Kategori: Fisiologis

  • L.05040-Konservasi Energi

    L.05040 — Konservasi Energi

    Definisi

    Kemampuan untuk mengatur dan mempertahankan tingkat energi untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

    📖 Konservasi energi adalah kemampuan seseorang mengatur penggunaan energi agar tidak cepat lelah — dengan membagi aktivitas, beristirahat cukup, dan melakukan tugas dengan efisien.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Pengaturan aktivitas — Mampu membagi aktivitas dengan istirahat yang cukup
    • Kelelahan berkurang — Tidak cepat lelah saat beraktivitas
    • Efisiensi energi — Melakukan aktivitas dengan cara yang efisien (tidak buang energi)
    • Istirahat cukup — Beristirahat secara teratur sebelum merasa sangat lelah
    • Prioritas aktivitas — Mengutamakan aktivitas yang paling penting
    • Penggunaan alat bantu — Menggunakan alat bantu untuk mengurangi penggunaan energi
    • Dukungan orang lain — Meminta bantuan saat energi tidak cukup
    • Nutrisi memadai — Mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga energi

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.05039-Keseimbangan

    L.05039 — Keseimbangan

    Definisi

    Kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan tubuh saat diam atau bergerak.

    📖 Keseimbangan adalah kemampuan tubuh menjaga posisi stabil — saat berdiri, duduk, atau bergerak. Gangguan keseimbangan bisa menyebabkan jatuh dan cedera.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Keseimbangan statis — Mampu menjaga posisi tubuh saat diam (berdiri tegak)
    • Keseimbangan dinamis — Mampu menjaga keseimbangan saat bergerak (berjalan, berputar)
    • Penglihatan — Penglihatan cukup baik untuk membantu menjaga keseimbangan
    • Propriosepsi — Kesadaran terhadap posisi tubuh di ruang
    • Fungsi telinga dalam — Bagian telinga yang mengatur keseimbangan berfungsi baik
    • Kekuatan otot — Otot kaki dan inti tubuh cukup kuat untuk menjaga keseimbangan
    • Tidak ada pusing — Tidak merasa pusing atau berputar saat bergerak
    • Penggunaan alat bantu — Menggunakan alat bantu jika diperlukan

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.05038-Ambulasi

    L.05038 — Ambulasi

    Definisi

    Kemampuan untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lain.

    📖 Ambulasi adalah kemampuan berjalan. Dalam konteks keperawatan, ambulasi juga mencakup penggunaan alat bantu jalan (tongkat, kursi roda) jika diperlukan.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Kemampuan berdiri — Mampu berdiri dari posisi duduk atau berbaring
    • Keseimbangan — Mampu menjaga keseimbangan saat berdiri dan berjalan
    • Koordinasi — Gerakan tubuh terkoordinasi saat berjalan
    • Penggunaan alat bantu — Mampu menggunakan alat bantu jalan jika diperlukan
    • Jarak tempuh — Mampu berjalan jarak tertentu
    • Keamanan — Berjalan tanpa risiko jatuh
    • Kemandirian — Mampu berjalan tanpa bantuan orang lain
    • Kecepatan berjalan — Kecepatan berjalan sesuai kemampuan

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.05037-Adaptasi Disabilitas

    L.05037 — Adaptasi Disabilitas

    Definisi

    Proses penyesuaian fungsional terhadap tantangan keterbatasan fisik.

    📖 Adaptasi disabilitas adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan kondisi fisik yang terbatas (misalnya lumpuh, kehilangan anggota tubuh, atau gangguan penglihatan) agar tetap bisa menjalani hidup secara mandiri.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Verbalisasi menyesuaikan diri dengan disabilitas — Pasien mengungkapkan penerimaan dan upaya penyesuaian
    • Verbalisasi strategi penanganan — Pasien menjelaskan cara-cara yang dilakukan untuk mengatasi keterbatasan
    • Pemanfaatan sumber daya — Menggunakan alat bantu (kursi roda, alat komunikasi) dan dukungan yang tersedia
    • Penyelesaian tugas — Kemampuan menyelesaikan aktivitas sehari-hari meski dengan keterbatasan
    • Partisipasi dalam aktivitas — Terlibat dalam kegiatan sosial, keluarga, atau masyarakat
    • Penampilan diri — Merawat penampilan meski dengan keterbatasan fisik

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.04036-Kontinensia Urine

    L.04036 — Kontinensia Urine

    Definisi

    Pola kebiasaan buang air kecil.

