![]()
![]()
D.0039 Risiko Syok.
Definisi
Risiko mengalami kondisi hipoperfusi seluler yang mengancam jiwa akibat penurunan curah jantung, volume darah, atau distribusi aliran darah yang tidak adekuat.
Faktor Risiko
- Riwayat penyakit kardiovaskular — Adanya gangguan jantung atau pembuluh darah yang mempengaruhi curah jantung.
- Perdarahan aktif — Kehilangan darah yang berkepanjangan dapat menurunkan volume sirkulasi.
- Dehidrasi berat — Kehilangan cairan yang signifikan menurunkan volume darah.
- Respon inflamasi sistemik — Respon inflamasi yang berlebihan menyebabkan vasodilatasi dan redistribusi aliran darah.
- Syok sepsis — Infeksi berat yang menyebabkan disfungsi vaskular dan organ.
- Cedera trauma berat — Trauma yang menyebabkan perdarahan dan kerusakan jaringan luas.
- Operasi mayor — Prosedur bedah besar yang berisiko menyebabkan kehilangan darah dan cairan.
- Gangguan irama jantung — Aritmia yang menurunkan efisiensi pompa jantung.
- Retensi urin berat — Retensi urin dapat menyebabkan distensi kandung kemih dan gangguan hemodinamik.
- Gagal ginjal akut — Penurunan fungsi ginjal yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit.
Kondisi Klinis Terkait
- Gagal jantung kongestif — Penurunan kemampuan jantung memompa darah secara adekuat.
- Syok kardiogenik — Penurunan curah jantung akibat disfungsi miokard.
- Syok anafilaksis — Reaksi alergi berat yang menyebabkan vasodilatasi ekstrem.
- Syok neurogenik — Penurunan tonus vaskular akibat gangguan sistem saraf.
SLKI (Sistem Luaran Keperawatan Indonesia)
Luaran Utama:
Tidak terjadi syok — Hemodinamik pasien tetap stabil dengan perfusi organ adequate.
Luaran Tambahan:
- Perfusi jaringan adekuat — Tanda-tanda perfusi organ tetap dalam batas normal.
- Kesadaran jernih — Pasien tetap responsif dan mampu berkomunikasi.
SIKI (Sistem Intervensi Keperawatan Indonesia)
D.0039 Risiko Syok
Intervensi Utama:
- Pengawasan hemodinamik — Memantau tekanan darah, nadi, laju respirasi, dan tanda perfusi secara kontinu.
- Resusitasi cairan — Memberikan cairan intravena adekuat untuk mempertahankan perfusi organ.
- Pengelolaan jalan napas — Memastikan jalan napas paten dan oksigenasi adekuat.
Intervensi Pendukung:
- Pengawasan output urin — Memantau produksi urin sebagai indikator perfusi ginjal.
- Pengelolaan nyeri — Mengatasi nyeri yang dapat meningkatkan kebutuhan oksigen miokard.
- Dukungan psikologis — Memberikan dukungan kepada pasien dan keluarga selama kondisi kritis.
Sumber: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Tinggalkan Balasan