Penulis: admin

  • L.07057-Penerimaan Kehamilan

    L.07057 — Penerimaan Kehamilan

    Definisi

    Upaya untuk rekonsiliasi perubahan terhadap situasi/masalah kehamilan.

    📖 Penerimaan kehamilan adalah kemampuan seorang ibu untuk menerima dan merawat kehamilannya dengan positif — termasuk menjalani pemeriksaan rutin, mengonsumsi makanan bergizi, dan mempersiapkan persalinan.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Penerimaan kehamilan — Ibu menerima kehamilan dengan positif
    • Perawatan prenatal — Menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin
    • Nutrisi memadai — Mengonsumsi makanan bergizi untuk kesehatan ibu dan janin
    • Pengetahuan kehamilan — Memahami perubahan tubuh selama kehamilan
    • Persiapan persalinan — Mempersiapkan diri dan perlengkapan untuk persalinan
    • Dukungan suami/keluarga — Mendapat dukungan dari pasangan dan keluarga
    • Tidak ada stres berlebihan — Kehamilan tidak menyebabkan tekanan emosional yang berat
    • Ikatan dengan janin — Merasa terhubung dengan bayi yang dikandung

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.07055-Fungsi Seksual

    L.07055 — Fungsi Seksual

    Definisi

    Integrasi aspek fisik dan sosioemosional terkait penyaluran dan kinerja seksual.

    📖 Fungsi seksual adalah kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan seksual yang sehat dan memuaskan — mencakup aspek fisik (kemampuan ereksi, orgasme), emosional (rasa nyaman), dan sosial (hubungan dengan pasangan).

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Lubrikasi vagina/ereksi — Respon fisik seksual berfungsi normal
    • Orgasme — Kemampuan mencapai orgasme
    • Tidak ada nyeri saat hubungan — Tidak ada nyeri saat berhubungan seksual
    • Hormon seks — Kadar hormon seks dalam batas normal
    • Keinginan seksual — Memiliki keinginan untuk berhubungan seksual
    • Puas secara seksual — Merasa puas dengan kehidupan seksualnya
    • Hubungan dengan pasangan — Hubungan seksual dilakukan dengan persetujuan dan rasa nyaman
    • Pengetahuan — Memahami kondisi kesehatan yang mempengaruhi fungsi seksual
    • Penanganan — Gangguan fungsi seksual sudah ditangani dengan tepat

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.06054-Tingkat Konfusi

    L.06054 — Tingkat Konfusi

    Definisi

    Kesadaran, perhatian, kognitif dan persepsi yang terganggu.

    📖 Konfusi (confusion) adalah kondisi di mana seseorang merasa bingung, sulit fokus, dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Berbeda dengan delirium yang muncul mendadak, konfusi bisa berkembang perlahan dan berkepanjangan.

    Ekspektasi

    Menurun

    Kriteria Hasil

    • Fungsi kognitif — Kemampuan berpikir membaik
    • Tingkat kesadaran — Kesadaran kembali jernih
    • Orientasi — Mengetahui nama, waktu, dan tempat dengan benar
    • Fokus — Bisa berkonsentrasi pada aktivitas atau pembicaraan
    • Pengambilan keputusan — Mampu membuat keputusan yang tepat
    • Interaksi sosial — Bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa kebingungan
    • Penyebab diatasi — Faktor penyebab konfusi sudah ditangani
    • Tidak ada gejala memburuk — Konfusi tidak memburuk seiring waktu
    • Keamanan — Pasien tidak membahayakan diri sendiri
    • Pengetahuan — Pasien dan keluarga memahami kondisi yang dialami

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.06053-Status Neurologis

    L.06053 — Status Neurologis

    Definisi

    Kemampuan sistem saraf perifer dan pusat untuk menerima, mengolah, dan merespons stimulus internal dan eksternal.

    📖 Status neurologis menggambarkan kondisi sistem saraf seseorang — termasuk otak, sumsum tulang belakang, dan saraf-saraf di seluruh tubuh. Status neurologis yang baik berarti sistem saraf bekerja dengan baik.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Tingkat kesadaran — Kesadaran jernih dan sesuai
    • Orientasi — Mengetahui nama, waktu, dan tempat
    • Fungsi motorik — Kemampuan menggerakkan tubuh dengan baik
    • Fungsi sensori — Kemampuan merasakan rangsang dari lingkungan
    • Refleks — Refleks tubuh berfungsi normal
    • Fungsi bicara — Kemampuan berbicara jelas dan teratur
    • Keseimbangan — Mampu menjaga keseimbangan tubuh
    • Koordinasi — Gerakan tubuh terkoordinasi
    • Pupil mata — Pupil sama besar dan merespons cahaya
    • Tidak ada kejang — Tidak ada episode kejang

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.06052-Status Menelan

    L.06052 — Status Menelan

    Definisi

    Jalan makanan dari mulut sampai lambung adekuat.

    📖 Status menelan menggambarkan kemampuan seseorang menelan makanan dan minuman dengan aman dari mulut hingga ke lambung. Gangguan menelan (disfagia) bisa menyebabkan tersedak dan masuknya makanan ke paru-paru.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Mempertahankan makanan — Mampu menahan makanan di mulut sebelum menelan
    • Refleks menelan — Refleks menelan berfungsi dengan baik
    • Mengunyah efektif — Mampu mengunyah makanan sebelum menelan
    • Menelan tanpa tersedak — Tidak tersedak saat menelan makanan atau minuman
    • Tidak ada residu makanan — Tidak ada sisa makanan yang tertinggal di mulut setelah menelan
    • Nyeri saat menelan — Tidak ada nyeri saat menelan (odinofagia)
    • Suara saat menelan — Tidak ada bunyi abnormal saat menelan
    • Berbicara setelah makan — Bisa berbicara dengan jelas setelah menelan
    • Posisi menelan — Mampu menelan dalam posisi tegak
    • Konsistensi makanan — Mampu menelan berbagai konsistensi makanan (cair, lembut, padat)

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.06051-Neurovaskuler Perifer

    L.06051 — Neurovaskuler Perifer

    Definisi

    Sirkulasi dan sensasi pergerakan ekstremitas adekuat.

    📖 Neurovaskuler perifer adalah kondisi pembuluh darah dan saraf di ekstremitas (tangan dan kaki). Kombinasi sirkulasi darah dan fungsi saraf yang baik membuat tangan dan kaki bisa bergerak dan merasakan dengan baik.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Sirkulasi perifer — Aliran darah ke tangan dan kaki lancar
    • Sensasi perifer — Kemampuan merasakan sentuhan, suhu, dan rasa sakit di ekstremitas
    • Mobilitas jari — Jari-jari tangan bisa bergerak dengan bebas
    • Kekuatan genggaman — Kekuatan tangan saat memegang benda
    • Warna kulit — Kulit ekstremitas berwarna merah muda (tidak pucat atau kebiruan)
    • Suhu kulit — Kulit ekstremitas hangat
    • Nyeri berkurang — Tidak ada nyeri di ekstremitas
    • Edema berkurang — Tidak ada pembengkakan pada ekstremitas
    • Pulse perifer teraba — Denyut nadi di pergelangan tangan/kaki teraba
    • Pengisian kapiler normal — Setelah ditekan, kuku kembali merah dalam ≤2 detik

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.06050-Kontrol Kejang

    L.06050 — Kontrol Kejang

    Definisi

    Kemampuan untuk mengontrol atau mengurangi frekuensi dan intensitas kejang.

    📖 Kejang adalah kontraksi otot yang tidak terkendali akibat aktivitas listrik otak yang berlebihan. Kejang bisa menyebabkan kehilangan kesadaran, gerakan tubuh tak terkendali, dan bisa berbahaya jika tidak segera ditangani.

    Ekspektasi

    Menurun

    Kriteria Hasil

    • Frekuensi kejang berkurang — Jumlah episode kejang berkurang
    • Intensitas kejang berkurang — Kejang tidak separah sebelumnya
    • Tidak ada kejang — Tidak ada episode kejang sama sekali
    • Kesadaran — Kesadaran kembali normal setelah kejang
    • Keamanan — Pasien tidak membahayakan diri sendiri saat kejang
    • Obat antikejang efektif — Obat yang diberikan berhasil mengontrol kejang
    • Pemicu kejang teridentifikasi — Faktor pemicu kejang sudah dikenali
    • Pengetahuan tentang kejang — Pasien dan keluarga memahami cara menangani kejang
    • Pencegahan cedera — Tindakan pencegahan dilakukan saat kejang (meletakkan benda lunak di sekitar kepala)

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.06048-Fungsi Sensori

    L.06048 — Fungsi Sensori

    Definisi

    Kemampuan sistem saraf untuk menerima dan merespons rangsang internal dan eksternal.

    📖 Fungsi sensori adalah kemampuan panca indra (penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, pengecap) untuk menerima informasi dari lingkungan dan mengirimkannya ke otak untuk diolah.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Penglihatan — Kemampuan melihat dengan jelas
    • Pendengaran — Kemampuan mendengar suara dengan jelas
    • Penciuman — Kemampuan mencium bau
    • Peraba — Kemampuan merasakan sentuhan, suhu, dan rasa sakit
    • Pengecap — Kemampuan merasakan rasa makanan
    • Respon terhadap rangsang — Merespons dengan tepat terhadap informasi yang diterima
    • Interpretasi rangsang — Memahami informasi yang diterima dari indra
    • Penggunaan alat bantu — Menggunakan kacamata, alat bantu dengar, atau alat lain jika diperlukan
    • Lingkungan aman — Memastikan lingkungan sesuai dengan kemampuan sensori yang dimiliki

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.06049-Kapasitas Adaptif Intrakranial

    L.06049 — Kapasitas Adaptif Intrakranial

    Definisi

    Kemampuan otak untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tekanan di dalam tengkorak.

    📖 Kapasitas adaptif intrakranial adalah kemampuan otak dan struktur di dalam tengkorak untuk mengakomodasi perubahan — seperti peningkatan tekanan akibat bengkak, perdarahan, atau cairan berlebih. Jika kapasitas ini terlampaui, fungsi otak bisa terganggu.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Tingkat kesadaran — Kesadaran tetap jernih dan tidak menurun
    • Pupil — Pupil mata sama besar dan merespons cahaya
    • Fungsi motorik — Gerakan tubuh terkontrol dan seimbang
    • Fungsi bicara — Kemampuan bicara jelas dan teratur
    • Sakit kepala — Nyeri kepala terkontrol atau hilang
    • Mual/muntah — Tidak ada muntah proyektil (muntah kuat seperti air mancur)
    • Tekanan intrakranial — Tekanan di dalam tengkorak dalam batas normal
    • Penglihatan — Tidak ada gangguan penglihatan
    • Tanda vital stabil — Tekanan darah, denyut nadi, dan frekuensi napas normal

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.14135 – Termoregulasi Neonatus.

    L.14135 — Termoregulasi Neonatus

    Definisi

    Kemampuan bayi baru lahir untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.

    📖 Termoregulasi neonatus adalah kemampuan bayi baru lahir menjaga suhu tubuh tetap stabil (36,5–37,5°C). Bayi baru lahir rentan terhadap hipotermia karena tubuhnya masih belajar mengatur suhu.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Suhu tubuh stabil — Suhu tubuh bayi tetap dalam rentang normal
    • Kulit hangat — Kulit bayi terasa hangat saat disentuh
    • Tidak menggigil — Bayi tidak menggigil karena kedinginan
    • Tidak berkeringat berlebih — Bayi tidak kepanasan
    • Aktivitas normal — Bayi aktif bergerak dan tidak lesu
    • Makan aktif — Bayi menyusu dengan aktif
    • Penyelimutan memadai — Bayi menggunakan selimut yang cukup untuk menjaga kehangatan
    • Lingkungan hangat — Ruangan bayi hangat dan tidak berangin
    • Skin-to-skin contact — Kontak kulit ke kulit dengan ibu membantu menjaga kehangatan

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)