D.0013 Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif
Definisi
Risiko perfusi gastrointestinal tidak efektif adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan aliran darah ke organ saluran cerna, yang dapat mengganggu fungsi pencernaan dan absorbsi nutrisi, serta berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan gastrointestinal.
Faktor Risiko
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko gangguan perfusi gastrointestinal meliputi:
Hipoperfusi sistemik — Penurunan cardiac output atau syok yang mengurangi aliran darah ke organ viseral termasuk saluran cerna.
Oklusi pembuluh darah mesenterik — Penyumbatan arteri atau vena mesenterik yang mengganggu suplai darah ke usus.
Vasokonstriksi berlebihan — Pengaktifan sistem saraf simpatis yang mengakibatkan pengaliran darah dari saluran cerna ke organ vital lain.
Penyakit arteri koroner — Aterosklerosis pada pembuluh koroner dapat juga mempengaruhi pembuluh darah mesenterik.
Gagal hati — Gangguan sirkulasi portosistemik dan perubahan hemodinamik yang mempengaruhi perfusi gastrointestinal.
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko perfusi gastrointestinal tidak efektif meliputi:
Iskemia mesenterik — Kekurangan aliran darah ke usus yang dapat menyebabkan nyeri abdomen berat, diare berdarah, dan nekrosis usus jika tidak ditangani.
Penyakit arteri perifer — Aterosklerosis sistemik yang juga mempengaruhi pembuluh darah mesenterik.
Syok kardiogenik — Penurunan cardiac output berat yang menyebabkan hipoperfusi ke seluruh organ termasuk saluran cerna.
Pankreatitis akut — Peradangan pankreas yang dapat mempengaruhi suplai darah ke organ abdomen lainnya.
Hipertensi portal — Peningkatan tekanan dalam sistem vena portal yang mengganggu aliran darah normal ke dan dari saluran cerna.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Perfusi Gastrointestinal Adekuat — Aliran darah ke saluran cerna mencukupi untuk mendukung fungsi pencernaan dan absorbsi, ditandai dengan tidak ada nyeri abdomen berat, fungsi usus normal, dan absorbsi nutrisi baik.
Luaran Tambahan:
Fungsi Pencernaan Normal — Proses pencernaan dan absorbsi makanan berjalan tanpa gangguan signifikan.
Tidak Ada Nefro Abdominal Berat — Pasien tidak mengalami nyeri abdomen iskemik yang parah atau tanda-tanda abdomen akut.
Status Nutrisi Adekuat — Berat badan stabil dengan asupan dan absorbsi nutrisi yang memadai.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
Risiko Perfusi Gastrointestinal Tidak Efektif
Intervensi Utama:
Manajemen Perfusi — Monitor tanda-tanda hemodinamik, pertahankan tekanan darah dan cardiac output dalam rentang adekuat untuk memastikan aliran darah ke saluran cerna.
Pengelolaan Nyeri Abdomen — Identifikasi karakteristik nyeri abdomen (lokasi, intensitas, onset), dan kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai anjuran dokter.
Manajemen Cairan dan Elektrolit — Pantau keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam-basa untuk mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat.
Intervensi Pendukung:
Pemantauan Tanda Iskemia — Observasi tanda-tanda iskemia mesenterik seperti nyeri abdomen setelah makan, penurunan berat badan, dan diare berdarah.
Pendidikan Nutrisi — Edukasi tentang pentingnya asupan nutrisi yang tepat dan penghindaran makanan yang dapat memperberat beban kerja saluran cerna.
Pencegahan Trombosis — Kolaborasi dalam pemberian profilaksis trombosis untuk mencegah oklusi pembuluh darah mesenterik.
Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Risiko perdarahan adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan volume darah atau kehilangan darah akibat gangguan proses koagulasi atau kerusakan pembuluh darah, yang dapat mengancam hemodinamik dan keselamatan jiwa.
Faktor Risiko
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya perdarahan meliputi:
Terapi antikoagulan — Penggunaan obat pengencer darah seperti warfarin, heparin, atau obat antiplatelet yang mengganggu mekanisme pembekuan darah.
Penurunan jumlah trombosit — Kondisi trombositopenia yang menyebabkan kemampuan pembekuan darah berkurang.
Gangguan fungsi hati — Hati memproduksi faktor-faktor pembekuan; gangguan fungsi hati mengurangi sintesis protein koagulasi.
Riwayat perdarahan sebelumnya — Pernah mengalami perdarahan berat atau riwayat kelainan perdarahan menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi.
Trombositopenia — Jumlah platelet di bawah 100.000/µL yang meningkatkan risiko perdarahan spontan atau setelah cedera ringan.
Hipertensi tidak terkontrol — Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol meningkatkan tekanan pada dinding pembuluh darah.
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko perdarahan meliputi:
Gangguan keganasan darah — Leukemia, limfoma, atau myelodysplastic syndrome yang mempengaruhi produksi dan fungsi sel darah.
Sindrom disseminated intravascular coagulation (DIC) — Gangguan koagulasi masif yang menyebabkan perdarahan dan pembekuan darah simultan di seluruh tubuh.
Penyakit hati lanjut — Sirosis atau gagal hati berat yang mengganggu sintesis faktor koagulasi.
Gangguan ginjal — Uremia dapat menyebabkan disfungsi trombosit dan peningkatan risiko perdarahan.
Prosedur invasif — Pembedahan, pemasukan kateter, atau tindakan medis lain yang berisiko menyebabkan perdarahan.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Tidak Ada Perdarahan — Tidak ditemukan tanda-tanda perdarahan aktif maupun tersembunyi, termasuk tidak ada perdarahan dari luka, membran mukosa, atau saluran cerna.
Luaran Tambahan:
Stabilitas Hemodinamik — Tekanan darah, denyut nadi, dan hemoglobin tetap stabil dalam rentang normal.
Pencegahan Cedera — Tidak ada cedera atau trauma yang dapat memicu perdarahan.
Pengetahuan Pencegahan Perdarahan — Pasien dan keluarga memahami tanda-tanda perdarahan dan cara pencegahannya.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
Risiko Perdarahan
Intervensi Utama:
Monitor Tanda-tanda Perdarahan — Observasi secara rutin tanda perdarahan dari luka, gusi, urine, feses, dan muntahan; catat warna, jumlah, dan frekuensinya.
