D.0045 Inkontinensia Urin Refleks.

Written by

in

,

Loading

Loading

D.0045 Inkontinensia Urin Refleks.

Definisi

Kebocuran urin secara involunter akibat kontraksi refleks kandung kemih yang tidak terkontrol, tanpa adanya sensasi keinginan untuk berkemih, yang biasanya terjadi pada pasien dengan cedera saraf.


Penyebab

Fisiologis:

  1. Cedera medula spinalis — Kerusakan saraf tulang belakang di atas tingkat S2-S4 yang menghilangkan kontrol voluntary.
  2. Stroke — Cedera otak yang mempengaruhi jalur kontrol kandung kemih.
  3. Sklerosis multipel — Penyakit demielinisasi yang mengganggu jalur saraf pengontrol kandung kemih.

Psikologis:

  1. Penolakan kondisi — Penolakan terhadap kondisi yang mengganggu kemampuan mengontrol urin.
  2. Depresi — Kondisi psikologis yang mempengaruhi motivasi pengelolaan inkontinensia.

Situasional:

  1. Ketergantungan perawatan — Ketergantungan penuh pada bantuan orang lain untuk eliminasi.
  2. Perawatan institusional — Lingkungan perawatan yang tidak selalu mendukung akses toilet.

Kondisi Klinis Terkait

  1. Cedera spinal traumatis — Trauma yang menyebabkan kerusakan spinal dan gangguan kontrol kandung kemih.
  2. Penyakit Parkinson — Gangguan neurologis yang mempengaruhi kontrol kandung kemih.
  3. Tumor otak — Tumor yang menekan area otak pengontrol kandung kemih.
  4. Infeksi otak — Ensefalitis atau meningitis yang mempengaruhi fungsi neurologis.

SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

Luaran Utama:

Manajemen inkontinensia refleks terkontrol — Pasien mampu mengelola kebocoran urin melalui teknik pengosongan kandung kemih terjadwal.

Luaran Tambahan:

  1. Tidak ada komplikasi saluran kemih — Tidak terjadi infeksi atau kerusakan pada saluran kemih.
  2. Kulit perineal tetap sehat — Tidak terjadi iritasi atau luka pada kulit akibat kontak urin.

SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

D.0045 Inkontinensia Urin Refleks

Intervensi Utama:

  • Pengosongan kandung kemih terjadwal — Membantu pasien menjadwalkan pengosongan kandung kemih secara berkala untuk mencegah kebocoran.
  • Pengawasan neurogenik kandung kemih — Memantau fungsi kandung kemih dan tanda-tanda distensi.
  • Manajemen cairan — Mengatur asupan cairan untuk mengoptimalkan fungsi kandung kemih.

Intervensi Pendukung:

  • Perawatan kulit — Menjaga kebersihan dan kekeringan kulit untuk mencegah dermatitis.
  • Edukasi pasien dan perawat — Memberikan informasi tentang teknik pengelolaan inkontinensia refleks.
  • Penggunaan alat bantu — Menggunakan urinaria atau kateter intermiten jika diperlukan.

Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

Comments

One response to “D.0045 Inkontinensia Urin Refleks.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *