D.0007 Gangguan Sirkulasi Spontan.

Written by

in

,

Loading

D.0007 Gangguan Sirkulasi Spontan

Definisi

Gangguan Sirkulasi Spontan adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan sirkulasi (aliran darah) yang adekuat untuk menunjang kehidupan. Artinya, jantung dan pembuluh darah tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh secara cukup untuk menjaga kelangsungan hidup.


Penyebab

  1. Abnormalitas kelistrikan jantung — Gangguan pada sistem kelistrikan yang mengatur detak jantung, sehingga jantung berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.
  2. Abnormalitas struktur jantung — Kerusakan atau kelainan bentuk pada bagian-bagian jantung (katup, dinding, ruang) yang mengganggu kemampuan memompa darah.
  3. Penurunan fungsi ventrikel — Ruang bawah jantung (ventrikel) yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh mengalami penurunan kemampuan.

Gejala dan Tanda Mayor

Mayor berarti tanda-tanda utama atau yang paling khas dari gangguan sirkulasi ini. Tanda ini menunjukkan kondisi darurat yang mengancam jiwa.

Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

  1. Tidak berespon — Pasien tidak memberikan respons saat dipanggil atau distimulasi.

Objektif (yang bisa diamati oleh perawat/dokter):

  1. Frekuensi nadi <50 kali/menit atau >150 kali/menit — Detak jantung sangat lambat (bradikardia berat) atau sangat cepat (takikardia berat).
  2. Tekanan darah sistolik <60 mmHg atau >200 mmHg — Tekanan darah sangat rendah (hipotensi berat) atau sangat tinggi (hipertensi berat).
  3. Frekuensi napas <6 kali/menit atau >30 kali/menit — Pernapasan sangat lambat atau sangat cepat.
  4. Kesadaran menurun atau tidak sadar — Pasien mengantuk, bingung, atau tidak sadarkan diri.

Gejala dan Tanda Minor

Minor berarti tanda-tanda tambahan yang mungkin menyertai gangguan sirkulasi ini.

Subjektif (apa yang dirasakan pasien):

  • Tidak tersedia.

Objektif (yang bisa diamati):

  1. Suhu tubuh <34,5 derajat Celcius — Suhu tubuh sangat rendah (hipotermia berat) karena sirkulasi darah ke kulit berkurang.
  2. Tidak ada produksi urin dalam 6 jam — Ginjal tidak memproduksi urin karena aliran darah ke ginjal sangat berkurang.
  3. Saturasi oksigen <85% — Kadar oksigen dalam darah sangat rendah.
  4. Gambaran EKG menunjukkan aritmia letal — Hasil rekaman jantung menunjukkan gangguan irama yang mengancam jiwa, seperti Ventricular Tachycardia [VT] (detak jantung ventrikel sangat cepat), Ventricular Fibrillation [VF] (ventrikel bergetar tanpa pompa efektif), Asistol (jantung berhenti total), atau Pulseless Electrical Activity [PEA] (ada aktivitas listrik tapi jantung tidak memompa).
  5. Gambaran EKG menunjukkan aritmia mayor — Gangguan irama jantung serius seperti AV block derajat 2 tipe 2, AV block total, takiaritmia/bradiaritmia berat, Supraventricular Tachycardia [SVT], atau Ventricular Extrasystole [VES] simptomatik.
  6. ETCO2 <35 mmHg — Karbon dioksida yang dikeluarkan saat ekspirasi sangat rendah, menandakan sirkulasi dan pernapasan sangat buruk.

Kondisi Klinis Terkait

Kondisi-kondisi medis yang sering menyertai gangguan sirkulasi spontan:

  1. Henti Jantung — Jantung berhenti berdetak mendadak.
  2. Bradikardia — Detak jantung sangat lambat (kurang dari 60 kali/menit).
  3. Takikardia — Detak jantung sangat cepat (lebih dari 100 kali/menit).
  4. Sindrom Koroner Akut — Penyumbatan pembuluh darah jantung yang menyebabkan serangan jantung.
  5. Gagal Jantung — Jantung tidak mampu memompa darah dengan baik.
  6. Kardiomiopati — Penyakit pada otot jantung yang mengganggu kemampuan memompa.
  7. Miokarditis — Radang pada otot jantung.
  8. Disritmia — Gangguan irama atau frekuensi detak jantung.
  9. Trauma — Cedera fisik yang bisa menyebabkan syok dan gangguan sirkulasi.
  10. Perdarahan — Perdarahan berat dari berbagai lokasi seperti gastrointestinal, ruptur aorta, atau perdarahan intrakranial.
  11. Keracunan — Masuknya zat beracun yang memengaruhi fungsi jantung.
  12. Overdosis — Konsumsi obat berlebihan yang menekan fungsi kardiovaskular.
  13. Tenggelam — Kekurangan oksigen akibat tenggelam yang memengaruhi jantung.
  14. Emboli Paru — Penyumbatan pembuluh darah paru oleh bekuan darah yang mengganggu sirkulasi.

SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)

Luaran Utama:

Sirkulasi Spontan — Jantung mampu memompa darah secara adekuat untuk menjaga kehidupan tanpa bantuan alat.