    📖 Kontinensia urine adalah kemampuan mengontrol pengeluaran urine secara sadar. Seseorang yang kontinen bisa menahan BAK sampai menemukan toilet yang tepat.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Kemampuan berkemih — Kemampuan memulai dan mengontrol aliran urine
    • Nokturia — Terbangun dari tidur untuk BAK; normalnya maksimal 1 kali/malam. Lebih dari itu = gangguan
    • Residu volume urine setelah berkemih — Sisa urine dalam kandung kemih setelah BAK (normal: <50 ml)
    • Distensi kandung kemih — Perut bawah terasa penuh karena kandung kemih tidak kosong
    • Dribbling — Urine menetes setelah BAK selesai (tanda inkontinensia atau masalah prostat)
    • Hesitancy — Kesulitan memulai BAK; harus menunggu atau mengejan
    • Enuresis — Ketidakmampuan mengontrol BAK, terutama saat tidur (ngompol)
    • Verbalisasi pengeluaran urine — Pasien menjelaskan pola BAK-nya (frekuensi, volume, kemudahan)
    • Frekuensi BAK — Jumlah kali BAK per hari (normal: 6–8 kali/hari)
    • Urgensi — Dorongan mendesak untuk BAK segera, tidak bisa ditahan

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.04035-Kontinensia Fekal

    L.04035 — Kontinensia Fekal

    Definisi

    Pola normal kebiasaan buang air besar.

    📖 Kontinensia fekal adalah kemampuan mengontrol pengeluaran feses secara voluntary (sadar). Seseorang yang kontinen bisa menahan BAB sampai menemukan toilet yang tepat.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Pengontrolan pengeluaran feses — Kemampuan menahan dan mengontrol kapan BAB dilakukan
    • Defekasi — Proses pengeluaran feses berjalan normal tanpa kesulitan
    • Frekuensi buang air besar — Jumlah kali BAB per hari sesuai pola normal individu
    • Kondisi kulit perianal — Kulit di sekitar anus sehat, tidak merah, tidak iritasi (tanda inkontinensia atau diare)
    • Waktu BAB — Konsistensi waktu BAB (teratur = tanda pola eliminasi yang baik)
    • Kebiasaan BAB — Pola BAB yang konsisten dan mudah dikontrol

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.04034r-Keseimbangan Asam Basa

    L.04034r — Keseimbangan Asam Basa

    Definisi

    Ekuilibrium antara ion hidrogen di ruang intraseluler (di dalam sel) dan ekstraseluler (di luar sel) tubuh.

    📖 Keseimbangan asam-basa (pH) sangat penting untuk kelangsungan hidup sel. pH darah normal: 7,35–7,45. Jika terlalu asam (asidosis) atau terlalu basa (alkalosis), fungsi sel dan organ bisa terganggu parah.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Tingkat kesadaran — Penurunan kesadaran bisa tanda gangguan pH yang parah
    • Istirahat — Kemampuan beristirahat dengan nyaman
    • Mual — Bisa tanda asidosis metabolic
    • Kram otot — Kejang otot bisa tanda alkalosis atau gangguan elektrolit
    • Kelemahan otot — Kekuatan otot berkurang karena pH tidak stabil
    • Frekuensi napas — Napas cepat = kompensasi asidosis (membuang CO2); napas lambat = alkalosis
    • Irama napas — Pola napas berubah sesuai gangguan pH
    • pH arteri — Normal: 7,35–7,45. Kurang dari 7,35 = asidosis; lebih dari 7,45 = alkalosis
    • PaCO2 — Tekanan parsial CO2 dalam darah (normal: 35–45 mmHg). Tinggi = asidosis respiratorik; rendah = alkalosis respiratorik
    • HCO3 (bikarbonat) — Puffer alkali dalam darah (normal: 22–26 mEq/L). Rendah = asidosis metabolik; tinggi = alkalosis metabolik
    • Base Excess (BE) — Selisih dari normal bikarbonat; negatif = asidosis; positif = alkalosis
    • Saturasi oksigen — Persentase oksigen dalam darah
    • Tekanan darah — Perubahan tekanan darah bisa menyertai gangguan pH

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.04034-Eliminasi Urine

    L.04034 — Eliminasi Urine

    Definisi

    Pengosongan kandung kemih (kantung penampung urine) yang lengkap.

    📖 Eliminasi urine adalah proses buang air kecil (BAK) yang lancar dan tuntas. Kandung kemih harus bisa mengosongkan seluruh isinya agar tidak ada sisa urine yang tertinggal.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Sensasi berkemih — Perasaan ingin BAK yang muncul saat kandung kemih penuh
    • Desakan berkemih (urgensi) — Dorongan mendesak untuk BAK segera, tidak bisa ditahan
    • Distensi kandung kemih — Perut bawah terasa penuh karena kandung kemih penuh urine
    • Berkemih tidak tuntas (hesitancy) — Sulit memulai BAK atau urine tidak keluar tuntas
    • Volume residu urine — Sisa urine setelah BAK (normal: <50 ml). Jika banyak = kandung kemih tidak mengosongkan dengan baik
    • Urine menetes (dribbling) — Urine keluar sedikit-sedikit setelah BAK selesai
    • Volume urine — Jumlah urine per hari (normal: 800–2000 ml)
    • Frekuensi BAK — Jumlah kali BAK per hari (normal: 6–8 kali/hari)
    • Warna urine — Normal: kuning jernih. Gelap = dehidrasi; merah = darah; keruh = infeksi
    • Bau urine — Normal: tidak menyengat. Menyengat = infeksi saluran kemih

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.04033-Eliminasi Fekal

    L.04033 — Eliminasi Fekal

    Definisi

    Proses defekasi (buang air besar) normal yang disertai dengan pengeluaran feses mudah dan konsistensi, frekuensi serta bentuk feses normal.

    📖 Eliminasi fekal adalah proses pengeluaran sisa pencernaan (tinja/feses) dari tubuh melalui anus. Pola BAB yang normal berarti feses keluar dengan mudah, konsistensi tidak terlalu keras atau terlalu encer, dan frekuensi wajar.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Kontrol pengeluaran feses — Kemampuan mengontrol kapan dan di mana BAB dilakukan
    • Keluhan defekasi — Keluhan saat BAB (nyeri, keras, harus mengejan berlebihan)
    • Konsistensi feses — Tingkat kekerasan/kelembutan tinja (normal: lembut seperti pasta)
    • Frekuensi BAB — Jumlah kali BAB per hari (normal: 1–3 kali/hari)
    • Bentuk feses — Bentuk tinja (normal: seperti sosis, tidak terpecah-pecah)
    • Warna feses — Warna normal: cokelat. Merah = darah; hitam = perdarahan saluran pencernaan atas; pucat = masalah hati
    • Nyeri saat BAB — Rasa sakit saat atau sesudah BAB (bisa tanda wasir atau fisura ani)
    • Penggunaan pencahar — Apakah masih membutuhkan obat pelancar BAB

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.03032-Tingkat Syok

    L.03032 — Tingkat Syok

    Definisi

    Ketidakcukupan aliran darah ke jaringan tubuh, yang dapat mengakibatkan disfungsi seluler yang mengancam jiwa.

    📖 Syok adalah kondisi darurat di mana organ-organ tubuh tidak mendapat cukup darah dan oksigen. Tanpa penanganan segera, syok bisa menyebabkan kerusakan organ permanen dan kematian.

    Ekspektasi

    Menurun

    Kriteria Hasil

    • Kekuatan nadi — Nadi lemah dan cepat = tanda syok; tidak teraba = syok berat
    • Output urine — Volume urine menurun (<0,5 ml/kg/jam) = ginjal kekurangan aliran darah
    • Tingkat kesadaran — Gelisah, bingung, atau tidak sadar = otak kekurangan oksigen
    • Saturasi oksigen — Persentase oksigen dalam darah; menurun = paru-paru atau sirkulasi terganggu
    • Kadar laktat — Sisa metabolisme sel; tinggi = sel tidak mendapat cukup oksigen (anaerobik)
    • pH darah — Keasaman darah; asidosis = tubuh terlalu asam karena akumulasi asam laktat
    • Tekanan darah — Hipotensi = tanda syok; sistolik <90 mmHg = syok berat
    • Frekuensi nadi — Takikardia (nadi cepat) = kompensasi tubuh terhadap kurangnya darah
    • Suhu tubuh — Dingin di ekstremitas = sirkulasi terganggu; hangat di syok septik
    • Warna kulit — Pucat atau kebiruan = kurang oksigen; kemerahan di syok septik
    • Tingkat kesadaran — Glasgow Coma Scale menurun = otak tidak mendapat cukup darah
    • Kapasitas aerobik — Kemampuan tubuh menggunakan oksigen untuk aktivitas
    • Fungsi kognitif — Kemampuan berpikir dan merespons terganggu

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)