasi bedah
    16. Trauma pada luka operasi
    17. Efek agen farmakologis

    Gejala dan Tanda Mayor

    Subjektif                                          Objektif

    1. Mengeluh tidak nyaman    1. Area luka operasi terbuka

    2. Waktu penyembuhan yang                                                                       memanjang

    Gejala dan Tanda Minor

    Subjktif                                           Objektif

    1.Selera makan hilang            1. Gangguan Mobilitas

    2. Tidak mampu melanjutkan                                                                       pekerjaan

    3. Memulai pekerjaan tertunda

    4. Membutuhkan bantuan untuk                                                                 perawatan diri

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Tindakan operasi besar
    2. Trauma yang memerluakan intervensi bedah

    Pertambatan Pemutihan Pascabedah

    Luaran Utama               :Pemulihan pascabedah

    Luaran Tambahan        :Mobilitas fisik

    Penyembuhan luka

    Tingkat infeksi

    Tingkat nyeri


    sumber : Buku SDKI – PPNI Edisi 1.



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0133 Perlambatan Pemulihan Pasca bedah

    Definisi

    Pemanjangan jumlah hari pascabedah untuk memulai dan melakukan aktivitas sehari-hari.


    Penyebab

    1. Skor klasifikasi status fisik ASA > 3 — Kondisi kesehatan dasar yang buruk memperlambat pemulihan pasca bedah.
    2. Hiperglikemia — kadar gula darah tinggi mengganggu proses penyembuhan luka.
    3. Edema pada lokasi pembedahan — Pembengkakan di sekitar area operasi memperlambat pemulihan.
    4. Prosedur pembedahan ekstensif — Operasi berat dan luas membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.
    5. Usia ekstrem — Pasien usia sangat muda atau sangat tua memiliki waktu pemulihan lebih lama.
    6. Riwayat perlambatan penyembuhan luka — Riwayat sebelumnya menunjukkan pemulihan yang lambat.
    7. Gangguan mobilitas — Keterbatasan gerak pasca bedah memperlambat aktivitas sehari-hari.
    8. Malnutrisi — Kekurangan nutrisi mengganggu proses penyembuhan.
    9. Obesitas — Berat badan berlebih meningkatkan risiko komplikasi pasca bedah.
    10. Infeksi luka operatif — Infeksi pada luka bedah memperpanjang waktu pemulihan.
    11. Mual/muntah persisten — Gangguan pencernaan pasca bedah menghambat asupan nutrisi.
    12. Respon emosional pascaoperasi — Stres dan kecemasan pasca bedah memperlambat pemulihan.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Peningkatan waktu rawat inap — Durasi perawatan di rumah sakit lebih lama dari yang diharapkan.
    2. Penurunan kemampuan ADL — Keterbatasan dalam melakukan aktivitas mandi, makan, dan berpakaian.
    3. Kelelahan — Rasa lelah yang berkepanjangan setelah prosedur bedah.
    4. Nyeri pasca bedah — Nyeri yang mengganggu mobilisasi dan pemulihan.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Recovery — Pasien memulihkan fungsi dan aktivitas sehari-hari dalam waktu yang sesuai.

    Luaran Tambahan:

    1. Status Nutrisi — Status nutrisi pasien adekuat untuk mendukung proses pemulihan.
    2. Nyeri — Nyeri terkontrol sehingga tidak mengganggu mobilisasi.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Perlambatan Pemulihan Pasca bedah

    Intervensi Utama:

    Intervensi Pendukung:


    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0132 Perilaku Kekerasan

    Loading

    Loading

    D.0132 Perilaku Kekerasan

    Definisi :…

    Kemarahan yang diekspresikan secara berlebihan dan tidak terkendali secara verbal sampai dengan mencederai orang lain dan/ atau merusak lingkungan.

    Penyebab

    1. Ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah
    2. Stimulus lingkungan
    3. Konflik interpersonal
    4. Perubahan status mental
    5. Putus obat
    6. Penyalahgunaan zat/alkohol

    Gejala dan tanda Mayor

    subjektif

    1. Mengancam
    2. Mengumpat dengan kata-kata kasar
    3. Suara keras
    4. Bicara ketus

    Objektif

    1. Menyerang orang lain
    2. Melukai diri sendiri/orang lain
    3. Merusak lingkungan
    4. Perilaku agresif/amuk

    Gejala dan Tanda Minor

    Subjektif

    1. (tidak tersedia)

    Objektif

    1. Mata melotot atau pandangan tajam
    2. Tangan mengepal
    3. Rahang mengatup
    4. Wajah memerah
    5. Postur tubuh kaku

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Attetion deficit/hyperactivity disorder (ADHD)
    2. Gangguan perilaku
    3. Oppositional defiant disorder
    4. Gangguan Tourette
    5. Delirium
    6. Demensia
    7. Gangguan amnestik

    sumber : Buku SDKI – PPNI Edisi 1.



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan0132 Perilaku Kekerasan

    Tautan Luaran

    D.0132 Perilaku Kekerasan

    Definisi

    Kemarahan yang diekspresikan secara berlebihan dan tidak terkendali secara verbal sampai dengan mencederai orang lain dan/atau merusak lingkungan.


    Penyebab

    1. Ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah — Gangguan regulasi emosi yang menyebabkan ledakan kemarahan tak terkendali.
    2. Stimulus lingkungan — Faktor lingkungan yang memicu respons agresif (mis. kebisingan, kepadatan).
    3. Konflik interpersonal — Perselisihan dengan orang lain yang memicu perilaku kekerasan.
    4. Perubahan status mental — Gangguan psikiatrik yang menyebabkan hilangnya kontrol impuls.
    5. Putus obat — Penghentian mendadak obat psikotropika dapat memicu perilaku agresif.
    6. Penyalahgunaan zat/alkohol — Pengaruh zat terlarang atau alkohol meningkatkan risiko perilaku kekerasan.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Mengancam secara verbal — Menggunakan kata-kata mengancam atau kasar terhadap orang lain.
    2. Menyerang orang lain — Melakukan kontak fisik yang bertujuan menyakiti orang lain.
    3. Merusak lingkungan — Melempar atau merusak benda-benda di sekitar.
    4. Bicara ketus — Nada bicara yang keras, kasar, dan provokatif.
    5. Ekspresi wajah marah — Mimik wajah menunjukkan kemarahan yang intens.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Perilaku — Pasien tidak menunjukkan perilaku kekerasan terhadap orang lain atau lingkungan.

    Luaran Tambahan:

    1. Kesejahteraan Emosional — Pasien mengalami penurunan intensitas kemarahan dan mampu mengelola emosi.
    2. Interaksi Sosial — Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain tanpa kekerasan.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Perilaku Kekerasan

    Intervensi Utama:

    Intervensi Pendukung:


    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0131 Hipotermia

    D.0131 Hipotermia

    Loading

    Loading

    D.0131 Hipotermia

    Definisi :…

    Suhu tubuh berada dibawah rentang normal tubuh

    Penyebab

    1. Kerusakan hipotalamus 
    2. Konsumsi alkohol
    3. Berat badan ekstrem
    4. Kekurangan lemak subkutan
    5. Terpapar suhu lingkungan rendah
    6. Malnutrisi
    7. Pemakaian pakaian tipis 
    8. Penurunan laju metabolisme
    9. Tidak beraktivitas
    10. Transfer panas (mis. konduksi, konveksi, evaporasi, radiasi)
    11. Trauma
    12. Proses penuaan
    13. Efek agen farmakologis
    14. Kurang terpapar informasi tentang pencegahan hipotermia

     Gejala dan Tanda Mayor

    Subjektif

    1. (tidak tersedia)

    Objektif

    1. Kulit terasa dingin
    2. Menggigil
    3. Suhu tubuh dibawah nilai normal

    Gejala dan Tanda Minor

    Subjektif

    1. (tidak tersedia)

    Objektif

    1. Akrosianosis
    2. Bradikardi
    3. Dasar kuku sianotik
    4. Hipoglikemia
    5. Hipoksia
    6. Pengisian kapiler > 3 detik
    7. Konsumsi oksigen meningkat
    8. Ventilasi menurun
    9. Piloereksi
    10. Takikardia
    11. Vasokonstruksi perifer
    12. Kutis memorata (pada neonatus)

     

    Tautan SDKI – SIKI :

    Intervensi Utama

    • Manajemen Hipotermia
    • Terapi Paparan Panas

     

    Intervensi Pendukung

    • Dukungan Ventilasi
    • Edukasi Pengukuran Suhu Tubuh
    • Edukasi Program Pengobatan
    • Edukasi Terapi Cairan
    • Edukasi Termoregulasi
    • Kompres Panas
    • Manajemen Cairan
    • Manajemen Lingkungan
    • Marlajemen Nutrisi
    • Pemantauan Cairan
    • Pemantauan Nutrisi
    • Pemberian Obat
    • Pemberian Obat Intravena
    • Pemberian Obat Oral
    • Perawatan Kanguru
    • Perawatan Sirkulasi
    • Promosi Dukungan Keluarga
    • Promosi Teknik Kulit ke Kulit
    • replica rolex

     

     

     

     


    sumber : Buku SDKI – PPNI Edisi 1.



    Ketegangan Peran Pemberi Asuhan

    Tautan Luaran

    D.0131 Hipotermia

    Definisi

    Suhu tubuh berada di bawah rentang normal tubuh (suhu inti < 35°C / 95°F).


    Penyebab

    1. Kerusakan hipotalamus — Gangguan pada pengatur suhu pusat akibat cedera, tumor, atau infeksi.
    2. Konsumsi alkohol — Alkohol menyebabkan vasodilasi perifer yang meningkatkan kehilangan panas.
    3. Berat badan ekstrem — Obesitas atau kurus berlebihan mengganggu kemampuan termoregulasi.
    4. Kekurangan lemak subkutan — Berkurangnya insulasi alami tubuh terhadap kehilangan panas.
    5. Terpapar suhu lingkungan rendah — Paparan terhadap suhu dingin yang berkepanjangan.
    6. Malnutrisi — Kekurangan nutrisi menurunkan kemampuan metabolisme menghasilkan panas.
    7. Pemakaian pakaian tipis — Pakaian tidak memadai tidak mampu menjaga panas tubuh.
    8. Penurunan laju metabolisme — Produksi panas internal berkurang akibat gangguan metabolik.
    9. Tidak beraktivitas — Imobilitas menurunkan produksi panas dari aktivitas otot.
    10. Transfer panas — Kehilangan panas melalui konduksi, konveksi, evaporasi, atau radiasi.
    11. Trauma — Cedera dapat mengganggu mekanisme termoregulasi.
    12. Proses penuaan — Penurunan fungsi termoregulasi pada lansia.
    13. Efek agen farmakologis — Obat-obatan tertentu mengganggu pengaturan suhu tubuh.
    14. Kurang pengetahuan tentang pencegahan hipotermia — Tidak memahami cara mencegah hipotermia.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Suhu inti < 35°C — Hipotermia ringan (32–35°C), sedang (28–32°C), berat (< 28°C).
    2. Menggigil — Respons tubuh untuk meningkatkan produksi panas melalui kontraksi otot.
    3. Kulit terasa dingin — Vasodilasi perifer menurun sehingga permukaan kulit teraba dingin.
    4. Akrosianosis — Keabuan-kebiruan pada ujung anggota tubuh akibat sirkulasi berkurang.
    5. Bradikardia — Denyut jantung melambat sebagai respons terhadap suhu tubuh rendah.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Suhu Inti Tubuh — Suhu inti tubuh kembali ke rentang normal (36–37,5°C) dalam waktu yang tepat.

    Luaran Tambahan:

    1. Perilaku Pelindung — Pasien menunjukkan perilaku untuk melindungi diri dari paparan dingin.
    2. Keseimbangan Cairan — Status cairan dan elektrolit tetap adekuat selama intervensi.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Hipotermia

    Intervensi Utama:

    Intervensi Pendukung:


    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0130 Hipertermia

    Loading

    Loading

    D.0130 Hipertermia

    Definisi

    Kenaikan suhu tubuh di atas rentang normal akibat ketidakmampuan tubuh mengatur suhu secara efektif.


    Penyebab

    Fisiologis

    1. Infeksi — Respons tubuh terhadap patogen yang menyebabkan kenaikan suhu tubuh..
    2. Efek obat — Obat-obatan tertentu yang mempengaruhi pengaturan suhu tubuh..
    3. Aktivitas fisik berlebihan — Produksi panas yang berlebihan akibat aktivitas fisik..

    Psikologis

    1. Stres — Stres yang meningkatkan metabolisme dan produksi panas tubuh..

    Situasional

    1. Paparan lingkungan panas — Paparan suhu lingkungan yang tinggi dalam waktu lama..
    2. Kurangnya hidrasi — Kurangnya asupan cairan yang mempengaruhi kemampuan tubuh mendinginkan diri..
    3. Pakaian berlebihan — Penggunaan pakaian yang terlalu tebal di lingkungan panas..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Dehidrasi — Kehilangan cairan yang berlebihan akibat kenaikan suhu tubuh..
    2. Kejang demam — Kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh yang tiba-tiba..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Suhu tubuh normal — Suhu tubuh klien kembali ke rentang normal (36,5-37,5°C)..

    Luaran Tambahan:

    1. Hidrasi adekuat — Klien memiliki asupan cairan yang memadai..
    2. Kenyamanan fisik — Klien merasa nyaman tanpa keluhan akibat hipertermia..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Hipertermia

    Intervensi Utama:

    • Manajemen hipertermia — Melakukan intervensi untuk menurunkan dan mengatur suhu tubuh..
    • Pemantauan suhu tubuh — Memantau suhu tubuh secara berkala untuk evaluasi efektivitas intervensi..

    Intervensi Pendukung:

    • Manajemen hidrasi — Memastikan asupan cairan yang memadai untuk mencegah dehidrasi..
    • Pengaturan lingkungan — Mengatur suhu lingkungan agar mendukung kenyamanan klien..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)