{"id":6415,"date":"2022-04-27T11:15:35","date_gmt":"2022-04-27T04:15:35","guid":{"rendered":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/?p=6415"},"modified":"2022-10-08T11:24:23","modified_gmt":"2022-10-08T04:24:23","slug":"c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/","title":{"rendered":"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien  (SKP) &#8211; Akreditasi Kemenkes &#8211; KMK 1128"},"content":{"rendered":"<h5><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>! SKP =&gt; Geser ke Jam\/Menit = 02h 28m<\/strong><\/span><br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Sosialisasi Standar Akreditasi Rumah Sakit sesuai yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/SmDxkn51Lu4\" width=\"683\" height=\"384\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/h5>\n<h2><\/h2>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien<\/strong><\/span><\/h2>\n<h4><a href=\"https:\/\/snars.web.id\/rs\/instrumen-penilaian-pokja-skp-starkes\/\"><button><span style=\"color: #ff0000;\">Pelajari Ringkasan Instrumen SKP<\/span><\/button><\/a><\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>Gambaran Umum<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sasaran Keselamatan Pasien wajib diterapkan di rumah sakit untuk mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sesuai dengan standar WHO Patient Safety (2007) yang digunakan juga oleh pemerintah. Tujuan SKP adalah untuk mendorong rumah sakit melakukan perbaikan-perbaikan yang menunjang tercapainya keselamatan pasien. Sasaran sasaran dalam SKP menyoroti bidang-bidang yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan, memberikan bukti dan solusi hasil konsensus yang berdasarkan nasihat para pakar serta penelitian berbasis bukti.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Di Indonesia secara nasional untuk seluruh Fasilitas pelayanan Kesehatan, diberlakukan Sasaran Keselamatan Pasien Nasional yang terdiri dari:\u00a0<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Sasaran 1 mengidentifikasi pasien dengan benar;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Sasaran 2 meningkatkan komunikasi yang efektif;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Sasaran 3 meningkatkan keamanan obat-obatan yang harusdiwaspadai;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Sasaran 4 memastikan sisi yang benar, prosedur yang benar, pasien yang benar pada pembedahan \/ tindakan invasif;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Sasaran 5 mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan; dan<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Sasaran 6 mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<hr \/>\n<h4><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>1. Mengidentifikasi <\/strong><strong>Pasien<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>dengan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Benar<\/strong><\/span><\/span><\/h4>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>a) Standar <\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>1.<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah\u00a0sakit\u00a0menerapkan\u00a0proses\u00a0untuk\u00a0menjamin\u00a0ketepatan\u00a0identifikasi\u00a0pasien<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>b) Maksud <\/strong><strong>dan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Tujuan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>1.<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Kesalahan mengidentifikasi pasien dapat terjadi di semua aspek pelayanan baik diagnosis, proses pengobatan serta tindakan. Misalnya saat keadaan pasien masih dibius, mengalami disorientasi atau belum sepenuhnya sadar; adanya kemungkinan pindah tempat tidur, pindah kamar, atau pindah lokasi di dalam rumah sakit; atau apabila pasien memiliki cacat indra atau rentan terhadap situasi berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Adapun\u00a0tujuan\u00a0dari\u00a0identifikasi\u00a0pasien\u00a0secara\u00a0benar\u00a0ini\u00a0adalah:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) mengidentifikasi pasien sebagai individu yang akan diberi layanan, tindakan atau pengobatan tertentu secara tepat.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) mencocokkan layanan atau perawatan yang akan diberikan dengan pasien yang akan menerima layanan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Identifikasi\u00a0pasien\u00a0dilakukan\u00a0setidaknya\u00a0menggunakan\u00a0minimal\u00a02\u00a0(dua)\u00a0identitas\u00a0yaitu\u00a0nama\u00a0lengkap\u00a0dan\u00a0tanggal\u00a0lahir\/<em>bar<\/em><em>\u00a0<\/em><em>code<\/em>, dan tidak termasuk nomor kamar atau lokasi pasien agar tepat pasien dan tepat pelayanan sesuai dengan regulasi rumah sakit. Pasien diidentifikasi menggunakan minimal dua jenis identitas pada saat:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) melakukan tindakan intervensi\/terapi (misalnya pemberianobat, pemberian darah atau produk darah, melakukan terapi radiasi);<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) melakukan tindakan (misalnya memasang jalur intravenaatau hemodialisis);<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) sebelum tindakan diagnostik apa pun (misalnya mengambildarah dan spesimen lain untuk pemeriksaan laboratorium penunjang, atau sebelum melakukan kateterisasi jantung ataupun tindakan radiologi diagnostik); dan<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">4) menyajikan makanan pasien.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit memastikan pasien teridentifikasi dengan tepat pada situasi khusus, seperti pada pasien koma atau pada bayi baru lahir yang tidak segera diberi nama serta identifikasi pasien pada saat terjadi darurat bencana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Penggunaan dua identitas juga digunakan dalam pelabelan. misalnya, sampel darah dan sampel patologi, nampan makanan pasien, label ASI yang disimpan untuk bayi yang dirawat di rumah sakit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>c) Elemen <\/strong><strong>Penilaian<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>1<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Rumahsakit telah menetapkan regulasi terkait Sasaran keselamatan pasien meliputi poin 1 \u2013 6 pada gambaran umum.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Rumah sakit telah menerapkan proses identifikasi pasienmenggunakan minimal 2 (dua) identitas, dapat memenuhi tujuan identifikasi pasien dan sesuai dengan ketentuan rumah sakit.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) Pasien telah diidentifikasi menggunakan minimal dua jenisidentitas meliputi poin 1) &#8211; 4) dalam maksud dan tujuan.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit memastikan pasien teridentifikasi dengan tepat pada situasi khusus, dan penggunaan label seperti tercantum dalam maksud dan tujuan.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<hr \/>\n<h4><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>2. Meningkatkan <\/strong><strong>Komunikasi<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>yang<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Efektif<\/strong><\/span><\/span><\/h4>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>a) Standar <\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>2<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah\u00a0sakit\u00a0menerapkan\u00a0proses\u00a0untuk\u00a0meningkatkan\u00a0efektivitas komunikasi lisan dan\/atau telepon di antara para\u00a0profesional pemberi asuhan (PPA), proses pelaporan hasil kritis\u00a0pada\u00a0pemeriksaan\u00a0diagnostic\u00a0termasuk\u00a0POCT\u00a0dan\u00a0proses\u00a0komunikasi\u00a0saat serah terima\u00a0<em>(hand over)<\/em><em>\u00a0<\/em>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>b) Maksud <\/strong><strong>dan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Tujuan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>2<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Komunikasi efektif adalah komunikasi yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami oleh resipien \/ penerima pesan akan mengurangi potensi terjadinya kesalahan serta meningkatkan keselamatan pasien. Komunikasi dapat dilakukan secara lisan, \u00a0tertulis dan elektronik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Komunikasi yang paling banyak memiliki potensi terjadinya kesalahan adalah pemberian instruksi secara lisan atau melalui telpon, pelaporan hasil kritis dan saat serah terima.. Latar belakang suara, gangguan, nama obat yang mirip dan istilah yang tidak umum sering kali menjadi masalah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Metode, formulir dan alat bantu ditetapkan sesuai dengan jenis komunikasi agar dapat dilakukan secara konsisten dan lengkap.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Metode komunikasi saat menerima instruksi melalui telpon adalah: \u201c menulis \/ menginput ke komputer &#8211; membacakan &#8211; konfirmasi kembali \u201d (<em>writedown<\/em>,\u00a0<em>read<\/em><em>\u00a0<\/em><em>back<\/em>,\u00a0<em>confirmation<\/em>)\u00a0 kepada pemberi instruksi misalnya kepada\u00a0\u00a0Konfirmasi harus dilakukan saat itu juga melalui telpon untuk menanyakan apakah \u201cyang dibacakan\u201d sudah sesuai dengan instruksi yang diberikan. Sedangkan metode komunikasi saat melaporkan kondisi pasien kepada DPJP dapat menggunakan metode misalnya\u00a0<em>Situation<\/em><em>\u00a0<\/em>&#8211; <em>background &#8211; <\/em><em>assessment <\/em>&#8211; <em>recommendation<\/em><em>\u00a0<\/em>(SBAR).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Metodekomunikasi saat melaporkan nilai kritis pemeriksaan diagnostik melalui telpon juga dapat dengan: \u201cmenulis\/menginput ke komputer &#8211; membacakan &#8211; konfirmasi kembali\u201d (<em>writedown,<\/em><em>\u00a0<\/em><em>read<\/em><em>\u00a0<\/em><em>back<\/em>). Hasil kritis didefinisikan sebagai varian dari rentang normal yang menunjukkan adanya kondisi patofisiologis yang berisiko tinggi atau mengancam nyawa, yang dianggap gawat atau darurat, dan mungkin memerlukan tindakan medis segera untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah kejadian yang tidak\u00a0\u00a0Hasil kritis dapat dijumpai pada pemeriksaan pasien rawat jalan maupun rawat inap. Rumah sakit menentukan\u00a0 mekanisme pelaporan hasil\u00a0 kritis di rawat jalan dan rawat inap. Pemeriksaan diagnostik mencakup semua pemeriksaan seperti laboratorium, pencitraan\/radiologi, diagnostik jantung juga pada hasil pemeriksaan yang dilakukan di tempat tidur pasien (<em>point-<\/em><em>\u00a0<\/em><em>of-care testing<\/em><em>\u00a0<\/em>(POCT). Pada pasien rawat inap pelaporan hasil kritis dapat dilaporkan melalui perawat yang akan meneruskan laporan kepada DPJP yang meminta pemeriksaan. Rentang waktu pelaporan hasil kritis ditentukan kurang dari 30 menit sejak hasil di verifikasi oleh PPA yang berwenang di unit pemeriksaan penunjang diagnostik.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) Metode komunikasi saat serah terima distandardisasi pada jenis serah terima yang sama misalnya serah terima antar ruangan di rawat\u00a0\u00a0Untuk jenis serah terima yang berbeda maka dapat menggunakan metode, formulir dan alat yang berbeda. Misalnya serah terima dari IGD ke ruang rawat inap dapat berbeda dengan serah terima dari kamar operasi ke unit intensif;<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Jenis\u00a0serah\u00a0terima\u00a0(<em>handover<\/em>)\u00a0di\u00a0dalam\u00a0rumah\u00a0sakit\u00a0dapat\u00a0mencakup:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) antara PPA (misalnya, antar dokter, dari dokter ke perawat,antar perawat, dan seterusnya);<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) antara unit perawatan yang berbeda di dalam rumah\u00a0 sakit(misalnya saat pasien dipindahkan dari ruang perawatan intensif ke ruang perawatan atau dari instalasi gawat darurat ke ruang operasi); dan\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) dari ruang perawatan pasien ke unitlayanan diagnostik seperti radiologi atau fisioterapi.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Formulir serah terima antara PPA, tidak perlu dimasukkan ke dalam rekam medis. Namun demikian, rumah sakit harus memastikan bahwa proses serah terima telah dilakukan. misalnya PPA mencatat serah terima telah dilakukan dan kepada siapa tanggung jawab pelayanan diserahterimakan, kemudian dapat dibubuhkan tanda tangan, tanggal dan waktu pencatatan).\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>c) Elemen <\/strong><strong>Penilaian<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>2<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Rumah sakit telah menerapkan komunikasi saat menerima instruksi melalui telepon: menulis\/menginput ke komputer &#8211; membacakan &#8211; konfirmasi kembali\u201d (<em>writedown, read back, <\/em><em>confirmation<\/em><em> \u00a0<\/em>dan\u00a0 SBAR saat melaporkan kondisi pasien kepada DPJP serta di dokumentasikan dalam rekam medik.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Rumah sakit telah menerapkan komunikasi saat pelaporanhasil kritis pemeriksaan penunjang diagnostic melalui telepon: menulis\/menginput ke komputer \u2013 membacakan \u2013 konfirmasi kembali\u201d (<em>writedown, read back, confirmation\u00a0 <\/em>dan di dokumentasikan dalam rekam medik.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) Rumah sakit telah menerapkan komunikasi saat serah terima sesuai dengan jenis serah terima meliputi poin 1) &#8211; 3) dalam maksud dan tujuan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<hr \/>\n<h4><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>3. Meningkatkan <\/strong><strong>Keamanan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Obat-Obatan yang<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Harus Diwaspadai<\/strong><\/span><\/span><\/h4>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>a) Standar <\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>3<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah\u00a0sakit\u00a0menerapkan\u00a0proses\u00a0untuk\u00a0meningkatkan\u00a0keamanan\u00a0penggunaan\u00a0obat\u00a0yang\u00a0memerlukan\u00a0kewaspadaan\u00a0tinggi (<em>high alert medication) <\/em>termasuk obat <em>Look &#8211; Alike Sound<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Alike<\/em><em>\u00a0<\/em>(LASA).\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>b) Standar<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong> 3.<\/strong><strong>1<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit menerapkan proses untuk meningkatkan keamanan penggunaan elektrolit konsentrat\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>c) Maksud<\/strong><strong>dan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Tujuan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>3<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>dan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong> 3.<\/strong><strong>1<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Obat-obatan yang perlu diwaspadai (<em>high-alert<\/em> <em>medications<\/em>)\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">adalah obat-obatan yang memiliki risiko menyebabkan cedera\u00a0serius\u00a0pada\u00a0pasien\u00a0jika\u00a0digunakan\u00a0dengan\u00a0tidak\u00a0tepat.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Obat\u00a0<em>high alert <\/em>mencakup:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Obat risiko tinggi, yaitu obat dengan zat aktif yang dapatmenimbulkan kematian atau kecacatan bila terjadi kesalahan\u00a0 (<em>error<\/em>) dalam penggunaannya (contoh: insulin, heparin atau sitostatika).\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (NamaObat Rupa dan Ucapan Mirip\/NORUM, atau <em>Look<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Alike<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Sound<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Alike<\/em>\/LASA)\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Elektrolit konsentrat contoh: kalium klorida dengan konsentrasi sama atau lebih dari 1 mEq\/ml, natrium klorida dengan konsentrasi lebih dari 0,9% dan magnesium sulfat injeksi dengan konsentrasi sama atau lebih dari 50%.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit harus menetapkan dan menerapkan strategi\u00a0 untuk mengurangi risiko dan cedera akibat kesalahan penggunaan obat <em>high alert, <\/em>antara lain: penataan penyimpanan, pelabelan\u00a0yang\u00a0jelas,\u00a0penerapan\u00a0<em>double<\/em><em>\u00a0<\/em><em>checking<\/em>,\u00a0pembatasan\u00a0akses,\u00a0penerapan\u00a0panduan\u00a0penggunaan\u00a0obat\u00a0<em>high<\/em><em>\u00a0<\/em><em>alert<\/em>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit perlu membuat daftar obat-obatan berisiko tinggi\u00a0berdasarkan pola penggunaan obat-obatan yang berisiko dari\u00a0data internalnya sendiri tentang laporan inisiden keselamatan\u00a0pasien. Daftar ini sebaiknya diperbarui setiap tahun. Daftar ini\u00a0dapat diperbarui secara sementara jika ada penambahan atau\u00a0perubahan\u00a0pada\u00a0layanan rumah sakit.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Obat dengan nama dan rupa yang mirip (<em>look-alike<\/em>\/<em>sound-alike<\/em>,\u00a0LASA)\u00a0adalah\u00a0obat\u00a0yang\u00a0memiliki\u00a0tampilan\u00a0dan\u00a0nama\u00a0yang\u00a0serupa dengan obat lain, baik saat ditulis maupun diucapkan\u00a0secara lisan. Obat dengan kemasan serupa (<em>look-alike packaging<\/em>) adalah obat dengan wadah atau kemasan yang mirip dengan obat lainnya. Obat-obatan yang berisiko terjadinya kesalahan terkait LASA, atau obat dengan kemasan produk yang serupa, dapat menyebabkan terjadinya kesalahan pengobatan yang berpotensi cedera. Terdapat banyak nama obat yang terdengar serupa dengan nama obat lainnya, sebagai contoh, dopamin dan dobutamin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Hal lain yang sering dimasukkan dalam isu keamanan obat\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">adalah kesalahan dalam pemberian elektrolit konsentrat\u00a0 yang tidak disengaja (misalnya, kalium\/potasium klorida [sama dengan 1 mEq\/ml atau yang lebih pekat), kalium\/potasium fosfat [(sama dengan atau lebih besar dari 3 mmol\/ml)], natrium\/sodium klorida [lebih pekat dari 0.9%], dan magnesium sulfat [sama dengan 50% atau lebih pekat]. Kesalahan ini dapat terjadi apabila staf tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit asuhan pasien, bila perawat kontrak tidak diorientasikan sebagaimana mestinya terhadap unit asuhan pasien, atau pada keadaan gawat darurat\/emergensi. Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan menerapkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk penyimpanan elektrolit konsentrat di unit farmasi di rumah sakit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Penyimpanan\u00a0elektrolit\u00a0konsentrat\u00a0di\u00a0luar\u00a0Instalasi\u00a0Farmasi\u00a0diperbolehkan\u00a0hanya\u00a0dalam\u00a0situasi\u00a0klinis\u00a0yang\u00a0berisiko\u00a0dan\u00a0harus memenuhi persyaratan yaitu staf yang dapat mengakes\u00a0dan\u00a0memberikan\u00a0elektrolit\u00a0konsentrat\u00a0adalah\u00a0staf\u00a0yang\u00a0kompeten\u00a0dan\u00a0terlatih,\u00a0disimpan\u00a0terpisah\u00a0dari\u00a0obat\u00a0lain,\u00a0diberikan\u00a0pelabelan\u00a0secara\u00a0jelas,\u00a0lengkap\u00a0dengan\u00a0peringatan\u00a0kewaspadaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>d) Elemen<\/strong><strong>Penilaian<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>3<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Rumah sakit menetapkan daftar obat kewaspadaan tinggi <\/span><em style=\"color: #000000;\">(High<\/em><em style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/em><em style=\"color: #000000;\">Alert<\/em><span style=\"color: #000000;\">)\u00a0termasuk\u00a0obat\u00a0<\/span><em style=\"color: #000000;\">Look<\/em><em style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/em><em style=\"color: #000000;\">-Alike<\/em><em style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/em><em style=\"color: #000000;\">Sound<\/em><em style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/em><em style=\"color: #000000;\">Alike<\/em><em style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/em><span style=\"color: #000000;\">(LASA).\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Rumah sakit menerapkan pengelolaan obat kewaspadaantinggi <em>(High Alert<\/em>) termasuk obat <em>Look -Alike Sound Alike<\/em><em>\u00a0<\/em>(LASA) secara seragam di seluruh area rumah sakit\u00a0 untuk mengurangi risiko dan cedera.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) Rumah sakit mengevaluasi dan memperbaharui daftar obat<em>High-Alert<\/em><em>\u00a0<\/em>dan obat <em>Look<\/em><em>\u00a0<\/em><em>-Alike<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Sound<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Alike<\/em><em>\u00a0<\/em>(LASA) yang sekurang- kurangnya 1 (satu) tahun sekali berdasarkan laporan insiden lokal, nasional dan internasional.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>e) Elemen <\/strong><strong>Penilaian<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong> 3.<\/strong><strong>1<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Rumahsakit menerapkan proses penyimpanan elektrolit konsentrat tertentu hanya di Instalasi Farmasi, kecuali di unit pelayanan dengan pertimbangan klinis untuk <\/span>mengurangi risiko dan cedera pada penggunaan elektrolit\u00a0konsentrat.<\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Penyimpanan elektrolit konsentrat di luar Instalasi Farmasidiperbolehkan hanya dalam untuk situasi yang ditentukan sesuai dalam maksud dan tujuan.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) Rumah sakit menetapkan dan menerapkan protokol koreksi hipokalemia, hiponatremia, hipofosfatemia.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<hr \/>\n<h4><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>4. Memastikan Sisi yang Benar, Prosedur yang Benar, Pasien\u00a0 yang <\/strong><strong>Benar<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Pada<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Pembedahan \/ Tindakan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Invasif\u00a0<\/strong><\/span><\/span><\/h4>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>a) Standar<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>4<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit menetapkan proses untuk melaksanakan verifikasi\u00a0pra opearsi, penandaan lokasi operasi dan proses <em>time-out\u00a0 <\/em>yang dilaksanakan sesaat\u00a0 sebelum tindakan pembedahan\/invasif dimulai serta proses <em>sign-out <\/em>yang dilakukan setelah tindakan selesai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>b) Maksud <\/strong><strong>dan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Tujuan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>4<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Salah-sisi, salah-prosedur, salah-pasien operasi, adalah kejadian yang\u00a0 mengkhawatirkan dan dapat terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini terjadi akibat adanya komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurangnya keterlibatan pasien di dalam penandaan lokasi (<em>site marking),<\/em><em>\u00a0<\/em>serta tidak adanya prosedur untuk memverifikasi sisi operasi. Rumah sakit memerlukan upaya kolaboratif untuk mengembangkan proses dalam mengeliminasi masalah ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Tindakan operasi dan invasif meliputi semua tindakan yang melibatkan insisi atau pungsi, termasuk, tetapi tidak terbatas pada, operasi terbuka, aspirasi perkutan, injeksi obat tertentu, biopsi, tindakan intervensi atau diagnostik vaskuler dan kardiak perkutan, laparoskopi, dan endoskopi. Rumah sakit perlu mengidentifikasi semua area di rumah sakit mana operasi dan tindakan invasif dilakukan\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Protokol umum (<em>universal protocol<\/em>) untuk pencegahan salah sisi, salah prosedur dan salah pasien pembedahan meliputi:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Proses verifikasi sebelum operasi.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Penandaan sisi operasi.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><em>3) Time-out <\/em>dilakukan sesaat sebelum memulai tindakan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>c) Proses <\/strong><strong>Verifikasi<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Praoperasi<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Verifikasi praoperasi merupakan proses pengumpulan informasi dan konfirmasi secara terus-menerus. Tujuan dari proses verifikasi praoperasi adalah:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) melakukan verifikasi terhadap sisi yang benar, prosedur yang benar dan pasien yang benar;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) memastikan bahwa semua dokumen, foto hasil radiologi atau pencitraan, dan pemeriksaan yang terkait operasi telah tersedia, sudah diberi label dan di siapkan;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) melakukan verifikasi bahwa produk darah, peralatan mediskhusus dan\/atau implan yang diperlukan sudah tersedia.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Di dalam proses verifikasi praoperasi terdapat beberapa elemen yang dapat dilengkapi sebelum pasien tiba di area praoperasi. seperti memastikan bahwa dokumen, foto hasil radiologi, dan hasil pemeriksaan sudah tersedia, di beri label dan sesuai dengan penanda identitas pasien.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Menunggu sampai pada saat proses <em>time-out <\/em>untuk melengkapi proses verifikasi praoperasi dapat menyebabkan penundaan yang tidak perlu. Beberapa proses verifikasi praoperasi dapat dilakukan lebih dari sekali dan tidak hanya di satu tempat saja. Misalnya persetujuan tindakan bedah dapat diambil di ruang periksa dokter spesialis bedah dan verifikasi kelengkapannya dapat dilakukan di area tunggu praoperasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>d) Penandaan <\/strong><strong>Lokasi<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Penandaan sisi operasi dilakukan dengan melibatkan pasien serta dengan tanda yang tidak memiliki arti ganda serta segera dapat dikenali. Tanda tersebut harus digunakan secara konsisten di dalam rumah sakit; dan harus dibuat oleh PPA yang akan melakukan tindakan; harus dibuat saat pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai pasien disiapkan. Penandaan sisi operasi hanya ditandai pada semua kasus yang memiliki dua sisi kiri dan kanan (lateralisasi), struktur multipel (jari tangan, jari kaki, lesi), atau multiple level (tulang belakang).\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Penandaan lokasi operasi harus melibatkan pasien dan dilakukan dengan tanda yang langsung dapat dikenali dan tidak bermakna ganda. Tanda \u201cX\u201d tidak digunakan sebagai penanda\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">karena dapat diartikan sebagai \u201cbukan di sini\u201d atau \u201csalah sisi\u201d serta dapat berpotensi menyebabkan kesalahan dalam penandaan lokasi operasi. Tanda yang dibuat harus seragam dan konsisten digunakan di rumah sakit. Dalam semua kasus yang melibatkan lateralitas, struktur ganda (jari tangan, jari kaki, lesi), atau tingkatan berlapis (tulang belakang), lokasi operasi harus ditandai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Penandaan lokasi tindakan operasi\/invasif dilakukan oleh PPA yang akan melakukan tindakan tersebut. PPA tersebut akan melakukan seluruh prosedur operasi\/invasif dan tetap berada dengan pasien selama tindakan berlangsung. Pada tindakan operasi, DPJP bedah pada umumnya yang akan melakukan operasi dan kemudian melakukan penandaan lokasi.. Untuk tindakan invasif non-operasi, penandaan dapat dilakukan oleh dokter yang akan melakukan tindakan, dan dapat dilakukan\u00a0 di area di luar area kamar operasi. Terdapat situasi di mana peserta didik (trainee) dapat melakukan penandaan lokasi, misalnya ketika peserta didik akan melakukan keseluruhan tindakan, tidak memerlukan supervisi atau memerlukan supervisi minimal dari operator\/dokter penanggung jawab. Pada situasi tersebut, peserta didik dapat menandai lokasi operasi. Ketika seorang peserta didik menjadi asisten dari operator\/dokter penanggung jawab, hanya operator\/dokter penanggung jawab yang dapat melakukan penandaan lokasi. Penandaan lokasi dapat terjadi kapan saja sebelum tindakan operasi\/invasif selama pasien terlibat secara aktif dalam proses penandaan lokasi jika memungkinkan dan tanda tersebut harus tetap dapat terlihat walaupun setelah pasien dipersiapkan dan telah ditutup kain. Contoh keadaan di mana partisipasi pasien tidak memungkinkan meliputi : kasus di mana pasien tidak kompeten untuk membuat keputusan perawatan, pasien anak, dan pasien yang memerlukan operasi darurat.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong><em>e) Time-Out<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Time-out\u00a0dilakukan\u00a0sesaat\u00a0sebelum\u00a0tindakan\u00a0dimulai\u00a0dan\u00a0dihadiri semua anggota tim yang akan melaksanakan tindakan\u00a0operasi.\u00a0Selama\u00a0time-out,\u00a0tim\u00a0menyetujui\u00a0komponen\u00a0sebagai\u00a0berikut:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Benar identitas pasien.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Benar prosedur yang akan dilakukan.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) Benar sisi operasi\/tindakan invasif.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Time-out dilakukan di tempat di mana tindakan akan dilakukan dan melibatkan secara aktif seluruh tim bedah. Pasien tidak berpartisipasi dalam time-out. Keseluruhan proses time-out didokumentasikan dan meliputi tanggal serta jam time-out selesai. Rumah sakit menentukan bagaimana proses time-out didokumentasikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong><em>f) Sign-Out<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Sign out yang dilakukan di area tempat tindakan berlangsung sebelum pasien meninggalkan ruangan. Pada umumnya, perawat sebagai anggota tim melakukan konfirmasi secara lisan untuk komponen sign-out sebagai berikut:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Nama tindakan operasi\/invasif yang dicatat\/ditulis.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Kelengkapan perhitungan instrumen, kasa dan jarum (bila\u00a0 ada).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) Pelabelan spesimen (ketika terdapat spesimen selama proses sign-out, label dibacakan dengan jelas, meliputi nama pasien, tanggal lahir).