Kategori: Fisiologis

  • D.0063 Gangguan Menelan.

    D.0063 Gangguan Menelan.

    Loading

    Loading

    D.0063 Gangguan Menelan

    Definisi

    Ketidakmampuan untuk melewati makanan dan/atau cairan dari mulut ke lambung.


    Penyebab

    1. Gangguan neurologis — Kondisi seperti stroke, ALS, atau Parkinson yang mempengaruhi kontrol menelan..
    2. Obstruksi anatomik — Tumor, striktur, atau kelainan anatomis pada saluran pencernaan..
    3. Efek samping obat — Obat yang menyebabkan xerostomia atau gangguan koordinasi menelan..
    4. Penurunan kesadaran — Penurunan tingkat kesadaran yang mempengaruhi refleks menelan..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Kesulitan memulai menelan — Kesulitan dalam memulai proses menelan makanan atau cairan..
    2. Batuk atau tersedak saat menelan — Refleks batuk yang muncul saat menelan..
    3. Regurgitasi — Kembalinya makanan atau cairan ke mulut setelah ditelan..
    4. Penurunan berat badan — Penurunan berat badan akibat asupan makanan yang berkurang..
    5. Pneumonia aspirasi — Peradangan paru akibat aspirasi makanan atau cairan ke saluran napas..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Gangguan Menelan — Pasien mampu menelan makanan dan cairan tanpa kesulitan..

    Luaran Tambahan:

    1. Asupan nutrisi adekuat — Pasien memperoleh nutrisi yang cukup melalui makanan oral..
    2. Berat badan stabil — Berat badan pasien stabil sesuai kebutuhan..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Gangguan Menelan

    Intervensi Utama:

    • Evaluasi menelan — Melakukan pengujian menelan untuk menentukan tingkat gangguan..
    • Modifikasi tekstur makanan — Menyesuaikan tekstur dan konsistensi makanan sesuai kemampuan pasien..
    • Posisi makan — Memastikan pasien dalam posisi tegak saat makan dan setelah makan..

    Intervensi Pendukung:

    • Terapi menelan — Merujuk ke ahli terapi wicara untuk latihan menelan..
    • Pemantauan nutrisi — Memantau asupan makanan dan status nutrisi pasien..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0062 Gangguan Memori.

    D.0062 Gangguan Memori.

    Loading

    Loading

    D.0062 Gangguan Memori

    Definisi

    Ketidakmampuan untuk mengingat atau mengambil kembali informasi yang pernah diketahui.


    Penyebab

    1. Penyakit degeneratif otak — Kondisi seperti Alzheimer atau demensia yang merusak struktur otak..
    2. Cedera kepala — Trauma pada kepala yang mempengaruhi area memori otak..
    3. Gangguan sirkulasi serebral — Penurunan aliran darah ke otak yang mempengaruhi fungsi kognitif..
    4. Efek samping obat — Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi fungsi memori..
    5. Stres dan depresi — Kondisi psikologis yang mempengaruhi konsentrasi dan memori..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Lupa informasi penting — Mengalami kesulitan mengingat kejadian atau informasi baru..
    2. Kebingungan orientasi — Kesulitan mengenali waktu, tempat, atau orang..
    3. Pengulangan pertanyaan — Mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali..
    4. Kesulitan dalam aktivitas sehari-hari — Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Gangguan Memori — Pasien mampu mengingat dan menggunakan informasi yang relevan..

    Luaran Tambahan:

    1. Orientasi — Pasien terorientasi pada orang, tempat, waktu, dan situasi..
    2. Penyelesaian tugas — Pasien mampu menyelesaikan aktivitas sehari-hari..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Gangguan Memori

    Intervensi Utama:

    • Stimulasi memori — Menggunakan teknik seperti foto, musik, atau bercerita untuk merangsang memori..
    • Struktur lingkungan — Menyediakan lingkungan yang terstruktur dan konsisten..
    • Penggunaan alat bantu — Menggunakan reminder, catatan, atau jadwal tertulis..

    Intervensi Pendukung:

    • Pendidikan keluarga — Mengajari keluarga cara berkomunikasi dan membantu pasien..
    • Dukungan psikologis — Memberikan dukungan emosional kepada pasien dan keluarga..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0061 Disrefleksia Otonom.

    D.0061 Disrefleksia Otonom.

    Loading

    Loading

    D.0061 Disrefleksia Otonom

    Definisi

    Hiperreaktivitas sistem saraf otonom di atas level spinal T6 sebagai respons terhadap iritasi di bawah level lesi.


    Penyebab

    1. Lesi spinal di atas T6 — Cedera tulang belakang yang memutus jalur simpatis di atas T6..
    2. Iritasi bawah level lesi — Pemicu seperti kandung kemih penuh, impaksi feses, atau infeksi..
    3. Pengisian kandung kemih — Distensi kandung kemih yang merangsang respons simpatis..
    4. Impaksi feses — Penumpukan feses yang mengiritasi rektum dan memicu disrefleksia..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Hipertensi berat — Peningkatan tekanan darah yang signifikan dan mendadak..
    2. Bradikardia — Penurunan denyut jantung sebagai respons baroreseptor..
    3. Vasokonstriksi perifer — Pelebaran pembuluh darah di atas lesi dan kontriksi di bawah lesi..
    4. Diaphoresis di atas lesi — Berkeringat berlebih di area di atas level lesi spinal..
    5. Flushing — Kemerahan pada wajah dan leher..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Disrefleksia Otonom — Tekanan darah dan respons otonom kembali normal..

    Luaran Tambahan:

    1. Identifikasi pemicu — Pemicu disrefleksia dapat diidentifikasi dan dihilangkan..
    2. Pengetahuan pasien — Pasien memahami tanda-tanda dan penanganan disrefleksia..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Disrefleksia Otonom

    Intervensi Utama:

    • Pencarian dan eliminasi pemicu — Mengidentifikasi dan menghilangkan penyebab iritasi di bawah level lesi..
    • Posisi duduk tegak — Mengubah posisi pasien ke duduk tegak untuk mengurangi tekanan darah..
    • Pengosongan kandung kemih — Memastikan kateter tidak tertekuk dan kandung kemih terkeringkan..

    Intervensi Pendukung:

    • Pemantauan tanda vital — Memantau tekanan darah dan denyut jantung secara rutin..
    • Edukasi pasien — Mengajari pasien mengenali dan menangani episode disrefleksia..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0060 Risiko Intoleransi Aktivitas.

    D.0060 Risiko Intoleransi Aktivitas.

    Loading

    Loading

    D.0060 Risiko Intoleransi Aktivitas

    Definisi

    Beresiko mengalami ketidakmampuan untuk menyediakan atau mempertahankan energi yang diperlukan untuk aktivitas sehari-hari.


    Faktor Risiko

    1. Kelemahan otot progresif — Penurunan kekuatan otot yang terus berlanjut..
    2. Penurunan fungsi kardiorespirasi — Gangguan pada sistem jantung dan paru..
    3. Kelelahan kronis — Keletihan yang berkelanjutan dan tidak membaik dengan istirahat..
    4. Imobilisasi — Keterbatasan gerak yang mengakibatkan dekondisi..
    5. Penyakit kronis — Kondisi medis berkepanjangan yang membatasi aktivitas..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Riwayat intoleransi aktivitas sebelumnya — Pengalaman sebelumnya dengan intoleransi aktivitas..
    2. Kondisi yang membatasi mobilitas — Penyakit atau kondisi yang membatasi kemampuan bergerak..
    3. Usia lanjut — Penuaan alami yang mempengaruhi kemampuan fisik..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Risiko Intoleransi Aktivitas — Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa gejala berlebih..

    Luaran Tambahan:

    1. Toleransi aktivitas — Respons fisiologis yang adekuat terhadap aktivitas..
    2. Kemandirian — Kemampuan untuk melakukan aktivitas mandiri secara adekuat..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Intoleransi Aktivitas

    Intervensi Utama:

    • Evaluasi baseline — Menilai kapasitas aktivitas pasien sebelum merencanakan intervensi..
    • Perencanaan aktivitas — Merencanakan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan pasien..
    • Pemantauan respons — Memantau respons fisiologis pasien selama aktivitas..

    Intervensi Pendukung:

    • Pendidikan tentang aktivitas — Memberikan informasi tentang cara mengatur aktivitas..
    • Penggunaan alat bantu — Menggunakan alat bantu yang sesuai untuk memudahkan aktivitas..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0059 Risiko Disorganisasi Perilaku Bayi.

    Loading

    Loading

    D.0059 Risiko Disorganisasi Perilaku Bayi

    Definisi

    Beresiko mengalami ketidakmampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilaku menuju pengurangan stimulasi yang tidak menyenangkan.


    Faktor Risiko

    1. Lingkungan yang tidak stabil — Perubahan lingkungan yang sering atau tidak terduga..
    2. Perawatan yang tidak konsisten — Pola asuh yang berubah-ubah dan tidak terprediksi..
    3. Stimulasi berlebihan — Terlalu banyak rangsangan dari suara, cahaya, atau sentuhan..
    4. Imaturitas organik — Sistem saraf pusat yang belum matang pada bayi prematur..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Bayi prematur — Bayi yang lahir sebelum waktu yang diharapkan memiliki risiko lebih tinggi..
    2. Riwayat komplikasi neonatal — Komplikasi selama periode neonatal dapat mempengaruhi regulasi perilaku..
    3. Gangguan ikatan — Kesulitan dalam membentuk ikatan dengan pengasuh..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Risiko Disorganisasi Perilaku Bayi — Bayi mampu mengatur perilaku dengan stimulasi yang adekuat..

    Luaran Tambahan:

    1. Pola perilaku teratur — Bayi menunjukkan pola tidur, makan, dan interaksi yang konsisten..
    2. Respon yang adekuat — Bayi merespons stimulasi dengan cara yang sesuai..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Risiko Disorganisasi Perilaku Bayi

    Intervensi Utama:

    • Penciptaan lingkungan yang terstruktur — Menyediakan lingkungan yang stabil dan terprediksi bagi bayi..
    • Pengaturan stimulasi — Mengelola tingkat stimulasi sesuai dengan kemampuan bayi..
    • Kontak kulit ke kulit — Memberikan kontak fisik yang hangat dan menenangkan..

    Intervensi Pendukung:

    • Pendidikan pengasuh — Mengajari pengasuh tentang cara mengenali tanda-tanda disorganisasi..
    • Dukungan pengasuh — Memberikan dukungan emosional kepada pengasuh..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0058 Kesiapan Peningkatan Tidur.

    Loading

    Loading

    D.0058 Kesiapan Peningkatan Tidur

    Definisi

    Kemampuan untuk menunjukkan peningkatan pola tidur untuk kebutuhan energi dan aktivitas.


    Faktor Pemunculan

    1. Motivasi untuk meningkatkan kualitas tidur — Keinginan individu untuk mengubah kebiasaan tidur menjadi lebih baik..
    2. Pemahaman tentang kebersihan tidur — Pengetahuan tentang praktik tidur yang sehat dan manfaatnya..
    3. Dukungan lingkungan — Lingkungan yang mendukung tidur yang berkualitas..
    4. Kesediaan untuk mengubah kebiasaan — Keterbukaan untuk mencoba strategi baru guna meningkatkan tidur..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Pola tidur yang sudah baik — Individu sudah memiliki kebiasaan tidur yang positif..
    2. Kesadaran akan pentingnya tidur — Pemahaman tentang peran tidur dalam kesehatan..
    3. Motivasi intrinsik — Keinginan internal untuk meningkatkan kualitas tidur..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Kesiapan Peningkatan Tidur — Individu menunjukkan kesiapan untuk mengoptimalkan pola tidur..

