Kategori: Fisiologis

  • D.0043 Inkontinensia Urin Fungsional.

    Loading

    Loading

    D.0043 Inkontinensia Urin Fungsional.

    Definisi

    Ketidakmampuan secara volunteer mengontrol pengeluaran urin akibat hambatan fisik atau kognitif yang membuat pasien tidak dapat ke toilet tepat waktu, meskipun mekanisme sfingter masih berfungsi.


    Penyebab

    Fisiologis:

    1. Keterbatasan mobilitas — Ketidakmampuan bergerak ke kamar mandi tepat waktu akibat gangguan muskuloskeletal.
    2. Penurunan penglihatan — Ketidakmampuan melihat jalan ke kamar mandi dengan jelas.
    3. Gangguan keseimbangan — Ketidakstabilan saat berjalan yang memperlambat akses ke toilet.

    Psikologis:

    1. Gangguan kognitif — Penurunan kemampuan kognitif yang mempengaruhi kesadaran kebutuhan eliminasi.
    2. Gangguan persepsi — Ketidakmampuan mengenali sinyal kandung kemih penuh.
    3. Depresi — Kondisi psikologis yang menurunkan motivasi untuk ke toilet.

    Situasional:

    1. Lingkungan tidak aksesibel — Keterbatasan akses ke fasilitas sanitasi.
    2. Penggunaan alat bantu jalan — Ketergantungan pada alat bantu yang memperlambat pergerakan.
    3. Pakaian yang sulit dibuka — Pakaian yang rumit atau sulit dilepaskan saat ingin ke toilet.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Artritis berat — Gangguan sendi yang membatasi mobilitas.
    2. Stroke dengan hemiplegia — Kelumpuhan sebagian yang menghambat pergerakan ke toilet.
    3. Demensia lanjut — Penurunan kognitif berat yang menghilangkan kesadaran kebutuhan eliminasi.
    4. Fraktur panggul — Cedera panggul yang membatasi mobilitas.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Kemampuan akses ke toilet meningkat — Pasien mampu mengakses toilet dengan lebih cepat dan tepat waktu.

    Luaran Tambahan:

    1. Frekuensi inkontinensia berkurang — Jumlah episode kebocoran urin menurun secara signifikan.
    2. Lingkungan sanitasi memadai — Fasilitas sanitasi tersedia dan mudah diakses.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    D.0043 Inkontinensia Urin Fungsional

    Intervensi Utama:

    • Fasilitasi akses ke toilet — Memastikan jalur ke toilet aman, jelas, dan mudah diakses.
    • Penjadwalan eliminasi — Membantu pasien membuat jadwal rutin ke toilet berdasarkan pola eliminasi.
    • Penggunaan alat bantu — Menyediakan alat bantu seperti pispot atau urinaria jika diperlukan.

    Intervensi Pendukung:

    • Modifikasi lingkungan — Mengatur pencahayaan dan tanda arah menuju kamar mandi.
    • Edukasi pasien dan perawat — Memberikan informasi tentang pentingnya akses toilet yang tepat waktu.
    • Dukungan mobilitas — Membantu pasien dengan aktivitas yang memerlukan pergerakan ke toilet.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0042 Inkontinensia Urin Berlanjut.

    D.0042 Inkontinensia Urin Berlanjut.

    Loading

    Loading

    D.0042 Inkontinensia Urin Berlanjut.

    Definisi

    Ketidakmampuan volunteer mengontrol pengeluaran urin secara terus-menerus atau berulang yang berlangsung dalam jangka waktu lama setelah episode inkontinensia sebelumnya.


    Penyebab

    Fisiologis:

    1. Penurunan tonus sfingter uretra — Melemahnya otot sfingter uretra yang mengontrol retensi urin.
    2. Kerusakan saraf — Kerusakan saraf yang mengontrol fungsi kandung kemih dan sfingter.
    3. Kebocoran sfingter uretra — Ketidakmampuan sfingter menutup sempurna akibat kerusakan struktural.

    Psikologis:

    1. Gangguan citra diri — Penurunan kepercayaan diri akibat ketidakmampuan mengontrol urin.
    2. Stres kronis — Kondisi stres berkepanjangan yang mempengaruhi kontrol sfingter.

