{"id":100,"date":"2018-01-26T20:44:56","date_gmt":"2018-01-26T20:44:56","guid":{"rendered":"https:\/\/akreditasi.my.id\/ppirs\/?page_id=100"},"modified":"2018-01-26T22:55:18","modified_gmt":"2018-01-26T22:55:18","slug":"3-ppi-bundles-hais","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/3-ppi-bundles-hais\/","title":{"rendered":"3. PPI &#8211; Bundles HAIs"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><button class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\" data-rvtts-action=\"speak\" data-rvtts-text=\"BAB 3 -\u00a0Cara Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan Dengan Bundles H A Is. Pemakaian peralatan perawatan pasien dan tindakan operasi terkait pelayanan kesehatan merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan. Pemakaian dan tindakan ini akan membuka jalan masuk kuman yang dapat menimbulkan risiko infeksi tinggi. Untuk itu diperlukan PPI terkait dengan pelayanan kesehatan tersebut melalui penerapan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya HAIs. Berikut dibahas bundles terhadap 4 (empat) risiko infeksi yang dapat menyebabkan\u00a0peningkatan morbiditas, mortalitas dan beban pembiayaan. \u00a0 1. Ventilator Associated Pneumonia (VAP) Ventilator \u00a0\u00a0Associated \u00a0\u00a0Pneumonia \u00a0(VAP) \u00a0\u00a0merupakan \u00a0\u00a0infeksi\u00a0pneumonia yang terjadi setelah 48 jam pemakaian ventilasi mekanik baik pipa endotracheal maupun tracheostomi. Beberapa tanda infeksi berdasarkan penilaian klinis pada pasien VAP yaitu demam, takikardi, batuk, perubahan warna sputum. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan jumlah leukosit dalam darah dan pada rontgent didapatkan gambaran infiltrat baru atau persisten. Adapun\u00a0diagnosis VAP ditentukan berdasarkan tiga komponen tanda infeksi sistemik yaitu demam, takikardi dan leukositosis yang disertai dengan gambaran infiltrat baru ataupun perburukan di foto toraks dan penemuan bakteri penyebab infeksi paru. Bundles pada pencegahan dan Pengendalian VAP sebagai berikut: 1. Membersikan tangan setiap akan melakukan kegiatan terhadap pasien yaitu dengan menggunakan lima momen kebersihan tangan. 2. Posisikan tempat tidur antara 30-45Obila tidak ada kontra indikasi misalnya trauma kepala ataupun cedera tulang belakang. 3. Menjaga kebersihan mulut atau oral hygiene\u00a0setiap 2-4 jam dengan menggunakan bahan dasar anti septik clorhexidine\u00a00,02% dan dilakukan gosok gigi setiap 12 jam untuk mencegah timbulnya flaque\u00a0pada gigi karena flaque\u00a0merupakan media\u00a0tumbuh kembang bakteri patogen yang pada akhirnya akan masuk ke dalam paru pasien. 4. Manajemen sekresi oroparingeal dan trakeal yaitu: a. Suctioning bila dibutuhkan saja dengan memperhatikanteknik aseptik bila harus melakukan tindakan tersebut. b. Petugas yang melakukan suctioningpada pasien yang terpasang ventilator\u00a0menggunakan alat pelindung diri (APD). c. Gunakan kateter suctionsekali pakai. d. Tidak sering membuka selang\/tubing ventilator. e. Perhatikan kelembaban pada humidifire ventilator. f. Tubing ventilator diganti bila kotor. 5.\u00a0 Melakukan pengkajian setiap hari \u2018sedasi dan extubasi\u201d: a. Melakukan pengkajian penggunaan obat sedasi dan dosis obat tersebut. b. Melakukan pengkajian secara rutin akan respon pasien terhadap penggunaan obat sedasi tersebut. Bangunkan pasien setiap hari dan menilai responnya untuk melihat apakah sudah dapat dilakukan penyapihan modus pemberian ventilasi. 6. Peptic ulcer disease Prophylaxis diberikan pada pasien-pasiendengan risiko tinggi. 