    Luaran Tambahan:

    1. Pengetahuan tentang tidur — Individu memahami praktik tidur yang sehat..
    2. Komitmen terhadap perubahan — Individu berkomitmen untuk menerapkan perubahan pola tidur..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Kesiapan Peningkatan Tidur

    Intervensi Utama:

    • Pendidikan kebersihan tidur — Memberikan informasi tentang praktik tidur yang sehat..
    • Penetapan tujuan tidur — Membantu individu menetapkan tujuan tidur yang realistis..
    • Pemantauan pola tidur — Membantu individu memantau pola tidur mereka sendiri..

    Intervensi Pendukung:

    • Dukungan motivasi — Memberikan dorongan dan pengakuan terhadap kemajuan individu..
    • Penyediaan sumber daya — Menyediakan informasi dan alat untuk mendukung perubahan pola tidur..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0057 Keletihan.

    Loading

    Loading

    D.0057 Keletihan

    Definisi

    Kondisi fisik atau mental yang menunjukkan penurunan fungsi fisiologis atau psikologis yang berlebihan.


    Penyebab

    1. Beban kerja fisik atau mental yang berlebihan — Aktivitas yang melebihi kemampuan fisik atau mental individu..
    2. Penyakit kronis — Kondisi medis yang berkepanjangan menyebabkan keletihan berkelanjutan..
    3. Kurang tidur — Tidur yang tidak berkualitas atau durasi yang tidak memadai..
    4. Stres emosional — Tekanan psikologis yang berlebihan menguras energi mental..
    5. Gizi buruk — Asupan nutrisi yang tidak memadai untuk mendukung kebutuhan energi..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Kelemahan otot — Penurunan kekuatan otot yang mengakibatkan kesulitan melakukan aktivitas..
    2. Penurunan konsentrasi — Kesulitan fokus dan memusatkan perhatian pada tugas..
    3. Irritabilitas — Mudah marah atau frustrasi akibat keletihan..
    4. Kantuk berlebihan — Mengantuk secara berlebihan meskipun sudah istirahat..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Keletihan — Pasien menunjukkan tingkat energi yang adekuat untuk aktivitas sehari-hari..

    Luaran Tambahan:

    1. Tingkat energi — Pasien melaporkan peningkatan energi dan penurunan kelelahan..
    2. Kualitas tidur — Pasien memiliki tidur yang berkualitas dan merasa segar setelah bangun..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Keletihan

    Intervensi Utama:

    • Manajemen aktivitas — Membantu pasien mengatur aktivitas sesuai dengan tingkat energi yang tersedia..
    • Istirahat adekuat — Memastikan pasien mendapatkan istirahat yang cukup antara aktivitas..
    • Pemantauan energi — Mencatat pola energi pasien sepanjang hari untuk mengidentifikasi waktu optimal..

    Intervensi Pendukung:

    • Optimalisasi nutrisi — Memastikan asupan nutrisi yang adekuat untuk mendukung kebutuhan energi..
    • Manajemen stres — Mengajari teknik manajemen stres untuk mengurangi kelelahan mental..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0056 Intoleransi Aktivitas.

    D.0056 Intoleransi Aktivitas.

    Loading

    Loading

    D.0056 Intoleransi Aktivitas

    Definisi

    Ketidakmampuan untuk menyediakan atau mempertahankan jumlah energi yang diperlukan untuk aktivitas sehari-hari yang diinginkan.


    Penyebab

    1. Kelemahan otot — Penurunan kekuatan otot yang mengakibatkan ketidakmampuan melakukan aktivitas fisik..
    2. Kelelahan — Kondisi kelelahan yang berlebihan dan tidak berkurang dengan istirahat..
    3. Dispnea — Kesulitan bernapas saat melakukan aktivitas yang mengakibatkan penurunan toleransi..
    4. Penurunan fungsi kardiorespirasi — Gangguan pada sistem jantung dan paru yang membatasi kapasitas aktivitas..
    5. Imobilisasi — Keterbatasan gerak yang mengakibatkan dekondisi fisik..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Kesan takut bergerak — Rasa takut yang berlebihan terhadap aktivitas fisik akibat pengalaman sebelumnya..
    2. Wajah pucat — Pucat saat melakukan aktivitas yang mengindikasian kurangnya oksigenasi..
    3. Peningkatan frekuensi nadi — Denyut jantung meningkat secara tidak proporsional dengan aktivitas..
    4. Penurunan saturasi oksigen — Penurunan kadar oksigen darah saat melakukan aktivitas..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Intoleransi Aktivitas — Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari yang diinginkan tanpa gejala berlebih..

    Luaran Tambahan:

    1. Toleransi aktivitas — Penurunan gejala yang berhubungan dengan aktivitas fisik..
    2. Pengetahuan pasien — Pasien memahami cara memodifikasi aktivitas sesuai kemampuan..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Intoleransi Aktivitas

    Intervensi Utama:

    • Evaluasi toleransi aktivitas — Mengukur respons fisiologis pasien terhadap aktivitas menggunakan skala Borg..
    • Program aktivitas bertahap — Merencanakan peningkatan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi..
    • Penghematan energi — Mengajari teknik penghematan energi selama aktivitas sehari-hari..

    Intervensi Pendukung:

    • Modifikasi lingkungan — Mengatur lingkungan untuk mengurangi kebutuhan energi..
    • Dukungan psikologis — Memberikan motivasi dan dukungan untuk meningkatkan kepercayaan diri pasien..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0055 Gangguan Pola Tidur.

    D.0055 Gangguan Pola Tidur.

    Loading

    Loading

    D.0055 Gangguan Pola Tidur

    Definisi

    Perubahan kuantitas dan kualitas pola tidur yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.


    Penyebab

    1. Stres dan kecemasan — Kondisi psikologis yang meningkatkan kewaspadaan dan mengganggu relaksasi..
    2. Nyeri — Nyeri akut atau kronis yang mengganggu kemampuan tidur..
    3. Lingkungan tidur yang tidak mendukung — Suara bising, cahaya terang, atau suhu yang tidak nyaman..
    4. Gangguan pernapasan — Apnea tidur atau kondisi pernapasan lainnya..
    5. Pola tidur yang tidak teratur — Perubahan jam tidur atau shift kerja yang mengganggu ritme sirkadian..

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Kelelahan di siang hari — Merasa lelah dan mengantuk selama aktivitas siang hari..
    2. Iritabilitas — Mudah marah atau frustrasi akibat kurang tidur..
    3. Penurunan konsentrasi — Kesulitan fokus dan memusatkan perhatian pada aktivitas..
    4. Kantuk berlebihan — Mengantuk secara berlebihan meskipun sudah cukup tidur..

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Gangguan Pola Tidur — Pola tidur yang adekuat dan berkualitas sesuai kebutuhan individu..

    Luaran Tambahan:

    1. Waktu tidur efektif — Durasi dan kualitas tidur mencukupi kebutuhan tubuh..
    2. Kenyamanan saat tidur — Tidak ada gangguan yang signifikan selama periode tidur..

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    Gangguan Pola Tidur

    Intervensi Utama:

    • Penciptaan lingkungan tidur yang optimal — Mengatur suhu, pencahayaan, dan kebisingan di area tidur..
    • Teknik relaksasi — Mengajari teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi..
    • Pengaturan jadwal tidur — Membantu menetapkan jadwal tidur yang konsisten..

    Intervensi Pendukung:

    • Manajemen nyeri — Memberikan intervensi nyeri yang adekuat sebelum tidur..
    • Edukasi kebersihan tidur — Memberikan informasi tentang kebiasaan tidur yang sehat..

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • 0054 Gangguan Mobilitas Fisik.

    0054 Gangguan Mobilitas Fisik.

    Loading

    [responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Baca & Dengarkan”]

     

    0054 Gangguan Mobilitas Fisik.

    Definisi :

    Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri

     

    Penyebab ( Penjelasan detail klik disini !)

    1. Kerusakan integritas struktur tulang
    2. Perubahan metabolisme
    3. Ketidakbugaran fisik
    4. Penurunan kendali otot
    5. Penurunan massa otot
    6. Penurunan kekuatan otot
    7. Keterlambatan perkembangan
    8. Kekakuan sendi
    9. Kontraktur
    10. Malnutrisi
    11. Gangguan muskuloskeletal
    12. Gangguan neuromuskular
    13. Indeks masa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia
    14. Efek agen farmakologis
    15. Program pembatasan gerak
    16. Nyeri
    17. Kurang terpapar informasi tentang aktivitas fisik
    18. Kecemasan
    19. Gangguan kognitif
    20. Keengganan melakukan pergerakan
    21. Gangguan sensoripersepsi

     

    Gejala dan Tanda Mayor

    Subjektif

    1. Mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas

    Objektif

    1. Kekuatan otot menurun
    2. Rentang gerak (ROM) menurun

     

    Gejala dan Tanda Minor

    Subjektif

    1. Nyeri saat bergerak
    2. Enggan melakukan pergerakan
    3. Merasa cemas saat bergerak

     

    Objektif

    1. Sendi kaku
    2. Gerakan tidak terkoordinasi
    3. Gerakan terbatas
    4. Fisik lemah

     

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Stroke
    2. Cedera medula spinalis
    3. Trauma
    4. Fraktur
    5. Osteoarthirtis
    6. Ostemalasia
    7. Keganasan

    Tautan SDKI – SIKI

    Intervensi Utama :

    • Dukungan Ambulasi
    • Dukungan Mobilisasi

    Intervensi Pendukung :

    • Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan
    • Dukungan Perawatan Diri
    • Pemberian Obat
    • Dukungan Perawatan Diri: BAB/BAK
    • Dukungan Perawatan Diri: Berpakaian
    • Dukungan Perawatan Diri: Makan/Minum Pencegahan Luka Tekan
    • Dukungan Perawatan Diri: Mandi
    • Edukasi Latihan Fisik
    • Edukasi Teknik Ambulasi
    • Edukasi Teknik Transfer
    • Konsultasi Via Telepon
    • Latihan Otogenik
    • Manajemen Energi
    • Manajemen Lingkungan
    • Manajemen Mood
    • Manajemen Nutrisi
    • Manajemen Nyeri
    • Manajemen Medikasi
    • Manajemen Program Latihan
    • Manajemen Sensasi Perifer
    • Pemantauan Neurologis
    • Pemberian Obat Intravena
    • Pembidaian
    • Pencegahan Jatuh
    • Pengaturan Posisi
    • Pengekangan Fisik
    • Perawatan Kaki
    • Perawatan Sirkulasi
    • Perawatan Tirah Baring
    • Perawatan Traksi
    • Promosi Berat Badan
    • Promosi Kepatuhan Program Latihan
    • Promosi Latihan Fisik
    • Teknik Latihan Penguatan Otot
    • Teknik Latihan Penguatan Sendi
    • Terapi Aktivitas
    • Terapi Pemijatan
    • Terapi Relaksasi Otot Progresif..

     


    sumber : [bg_collapse view=”button-orange” color=”#72777c” icon=”arrow” expand_text=”Tampilkan Pustaka ” collapse_text=”Tutup Pustaka” ]



    Tautan Luaran

    [/bg_collapse]