    Situasional:

    1. Riwayat persalinan pervaginam — Persalinan normal yang dapat merusak struktur pelvis.
    2. Pembedahan pelvis — Operasi pada area pelvis yang mempengaruhi sfingter urin.
    3. Penuaan — Perubahan fisiologis terkait usia yang mempengaruhi elastisitas jaringan.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Inkontinensia stres — Kebocoran urin akibat peningkatan tekanan intraabdomen.
    2. Inkontinensia urgensi — Kebocoran urin akibat kontraksi kandung kemih yang tidak terkontrol.
    3. Inkontinensia campuran — Kombinasi dari inkontinensia stres dan urgensi.
    4. Prolaps organ pelvis — Turunnya organ pelvis yang mempengaruhi fungsi kandung kemih.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Kontrol inkontinensia urin membaik — Frekuensi dan volume kebocoran urin berkurang secara signifikan.

    Luaran Tambahan:

    1. Kulit tetap kering dan utuh — Tidak terjadi iritasi atau dermatitis akibat kontak urin.
    2. Penggunaan alat bantu berkurang — Kebutuhan akan popok atau alat penampung urin berkurang.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    D.0042 Inkontinensia Urin Berlanjut

    Intervensi Utama:

    • Program latihan kandung kemih — Membantu pasien menjadwalkan waktu ke toilet secara teratur untuk melatih kontrol.
    • Penguatan otot dasar panggul — Melatih kekuatan otot pelvic floor melalui latihan Kegel.
    • Manajemen cairan — Mengatur pola asupan cairan untuk mengurangi frekuensi kebocoran.

    Intervensi Pendukung:

    • Perawatan kulit — Menjaga kebersihan dan kekeringan kulit untuk mencegah iritasi.
    • Edukasi pasien — Memberikan informasi tentang teknik pengelolaan inkontinensia.
    • Dukungan psikososial — Membantu pasien mengatasi gangguan citra diri dan harga diri.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0041 Inkontinensia Fekal.

    Loading

    Loading

    D.0041 Inkontinensia Fekal.

    Definisi

    Ketidakmampuan voluntary mengontrol pengeluaran feses dari rektum, baik berupa inkontinensia gas, cair, atau padat.


    Penyebab

    Fisiologis:

    1. Penurunan tonus sfingter anal — Melemahnya otot sfingter anus yang mengontrol retensi feses.
    2. Kerusakan saraf pelvis — Kerusakan saraf yang mengontrol fungsi rektum dan sfingter.
    3. Penurunan sensasi rektal — Berkurangnya kemampuan merasakan adanya feses di rektum.
    4. Penyakit inflamasi usus — Peradangan kronis pada usus yang mempengaruhi kontrol eliminasi.

    Psikologis:

    1. Depresi — Kondisi psikologis yang menurunkan motivasi mengontrol eliminasi.
    2. Gangguan kognitif — Penurunan kemampuan kognitif yang mempengaruhi kesadaran kebutuhan eliminasi.

    Situasional:

    1. Keterbatasan mobilitas — Ketidakmampuan ke kamar mandi tepat waktu.
    2. Terapi obat pencahar — Penggunaan obat yang meningkatkan frekuensi dan volume feses.
    3. Lingkungan tidak aksesibel — Keterbatasan akses ke fasilitas sanitasi.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Stroke — Cedera otak yang mempengaruhi kontrol sfingter anal.
    2. Cedera medula spinalis — Kerusakan saraf tulang belakang yang mengontrol fungsi usus.
    3. Demensia — Penurunan kognitif yang mempengaruhi kesadaran kebutuhan eliminasi.
    4. Pembedahan rektal — Operasi pada area rektum yang mempengaruhi fungsi sfingter.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Kontrol eliminasi fekal membaik — Pasien mampu mengontrol pengeluaran feses dengan lebih baik.

    Luaran Tambahan:

    1. Kulit perianal tetap utuh — Tidak terjadi iritasi atau luka pada kulit akibat kontak feses.
    2. Pola eliminasi fekal teratur — Pasien memiliki pola buang air besar yang teratur dan terkontrol.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    D.0041 Inkontinensia Fekal

    Intervensi Utama:

    • Manajemen program eliminasi — Membantu pasien menjadwalkan waktu ke toilet secara teratur.
    • Perawatan kulit perianal — Membersihkan dan melindungi kulit dari iritasi akibat feses.
    • Latihan sfingter anal — Melatih kekuatan otot sfingter anus melalui latihan biofeedback.

    Intervensi Pendukung:

    • Pengelolaan diet — Menyesuaikan asupan makanan dan serat untuk konsistensi feses yang optimal.
    • Pengelolaan penggunaan obat — Mengevaluasi efek obat terhadap kontrol eliminasi.
    • Edukasi pasien dan keluarga — Memberikan informasi tentang manajemen inkontinensia fekal.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0040 Gangguan Eliminasi Urin.