Luaran Tambahan:

  1. Keseimbangan Asam-Basa — Kadar keasaman darah dalam rentang normal.
  2. Perfusi Gastrointestinal — Aliran darah ke saluran pencernaan berjalan adekuat.
  3. Perfusi Perifer — Aliran darah ke ekstremitas (tangan dan kaki) berjalan adekuat.
  4. Perfusi Renal — Aliran darah ke ginjal berjalan adekuat sehingga ginjal bisa bekerja.
  5. Perfusi Serebral — Aliran darah ke otak berjalan adekuat.
  6. Status Sirkulasi — Sistem sirkulasi berfungsi dengan baik.

SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)

Gangguan Sirkulasi Spontan

Intervensi Utama:

  • Manajemen Defibrilasi — Memberikan kejutan listrik ke jantung untuk mengembalikan irama normal.
  • Resusitasi Cairan — Memberikan cairan infus untuk menjaga volume darah dan tekanan darah.
  • Resusitasi Jantung Paru (RJP) — Tindakan darurat berupa kompresi dada dan ventilasi untuk mempertahankan sirkulasi saat jantung berhenti.

Intervensi Pendukung:

  • Code Management — Koordinasi tim dalam situasi darurat jantung (code blue).
  • Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan — Membantu pasien patuh dengan pengobatan yang diresepkan.
  • Manajemen Spesimen Darah — Pengambilan dan pengelolaan sampel darah untuk pemeriksaan.
  • Manajemen Penyalahgunaan Zat — Mengatasi efek penyalahgunaan zat yang memengaruhi sirkulasi.
  • Pemantauan Cairan — Memantau asupan dan output cairan tubuh.
  • Pemantauan Hasil Laboratorium — Memeriksa hasil pemeriksaan darah dan cairan tubuh.
  • Pemantauan Hemodinamik Invasif — Memantau tekanan darah dan fungsi jantung menggunakan alat khusus.
  • Pemantauan Tanda Vital — Memantau tekanan darah, nadi, suhu, dan saturasi oksigen secara rutin.
  • Insersi Intravena — Memasang infus untuk pemberian obat dan cairan.
  • Insersi Jalan Napas Buatan — Memasang alat bantu napas buatan jika diperlukan.
  • Kateterisasi Urine — Memasang selang ke kandung kemih untuk memantau produksi urin.
  • Manajemen Alat Pacu Jantung Sementara — Mengatur dan memantau penggunaan alat pacu jantung sementara.
  • Pemberian Obat — Memberikan obat sesuai resep untuk mendukung fungsi sirkulasi.
  • Manajemen Asam-Basa: Alkalosis Metabolik — Mengatasi kondisi darah terlalu basa akibat gangguan metabolik.
  • Pemberian Obat Intramuskular — Memberikan obat melalui suntikan ke otot.
  • Manajemen Asam-Basa: Asidosis Metabolik — Mengatasi kondisi darah terlalu asam akibat gangguan metabolik.
  • Pemberian Obat Intraoseous — Memberikan obat melalui jarum yang dimasukkan ke tulang.
  • Manajemen Asam-Basa: Asidosis Respiratorik — Mengatasi darah terlalu asam akibat penumpukan karbon dioksida.
  • Manajemen Elektrolit: Hiperkalemia — Mengatasi kadar kalium terlalu tinggi dalam darah.
  • Manajemen Elektrolit: Hiperkalsemia — Mengatasi kadar kalsium terlalu tinggi.
  • Manajemen Elektrolit: Hipermagnesemia — Mengatasi kadar magnesium terlalu tinggi.
  • Pengambilan Sampel Darah Vena — Mengambil sampel darah dari pembuluh vena untuk pemeriksaan.
  • Manajemen Elektrolit: Hipernatremia — Mengatasi kadar natrium terlalu tinggi.
  • Manajemen Elektrolit: Hipokalemia — Mengatasi kadar kalium terlalu rendah.
  • Manajemen Elektrolit: Hipokalsemia — Mengatasi kadar kalsium terlalu rendah.
  • Manajemen Elektrolit: Hipomagnesemia — Mengatasi kadar magnesium terlalu rendah.
  • Perawatan Emboli Paru — Merawat kondisi penyumbatan pembuluh darah paru.
  • Manajemen Jalan Napas — Menjaga kepatenan saluran napas.
  • Manajemen Jalan Napas Buatan — Merawat alat bantu napas buatan.
  • Manajemen Medikasi — Mengelola pemberian obat-obatan secara tepat.
  • Manajemen Overdosis — Mengatasi efek kelebihan dosis obat.
  • Pemberian Obat Intravena — Memberikan obat melalui infus.
  • Pemeriksaan Kelengkapan Set Emergensi — Memastikan perlengkapan darurat siap digunakan.
  • Pencegahan Aspirasi — Mencegah masuknya benda asing ke saluran napas.
  • Pengambilan Sampel Darah Arteri — Mengambil sampel darah dari pembuluh nadi untuk pemeriksaan.
  • Penghisapan Jalan Napas — Menyedot lendir dari saluran napas.
  • Pengontrolan Perdarahan — Mengendalikan perdarahan yang terjadi.
  • Perawatan Alat Topangan Jantung Mekanik — Merawat alat bantu jantung mekanik jika digunakan.
  • Perawatan Jantung Akut — Merawat kondisi darurat jantung.
  • Perawatan Jenazah — Merawat jenazah jika pasien meninggal.
  • Pertolongan Pertama — Memberikan pertolongan pertama yang diperlukan.
  • Stabilisasi Jalan Napas — Memastikan saluran napas tetap terbuka dan aman.

Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *