Kategori: Eliminasi-04

  • L.04036-Kontinensia Urine

    L.04036 — Kontinensia Urine

    Definisi

    Pola kebiasaan buang air kecil.

    📖 Kontinensia urine adalah kemampuan mengontrol pengeluaran urine secara sadar. Seseorang yang kontinen bisa menahan BAK sampai menemukan toilet yang tepat.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Kemampuan berkemih — Kemampuan memulai dan mengontrol aliran urine
    • Nokturia — Terbangun dari tidur untuk BAK; normalnya maksimal 1 kali/malam. Lebih dari itu = gangguan
    • Residu volume urine setelah berkemih — Sisa urine dalam kandung kemih setelah BAK (normal: <50 ml)
    • Distensi kandung kemih — Perut bawah terasa penuh karena kandung kemih tidak kosong
    • Dribbling — Urine menetes setelah BAK selesai (tanda inkontinensia atau masalah prostat)
    • Hesitancy — Kesulitan memulai BAK; harus menunggu atau mengejan
    • Enuresis — Ketidakmampuan mengontrol BAK, terutama saat tidur (ngompol)
    • Verbalisasi pengeluaran urine — Pasien menjelaskan pola BAK-nya (frekuensi, volume, kemudahan)
    • Frekuensi BAK — Jumlah kali BAK per hari (normal: 6–8 kali/hari)
    • Urgensi — Dorongan mendesak untuk BAK segera, tidak bisa ditahan

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.04035-Kontinensia Fekal

    L.04035 — Kontinensia Fekal

    Definisi

    Pola normal kebiasaan buang air besar.

    📖 Kontinensia fekal adalah kemampuan mengontrol pengeluaran feses secara voluntary (sadar). Seseorang yang kontinen bisa menahan BAB sampai menemukan toilet yang tepat.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Pengontrolan pengeluaran feses — Kemampuan menahan dan mengontrol kapan BAB dilakukan
    • Defekasi — Proses pengeluaran feses berjalan normal tanpa kesulitan
    • Frekuensi buang air besar — Jumlah kali BAB per hari sesuai pola normal individu
    • Kondisi kulit perianal — Kulit di sekitar anus sehat, tidak merah, tidak iritasi (tanda inkontinensia atau diare)
    • Waktu BAB — Konsistensi waktu BAB (teratur = tanda pola eliminasi yang baik)
    • Kebiasaan BAB — Pola BAB yang konsisten dan mudah dikontrol

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.04034r-Keseimbangan Asam Basa

    L.04034r — Keseimbangan Asam Basa

    Definisi

    Ekuilibrium antara ion hidrogen di ruang intraseluler (di dalam sel) dan ekstraseluler (di luar sel) tubuh.

    📖 Keseimbangan asam-basa (pH) sangat penting untuk kelangsungan hidup sel. pH darah normal: 7,35–7,45. Jika terlalu asam (asidosis) atau terlalu basa (alkalosis), fungsi sel dan organ bisa terganggu parah.

    Ekspektasi

    Meningkat

    Kriteria Hasil

    • Tingkat kesadaran — Penurunan kesadaran bisa tanda gangguan pH yang parah
    • Istirahat — Kemampuan beristirahat dengan nyaman
    • Mual — Bisa tanda asidosis metabolic
    • Kram otot — Kejang otot bisa tanda alkalosis atau gangguan elektrolit
    • Kelemahan otot — Kekuatan otot berkurang karena pH tidak stabil
    • Frekuensi napas — Napas cepat = kompensasi asidosis (membuang CO2); napas lambat = alkalosis
    • Irama napas — Pola napas berubah sesuai gangguan pH
    • pH arteri — Normal: 7,35–7,45. Kurang dari 7,35 = asidosis; lebih dari 7,45 = alkalosis
    • PaCO2 — Tekanan parsial CO2 dalam darah (normal: 35–45 mmHg). Tinggi = asidosis respiratorik; rendah = alkalosis respiratorik
    • HCO3 (bikarbonat) — Puffer alkali dalam darah (normal: 22–26 mEq/L). Rendah = asidosis metabolik; tinggi = alkalosis metabolik
    • Base Excess (BE) — Selisih dari normal bikarbonat; negatif = asidosis; positif = alkalosis
    • Saturasi oksigen — Persentase oksigen dalam darah
    • Tekanan darah — Perubahan tekanan darah bisa menyertai gangguan pH

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.04034-Eliminasi Urine

    L.04034 — Eliminasi Urine

    Definisi

    Pengosongan kandung kemih (kantung penampung urine) yang lengkap.

    📖 Eliminasi urine adalah proses buang air kecil (BAK) yang lancar dan tuntas. Kandung kemih harus bisa mengosongkan seluruh isinya agar tidak ada sisa urine yang tertinggal.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Sensasi berkemih — Perasaan ingin BAK yang muncul saat kandung kemih penuh
    • Desakan berkemih (urgensi) — Dorongan mendesak untuk BAK segera, tidak bisa ditahan
    • Distensi kandung kemih — Perut bawah terasa penuh karena kandung kemih penuh urine
    • Berkemih tidak tuntas (hesitancy) — Sulit memulai BAK atau urine tidak keluar tuntas
    • Volume residu urine — Sisa urine setelah BAK (normal: <50 ml). Jika banyak = kandung kemih tidak mengosongkan dengan baik
    • Urine menetes (dribbling) — Urine keluar sedikit-sedikit setelah BAK selesai
    • Volume urine — Jumlah urine per hari (normal: 800–2000 ml)
    • Frekuensi BAK — Jumlah kali BAK per hari (normal: 6–8 kali/hari)
    • Warna urine — Normal: kuning jernih. Gelap = dehidrasi; merah = darah; keruh = infeksi
    • Bau urine — Normal: tidak menyengat. Menyengat = infeksi saluran kemih

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)

  • L.04033-Eliminasi Fekal

    L.04033 — Eliminasi Fekal

    Definisi

    Proses defekasi (buang air besar) normal yang disertai dengan pengeluaran feses mudah dan konsistensi, frekuensi serta bentuk feses normal.

    📖 Eliminasi fekal adalah proses pengeluaran sisa pencernaan (tinja/feses) dari tubuh melalui anus. Pola BAB yang normal berarti feses keluar dengan mudah, konsistensi tidak terlalu keras atau terlalu encer, dan frekuensi wajar.

    Ekspektasi

    Membaik

    Kriteria Hasil

    • Kontrol pengeluaran feses — Kemampuan mengontrol kapan dan di mana BAB dilakukan
    • Keluhan defekasi — Keluhan saat BAB (nyeri, keras, harus mengejan berlebihan)
    • Konsistensi feses — Tingkat kekerasan/kelembutan tinja (normal: lembut seperti pasta)
    • Frekuensi BAB — Jumlah kali BAB per hari (normal: 1–3 kali/hari)
    • Bentuk feses — Bentuk tinja (normal: seperti sosis, tidak terpecah-pecah)
    • Warna feses — Warna normal: cokelat. Merah = darah; hitam = perdarahan saluran pencernaan atas; pucat = masalah hati
    • Nyeri saat BAB — Rasa sakit saat atau sesudah BAB (bisa tanda wasir atau fisura ani)
    • Penggunaan pencahar — Apakah masih membutuhkan obat pelancar BAB

    Sumber: Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)