    Loading

    Definisi

    Perubahan pada pola eliminasi urin yang mengganggu kenyamanan dan kesejahteraan pasien, termasuk perubahan frekuensi, volume, atau karakteristik urin.


    Penyebab

    Fisiologis:

    1. Gangguan neuromuskular — Kerusakan saraf yang mengontrol kandung kemih dan sfingter urin.
    2. Obstruksi saluran kemih — Penyumbatan pada uretra atau kandung kemih yang mengganggu aliran urin.
    3. Peradangan saluran kemih — Infeksi atau peradangan pada kandung kemih atau uretra.
    4. Gangguan ginjal — Penurunan fungsi ginjal yang mempengaruhi produksi dan eliminasi urin.

    Psikologis:

    1. Stres dan kecemasan — Kondisi psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol sfingter.
    2. Depresi — Kondisi psikologis yang menurunkan motivasi untuk mengelola eliminasi.

    Situasional:

    1. Keterbatasan mobilitas — Ketidakmampuan ke kamar mandi tepat waktu.
    2. Lingkungan tidak mendukung — Ketersediaan fasilitas sanitasi yang terbatas.
    3. Penggunaan alat bantu eliminasi — Penggunaan urinaria, pispot, atau alat bantu lainnya.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Infeksi saluran kemih — Infeksi yang menyebabkan gangguan pola eliminasi urin.
    2. Hipertrofi prostat — Pembesaran kelenjar prostat yang mengganggu aliran urin.
    3. Stroke — Cedera otak yang mempengaruhi kontrol sfingter urin.
    4. Operasi abdomen — Pembedahan yang mempengaruhi saraf dan otot kandung kemih.

     

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

     

    Luaran Utama:

     

    Pola eliminasi urin kembali normal — Pasien mampu mengeliminasi urin dengan pola yang adekuat.

     

    Luaran Tambahan:

     

    1. Kenyamanan eliminasi terpenuhi — Pasien tidak mengeluhkan gangguan saat mengeliminasi urin.
    2. Tidak ada infeksi saluran kemih — Tidak terjadi infeksi atau komplikasi pada saluran kemih.

     

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

     

    D.0040 Gangguan Eliminasi Urin

     

    Intervensi Utama:

     

    • Pengawasan pola eliminasi — Memantau frekuensi, volume, warna, dan bau urin secara berkala.
    • Manajemen cairan — Mengatur asupan cairan sesuai kebutuhan untuk mendukung eliminasi.
    • Perawatan saluran kemih — Melaksanakan kebersihan area genital untuk mencegah infeksi.

     

    Intervensi Pendukung:

     

    • Fasilitasi eliminasi — Memastikan akses ke fasilitas sanitasi yang memadai.
    • Edukasi pasien — Memberikan informasi tentang pentingnya eliminasi yang adekuat.
    • Pengelolaan nyeri — Mengatasi nyeri yang dapat mengganggu pola eliminasi.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0039 Risiko Syok.

    Loading

    Loading

    D.0039 Risiko Syok.

    Definisi

    Risiko mengalami kondisi hipoperfusi seluler yang mengancam jiwa akibat penurunan curah jantung, volume darah, atau distribusi aliran darah yang tidak adekuat.


    Faktor Risiko

    1. Riwayat penyakit kardiovaskular — Adanya gangguan jantung atau pembuluh darah yang mempengaruhi curah jantung.
    2. Perdarahan aktif — Kehilangan darah yang berkepanjangan dapat menurunkan volume sirkulasi.
    3. Dehidrasi berat — Kehilangan cairan yang signifikan menurunkan volume darah.
    4. Respon inflamasi sistemik — Respon inflamasi yang berlebihan menyebabkan vasodilatasi dan redistribusi aliran darah.
    5. Syok sepsis — Infeksi berat yang menyebabkan disfungsi vaskular dan organ.
    6. Cedera trauma berat — Trauma yang menyebabkan perdarahan dan kerusakan jaringan luas.
    7. Operasi mayor — Prosedur bedah besar yang berisiko menyebabkan kehilangan darah dan cairan.
    8. Gangguan irama jantung — Aritmia yang menurunkan efisiensi pompa jantung.
    9. Retensi urin berat — Retensi urin dapat menyebabkan distensi kandung kemih dan gangguan hemodinamik.
    10. Gagal ginjal akut — Penurunan fungsi ginjal yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Gagal jantung kongestif — Penurunan kemampuan jantung memompa darah secara adekuat.
    2. Syok kardiogenik — Penurunan curah jantung akibat disfungsi miokard.
    3. Syok anafilaksis — Reaksi alergi berat yang menyebabkan vasodilatasi ekstrem.
    4. Syok neurogenik — Penurunan tonus vaskular akibat gangguan sistem saraf.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Tidak terjadi syok — Hemodinamik pasien tetap stabil dengan perfusi organ adequate.