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">4) Masalah peralatan yang perlu ditangani (bila ada).<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah\u00a0sakit\u00a0dapat\u00a0menggunakan\u00a0Daftar\u00a0tilik\u00a0keselamatan\u00a0operasi\u00a0(<em>Surgical<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Safety<\/em><em>\u00a0<\/em><em>Checklist<\/em><em>\u00a0<\/em>dari\u00a0WHO\u00a0terkini)<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>g) Elemen <\/strong><strong>Penilaian<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>4<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Rumahsakit telah melaksanakan proses verifikasi pra operasi dengan daftar tilik untuk memastikan benar pasien, benar tindakan dan benar sisi.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Rumahsakit telah menetapkan dan menerapkan tanda yang seragam, mudah dikenali dan tidak bermakna ganda untuk mengidentifikasi sisi operasi atau tindakan invasif.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) Rumah sakit telah menerapkan penandaan sisi operasi atau tindakan invasif\u00a0 (<em>site<\/em><em>\u00a0<\/em><em>marking)<\/em><em>\u00a0<\/em>dilakukan oleh dokter operator\/dokter asisten yang melakukan operasi atau tindakan invasif dengan melibatkan pasien bila memungkinkan.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">4) Rumah \u00a0sakit \u00a0\u00a0\u00a0telah \u00a0\u00a0\u00a0menerapkan \u00a0\u00a0\u00a0proses \u00a0\u00a0 <em>Time-Out <\/em><\/span>menggunakan \u201c surgical check list\u201d (<em style=\"color: #000000;\">Surgical<\/em><em style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/em><em style=\"color: #000000;\">Safety<\/em><em style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/em><em style=\"color: #000000;\">Checklist <\/em>dari WHO terkini pada tindakan operasi termasuk tindakan medis invasif.<\/li>\n<\/ul>\n<hr \/>\n<h4><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>5. Mengurangi <\/strong><strong>Risiko<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Infeksi<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Akibat<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Perawatan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Kesehatan<\/strong><\/span><\/span><\/h4>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>a) Standar<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>5<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah\u00a0sakit\u00a0menerapkan\u00a0kebersihan\u00a0tangan\u00a0(<em>hand<\/em><em>\u00a0<\/em><em>hygiene)\u00a0<\/em><\/span><span style=\"color: #000000;\">untuk menurunkan risiko infeksi terkait layanan kesehatan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><strong style=\"color: #000000;\">b) Maksud<\/strong><strong style=\"color: #000000;\">dan<\/strong><strong style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/strong><strong style=\"color: #000000;\">Tujuan<\/strong><strong style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/strong><strong style=\"color: #000000;\">SKP<\/strong><strong style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/strong><strong style=\"color: #000000;\">5<\/strong><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan praktisi dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan\u00a0 peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan hal yang sangat membebani pasien serta profesional pemberi asuhan (PPA) pada pelayanan kesehatan. Infeksi umumnya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih-terkait kateter, infeksi aliran darah (<em>blood<\/em><em>\u00a0<\/em><em>stream<\/em><em>\u00a0<\/em><em>infections<\/em>) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis).\u00a0 Kegiatan utama dari upaya eliminasi infeksi ini maupun infeksi lainnya adalah dengan melakukan tindakan cuci tangan (<em>hand<\/em><em>\u00a0<\/em><em>hygiene<\/em>) yang tepat. Pedoman hand <em>hygiene <\/em>yang berlaku secara internasional dapat diperoleh di situs web WHO. Rumah sakit harus memiliki\u00a0 proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan\/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi pedoman hand <em>hygiene <\/em>yang diterima secara luas untuk implementasinya di rumah sakit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>c) Elemen <\/strong><strong>Penilaian<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>5<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit telah menerapkan kebersihan tangan (<em>hand<\/em><em>hygiene)<\/em><em>\u00a0<\/em>yang mengacu pada standar WHO terkini.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Terdapat proses evaluasi terhadap pelaksanaan program kebersihan tangan di rumah sakit serta upaya perbaikan yang dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan program.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<hr \/>\n<h4><span style=\"color: #0000ff;\"><b><\/b><strong>6) Mengurangi<\/strong><strong>Risiko<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Cedera<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Pasien<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Akibat<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Jatuh<\/strong><\/span><\/h4>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>a) Standar <\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>6<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah\u00a0sakit\u00a0menerapkan\u00a0proses\u00a0untuk\u00a0mengurangi\u00a0risiko\u00a0cedera\u00a0pasien\u00a0akibat jatuh\u00a0di\u00a0rawat jalan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>b) Standar<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong> 6.<\/strong><strong>1<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah\u00a0sakit\u00a0menerapkan\u00a0proses\u00a0untuk\u00a0mengurangi\u00a0risiko\u00a0cedera\u00a0pasien\u00a0akibat jatuh di\u00a0rawat inap.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>c) Maksud <\/strong><strong>dan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>Tujuan<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>6<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>dan<\/strong><strong> 6.<\/strong><strong>1<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Risiko jatuh pada pasien rawat jalan berhubungan dengan kondisi pasien, situasi, dan\/atau lokasi di rumah sakit. Di unit rawat jalan, dilakukan skrining risiko jatuh pada pasien dengan kondisi, diagnosis, situasi, dan\/atau lokasi yang menyebabkan risiko jatuh. Jika hasil skrining pasien berisiko jatuh, maka harus dilakukan intervensi untuk mengurangi risiko jatuh pasien tersebut. Skrining risiko jatuh di rawat jalan meliputi:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) kondisi pasien misalnya pasien geriatri, dizziness, vertigo,gangguan keseimbangan, gangguan penglihatan, penggunaan obat, sedasi, status kesadaran dan atau kejiwaan, konsumsi\u00a0 alkohol.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) diagnosis, misalnya pasien dengan diagnosis penyakit Parkinson.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) situasi misalnya pasien yang mendapatkan sedasi ataupasien dengan riwayat tirah baring\/perawatan yang lama yang akan dipindahkan untuk pemeriksaan penunjang dari ambulans, perubahan posisi akan meningkatkan risiko jatuh.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">lokasi misalnya area &#8211; area yang berisiko pasien jatuh, yaitu tangga, area yang penerangannya kurang atau mempunyai unit pelayanan dengan peralatan\u00a0 <em>parallel<\/em><em> \u00a0<\/em><em>bars<\/em>,\u00a0 <em>freestanding<\/em><em>\u00a0<\/em><em>staircases<\/em><em>\u00a0<\/em>seperti unit rehabilitasi\u00a0 Ketika suatu lokasi tertentu diidentifikasi sebagai area risiko tinggi yang lebih rumah sakit dapat menentukan bahwa semua pasien yang mengunjungi lokasi tersebut akan dianggap berisiko jatuh dan menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi risiko jatuh yang berlaku untuk semua pasien.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Skrining umumnya berupa evaluasi sederhana meliputi pertanyaan dengan jawaban sederhana: ya\/tidak, atau metode lain meliputi pemberian nilai\/skor untuk setiap respons\u00a0 pasien. Rumah sakit dapat menentukan bagaimana proses skrining dilakukan. Misalnya skrining dapat dilakukan oleh petugas registrasi, atau pasien dapat melakukan skrining secara\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mandiri, seperti di anjungan mandiri untuk skrining di unit rawat jalan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Contoh\u00a0pertanyaan\u00a0skrining\u00a0sederhana\u00a0dapat\u00a0meliputi:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Apakah Anda merasa tidak stabil ketika berdiri atau berjalan?;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Apakah Anda khawatir akan jatuh?;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3) Apakah Anda pernah jatuh dalam setahun terakhir?<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit dapat menentukan pasien rawat jalan mana yang akan dilakukan skrining risiko jatuh. Misalnya, semua pasien\u00a0 di unit rehabilitasi medis, semua pasien dalam perawatan lama\/tirah baring lama datang dengan ambulans untuk pemeriksaan rawat jalan, pasien yang dijadwalkan untuk operasi rawat jalan dengan tindakan anestesi atau sedasi, pasien dengan gangguan keseimbangan, pasien dengan gangguan penglihatan, pasien anak di bawah usia 2 (dua) tahun, dan seterusnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\">Untuk semua pasien rawat inap baik dewasa maupun anak harus dilakukan pengkajian risiko jatuh menggunakan metode pengkajian yang baku sesuai ketentuan rumah sakit. Kriteria risiko jatuh dan intervensi yang dilakukan harus didokumentasikan dalam rekam medis pasien. Pasien yang sebelumnya risiko rendah jatuh dapat meningkat risikonya secara mendadak menjadi risiko tinggi jatuh. Perubahan risiko ini dapat diakibatkan, namun tidak terbatas pada tindakan pembedahan dan\/atau anestesi, perubahan mendadak pada kondisi pasien, dan penyesuaian obat-obatan yang diberikan sehingga pasien memerlukan pengkajian ulang jatuh selama dirawat inap dan paska pembedahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>d) Elemen<\/strong><strong>Penilaian<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>6<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1) Rumah sakit telah melaksanakan skrining pasien rawat jalan pada kondisi, diagnosis, situasi atau lokasi yang dapat menyebabkan pasien berisiko jatuh, dengan menggunakan alat bantu\/metode skrining yang ditetapkan rumah sakit\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2) Tindakan dan\/atau intervensi dilakukan untuk mengurangirisiko jatuh pada pasien jika hasil skrining menunjukkan adanya risiko jatuh dan hasil skrining serta intervensi didokumentasikan.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"color: #000000;\"><b><\/b><strong>e) Elemen <\/strong><strong>Penilaian<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>SKP<\/strong><strong> 6.<\/strong><strong>1<\/strong><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Rumahsakit\u00a0telah\u00a0melakukan\u00a0pengkajian\u00a0risiko\u00a0jatuh\u00a0untuk semua pasien rawat inap baik dewasa maupun anak\u00a0menggunakan metode pengkajian yang baku sesuai dengan\u00a0ketentuan\u00a0rumah sakit.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit telah melaksanakan pengkajian ulang risikojatuh pada pasien rawat inap karena adanya perubahan kondisi, atau memang sudah mempunyai risiko jatuh dari hasil pengkajian.