![]()
![]()
D.0050 Retensi Urin.
Definisi
Ketidakmampuan kandung kemih mengosongkan diri secara spontan dan adekuat, yang menyebabkan retensi sebagian atau seluruhnya dari volume urin dalam kandung kemih.
Penyebab
Fisiologis:
- Obstruksi uretra — Penyumbatan pada saluran uretra yang menghambat pengeluaran urin.
- Hipertrofi prostat — Pembesaran kelenjar prostat yang menekan uretra.
- Penurunan kontraktilitas detrusor — Kelemahan otot kandung kemih yang tidak mampu mengosongkan diri.
- Gangguan saraf — Kerusakan saraf yang mengontrol fungsi kandung kemih.
Psikologis:
- Ansietas — Kecemasan yang mempengaruhi relaksasi sfingter uretra.
- Gangguan penilaian — Penurunan kemampuan mengenali kebutuhan eliminasi.
- Penolakan — Penolakan terhadap penggunaan alat bantu eliminasi.
Situasional:
- Pembedahan — Pascaoperasi dengan penggunaan anestesi yang mempengaruhi kandung kemih.
- Imobilisasi — Keterbatasan pergerakan yang mempengaruhi mekanisme eliminasi.
- Penggunaan opioid — Obat penghilang nyeri yang mempengaruhi fungsi kandung kemih.
- Lingkungan tidak nyaman — Ketidakmampuan ke toilet akibat keterbatasan fasilitas.
Kondisi Klinis Terkait
- BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) — Pembesaran prostat jinak yang mengganggu aliran urin.
- Stroke — Cedera otak yang mempengaruhi kontrol kandung kemih.
- Cedera spinal — Kerusakan saraf tulang belakang yang mengontrol kandung kemih.
- Diabetes mellitus — Neuropati diabetik yang mempengaruhi kontraktilitas detrusor.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Pengosongan kandung kemih adekuat — Kandung kemih mampu mengosongkan diri secara spontan dan volume residu berkurang.
Luaran Tambahan:
- Volume residu pasca-miksi berkurang — Sisa urin dalam kandung kemih setelah berkemih kurang dari 50 ml.
- Tidak ada distensi kandung kemih — Palpasi abdomen tidak menunjukkan adanya kandung kemih yang penuh.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
D.0050 Retensi Urin
Intervensi Utama:
- Pengosongan kandung kemih — Membantu pengosongan kandung kemih melalui teknik yang sesuai.
- Pengawasan pengosongan — Memantau volume residu urin pasca-miksi.
- Manajemen cairan — Mengatur asupan cairan untuk mencegah distensi kandung kemih lebih lanjut.
Intervensi Pendukung:
- Edukasi teknik pengosongan — Memberikan informasi tentang teknik pengosongan kandung kemih yang benar.
- Pengelolaan nyeri — Mengatasi nyeri yang dapat mengganggu relaksasi sfingter.
- Kolaborasi dengan urologi — Merujuk pasien ke spesialis urologi untuk evaluasi dan penanganan lebih lanjut.
Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Tinggalkan Balasan