    Luaran Tambahan:

    1. Perfusi jaringan adekuat — Tanda-tanda perfusi organ tetap dalam batas normal.
    2. Kesadaran jernih — Pasien tetap responsif dan mampu berkomunikasi.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    D.0039 Risiko Syok

    Intervensi Utama:

    • Pengawasan hemodinamik — Memantau tekanan darah, nadi, laju respirasi, dan tanda perfusi secara kontinu.
    • Resusitasi cairan — Memberikan cairan intravena adekuat untuk mempertahankan perfusi organ.
    • Pengelolaan jalan napas — Memastikan jalan napas paten dan oksigenasi adekuat.

    Intervensi Pendukung:

    • Pengawasan output urin — Memantau produksi urin sebagai indikator perfusi ginjal.
    • Pengelolaan nyeri — Mengatasi nyeri yang dapat meningkatkan kebutuhan oksigen miokard.
    • Dukungan psikologis — Memberikan dukungan kepada pasien dan keluarga selama kondisi kritis.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D0038 Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah.

    Loading

    Loading

    D.0038 Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah.

    Definisi

    Risiko mengalami fluktuasi kadar glukosa dalam darah yang tidak stabil, baik hipoglikemia maupun hiperglikemia, yang dapat mengganggu kesehatan.


    Faktor Risiko

    1. Riwayat diabetes mellitus — Adanya penyakit diabetes yang mempengaruhi regulasi glukosa.
    2. Penggunaan insulin atau obat antidiabetik — Terapi farmakologis yang dapat menyebabkan fluktuasi kadar glukosa.
    3. Pola makan tidak teratur — Ketidakteraturan dalam waktu dan jumlah makanan yang dikonsumsi.
    4. Aktivitas fisik yang berlebihan — Olahraga atau aktivitas fisik berat tanpa penyesuaian asupan makanan.
    5. Stres fisik atau psikologis — Kondisi stres yang meningkatkan produksi hormon kontra-regulator.
    6. Penyakit akut — Kondisi penyakit akut yang meningkatkan kebutuhan metabolik.
    7. Gangguan pencernaan — Masalah pada saluran pencernaan yang mempengaruhi penyerapan glukosa.
    8. Gangguan absorpsi obat — Penurunan penyerapan obat antidiabetik akibat masalah gastrointestinal.
    9. Penurunan kesadaran — Ketidakmampuan mengenali dan mengatasi gejala fluktuasi glukosa.
    10. Penyakit hati — Gangguan fungsi hati yang mempengaruhi metabolisme glukosa.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Diabetes mellitus tipe 1 — Defisiensi insulin yang parah membutuhkan pengelolaan ketat.
    2. Diabetes mellitus tipe 2 — Resistensi insulin yang mempengaruhi stabilitas kadar glukosa.
    3. Pankreatitis — Peradangan pankreas yang mengganggu produksi insulin.
    4. Hiperplasia adrenal — Gangguan produksi hormon adrenal yang mempengaruhi metabolisme glukosa.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Kadar glukosa darah stabil — Kadar glukosa darah tetap dalam rentang target yang ditetapkan.

    Luaran Tambahan:

    1. Tidak ada episodes hipoglikemia — Tidak terjadi penurunan kadar glukosa darah yang berbahaya.
    2. Pemahaman pengelolaan glukosa — Pasien mampu mengenali dan mengatasi fluktuasi kadar glukosa.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    D.0038 Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah

    Intervensi Utama:

    • Pengawasan kadar glukosa darah — Memantau kadar glukosa darah secara berkala dan terjadwal.
    • Manajemen diet — Merencanakan pola makan yang sesuai untuk menjaga stabilitas glukosa.
    • Pengelolaan terapi insulin — Memberikan dan mengelola terapi insulin sesuai kebutuhan.

    Intervensi Pendukung:

    • Edukasi pengelolaan diabetes — Memberikan informasi tentang tanda-tanda hipoglikemia dan hiperglikemia.
    • Pengawasan aktivitas fisik — Membantu merencanakan aktivitas fisik yang aman bagi pasien.
    • Dukungan psikososial — Membantu pasien mengelola stres yang dapat mempengaruhi kadar glukosa.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • D.0037 Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit.

    Loading

    Loading

    D.0037 Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit.

    Definisi

    Risiko mengalami penurunan atau peningkatan kadar elektrolit dalam tubuh yang di luar batas normal, termasuk natrium, kalium, kalsium, klorida, dan fosfat.


    Faktor Risiko

    1. Diare berat — Kehilangan cairan dan elektrolit melalui feses yang berlebihan.
    2. Muntah berulang — Kehilangan elektrolit melalui muntah yang berkepanjangan.
    3. Penggunaan diuretik — Obat diuretik meningkatkan ekskresi elektrolit melalui urin.
    4. Terapi infus volumetrik — Pemberian cairan intravena dapat mempengaruhi keseimbangan elektrolit.
    5. Gangguan fungsi ginjal — Penurunan kemampuan ginjal mengatur keseimbangan elektrolit.
    6. Gangguan fungsi adrenal — Penurunan produksi hormon aldosteron yang mengatur elektrolit.
    7. Luka bakar luas — Kehilangan elektrolit melalui luka bakar yang luas.
    8. Operasi gastrointestinal — Kehilangan elektrolit selama dan setelah pembedahan saluran cerna.
    9. Syok — Penurunan perfusi jaringan yang mempengaruhi distribusi elektrolit.
    10. Asupan nutrisi tidak adekuat — Kurangnya asupan makanan yang mengandung elektrolit essensial.
    11. Penggunaan steroid — Obat steroid mempengaruhi retensi dan ekskresi elektrolit.
    12. Gangguan hormonal — Gangguan kelenjar endokrin yang mempengaruhi metabolisme elektrolit.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Gagal ginjal akut atau kronis — Penurunan fungsi ginjal yang mengganggu keseimbangan elektrolit.
    2. Ketoasidosis diabetik — Gangguan metabolisme glukosa yang mempengaruhi keseimbangan elektrolit.
    3. Hiperaldosteronisme — Peningkatan produksi aldosteron yang mengganggu keseimbangan elektrolit.
    4. Sirosis hati — Gangguan fungsi hati yang mempengaruhi metabolisme elektrolit.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Keseimbangan elektrolit terjaga — Kadar elektrolit dalam darah tetap dalam rentang normal.

    Luaran Tambahan:

    1. Fungsi kardiovaskular stabil — Tidak ada gangguan irama jantung akibat ketidakseimbangan elektrolit.
    2. Fungsi neuromuskular optimal — Tidak ada kelemahan atau kejang akibat gangguan elektrolit.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    D.0037 Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit

    Intervensi Utama:

    • Pengawasan elektrolit — Memantau kadar elektrolit serum secara berkala dan mengidentifikasi perubahan.
    • Manajemen cairan — Mengatur asupan dan output cairan untuk menjaga keseimbangan elektrolit.
    • Pengelolaan diet — Merencanakan diet yang sesuai dengan kebutuhan elektrolit pasien.

    Intervensi Pendukung:

    • Pengawasan tanda vital — Memantau tanda vital terutama irama jantung dan tekanan darah.
    • Pengelolaan penggunaan obat — Mengevaluasi efek obat terhadap keseimbangan elektrolit.
    • Edukasi pasien — Memberikan informasi tentang tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • 0036 Risiko Ketidakseimbangan Cairan.

    Loading

    [responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Baca & Dengarkan”]

     

    0036 Risiko Ketidakseimbangan Cairan.

    Definisi :

    berisiko mengalami penurunan, peningkatan atau percepatan perpindahan cairan dari intraveskuler, interstisial atau intraselular.

     

    Faktor Risiko

    1. Prosedur pembedahan mayor
    2. Trauma/pembedahan
    3. Luka bakar
    4. Aferesis
    5. Obstruksi intestinal
    6. Peradangan pankreas
    7. Penyakit ginjal dan kelenjar
    8. Disfungsi intestinal

     

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Prosedur pembedahan mayor
    2. Penyakit ginjal dan kelenjar
    3. Perdarahan
    4. Luka bakar

     


    sumber : [bg_collapse view=”button-orange” color=”#72777c” icon=”arrow” expand_text=”Tampilkan Pustaka ” collapse_text=”Tutup Pustaka” ]



    Tautan Luaran

    [/bg_collapse]

  • D.0035 Risiko Ikterik Neonatus.

