Kategori: Lain-lain

  • L.12107-Perilaku Kesehatan

    L.12107-Perilaku Kesehatan

    L.12107 — Perilaku Kesehatan

    Definisi

    Perubahan perilaku individu untuk mencapai kesehatan optimal.

    📖 Perilaku kesehatan adalah tindakan nyata yang dilakukan seseorang untuk menjaga dan meningkatkan kesehatannya — mulai dari memilih makanan sehat, berolahraga, hingga menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Pengetahuan kesehatan — Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan
    • Kesadaran risiko — Menyadari faktor risiko penyakit
    • Niat berubah — Memiliki keinginan untuk mengubah perilaku tidak sehat
    • Tindakan preventif — Melakukan upaya pencegahan penyakit
    • Penghindaran risiko — Menghindari perilaku yang membahayakan kesehatan
    • Pola hidup sehat — Menerapkan pola hidup sehat secara konsisten
    • Pemanfaatan layanan kesehatan — Menggunakan layanan kesehatan saat dibutuhkan
    • Dukungan sosial — Mendapat dukungan dari lingkungan untuk menjaga kesehatan

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.09097-Tingkat Depresi

    L.09097-Tingkat Depresi

    L.09097 — Tingkat Depresi

    Definisi

    Kondisi emosional yang ditandai dengan kesedihan, kehilangan minat, dan perasaan tidak berharga.

    📖 Depresi adalah gangguan mood yang membuat seseorang merasa sedih, kehilangan minat, dan tidak bersemangat dalam waktu yang lama. Depresi bisa mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan beraktivitas. Ini bukan sekadar sedih biasa, tapi kondisi medis yang perlu ditangani.

    Ekspektasi

    Menurun

    Kriteria Hasil

    • Mood membaik — Suasana hati lebih positif
    • Minat meningkat — Mulai tertarik pada aktivitas yang sebelumnya disukai
    • Energi meningkat — Tidak lagi merasa lesu dan tidak bersemangat
    • Tidur cukup — Pola tidur kembali normal (tidak insomnia atau hipersomnia)
    • Nafsu makan — Mulai bisa makan dengan normal
    • Interaksi sosial — Tidak mengisolasi diri dari orang lain
    • Verbalisasi perasaan — Mampu mengungkapkan perasaan tanpa menahan
    • Tidak ada pikiran untuk bunuh diri — Tidak ada pikiran atau keinginan untuk mengakhiri hidup
    • Obat antidepressan efektif — Obat yang diberikan berhasil mengurangi gejala depresi
    • Aktivitas meningkat — Mulai aktif dalam kegiatan sehari-hari

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.09094-Tingkat Berduka

    L.09094-Tingkat Berduka

    L.09094 — Tingkat Berduka

    Definisi

    Respons emosional terhadap kehilangan seseorang atau sesuatu yang berharga.

    📖 Berduka adalah respons emosional yang wajar saat kehilangan orang tercinta, hubungan, pekerjaan, atau hal berharga lainnya. Proses berduka memiliki tahapan: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.

    Ekspektasi

    Menurun

    Kriteria Hasil

    • Ekspresi kesedihan — Menangis atau mengungkapkan rasa kehilangan
    • Penerimaan kehilangan — Mulai menerima kenyataan kehilangan
    • Interaksi sosial — Tidak mengisolasi diri dari orang lain
    • Aktivitas sehari-hari — Mulai kembali menjalani rutinitas
    • Nafsu makan — Mulai bisa makan dengan normal
    • Tidur cukup — Bisa tidur meski masih dalam proses berduka
    • Tidak ada perilaku merugikan diri — Tidak melakukan hal-hal yang membahayakan
    • Dukungan sosial — Mendapat dukungan dari keluarga dan teman

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.14133-Status Imum.

    L.14133 — Status Imun

    Definisi

    Kondisi pertahanan tubuh terhadap agen invasi (kuman yang masuk ke tubuh).

    📖 Sistem imun adalah pertahanan tubuh melawan kuman penyakit. Status imun yang baik berarti tubuh bisa melawan infeksi dengan efektif. Sistem imun yang lemah membuat tubuh mudah terserang penyakit.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Suhu tubuh — Demam atau suhu rendah bisa tanda gangguan imun
    • Frekuensi nadi — Perubahan denyut jantung bisa menyertai respons imun
    • Frekuensi napas — Napas cepat bisa tanda infeksi atau respons imun
    • Leukosit — Jumlah sel darah putih (normal: 4.000–11.000/μL). Rendah = imun lemah; tinggi = infeksi atau peradangan
    • Nyeri — Nyeri di area yang terinfeksi atau meradang
    • Kelelahan — Tubuh menghabiskan energi untuk melawan kuman
    • Demam — Suhu tubuh meningkat sebagai respons imun terhadap infeksi
    • Pembengkakan kelenjar getah bening — Kelenjar di leher, ketiak, atau pangkal paha membengkak (tanda tubuh melawan infeksi)
    • Luka yang lambat sembuh — Luka tidak kunjung sembuh bisa tanda imun lemah
    • Infeksi berulang — Sering terkena infeksi yang sama berulang kali

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.14129-Pemulihan Pascabedah.

    L.14129 — Pemulihan Pascabedah

    Definisi

    Kembalinya fungsi organ setelah prosedur bedah.

    📖 Pemulihan pascabedah adalah proses tubuh memulihkan diri setelah operasi. Fungsi organ secara bertahap kembali normal — pernapasan, pencernaan, dan aktivitas fisik meningkat seiring waktu.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Napas spontan — Pasien sudah bisa bernapas sendiri tanpa bantuan oksigen atau ventilator
    • Intestin berfungsi — Usus sudah aktif kembali (sudah kentut atau BAB = tanda pencernaan pulih)
    • Kandung kemih berfungsi — Sudah bisa BAK sendiri tanpa kateter
    • Mampu bangun dari tempat tidur — Pasien bisa duduk atau berdiri dengan bantuan
    • Mampu berjalan — Sudah bisa berjalan meski dengan bantuan
    • Mampu minum — Sudah bisa minum tanpa mual atau muntah
    • Mampu makan — Sudah bisa mengonsumsi makanan lunak
    • Nyeri terkontrol — Nyeri pascabedah bisa ditangani dengan obat penghilang nyeri
    • Luka operasi bersih — Area operasi tidak ada tanda infeksi (kemerahan, bengkak, nanah)
    • Eliminasi normal — BAB dan BAK sudah kembali normal

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.01007-Ventilasi Spontan

    L.01007-Ventilasi Spontan

    L.01007 — Ventilasi Spontan

    Definisi

    Keadekuatan cadangan energi untuk mendukung individu mampu bernafas secara spontan (tanpa bantuan mesin) dan adekuat (cukup untuk kebutuhan tubuh).

    📖 Ventilasi spontan berarti pasien bernapas sendiri tanpa bantuan ventilator. Luaran ini mengukur apakah pasien memiliki cukup energi dan kekuatan otot untuk mempertahankan pernapasannya sendiri.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Volume tidal — Jumlah udara yang masuk/keluar paru-paru dalam satu kali napas normal (normal: ±500 ml atau sekitar segelas air)
    • Dispnea — Sesak napas atau sulit bernapas, tanda tubuh tidak mendapat cukup oksigen
    • Penggunaan otot bantu napas — Menggunakan otot leher, bahu, dan dada untuk membantu bernapas; jika digunakan terus-menerus = kelelahan dan kebutuhan energi meningkat
    • Gelisah — Tidak tenang karena kekurangan oksigen atau ketidaknyamanan
    • PCO2 — Tekanan parsial karbondioksida dalam darah (normal: 35–45 mmHg). Jika tinggi = tubuh tidak mampu membuang CO2 dengan baik
    • PO2 — Tekanan parsial oksigen dalam darah (normal: 80–100 mmHg). Jika rendah = tubuh kekurangan oksigen
    • Takikardia — Detak jantung lebih cepat dari normal (>100 kali/menit), bisa sebagai kompensasi saat tubuh kekurangan oksigen

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.01005-Respons Ventilasi Mekanik

    L.01005 — Respons Ventilasi Mekanik

    Definisi

    Efektivitas pertukaran alveolar (proses menukar oksigen dan CO2 di kantung udara paru) dan perfusi jaringan (aliran darah ke jaringan tubuh) yang didukung oleh ventilasi mekanik (mesin pernapasan buatan).

    📖 Ventilasi mekanik adalah penggunaan mesin (ventilator) untuk membantu atau menggantikan fungsi pernapasan pasien yang tidak mampu bernapas sendiri dengan baik. Luaran ini mengukur seberapa efektif tubuh merespons bantuan mesin tersebut.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • FiO2 memenuhi kebutuhan — Konsentrasi fraksi oksigen yang dihirup sudah cukup untuk menjaga kadar oksigen darah stabil
    • Tingkat kesadaran — Pasien sadar dan bisa merespons dengan baik (bingung = tanda kurang oksigen ke otak)
    • Saturasi oksigen — Persentase oksigen dalam darah (normal: ≥95%). Jika rendah = paru-paru belum bekerja optimal
    • Kesimetrisan gerakan dinding dada — Kedua sisi dada bergerak naik-turun secara seimbang (asimetris = ada bagian paru yang tidak mengembang)
    • Sekresi jalan napas — Jumlah dan warna lendir/dahak dari saluran napas (berlebih atau berwarna = tanda infeksi)
    • Suara napas tambahan — Suara abnormal saat bernapas (bunyi krekelp atau mengi) yang terdengar melalui stetoskop
    • Infeksi paru — Tanda-tanda pneumonia (demam, dahak bernanah, napas cepat) yang bisa terjadi karena penggunaan ventilator
    • Kesulitan bernapas dengan ventilator — Pasien melawan atau tidak sinkron dengan irama mesin
    • Atelektasis — Runtuhnya atau tidak mengembangnya sebagian paru-paru, membuat area tersebut tidak bisa bertukar gas
    • Kegelisahan — Gelisah karena ketidaknyamanan, ketakutan, atau kurang oksigen
    • Kurang istirahat — Kesulitan tidur atau beristirahat karena kondisi di unit perawatan intensif
    • Kesulitan mengutarakan kebutuhan — Pasien sulit berkomunikasi karena pipa ventilator di mulut/tenggorokan
    • Dosis sedasi — Jumlah obat penenang yang diberikan agar pasien nyaman dan tidak melawan ventilator

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.01004-Pola Napas

    L.01004 — Pola Napas

    Definisi

    Inspirasi (menarik napas) dan/atau ekspirasi (menghembuskan napas) yang memberikan ventilasi adekuat (cukup untuk kebutuhan tubuh).

    📖 Pola napas mencakup seberapa sering, seberapa dalam, dan seberapa teratur seseorang bernapas. Ventilasi yang adekuat berarti paru-paru mendapat cukup udara untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Ventilasi semenit — Jumlah udara yang masuk/keluar paru-paru per menit (frekuensi napas × volume udara per napas)
    • Kapasitas vital — Volume udara maksimum yang bisa dihembuskan setelah menarik napas penuh (normal: ±3–5 liter)
    • Kapasitas toraks anterior-posterior — Ukuran diameter dada dari depan ke belakang, mencerminkan kapasitas paru-paru
    • Tekanan ekspirasi — Kekuatan saat menghembuskan napas (normal: ±60–80 mmHg)
    • Tekanan inspirasi — Kekuatan saat menarik napas (normal: ±75–100 mmHg)
    • Dispnea — Sesak napas atau sulit bernapas
    • Penggunaan alat bantu napas — Apakah pasien membutuhkan oksigen tambahan, inhaler, atau ventilator
    • Pemanjangan fase ekspirasi — Waktu menghembuskan napas lebih lama dari normal, tanda penyumbatan saluran napas (misalnya asma/KOFA)
    • Ortopnea — Sesak napas yang memburuk saat berbaring, harus duduk untuk bernapas lega
    • Pernapasan pursed-lip — Bernapas dengan bibir mengerucut (seperti meniup lilin), teknik untuk memperlambat napas dan menjaga saluran napas tetap terbuka
    • Pernapasan cuping hidung — Cuping hidung melebar saat menarik napas, tanda usaha napas keras
    • Frekuensi napas — Jumlah napas per menit (normal: 12–20 kali/menit)
    • Kedalaman napas — Seberapa dalam udara masuk ke paru-paru (dangkal = tidak efektif)
    • Ekskursi dada — Seberapa jauh dada bergerak mengembang saat menarik napas (terbatas = paru-paru tidak optimal)

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • Daftar Standart Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

    Daftar Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

    Berikut adalah daftar lengkap luaran keperawatan berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):

    Fisiologis — Respirasi (01)

    • L.01001 — Bersihan Jalan Napas
    • L.01002 — Penyapihan Ventilator
    • L.01003 — Pertukaran Gas
    • L.01004 — Pola Napas
    • L.01005 — Respons Ventilasi Mekanik
    • L.01006 — Tingkat Aspirasi
    • L.01007 — Ventilasi Spontan

    Fisiologis — Sirkulasi (02)

    • L.02008 — Curah Jantung
    • L.02010 — Perfusi Gastrointestinal
    • L.02011 — Perfusi Miokard
    • L.02011b — Perfusi Perifer
    • L.02013 — Perfusi Renal
    • L.02014 — Perfusi Serebral
    • L.02015 — Sirkulasi Spontan
    • L.02016 — Status Sirkulasi
    • L.02017 — Tingkat Pendarahan

    Fisiologis — Nutrisi dan Cairan (03)

    • L.03018 — Berat Badan
    • L.03019 — Fungsi Gastrointestinal
    • L.03020 — Keseimbangan Cairan
    • L.03021 — Keseimbangan Elektrolit
    • L.03022 — Kestabilan Kadar Glukosa Darah
    • L.03023 — Motilitas Gastrointestinal
    • L.03024 — Nafsu Makan
    • L.03025 — Perilaku Mempertahankan Berat Badan
    • L.03026 — Perilaku Meningkatkan Berat Badan
    • L.03027 — Perilaku Menurunkan Berat Badan
    • L.03028 — Status Cairan
    • L.03029 — Status Menyusui
    • L.03030 — Status Nutrisi
    • L.03031 — Status Nutrisi Bayi
    • L.03032 — Tingkat Syok

    Fisiologis — Eliminasi (04)

    • L.04033 — Eliminasi Fekal
    • L.04034 — Eliminasi Urine
    • L.04034r — Keseimbangan Asam Basa
    • L.04035 — Kontinensia Fekal
    • L.04036 — Kontinensia Urine

    Fisiologis — Aktivitas dan Istirahat (05)

    • L.05037 — Adaptasi Disabilitas
    • L.05038 — Ambulasi
    • L.05039 — Keseimbangan
    • L.05040 — Konservasi Energi
    • L.05041 — Koordinasi Pergerakan
    • L.05042 — Mobilitas Fisik
    • L.05043 — Organisasi Perilaku Bayi
    • L.05044 — Pergerakan Sendi
    • L.05045 — Pola Tidur
    • L.05046 — Tingkat Keletihan
    • L.05047 — Toleransi Aktivitas

    Fisiologis — Neurosensori (06)

    • L.06048 — Fungsi Sensori
    • L.06049 — Kapasitas Adaptif Intrakranial
    • L.06050 — Kontrol Kejang
    • L.06051 — Neurovaskuler Perifer
    • L.06052 — Status Menelan
    • L.06053 — Status Neurologis
    • L.06054 — Tingkat Konfusi

    Fisiologis — Keamanan dan Proteksi (07)

    • L.14125 — Integritas Kulit dan Jaringan
    • L.14126 — Keamanan Lingkungan Rumah
    • L.14127 — Kontrol Gejala
    • L.14128 — Kontrol Resiko
    • L.14129 — Pemulihan Pascabedah
    • L.14130 — Penyembuhan Luka
    • L.14131 — Respon Alergi Lokal
    • L.14132 — Respon Alergi Sistemik
    • L.14133 — Status Imun
    • L.14134 — Termoregulasi
    • L.14135 — Termoregulasi Neonatus
    • L.14136 — Tingkat Cedera
    • L.14137 — Tingkat Infeksi
    • L.14138 — Tingkat Jatuh

    Psikologis — Nyeri dan Kenyamanan (08)

    • L.08063 — Kontrol Nyeri
    • L.08064 — Status Kenyamanan
    • L.08065 — Tingkat Nausea
    • L.08066 — Tingkat Nyeri
    • L.08075 — Ketahanan Komunitas

    Psikologis — Integritas Ego (09)

    • L.09056 — Identitas Seksual
    • L.09067 — Citra Tubuh
    • L.09068 — Harapan
    • L.09069 — Harga Diri
    • L.09070 — Identitas Diri
    • L.09071 — Keberdayaan
    • L.09072 — Kesadaran Diri
    • L.09073 — Ketahanan Personal
    • L.09074 — Ketahanan Keluarga
    • L.09076 — Konsep Diri
    • L.09076r — Kontrol Diri
    • L.09078 — Kontrol Pikir
    • L.09079 — Memori
    • L.09080 — Motivasi
    • L.09081 — Orientasi Kognitif
    • L.09082 — Penerimaan Kehamilan
    • L.09083 — Persepsi Sensori
    • L.09084 — Psikospiritual
    • L.09085 — Resolusi Berduka
    • L.09086 — Status Koping
    • L.09086r — Status Kognitif
    • L.09088 — Status Koping Keluarga
    • L.09089 — Status Koping Komunitas
    • L.09090 — Status Orientasi
    • L.09091 — Status Spiritual
    • L.09092 — Tingkat Agitasi
    • L.09093 — Tingkat Ansietas
    • L.09094 — Tingkat Berduka
    • L.09095 — Tingkat Delirium
    • L.09096 — Tingkat Demensia
    • L.09097 — Tingkat Depresi

    Fisiologis — Pertumbuhan dan Perkembangan (10)

    • L.10095 — Adaptasi Neonatus
    • L.10099 — Kontrol Mual/Muntah
    • L.10100 — Proses Informasi
    • L.10101 — Status Perkembangan
    • L.10102 — Status Pertumbuhan

    Perilaku — Kebersihan Diri (11)

    • L.11103 — Perawatan Diri

    Perilaku — Penyuluhan dan Pembelajaran (12)

    • L.12104 — Manajemen Kesehatan
    • L.12105 — Manajemen Kesehatan Keluarga
    • L.12106 — Pemeliharaan Kesehatan
    • L.12107 — Perilaku Kesehatan
    • L.12108 — Status Kesehatan Keluarga
    • L.12109 — Status Kesehatan Komunitas
    • L.12110 — Tingkat Kepatuhan
    • L.12111 — Tingkat Pengetahuan

    Relasional — Interaksi Sosial (13)

    • L.13112 — Dukungan Keluarga
    • L.13113 — Dukungan Sosial
    • L.13114 — Fungsi Keluarga
    • L.13115 — Interaksi Sosial
    • L.13116 — Keterlibatan Sosial
    • L.13117 — Kinerja Pengasuhan
    • L.13118 — Komunikasi Verbal
    • L.13119 — Penampilan Peran
    • L.13120 — Peran Menjadi Orang Tua
    • L.13121 — Peran Pemberi Asuhan
    • L.13122 — Perlekatan
    • L.13123 — Proses Keluarga
    • L.13124 — Proses Pengasuhan

    Fisiologis — Reproduksi dan Seksualitas (07)

    • L.07055 — Fungsi Seksual
    • L.07057 — Penerimaan Kehamilan
    • L.07059 — Status Antepartum
    • L.07060 — Status Intrapartum
    • L.07061 — Status Kenyamanan Pascapartum
    • L.07062 — Status Pascapartum

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.01003-Pertukaran Gas

    L.01003 — Pertukaran Gas

    Definisi

    Oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler dalam batas normal.

    📖 Pertukaran gas adalah proses di mana paru-paru menukar oksigen (yang dibutuhkan tubuh) dengan karbondioksida (yang harus dikeluarkan). Proses ini terjadi di kantung udara kecil (alveolus) yang dikelilingi pembuluh darah kecil (kapiler).

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Tingkat kesadaran — Seberapa jernih pasien sadar dan bisa merespons (bingung = tanda kekurangan oksigen ke otak)
    • Dispnea — Sesak napas atau sulit bernapas
    • Bunyi napas tambahan — Suara abnormal saat bernapas yang terdengar melalui stetoskop (misalnya bunyi krekelp atau mengi)
    • Pusing — Kepala terasa berputar atau ringan, bisa karena kurang oksigen
    • Penglihatan kabur — Pandangan tidak jelas, tanda aliran oksigen ke mata berkurang
    • Diaforesis — Berkeringat berlebih tanpa aktivitas fisik
    • Gelisah — Tidak tenang, bisa karena kekurangan oksigen
    • Napas cuping hidung — Cuping hidung melebar saat menarik napas, tanda usaha napas keras
    • PCO2 — Tekanan parsial karbondioksida dalam darah (normal: 35–45 mmHg). Jika tinggi = tubuh tidak bisa buang CO2 dengan baik
    • PO2 — Tekanan parsial oksigen dalam darah (normal: 80–100 mmHg). Jika rendah = tubuh kekurangan oksigen
    • Takikardia — Detak jantung lebih cepat dari normal (>100 kali/menit), bisa sebagai kompensasi kekurangan oksigen
    • pH arteri — Ukuran keasaman darah (normal: 7,35–7,45). Jika terlalu rendah = darah terlalu asam (asidosis)
    • Sianosis — Bibir, kuku, atau kulit membiru keunguan (tanda kekurangan oksigen berat)
    • Pola napas — Irama, kedalaman, dan keteraturan pernapasan
    • Warna kulit — Pucat = sirkulasi buruk; kemerahan = terlalu banyak CO2; kebiruan = kekurangan oksigen

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)