Pengelolaan Terapi Antikoagulan — Kolaborasi dengan dokter untuk memantau hasil laboratorium (INR, aPTT, trombosit) dan menyesuaikan dosis antikoagulan sesuai kebutuhan.
Pencegahan Cedera — Berikan instruksi untuk menghindari aktivitas berisiko tinggi, gunakan sikat gigi berbulu halus, dan hindari penggunaan obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Intervensi Pendukung:
Pemantauan Laboratorium — Lakukan pemeriksaan darah rutin untuk memantau kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit, dan parameter koagulasi.
Pendidikan Kesehatan — Edukasi pasien tentang tanda-tanda perdarahan yang harus diwaspadai dan kapan harus segera mencari pertolongan medis.
Manajemen Nutrisi — Pastikan asupan nutrisi Adekuat untuk mendukung produksi sel darah dan faktor koagulasi, termasuk vitamin K dari sayuran hijau.
Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Risiko penurunan curah jantung adalah kondisi di mana seseorang berisiko mengalami penurunan volume darah yang dipompa oleh jantung per menit, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan tubuh secara adekuat.
Faktor Risiko
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya penurunan curah jantung meliputi:
Perubahan afterload — Peningkatan resistensi yang harus diatasi jantung saat memompa darah, misalnya akibat hipertensi berat atau stenosis aorta.
Perubahan frekuensi jantung — Detak jantung yang terlalu cepat (takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia) dapat mengganggu efisiensi pemompaan.
Perubahan irama jantung — Gangguan irama seperti fibrilasi atrium atau blok jantung mengganggu koordinasi kontraksi jantung.
Perubahan kontraktilitas — Penurunan kekuatan kontraksi otot jantung akibat kerusakan miokard, misalnya setelah infark miokard atau pada kardiomiopati.
Perubahan preload — Penurunan volume darah yang masuk ke jantung akibat dehidrasi, perdarahan, atau penumpukan cairan di paru.
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi klinis yang berkaitan dengan risiko penurunan curah jantung meliputi:
Gagal jantung kongestif — Ketidakmampuan jantung memompa darah secara adekuat, menyebabkan sesak napas, edema, dan kelelahan.
Sindrom koroner akut — Aliran darah ke otot jantung terganggu akibat penyumbatan pembuluh koroner, yang dapat merusak kemampuan kontraksi.
Gangguan katup jantung — Stenosis atau regurgitasi pada katup aorta, pulmonalis, trikuspidalis, atau mitralis yang mengganggu aliran darah intrakardiak.
Defek septum atrial/ventrikel — Lubang pada dinding pemisah ruang jantung yang menyebabkan pencampuran darah dan penurunan efisiensi pemompaan.
Aritmia — Gangguan irama jantung yang mengakibatkan penurunan cardiac output secara bermakna.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Cardiac Output Adekuat — Jantung mampu memompa volume darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, ditandai dengan denyut nadi teratur, tekanan darah dalam batas normal, dan tidak ada tanda-tanda sirkulasi tidak adekuat.
Luaran Tambahan:
Stabilitas Hemodinamik — Tekanan darah, denyut nadi, dan curah jantung tetap stabil dalam rentang normal selama aktivitas dan istirahat.
Perfusi Jaringan Adekuat — Aliran darah ke organ dan jaringan perifer cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik sel.
Tidak Ada Tanda Sirkulasi Tidak Efektif — Tidak ditemukan edema paru, edema perifer, atau tanda-tanda renjana jantung.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
Risiko Penurunan Curah Jantung
Intervensi Utama:
Manajemen Afterload — Monitor dan intervensi untuk mengontrol faktor-faktor yang meningkatkan resistensi pembuluh darah, termasuk pengelolaan hipertensi dan pemberian vasodilator sesuai program terapi.
Manajemen Frekuensi Jantung — Pantau denyut nadi secara rutin, identifikasi bradikardia atau takikardia, dan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antiaritmia jika diperlukan.
Manajemen Irama Jantung — Lakukan pemantauan EKG secara kontinu, identifikasi gangguan irama, dan siapkan alat pacu jantung eksternal jika ada indikasi.
Manajemen Kontraktilitas — Kolaborasi dalam pemberian inotropik positif untuk meningkatkan kekuatan kontraksi miokard sesuai anjuran dokter.
Intervensi Pendukung:
Manajemen Preload — Pantau intake dan output cairan, batasi asupan sodium sesuai program diet, dan kolaborasi dalam pemberian diuretik untuk mengontrol volume intravaskular.
Istirahat dan Aktivitas — Rencanakan aktivitas bertahap dengan periode istirahat yang cukup untuk mengurangi beban kerja jantung.
Suplementasi Oksigen — Berikan oksigen tambahan jika terdapat tanda hipoksia untuk memastikan pasokan oksigen ke jaringan tetap adekuat.
Pendidikan Kesehatan — Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda perburukan, pentingnya kepatuhan obat, dan modifikasi gaya hidup untuk menjaga fungsi kardiovaskular.
Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Risiko Gangguan Sirkulasi Spontan adalah kondisi berisiko mengalami ketidakmampuan untuk mempertahankan sirkulasi (aliran darah) yang adekuat untuk menunjang kehidupan. Artinya, pasien memiliki faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan sirkulasi yang mengancam jiwa.
Faktor Risiko
Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan sirkulasi spontan:
Kekurangan volume cairan — Dehidrasi atau perdarahan yang mengurangi volume darah.
Hipoksia — Kekurangan oksigen dalam jaringan tubuh.
Hipotermia — Suhu tubuh terlalu rendah yang memperlambat fungsi jantung.
Hipokalemia/Hiperkalemia — Kadar kalium terlalu rendah atau terlalu tinggi, yang mengganggu irama jantung.
Hipoglikemia/Hiperglikemia — Kadar gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Asidosis — Kadar asam dalam darah terlalu tinggi.
Toksin (mis. keracunan, overdosis obat) — Zat beracun yang memengaruhi fungsi jantung dan sirkulasi.
Tamponade Jantung — Penumpukan cairan di sekitar jantung yang menekan jantung sehingga tidak bisa memompa dengan baik.
Tension Pneumothorax — Udara terjebak di rongga dada dengan tekanan tinggi yang menghimpit jantung dan pembuluh darah besar.
Trombosis Jantung — Pembentukan bekuan darah di dalam jantung.
Trombosis Paru (Emboli Paru) — Bekuan darah menyumbat pembuluh darah paru.
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai risiko gangguan sirkulasi spontan:
Bradikardia — Detak jantung sangat lambat (kurang dari 60 kali/menit).
Takikardia — Detak jantung sangat cepat (lebih dari 100 kali/menit).
Sindrom Koroner Akut — Penyumbatan pembuluh darah jantung yang menyebabkan serangan jantung.
Gagal Jantung — Jantung tidak mampu memompa darah dengan baik.
Kardiomiopati — Penyakit pada otot jantung yang mengganggu kemampuan memompa.
Miokarditis — Radang pada otot jantung.
Disritmia — Gangguan irama atau frekuensi detak jantung.
Trauma — Cedera fisik yang bisa menyebabkan syok dan gangguan sirkulasi.
Perdarahan — Perdarahan berat dari berbagai lokasi seperti gastrointestinal, ruptur aorta, atau perdarahan intrakranial.
Keracunan — Masuknya zat beracun yang memengaruhi fungsi jantung.
Overdosis — Konsumsi obat berlebihan yang menekan fungsi kardiovaskular.
Tenggelam — Kekurangan oksigen akibat tenggelam yang memengaruhi jantung.
Emboli Paru — Penyumbatan pembuluh darah paru oleh bekuan darah.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Sirkulasi Spontan — Jantung mampu memompa darah secara adekuat untuk menjaga kehidupan.
Luaran Tambahan:
Keseimbangan Asam-Basa — Kadar keasaman darah dalam rentang normal.
Perfusi Gastrointestinal — Aliran darah ke saluran pencernaan berjalan adekuat.
Perfusi Perifer — Aliran darah ke ekstremitas berjalan adekuat.
Perfusi Renal — Aliran darah ke ginjal berjalan adekuat.
Perfusi Serebral — Aliran darah ke otak berjalan adekuat.
Status Sirkulasi — Sistem sirkulasi berfungsi dengan baik.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
Gangguan Sirkulasi Spontan
Intervensi Utama:
Manajemen Defibrilasi — Memberikan kejutan listrik ke jantung untuk mengembalikan irama normal jika diperlukan.
Resusitasi Cairan — Memberikan cairan infus untuk menjaga volume darah dan tekanan darah.
Resusitasi Jantung Paru (RJP) — Tindakan darurat berupa kompresi dada dan ventilasi untuk mempertahankan sirkulasi jika jantung berhenti.
Intervensi Pendukung:
Code Management — Koordinasi tim dalam situasi darurat jantung (code blue).
Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan — Membantu pasien patuh dengan pengobatan yang diresepkan.
Manajemen Spesimen Darah — Pengambilan dan pengelolaan sampel darah untuk pemeriksaan.
Manajemen Penyalahgunaan Zat — Mengatasi efek penyalahgunaan zat yang memengaruhi sirkulasi.
Pemantauan Cairan — Memantau asupan dan output cairan tubuh.
Pemantauan Hasil Laboratorium — Memeriksa hasil pemeriksaan darah dan cairan tubuh.
Pemantauan Hemodinamik Invasif — Memantau tekanan darah dan fungsi jantung menggunakan alat khusus.
Pemantauan Tanda Vital — Memantau tekanan darah, nadi, suhu, dan saturasi oksigen secara rutin.
Insersi Intravena — Memasang infus untuk pemberian obat dan cairan.
Insersi Jalan Napas Buatan — Memasang alat bantu napas buatan jika diperlukan.
Kateterisasi Urine — Memasang selang ke kandung kemih untuk memantau produksi urin.
Manajemen Alat Pacu Jantung Sementara — Mengatur dan memantau penggunaan alat pacu jantung sementara.
Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk mendukung fungsi sirkulasi.
Manajemen Asam-Basa: Alkalosis Metabolik — Mengatasi kondisi darah terlalu basa akibat gangguan metabolik.
Pemberian Obat Intramuskular — Memberikan obat melalui suntikan ke otot.
Manajemen Asam-Basa: Asidosis Metabolik — Mengatasi kondisi darah terlalu asam akibat gangguan metabolik.
Pemberian Obat Intraoseous — Memberikan obat melalui jarum yang dimasukkan ke tulang.
Manajemen Asam-Basa: Asidosis Respiratorik — Mengatasi darah terlalu asam akibat penumpukan karbon dioksida.
Manajemen Elektrolit: Hiperkalemia — Mengatasi kadar kalium terlalu tinggi dalam darah.
Manajemen Elektrolit: Hiperkalsemia — Mengatasi kadar kalsium terlalu tinggi.
Manajemen Elektrolit: Hipermagnesemia — Mengatasi kadar magnesium terlalu tinggi.
Pengambilan Sampel Darah Vena — Mengambil sampel darah dari pembuluh vena untuk pemeriksaan.
Manajemen Elektrolit: Hipernatremia — Mengatasi kadar natrium terlalu tinggi.
Manajemen Elektrolit: Hipokalemia — Mengatasi kadar kalium terlalu rendah.
Manajemen Elektrolit: Hipokalsemia — Mengatasi kadar kalsium terlalu rendah.
Manajemen Elektrolit: Hipomagnesemia — Mengatasi kadar magnesium terlalu rendah.
Perawatan Emboli Paru — Merawat kondisi penyumbatan pembuluh darah paru.
Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas.
Manajemen Jalan Napas Buatan — Merawat alat bantu napas buatan.
Manajemen Medikasi — Mengelola pemberian obat-obatan secara tepat.
Perfusi Perifer Tidak Efektif adalah penurunan sirkulasi darah pada level kapiler (pembuluh darah paling kecil) yang dapat mengganggu metabolisme tubuh di area ekstremitas (tangan dan kaki). Artinya, darah tidak mengalir dengan baik ke jaringan-jaringan di bagian tubuh yang jauh dari jantung.
Penyebab
Hiperglikemia — Kadar gula darah terlalu tinggi yang merusak pembuluh darah kecil dan memperlambat aliran darah.
Penurunan konsentrasi hemoglobin — Hemoglobin (protein pembawa oksigen dalam darah) berkurang, sehingga oksigen yang sampai ke jaringan berkurang.
Peningkatan tekanan darah — Tekanan darah tinggi yang merusak dinding pembuluh darah kecil.
Kekurangan volume cairan — Cairan dalam tubuh kurang sehingga volume darah berkurang dan aliran ke ekstremitas menurun.
Penurunan aliran arteri dan/atau vena — Aliran darah dari jantung ke ekstremitas (arteri) atau dari ekstremitas kembali ke jantung (vena) berkurang.
Kurang informasi tentang faktor pemberat — Pasien tidak mengetahui faktor yang memperburuk kondisi seperti merokok, gaya hidup monoton, trauma, obesitas, asupan garam berlebih, atau imobilitas (kurang gerak).
Kurang informasi tentang proses penyakit — Pasien tidak memahami penyakit yang dialami seperti diabetes melitus atau hiperlipidemia (kolesterol tinggi).
Kurang aktivitas fisik — Kurangnya gerak tubuh memperlambat sirkulasi darah ke ekstremitas.
Gejala dan Tanda Mayor
Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan perfusi perifer ini.
Subjektif (apa yang dirasakan pasien):
Tidak tersedia.
Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):
Pengisian kapiler >3 detik — Setelah ditekan, kulit membutuhkan waktu lebih dari 3 detik untuk kembali berwarna normal (tanda aliran darah ke kulit berkurang).
Nadi perifer menurun atau tidak teraba — Denyut nadi di pergelangan tangan atau kaki lemah atau tidak teraba sama sekali.
Akral teraba dingin — Ujung-ujung tubuh (jari tangan, jari kaki) teraba dingin karena kurang aliran darah hangat.
Warna kulit pucat — Kulit ekstremitas tampak pucat karena kurang aliran darah.
Turgor kulit menurun — Kulit lambat kembali ke bentuk semula saat dijepit (tanda dehidrasi atau kurang aliran darah).
Gejala dan Tanda Minor
Minor berarti tanda-tanda tambahan yang mungkin menyertai gangguan perfusi perifer ini.
Subjektif (apa yang dirasakan pasien):
Parestesia — Sensasi abnormal pada kulit seperti kesemutan, kebas, atau rasa terbakar di tangan atau kaki.
Nyeri ekstremitas (klaudikasi intermiten) — Nyeri pada kaki saat berjalan yang membaik saat berhenti sebentar, karena otot kekurangan aliran darah saat bekerja.
Objektif (yang bisa diamati):
Edema — Pembengkakan pada tangan atau kaki akibat penumpukan cairan.
Penyembuhan luka lambat — Luka atau goresan membutuhkan waktu lama untuk sembuh karena kurang oksigen dan nutrisi ke jaringan.
Indeks ankle-brachial <0,90 — Perbandingan tekanan darah di pergelangan kaki dengan lengan menunjukkan penyumbatan pembuluh darah.
Bruit femoral — Suara abnormal yang terdengar saat mendengar pembuluh darah di area selangkangan dengan stetoskop (tanda penyumbatan).
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai gangguan perfusi perifer:
Tromboflebitis — Peradangan pada pembuluh vena yang disertai pembentukan bekuan darah.
Diabetes Melitus — Penyakit gula darah tinggi yang merusak pembuluh darah kecil.
Anemia — Kekurangan sel darah merah atau hemoglobin sehingga oksigen ke jaringan berkurang.
Gagal Jantung Kongenital — Kelainan jantung bawaan yang mengganggu sirkulasi.
Kelainan Jantung Kongenital — Struktur jantung abnormal sejak lahir.
Trombosis Arteri — Bekuan darah menyumbat pembuluh nadi.
Varises — Pembengkakan pembuluh vena di kaki.
Trombosis Vena Dalam — Bekuan darah di pembuluh vena dalam kaki.
Sindrom Kompartemen — Tekanan tinggi di dalam ruang otot yang mengganggu aliran darah.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Perfusi Perifer — Aliran darah ke ekstremitas (tangan dan kaki) berjalan adekuat.
Luaran Tambahan:
Fungsi Sensori — Kemampuan persepsi sensori di ekstremitas tetap terjaga.
Mobilitas Fisik — Kemampuan bergerak ekstremitas tetap terjaga.
Penyembuhan Luka — Luka pada ekstremitas sembuh dengan baik.
Status Sirkulasi — Sistem sirkulasi ke ekstremitas berfungsi dengan baik.
Tingkat Cedera — Risiko cedera pada ekstremitas terkontrol.
Tingkat Perdarahan — Risiko perdarahan pada ekstremitas terkontrol.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
Perfusi Perifer Tidak Efektif
Intervensi Utama:
Pemantauan Sirkulasi Perifer — Memantau sirkulasi darah di ekstremitas secara rutin.
Manajemen Luka — Merawat luka pada ekstremitas untuk mendukung penyembuhan.
Intervensi Pendukung:
Edukasi Pengukuran Respirasi — Mengajarkan cara memantau pernapasan.
Edukasi Pengukuran Tanda Vital — Mengajarkan cara memantau tanda vital sendiri.
Edukasi Pengukuran Berat Badan — Mengajarkan cara memantau berat badan.
Edukasi Pengukuran Tekanan Darah — Mengajarkan cara mengukur tekanan darah sendiri.
Edukasi Pengukuran Kadar Glukosa Darah — Mengajarkan cara memantau kadar gula darah.
Edukasi Pengukuran Glikosilasi Hemoglobin — Mengajarkan tentang pemeriksaan HbA1c.
Edukasi Pengukuran Fungsi Vaskular — Mengajarkan cara memeriksa sirkulasi darah di kaki.
Edukasi Pengukuran Fungsi Saraf — Mengajarkan cara memeriksa fungsi sensori di kaki.
Edukasi Pengukuran Fungsi Motorik — Mengajarkan cara memeriksa kemampuan gerak kaki.
Edukasi Pengukuran Fungsi Integumen — Mengajarkan cara memeriksa kondisi kulit kaki.
Edukasi Pengukuran Fungsi Eliminasi — Mengajarkan cara memantau fungsi buang air kecil.
Edukasi Pengukuran Fungsi Kognitif — Mengajarkan cara memantau fungsi berpikir.
Edukasi Pengukuran Fungsi Psikososial — Mengajarkan cara memantau kondisi psikologis.
Edukasi Pengukuran Fungsi Seksual — Mengajarkan tentang dampak penyakit terhadap fungsi seksual.
Edukasi Pengukuran Fungsi Reproduksi — Mengajarkan tentang dampak penyakit terhadap fungsi reproduksi.
Edukasi Pengukuran Fungsi Saluran Cerna — Mengajarkan cara memantau fungsi pencernaan.
Edukasi Pengukuran Fungsi Saluran Kemih — Mengajarkan cara memantau fungsi kandung kemih.
Edukasi Pengukuran Fungsi Saluran Pernapasan — Mengajarkan cara memantau pernapasan.
Edukasi Pengukuran Fungsi Saluran Reproduksi — Mengajarkan tentang dampak penyakit terhadap saluran reproduksi.
Edukasi Pengukuran Fungsi Penglihatan — Mengajarkan cara memeriksa penglihatan.
Edukasi Pengukuran Fungsi Pendengaran — Mengajarkan cara memeriksa pendengaran.
Edukasi Pengukuran Fungsi Penciuman — Mengajarkan cara memeriksa penciuman.
Edukasi Pengukuran Fungsi Peraba — Mengajarkan cara memeriksa sensasi sentuh.
Edukasi Pengukuran Fungsi Pengecap — Mengajarkan cara memeriksa fungsi rasa.
Edukasi Pengukuran Fungsi Keseimbangan — Mengajarkan cara memeriksa keseimbangan tubuh.
Edukasi Pengukuran Fungsi Koordinasi — Mengajarkan cara memeriksa koordinasi gerak.
Edukasi Pengukuran Fungsi Refleks — Mengajarkan cara memeriksa refleks tubuh.
Edukasi Pengukuran Fungsi Respon — Mengajarkan cara memeriksa waktu reaksi.
Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Penurunan Curah Jantung adalah ketidakadekuatan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Artinya, jantung tidak mampu memompa darah yang cukup untuk membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh sel tubuh.
Penyebab
Perubahan irama jantung — Jantung berdetak tidak teratur, sehingga pompaan darah tidak efektif.
Perubahan frekuensi jantung — Jantung berdetak terlalu cepat (takikardia) atau terlalu lambat (bradikardia).
Perubahan kontraktilitas — Kekuatan pompaan otot jantung berkurang, sehingga darah tidak terpompa dengan baik.
Perubahan preload — Volume darah yang masuk ke jantung berubah, sehingga jantung terisi terlalu penuh atau terlalu kosong.
Perubahan afterload — Resistensi yang harus dilawan jantung saat memompa darah berubah, sehingga jantung bekerja lebih berat atau kurang efektif.
Gejala dan Tanda Mayor
Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari penurunan curah jantung.
Subjektif (apa yang dirasakan pasien):
Perubahan irama jantung: Palpitasi — Pasien merasa detak jantungnya tidak teratur, berdegup kencang, atau melambat.
Perubahan preload: Lelah — Pasien merasa sangat capek karena tubuh kekurangan oksigen dan nutrisi.
Perubahan afterload: Dispnea — Pasien merasa sesak napas karena paru penuh cairan akibat penumpukan darah.
Perubahan kontraktilitas: Paroxysmal Nocturnal Dyspnea (PND), Ortopnea, Batuk — Pasien terbangun tiba-tiba di malam hari karena sesak napas (PND), sulit bernapas saat berbaring (ortopnea), dan batuk karena cairan di paru.
Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):
Perubahan irama jantung:
Bradikardia / Takikardia — Detak jantung terlalu lambat (<60/menit) atau terlalu cepat (>100/menit).
Gambaran EKG aritmia atau gangguan konduksi — Hasil rekaman jantung menunjukkan irama tidak teratur atau gangguan penghantaran sinyal listrik.
Perubahan preload:
Edema — Pembengkakan pada kaki, tangan, atau wajah akibat penumpukan cairan.
Distensi vena jugularis — Pembuluh darah di leher membengkak karena tekanan darah di jantung kanan meningkat.
Central Venous Pressure (CVP) meningkat/menurun — Tekanan darah di vena besar dekat jantung tidak normal.
Hepatomegali — Pembesaran hati akibat penumpukan darah.
Perubahan afterload:
Tekanan darah meningkat/menurun — Tekanan darah tidak stabil.
Nadi perifer teraba lemah — Denyut nadi di pergelangan tangan atau kaki lemah.
Capillary refill time >3 detik — Setelah ditekan, kulit membutuhkan waktu lama untuk kembali berwarna normal.
Oliguria — Produksi urin sangat sedikit (<500 ml/24 jam).
Warna kulit pucat dan/atau sianosis — Kulit pucat atau kebiruan karena kurang oksigen.
Perubahan kontraktilitas:
Terdengar suara jantung S3 dan/atau S4 — Suara jantung tambahan yang tidak normal saat didengar dengan stetoskop.
Ejection Fraction (EF) menurun — Persentase darah yang dipompa jantung setiap detak berkurang (normal 55-70%).
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai penurunan curah jantung:
Gagal Jantung Kongestif — Jantung tidak mampu memompa darah dengan baik sehingga cairan menumpuk di paru dan tubuh.
Sindrom Koroner Akut — Penyumbatan pembuluh darah jantung yang menyebabkan kerusakan otot jantung.
Stenosis Mitral — Penyempitan katup mitral yang mengganggu aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri.
Regurgitasi Mitral — Katup mitral tidak menutup rapat sehingga darah mengalir balik.
Stenosis Aorta — Penyempitan katup aorta yang mengganggu aliran darah ke seluruh tubuh.
Regurgitasi Aorta — Katup aorta tidak menutup rapat sehingga darah mengalir balik ke ventrikel.
Stenosis Pulmonal — Penyempitan katup pulmonal yang mengganggu aliran darah ke paru.
Regurgitasi Trikuspidal — Katup trikuspidal tidak menutup rapat.
Regurgitasi Pulmonal — Katup pulmonal tidak menutup rapat.
Aritmia — Gangguan irama jantung yang memengaruhi efisiensi pompaan.
Penyakit Jantung Bawaan — Kelainan struktur jantung sejak lahir.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Curah Jantung — Jantung mampu memompa darah adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Luaran Tambahan:
Perfusi Miokard — Aliran darah ke otot jantung berjalan adekuat.
Perfusi Renal — Aliran darah ke ginjal berjalan adekuat.
Perfusi Perifer — Aliran darah ke ekstremitas berjalan adekuat.
Perfusi Serebral — Aliran darah ke otak berjalan adekuat.
Status Cairan — Keseimbangan cairan tubuh terjaga.
Status Neurologis — Fungsi sistem saraf tetap stabil.
Status Sirkulasi — Sistem sirkulasi berfungsi dengan baik.
Tingkat Keletihan — Rasa lelah pasien terkontrol.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
Penurunan Curah Jantung
Intervensi Utama:
Pemantauan Hemodinamik — Memantau tekanan darah, detak jantung, dan fungsi jantung secara terus-menerus.
Pemantauan Tanda Vital — Memantau tekanan darah, nadi, suhu, dan frekuensi napas secara rutin.
Intervensi Pendukung:
Manajemen Cairan — Mengatur asupan dan output cairan sesuai kebutuhan.
Manajemen Medikasi — Memberikan obat-obatan jantung sesuai resep.
Pemberian Oksigen — Memberikan suplementasi oksigen untuk membantu kerja jantung.
Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien dalam posisi semi-fowler untuk mengurangi beban jantung.
Manajemen Energi — Membantu pasien mengatur aktivitas agar tidak kelelahan.
Restriksi Cairan dan Garam — Membatasi asupan cairan dan garam untuk mengurangi beban jantung.
Pencegahan Tromboemboli — Mencegah pembentukan bekuan darah yang berbahaya.
Pemantauan Berat Badan Harian — Memantau perubahan berat badan sebagai indikator penumpukan cairan.
Pemantauan I/O (Input/Output) — Mencatat asupan cairan dan produksi urin.
Reduksi Ansietas — Mengurangi rasa cemas pasien.
Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Gangguan Sirkulasi Spontan adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan sirkulasi (aliran darah) yang adekuat untuk menunjang kehidupan. Artinya, jantung dan pembuluh darah tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh secara cukup untuk menjaga kelangsungan hidup.
Penyebab
Abnormalitas kelistrikan jantung — Gangguan pada sistem kelistrikan yang mengatur detak jantung, sehingga jantung berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.
Abnormalitas struktur jantung — Kerusakan atau kelainan bentuk pada bagian-bagian jantung (katup, dinding, ruang) yang mengganggu kemampuan memompa darah.
Penurunan fungsi ventrikel — Ruang bawah jantung (ventrikel) yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh mengalami penurunan kemampuan.
Gejala dan Tanda Mayor
Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan sirkulasi ini. Tanda ini menunjukkan kondisi darurat yang mengancam jiwa.
Subjektif (apa yang dirasakan pasien):
Tidak berespon — Pasien tidak memberikan respons saat dipanggil atau distimulasi.
Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):
Frekuensi nadi <50 kali/menit atau >150 kali/menit — Detak jantung sangat lambat (bradikardia berat) atau sangat cepat (takikardia berat).
Tekanan darah sistolik <60 mmHg atau >200 mmHg — Tekanan darah sangat rendah (hipotensi berat) atau sangat tinggi (hipertensi berat).
Frekuensi napas <6 kali/menit atau >30 kali/menit — Pernapasan sangat lambat atau sangat cepat.
Kesadaran menurun atau tidak sadar — Pasien mengantuk, bingung, atau tidak sadarkan diri.
Gejala dan Tanda Minor
Minor berarti tanda-tanda tambahan yang mungkin menyertai gangguan sirkulasi ini.
Subjektif (apa yang dirasakan pasien):
Tidak tersedia.
Objektif (yang bisa diamati):
Suhu tubuh <34,5 derajat Celcius — Suhu tubuh sangat rendah (hipotermia berat) karena sirkulasi darah ke kulit berkurang.
Tidak ada produksi urin dalam 6 jam — Ginjal tidak memproduksi urin karena aliran darah ke ginjal sangat berkurang.
Saturasi oksigen <85% — Kadar oksigen dalam darah sangat rendah.
Gambaran EKG menunjukkan aritmia letal — Hasil rekaman jantung menunjukkan gangguan irama yang mengancam jiwa, seperti Ventricular Tachycardia [VT] (detak jantung ventrikel sangat cepat), Ventricular Fibrillation [VF] (ventrikel bergetar tanpa pompa efektif), Asistol (jantung berhenti total), atau Pulseless Electrical Activity [PEA] (ada aktivitas listrik tapi jantung tidak memompa).
Gambaran EKG menunjukkan aritmia mayor — Gangguan irama jantung serius seperti AV block derajat 2 tipe 2, AV block total, takiaritmia/bradiaritmia berat, Supraventricular Tachycardia [SVT], atau Ventricular Extrasystole [VES] simptomatik.
ETCO2 <35 mmHg — Karbon dioksida yang dikeluarkan saat ekspirasi sangat rendah, menandakan sirkulasi dan pernapasan sangat buruk.
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai gangguan sirkulasi spontan:
Risiko Aspirasi adalah risiko mengalami masuknya sekresi gastrointestinal (cairan dari saluran pencernaan), sekresi orofaring (cairan dari mulut dan tenggorokan), benda cair atau padat ke dalam saluran trakeobronkhial (saluran napas utama di tenggorok dan bronkus) akibat disfungsi mekanisme protektif saluran napas (gangguan pada sistem pertahanan alami yang melindungi saluran napas).
Faktor Risiko
Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya aspirasi:
Penurunan tingkat kesadaran — Pasien mengantuk atau tidak sadar sehingga tidak bisa melindungi saluran napasnya.
Penurunan refleks muntah dan/atau batuk — Refleks tubuh untuk membuang benda asing dari saluran napas berkurang.
Gangguan menelan — Kesulitan dalam menelan makanan atau minuman.
Disfagia — Gangguan medis pada proses menelan yang membuat makanan atau cairan masuk ke saluran napas.
Kerusakan mobilitas fisik — Pasien tidak bisa bergerak sendiri sehingga tidak bisa melindungi diri dari aspirasi.
Peningkatan residu lambung — Sisa makanan di lambung terlalu banyak sehingga mudah naik ke kerongkongan.
Peningkatan tekanan intragastrik — Tekanan di dalam lambung meningkat sehingga isi lambung terdorong naik.
Penurunan motilitas gastrointestinal — Pergerakan saluran pencernaan melambat sehingga makanan tertinggal di lambung.
Sfingter esofagus bawah inkompeten — Katup antara kerongkongan dan lambung tidak menutup dengan baik sehingga isi lambung bisa naik.
Perlambatan pengosongan lambung — Lambung terlalu lama dalam mengosongkan isinya ke usus.
Terpasang selang nasogastrik — Selang yang dimasukkan dari hidung ke lambung bisa memicu muntah atau refluks.
Terpasang trakeostomi atau endotracheal tube — Selang di tenggorokan melewati katup pelindung alami saluran napas.
Trauma atau pembedahan leher, mulut, dan/atau wajah — Cedera atau operasi pada area ini bisa mengganggu mekanisme protektif.
Efek agen farmakologis — Obat-obatan tertentu (seperti obat bius atau penenang) bisa menekan refleks batuk dan menelan.
Ketidakmatangan koordinasi menghisap, menelan, dan bernafas — Pada bayi prematur, koordinasi antara menghisap, menelan, dan bernapas belum sempurna.
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai risiko aspirasi:
Cedera Kepala — Cedera pada otak yang mengganggu kesadaran dan refleks protektif.
Stroke — Gangguan aliran darah ke otak yang bisa memengaruhi fungsi menelan dan batuk.
Cedera Medula Spinalis — Cedera sumsum tulang belakang yang memengaruhi saraf pengatur menelan dan batuk.
Guillain-Barre Syndrome — Penyakit autoimun yang melemahkan otot-otot tubuh termasuk otot menelan.
Penyakit Parkinson — Gangguan neurologis yang memengaruhi koordinasi menelan.
Keracunan Obat dan Alkohol — Zat beracun menekan kesadaran dan refleks protektif.
Pembesaran Uterus — Kehamilan lanjut bisa menekan lambung dan meningkatkan risiko refluks.
Myasthenia Gravis — Penyakit autoimun yang melemahkan otot-otot termasuk otot menelan.
Fistula Trakeoesofagus — Koneksi abnormal antara trakea dan esofagus.
Striktura Esofagus — Penyempitan kerongkongan yang mengganggu jalannya makanan.
Sclerosis Multiple — Penyakit neurologis yang memengaruhi saraf pengatur menelan.
Labiopalatoskizis — Celah pada bibir dan langit-langit mulut yang mengganggu koordinasi menelan.
Atresia Esofagus — Ketidaksempurnaan bentuk kerongkongan sejak lahir.
Laringomalasia — Jaringan laring yang lunak dan mudah kolaps, terutama pada bayi.
Prematuritas — Bayi lahir sebelum waktunya dengan koordinasi menelan dan bernapas yang belum matang.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Tingkat Aspirasi — Risiko masuknya benda asing ke saluran napas terkontrol atau tidak terjadi.
Luaran Tambahan:
Kontrol Mual/Muntah — Rasa mual dan muntah terkontrol sehingga tidak memicu aspirasi.
Kontrol Risiko — Faktor-faktor risiko aspirasi berhasil diminimalkan.
Status Menelan — Kemampuan menelan pasien terjaga atau membaik.
Status Neurologis — Fungsi sistem saraf tetap stabil untuk mendukung refleks protektif.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
Risiko Aspirasi
Intervensi Utama:
Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya benda asing ke saluran napas melalui pengaturan posisi, pengaturan makanan, dan pemantauan.
Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas dan memastikan mekanisme protektif berfungsi.
Intervensi Pendukung:
Dukungan Nutrisi — Memastikan asupan nutrisi yang aman sesuai kemampuan menelan pasien.
Edukasi Teknik Menelan — Mengajarkan cara menelan yang aman untuk mencegah aspirasi.
Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien dalam posisi semi-fowler (setengah duduk) saat makan dan setelah makan.
Penghisapan Jalan Napas — Menyedot sekresi dari mulut dan saluran napas untuk menjaga kepatenan.
Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk mengatasi faktor risiko.
Pencegahan Infeksi — Menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi saluran napas.
Perawatan Jalan Napas Buatan — Merawat trakeostomi atau endotracheal tube jika terpasang.
Pemantauan Tanda Vital — Memantau tanda vital termasuk saturasi oksigen secara rutin.
Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Pola Napas Tidak Efektif adalah inspirasi (masuknya udara) dan/atau ekspirasi (keluarnya udara) yang tidak memberikan ventilasi adekuat (cukup). Artinya, cara bernapas pasien tidak mampu memasukkan atau mengeluarkan udara dari paru-paru secara memadai untuk kebutuhan tubuh.
Penyebab
Depresi pusat pernapasan — Bagian otak yang mengatur pernapasan tidak berfungsi dengan baik, misalnya karena cedera atau efek obat.
Hambatan upaya napas — Halangan yang membuat napas terasa sulit, misalnya nyeri saat bernapas atau kelemahan otot pernapasan.
Deformitas dinding dada — Kelainan bentuk pada dinding dada yang menghambat ekspansi paru.
Deformitas tulang dada — Kelainan bentuk pada tulang dada yang mengganggu pergerakan paru.
Gangguan neuromuskular — Gangguan pada sistem saraf dan otot yang mengatur pernapasan.
Gangguan neurologis — Gangguan pada otak atau saraf, misalnya dari hasil EEG positif, cedera kepala, atau gangguan kejang.
Maturitas neurologis — Kematangan sistem saraf yang belum sempurna (sering pada bayi prematur).
Penurunan energi — Tubuh kekurangan tenaga untuk bernapas dengan baik.
Obesitas — Berat badan berlebih yang memberikan tekanan pada paru dan menghambat ekspansi.
Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru — Posisi berbaring atau duduk yang membuat paru sulit mengembang.
Sindrom hipoventilasi — Kondisi di mana paru tidak mampu memasukkan udara cukup secara terus-menerus.
Kerusakan inervasi diafragma — Kerusakan saraf yang mengatur diafragma (otot utama pernapasan), misalnya kerusakan saraf CS ke atas.
Cedera pada medula spinalis — Cedera pada sumsum tulang belakang yang memengaruhi pengaturan pernapasan.
Efek agen farmakologis — Pengaruh obat-obatan yang membuat napas menjadi lambat atau dangkal.
Kecemasan — Rasa cemas yang berlebihan membuat napas menjadi cepat dan tidak teratur.
Gejala dan Tanda Mayor
Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan pola napas ini.
Subjektif (apa yang dirasakan pasien):
Dispnea — Pasien merasa sesak napas atau sulit bernapas.
Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):
Penggunaan otot bantu pernapasan — Otot di leher, bahu, atau dada terlihat ikut bekerja keras saat bernapas.
Fase ekspirasi memanjang — Waktu mengeluarkan udara dari paru lebih lama dari biasanya.
Pola napas abnormal — Bisa berupa takipnea (napas cepat lebih dari 20 kali/menit), bradipnea (napas lambat kurang dari 12 kali/menit), hiperventilasi (napas sangat cepat dan dalam), pola Kussmaul (napas dalam dan cepat pada asidosis metabolik), atau pola Cheyne-Stokes (napas yang semakin dalam lalu semakin dangkal secara berulang).
Gejala dan Tanda Minor
Minor berarti tanda-tanda tambahan yang mungkin menyertai gangguan pola napas ini.
Subjektif (apa yang dirasakan pasien):
Ortopnea — Kesulitan bernapas saat berbaring datar, sehingga harus duduk atau menegak untuk bernapas lebih lega.
Objektif (yang bisa diamati):
Pernapasan pursed-lip — Napas melalui bibir yang mengerucut untuk memperlambat pengeluaran udara (umum pada PPOK).
Gangguan Ventilasi Spontan adalah penurunan cadangan energi yang mengakibatkan individu tidak mampu bernapas secara adekuat (cukup) tanpa bantuan alat. Artinya, otot pernapasan sudah terlalu lelah untuk memompa udara masuk dan keluar paru-paru dengan baik.
Penyebab
Gangguan metabolisme — Gangguan pada proses pengubahan makanan menjadi energi di dalam tubuh, sehingga otot pernapasan kekurangan tenaga.
Kelelahan otot pernafasan — Otot-otot yang membantu pernapasan (seperti diafragma dan otot interkostal) sudah terlalu lelah dan tidak mampu bekerja dengan baik.
Gejala dan Tanda Mayor
Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan ini.
Subjektif (apa yang dirasakan pasien):
Dispnea — Pasien merasa sesak napas atau sulit bernapas.
Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):
Penggunaan otot atas meningkat — Otot di leher, bahu, dan dada terlihat ikut bekerja keras saat bernapas.
Volume tidal menurun — Jumlah udara yang masuk dan keluar setiap tarikan napas berkurang.
PCO2 meningkat — Karbon dioksida menumpuk dalam darah karena paru tidak mampu membuangnya dengan baik.
PO2 menurun — Jumlah oksigen dalam darah berkurang.
SaO2 menurun — Saturasi oksigen dalam darah menurun (normal minimal 95%).
Gejala dan Tanda Minor
Minor berarti tanda-tanda tambahan yang mungkin menyertai gangguan ini.
Subjektif (apa yang dirasakan pasien):
Tidak tersedia.
Objektif (yang bisa diamati):
Gelisah — Pasien tidak tenang, sulit diam karena kekurangan oksigen.
Takikardia — Detak jantung lebih cepat dari normal (lebih dari 100 kali/menit) sebagai kompensasi.
Kondisi Klinis Terkait
Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai gangguan ventilasi spontan:
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) — Penyakit paru yang menyebabkan penyumbatan saluran napas permanen dan kelelahan otot pernapasan.
Asma — Radang kronis pada saluran napas yang membuat napas berat dan membutuhkan banyak tenaga.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Ventilasi Spontan — Kemampuan pasien bernapas mandiri dengan adekuat tanpa bantuan alat.
Luaran Tambahan:
Respirasi — Proses pernapasan berjalan dengan frekuensi dan kedalaman yang adekuat.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
Gangguan Ventilasi Spontan
Intervensi Utama:
Dukungan Ventilasi — Membantu pernapasan pasien melalui alat bantu napas jika diperlukan.
Pemantauan Respirasi — Memantau frekuensi, kedalaman, dan pola napas secara rutin.
Intervensi Pendukung:
Dukungan Emosional — Memberikan dukungan psikologis agar pasien merasa tenang.
Dukungan Perawatan Diri — Membantu pasien dalam aktivitas sehari-hari agar tidak kelelahan.
Edukasi Keluarga: Pemantauan Respirasi — Mengajarkan keluarga cara memantau pernapasan pasien di rumah.
Edukasi Pengukuran Respirasi — Mengajarkan cara mengukur frekuensi dan kedalaman napas.
Fisioterapi Dada — Teknik untuk membantu pengeluaran lendir dari paru-paru.
Konsultasi — Berkonsultasi dengan dokter spesialis paru atau tim medis lainnya.
Pemberian Obat Intraoseous — Memberikan obat melalui jarum yang dimasukkan ke tulang.
Pemberian Obat Intradermal — Memberikan obat melalui suntikan ke lapisan kulit.
Pemberian Obat Intramuskular — Memberikan obat melalui suntikan ke otot.
Pemberian Obat Intravena — Memberikan obat melalui infus ke pembuluh darah.
Manajemen Asam-Basa — Menjaga keseimbangan asam-basa dalam tubuh.
Manajemen Asam-Basa: Alkalosis Respiratorik — Mengatasi darah terlalu basa akibat pernapasan berlebih.
Manajemen Asam-Basa: Asidosis Respiratorik — Mengatasi darah terlalu asam akibat penumpukan karbon dioksida.
Manajemen Energi — Membantu pasien mengatur aktivitas agar tidak kelelahan.
Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas.
Manajemen Jalan Napas Buatan — Merawat alat bantu napas buatan.
Manajemen Ventilasi Mekanik — Mengatur penggunaan mesin ventilator jika diperlukan.
Pemantauan Asam-Basa — Memeriksa kadar asam-basa dalam darah.
Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk membantu pernapasan.
Pemberian Obat Inhalasi — Memberikan obat melalui hirupan untuk membuka saluran napas.
Pemeriksaan Kelengkapan Set Emergensi — Memastikan perlengkapan darurat tersedia jika diperlukan.
Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya cairan ke saluran napas.
Pencegahan Infeksi — Menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi.
Pencegahan Luka Tekan — Mencegah luka akibat tekanan pada kulit pasien yang berbaring lama.
Pengambilan Sampel Darah Arteri — Mengambil sampel darah untuk pemeriksaan gas darah.
Pengaturan Posisi — Menempatkan pasien dalam posisi terbaik untuk pernapasan.
Penghisapan Jalan Napas — Menyedot lendir dari saluran napas.
Pengontrolan Infeksi — Mengendalikan infeksi yang terjadi.
Perawatan Jenazah — Merawat jenazah jika pasien meninggal.