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Tindakandan \/ atau intervensi untuk mengurangi risiko jatuh pada pasien rawat inap telah dilakukan dan didokumentasikan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_6415\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"6415\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>! SKP =&gt; Geser ke Jam\/Menit = 02h 28m Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien Pelajari Ringkasan Instrumen SKP &nbsp; Gambaran Umum Sasaran Keselamatan Pasien wajib diterapkan di rumah sakit untuk mencegah <a class=\"more-link\" href=\"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/\">Continue Reading &rarr;<\/a><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_6415\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"6415\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6534,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[364,372],"tags":[],"class_list":["post-6415","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-akreditasi-2022","category-akreditasi-kemenkes-2022"],"a3_pvc":{"activated":true,"total_views":42124,"today_views":0},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) - Akreditasi Kemenkes - KMK 1128 - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) - Akreditasi Kemenkes - KMK 1128 - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"! SKP =&gt; Geser ke Jam\/Menit = 02h 28m Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien Pelajari Ringkasan Instrumen SKP &nbsp; Gambaran Umum Sasaran Keselamatan Pasien wajib diterapkan di rumah sakit untuk mencegah Continue Reading &rarr;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/akreditasirumahsakit\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-04-27T04:15:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-10-08T04:24:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/skp.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"678\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"315\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"16 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6\"},\"headline\":\"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) &#8211; Akreditasi Kemenkes &#8211; KMK 1128\",\"datePublished\":\"2022-04-27T04:15:35+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-08T04:24:23+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/\"},\"wordCount\":3456,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/skp.png\",\"articleSection\":[\"Akreditasi 2022\",\"Akreditasi Kemenkes 2022\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/\",\"name\":\"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) - Akreditasi Kemenkes - KMK 1128 - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/skp.png\",\"datePublished\":\"2022-04-27T04:15:35+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-08T04:24:23+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/skp.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/skp.png\",\"width\":678,\"height\":315},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) &#8211; Akreditasi Kemenkes &#8211; KMK 1128\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/\",\"name\":\"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\",\"description\":\"Pedoman, Panduan, Kebijakan, SPO, TOR, dan lain-lain - Bantu Pembiayaan Web ini dengan KLIK IKLAN .\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/author\\\/admin-2\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) - Akreditasi Kemenkes - KMK 1128 - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) - Akreditasi Kemenkes - KMK 1128 - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","og_description":"! SKP =&gt; Geser ke Jam\/Menit = 02h 28m Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien Pelajari Ringkasan Instrumen SKP &nbsp; Gambaran Umum Sasaran Keselamatan Pasien wajib diterapkan di rumah sakit untuk mencegah Continue Reading &rarr;","og_url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/","og_site_name":"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/akreditasirumahsakit\/","article_published_time":"2022-04-27T04:15:35+00:00","article_modified_time":"2022-10-08T04:24:23+00:00","og_image":[{"width":678,"height":315,"url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/skp.png","type":"image\/png"}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"16 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6"},"headline":"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) &#8211; Akreditasi Kemenkes &#8211; KMK 1128","datePublished":"2022-04-27T04:15:35+00:00","dateModified":"2022-10-08T04:24:23+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/"},"wordCount":3456,"image":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/skp.png","articleSection":["Akreditasi 2022","Akreditasi Kemenkes 2022"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/","url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/","name":"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) - Akreditasi Kemenkes - KMK 1128 - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","isPartOf":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/skp.png","datePublished":"2022-04-27T04:15:35+00:00","dateModified":"2022-10-08T04:24:23+00:00","author":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/#primaryimage","url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/skp.png","contentUrl":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/skp.png","width":678,"height":315},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/c-kelompok-sasaran-keselamatan-pasien-skp-akreditasi-kemenkes-kmk-1128\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"C. Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) &#8211; Akreditasi Kemenkes &#8211; KMK 1128"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#website","url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/","name":"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","description":"Pedoman, Panduan, Kebijakan, SPO, TOR, dan lain-lain - Bantu Pembiayaan Web ini dengan KLIK IKLAN .","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g","caption":"admin"},"url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/author\/admin-2\/"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6415","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6415"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6415\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6800,"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6415\/revisions\/6800"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6534"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6415"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6415"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6415"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}