    Loading

    Loading

    D.0035 Risiko Ikterik Neonatus.

    Definisi

    Risiko mengalami peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang menyebabkan pewarnaan kuning pada kulit dan sklera mata pada neonatus.


    Faktor Risiko

    1. Usia kehamilan kurang dari 38 minggu — Prematuritas memperlambat metabolisme bilirubin di hati.
    2. Berat badan lahir rendah — Neonatus dengan BBL rendah memiliki risiko lebih tinggi.
    3. Asfiksia neonatus — Kekurangan oksigen selama proses persalinan.
    4. Rhesus inkompatibel — Inkompatibilitas golongan darah antara ibu dan janin.
    5. Golongan darah ibu O — Ibu dengan golongan darah O memiliki risiko antibodi terhadap janin.
    6. Pemberian susu formula dini — Pemberian susu formula sebelum ASI eksklusif.
    7. Prematuritas — Kematangan organ hati yang belum optimal pada bayi prematur.
    8. Infeksi intrauterin — Infeksi yang terjadi selama kehamilan.
    9. Contusio lahir — Memar akibat tekanan selama proses persalinan.
    10. Perdarahan subaponeurotika — Pendarahan di bawah jaringan ikat kulit kepala.
    11. Hematoma kongenital — Pengumpulan darah abnormal pada jaringan.
    12. Diabetes melitus ibu — Kadar gula tinggi pada ibu hamil mempengaruhi metabolisme janin.
    13. Obesitas ibu hamil — Indeks massa tubuh ibu yang berlebihan selama kehamilan.

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Penyakit hemolitik bayi baru lahir — Perusakan sel darah merah yang berlebihan pada neonatus.
    2. Infeksi neonatal — Infeksi yang terjadi pada periode neonatal.
    3. Sepsis neonatal — Infeksi darah yang terjadi pada bayi baru lahir.
    4. Obstruksi usus bawaan — Penyumbatan saluran cerna bawaan yang meningkatkan reabsorpsi bilirubin.

    SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

    Luaran Utama:

    Tidak terjadi ikterik neonatus — Kadar bilirubin dalam darah tetap dalam batas normal.

    Luaran Tambahan:

    1. Kulit tidak kuning — Warna kulit dan sklera mata neonatus tetap normal.
    2. Asupan nutrisi adekuat — Neonatus mampu menyusu dengan baik untuk memacu eliminasi bilirubin.

    SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

    D.0035 Risiko Ikterik Neonatus

    Intervensi Utama:

    • Pengawasan tanda ikterik — Memantau warna kulit, sklera mata, dan kadar bilirubin secara berkala.
    • Fototerapi — Memberikan terapi cahaya sesuai indikasi untuk menurunkan kadar bilirubin.
    • Manajemen hidrasi — Memastikan asupan cairan adekuat untuk mempercepat eliminasi bilirubin.

    Intervensi Pendukung:

    • Dukungan menyusui — Membantu ibu menyusui secara eksklusif untuk mempercepat eliminasi bilirubin.
    • Edukasi orang tua — Memberikan informasi tentang tanda-tanda ikterik dan kapan harus segera ke rumah sakit.
    • Pencegahan hipotermia — Menjaga suhu tubuh neonatus tetap stabil untuk mengurangi kebutuhan metabolik.

    Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

  • 0034 Risiko Hipovolemia.

    Loading

    [responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Baca & Dengarkan”]

    0034 Risiko Hipovolemia.

    Definisi :…

    Beresiko mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraselular.

     

    Faktro Risiko

    1. Kehilangan cairan secara aktif
    2. Gangguan absorbsi cairan
    3. Usia lanjut
    4. Kelebihan beraat badan
    5. Status hipermetabolik
    6. Kegagalan mekanisme regulasi
    7. Evaporasi
    8. Kekurangan intake cairan
    9. Efek agen farmakologis

     

    Kondisi Klinis Terkait

    1. Penyakit Addison
    2. Trauma/perdarahan
    3. Luka bakar
    4. AIDS
    5. Penyakit Crohn
    6. Muntah
    7. Diare
    8. Kolitis ulseratif

     

     

    sumber :[bg_collapse view=”button-orange” color=”#72777c” icon=”arrow” expand_text=”Tampilkan Pustaka ” collapse_text=”Tutup Pustaka” ]



    Tautan Luaran

    [/bg_collapse]