7. Berikan Deep Vein Trombosis (DVT) \u00a0 B. Infeksi Aliran Darah (Iad). Infeksi Aliran Darah (Blood Stream Infection\/BSI)\u00a0dapat terjadi\u00a0pada pasien yang menggunakan alat sentral intra vaskuler (CVC Line)\u00a0setelah 48 jam dan ditemukan tanda atau gejala infeksi yang dibuktikan dengan hasil kultur positif bakteri patogen yang tidak berhubungan dengan infeksi pada organ tubuh yang lain dan bukan infeksi sekunder, dan disebut sebagai Central Line Associated Blood\u00a0Stream Infection (CLABSI). Gambar 36. Alur kemungkinan terjadinya infeksi melalui aliran darah. \u00a0 Bundles mencegah Infeksi Aliran Darah (IAD), sebagai berikut: 1, Melakukan prosedur kebersihan tangan dengan menggunakan sabun dan air atau cairan antiseptik berbasis alkohol, pada saat antara lain: a. Sebelum dan setelah meraba area insersi kateter. b. Sebelum dan setelah melakukan persiapan pemasangan intra vena. c. Sebelum dan setelah melakukan palpasi area insersi. d. Sebelum dan setelah memasukan, mengganti, mengakses, memperbaiki atau dressing. e. Ketika tangan diduga terkontaminasi atau kotor. f. Sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan invasif. g. Sebelum menggunakan dan setelah melepas sarung tangan. \u00a0 2,\u00a0 Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) Penggunaan APD pada tindakan invasif (tindakan membuka kulit dan pembuluh darah) direkomendasikan pada saat: a) Pada tindakan pemasangan alat intra vena sentral maka APD yang harus digunakan adalah topi, masker, gaun steril dan sarung tangan steril. APD ini harus dikenakan oleh petugas yang terkait memasang atau membantu dalam proses pemasangan central line. b) Penutup area pasien dari kepala sampai kaki dengan kain steril dengan lubang kecil yang digunakan untuk area insersi. c) Kenakan sarung tangan bersih, bukan steril untuk pemasanagan kateter intra vena perifer. d) Gunakan sarung tangan baru jika terjadi pergantian kateter yang diduga terkontaminasi. e) Gunakan sarung tangan bersih atau steril jika melakukan perbaikan (dressing) kateter intra vena. 3, Antiseptik Kulit. Bersihkan area kulit disekitar insersi dengan menggunakan cairan antiseptik (alkohol 70% atau larutan klorheksidin glukonat\u00a0alkohol 2-4%) dan biarkan antiseptik mengering sebelum dilakukan penusukan\/insersi kateter. Antiseptik adalah zat yang biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh mikroorganisme berbahaya (patogenik) yang terdapat pada permukaan tubuh luar makhluk hidup\/jaringan hidup atau kulit untuk mengurangi kemungkinan infeksi. Penggunaan cairan antiseptik dilakukan segera sebelum dilakukan insersi mengingat sifat cairan yang mudah menguap dan lakukan swab\u00a0dengan posisi melingkar dari area tengah keluar. Persyaratan memilih cairan antiseptik antara lain: a) Aksi yang cepat dan aksi mematikan yang berkelanjutan, b) Tidak menyebabkan iritasi pada jaringan ketika digunakan, c) Non-alergi terhadap subjek, d) Tidak ada toksisitas sistemik (tidak diserap) e) Tetap aktif dengan adanya cairan tubuh misalnya: darah atau nanah. \u00a0 4, Pemilihan lokasi insersi kateter. Pemasangan kateter vena sentral sebaiknya mempertimbangkan faktor risiko yang akan terjadi dan pemilihan lokasi insersi dilakukan dengan mempertimbangkan risiko yang paling rendah. Vena subklavia adalah pilihan yang berisiko rendah untuk kateternon-tunneled catheter\u00a0pada orang dewasa. a) Pertimbangkan risiko dan manfaat pemasangan kateter vena sentral untuk mengurangi komplikasi infeksi terhadap risiko komplikasi mekanik (misalnya, pneumotoraks, tusukan arteri subclavia, hemotoraks, trombosis, emboli udara, dan lain-lain). b) Hindari menggunakan vena femoralis untuk akses vena sentral pada pasien dewasa dan sebaiknya menggunakan\u00a0vena subclavia untuk mempermudah penempatan kateter vena sentral. c) hindari penggunaan vena subclavia pada pasien hemodialisis dan penyakit ginjal kronis. d) Gunakan panduan ultra soundsaat memasang kateter vena sentral. e) Gunakan CVC dengan jumlah minimum portatau lumen penting untuk pengelolaan pasien. f) Segera lepaskan kateter jika sudah tidak ada indikasi lagi. \u00a0 5, Observasi rutin kateter vena sentral setiap hari. Pasien yang terpasang kateter vena sentral dilakukan pengawasan rutin setiap hari dan segera lepaskan jika sudah tidak ada indikasi lagi karena semakin lama alat intravaskuler terpasang maka semakin berisiko terjadi infeksi. Beberapa rekomendasi dalam pemakaian alat intravaskular sebagai berikut: 1) Pendidikan dan Pelatihan Petugas Medis. Laksanakan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan bagi petugas medis yang materinya menyangkut indikasi pemakaian alat intravaskuler, prosedur pemasangan kateter, pemeliharaan peralatan intravaskuler dan pencegahan infeksi saluran darah sehubungan dengan pemakaian kateter. Metode audiovisual\u00a0dapat digunakan sebagai alat bantu yang baik dalam pendidikan. 2) Surveilans infeksi aliran darah. a) Laksanakan surveilans untuk menentukan angka infeksi masing-masing jenis alat, untuk memonitor kecenderungan angka-angka tersebut dan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dalam praktek pengendalian infeksi. b) Raba dengan tangan (palpasi) setiap hari lokasi pemasangan kateter melalui perban untuk mengetahui adanya pembengkakan. c) Periksa secara visual lokasi pemasangan kateter untuk mengetahui apakah ada pembengkakan, demam tanpa adanya penyebab yang jelas, atau gejala infeksi lokal atau infeksi bakterimia. d) Pada pasien yang memakai perban tebal sehingga susah diraba atau dilihat, lepas perban terlebih dahulu, periksa secara visual setiap hari dan pasang perban baru. e) Catat tanggal dan waktu pemasangan kateter di lokasi yang dapat dilihat dengan jelas. 3) Kebersihan tangan. Kebersihan tangan dilakukan sebelum dan sesudah palpasi, pemasangan alat intravaskuler, penggantian alat intravaskuler, atau memasang perban. 4) Penggunaan APD, Pemasangan dan Perawatan Kateter. a) Gunakan sarung tangan pada saat memasang alat intravaskuler seperti dalam standard BloodbornePathogens yang dikeluarkan oleh\u00a0Occupational Safety and Health Administration (OSHA). b) Gunakan sarung tangan saat mengganti perban alat intravaskuler. 5) Pemasangan Kateter. Jangan menyingkat prosedur pemasangan kateter yang sudah ditentukan. 6) Perawatan Luka Kateterisasi. a) Antiseptik Kulit 1) Sebelum pemasangan kateter, bersihkan kulit di lokasi dengan antiseptik yang sesuai, biarkan antiseptik mengering pada lokasi sebelum memasang. 2) Bila dipakai iodine tinctureuntuk membersihkan kulit sebelum pemasangan kateter, maka harus dibilas dengan alkohol. 3) Jangan melakukan palpasi pada lokasi setelah kulit dibersihkan dengan antiseptik (lokasi dianggap daerah). 4) Perban Kateter - Gunakan kasa steril atau perban transparan untuk menutup lokasi pemasangan kateter. - Ganti perban bila alat dilepas atau diganti, atau bila perban basah, longgar atau kotor. Ganti perban lebih sering bagi pasien diaphoretic. - Hindari sentuhan yang mengkontaminasi lokasi kateter saat mengganti perban. b)\u00a0 Pemilihan dan Penggantian Alat Intravaskuler 1) Pilih alat yang risiko komplikasinya relatif rendah dan harganya paling murah yang dapat digunakan untuk terapi intravena dengan jenis dan jangka waktu yang sesuai. Keberuntungan penggantian alat sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan untuk mengurangi komplikasi infeksi harus dipertimbangkan dengan mengingat komplikasi mekanis dan keterbatasan alternatif lokasi pemasangan. Keputusan yang diambil mengenai jenis alat dan frekuensi penggantiannya harus melihat kasus per kasus. 2) Lepas semua jenis peralatan intravaskuler bila sudah tidak ada indikasi klinis. c) Pengganti Perlengkapan dan Cairan Intra Vena 1) Set Perlengkapan Secara umum, set perlengkapan intravaskular terdiri atas seluruh bagian mulai dari ujung selang yang masuk ke kontainer cairan infus sampai ke hubungan alat vaskuler. Namun kadang-kadang dapat dipasang selang penghubung pendek pada kateter dan dianggap sebagai bagian dari kateter untuk memudahkan dijalankannya tehnik saat\u00a0mengganti set perlengkapan. Ganti selang penghubung tersebut bila alat vaskuler diganti. - Ganti selang IV, termasuk selang piggybackdan stopcock, dengan interval yang tidak kurang dari 72\u00a0jam, kecuali bila ada indikasi klinis. - Belum ada rekomendasi mengenai frekuensi penggantian selang IV yang digunakan untuk infuseintermittent. - Ganti selang yang dipakai untuk memasukkan darah, komponen darah atau emulsi lemak dalam 24 jam dari diawalinya infus. 2) Cairan Parentral. - Rekomendasi tentang waktu pemakaian cairan IV, termasuk juga cairan nutrisi parentral yang tidak mengandung lemak sekurang-kurangnya 96 jam. - Infus harus diselesaikan dalam 24 jam untuk satu botol cairan parentral yang mengandung lemak. - Bila hanya emulsi lemak yang diberikan, selesaikan infus dalam 12 jam setelah botol emulsi mulai digunakan. 7) Port Injeksi Intravena Bersihkan port injeksi dengan alkohol 70 % atau povidone-iodine sebelum mengakses sistem. 8) Persiapan dan Pengendalian Mutu Campuran Larutan Intravena a) Campurkan seluruh cairan perentral di bagian farmasi dalam Laminar-flow hoodmenggunakan tehnik aseptik. b) Periksa semua kontainer cairan parentral, apakah ada kekeruhan, kebocoran, keretakan, partikel dan tanggal kedaluarsa dari pabrik sebelum penggunaan. c) Pakai vial dosis tunggal aditif parenteral atau obat-obatan bilamana mungkin. d) Bila harus menggunakan vial multi dosis \u207b\u00a0 Dinginkan dalam kulkas vial multi dosis yang\u00a0dibuka, bila direkomendasikan oleh pabrik. \u207b Bersihkan karet penutup vial multi dosis dengan\u00a0alkohol sebelum menusukkan alat ke vial. - Gunakan alat steril setiap kali akan mengambil cairan dari vial multi dosis, dan hindari kontaminasi alat sebelum menembus karet vial. - Buang vial multi dosis bila sudah kosong, bila dicurigai atau terlihat adanya kontaminasi, atau bila telah mencapai tanggal kedaluarsa. 9) Filtre In Line :\u00a0Jangan digunakan secara rutin untuk pengendalian infeksi. 10) Petugas Terapi Intravena :\u00a0Tugaskan personel yang telah untuk pemasangan dan pemeliharaan peralatan intravaskuler. 11) Alat Intravaskuler Tanpa Jarum :\u00a0Belum ada rekomendasi mengenai pemakaian, pemeliharaan atau frekuensi penggantian IV tanpa jarum. 12) Profilaksis Antimikroba :\u00a0Jangan memberikan antimikroba sebagai prosedur rutin sebelum pemasangan atau selama pemakaian alat intravaskuler untuk mencegah kolonisasi kateter atau infeksi bakterimia. \u00a0 C, Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Saluran Kemih (Isk). 1) Diagnosis Infeksi Saluran Kemih. a) Urin Kateter terpasang \u2265 48 jam. b) Gejala klinis: demam, sakit pada suprapubik dan nyeri pada sudut costovertebra. c) Kultur urin positif \u2265 105Coloni Forming Unit\u00a0(CFU) dengan 1 atau 2 jenis mikroorganisme dan Nitrit dan\/atau leukosit esterase positif dengan carik celup (dipstick). 2) Faktor risiko Infeksi Saluran Kemih (ISK). Diagnosis ISK akan sulit dilakukan pada pasien dengan pemasangan kateter jangka panjang, karena bakteri tersebut sudah berkolonisasi, oleh karena itu penegakan diagnosa infeksi dilakukan dengan melihat tanda klinis pasien sebagai acuan selain hasil biakan kuman dengan jumlahgreater than102\u00a0\u2013 103\u00a0cfu\/ml dianggap sebagai indikasi infeksi. a) Faktor risiko tersebut antara lain: - Lama pemasangan kateter greater than 6 \u2013 30 hari berisiko terjadi infeksi, - Gender wanita, - Diabetes, malnutrisi, renal insufficiency, - Monitoring urine out put, - Posisi drainage\u00a0kateter lebih rendah dari urine bag, - Kontaminasi selama pemasangan kateter urin, - Inkontinensia fekal (kontaminasi E.coli pada wanita), - Rusaknya sirkuit kateter urin. b) Komponen kateter urin - Materi kateter: Latex, Silicone, Silicone-elastomer,Hydrogel-coated, Antimicrobial-coated, Plastic. - Ukuran kateter : 14 \u2013 18 French (French adalah skala kateter yang digunakan dengan mengukur lingkar luar kateter). - Balon kateter: diisi cairan 30 cc. - Kantong urin dengan ukuran 350 \u2013 750 cc. c) Indikasi Pemasangan Kateter Urin Menetap. - Retensi urin akut atau obstruksi, - Tindakan operasi tertentu, - Membantu penyembuhan perinium dan luka sakral pada pasien inkontinensia, - Pasien bedrestdengan perawatan paliatif, - Pasien immobilisasi dengan trauma atau operasi, - Pengukuran urine out putpada pasien kritis. d) Prosedur Pemasangan Kateter Urin Menetap. Prosedur pemasangan urin kateter menetapdilakukan dengan tehnik aseptik, sebelum dimulai periksa semua peralatan kesehatan yang dibutuhkan yang terdiri dari : - Sarung tangan steril, - Antiseptik yang non toxic, - Swab atau cotton wool, - Handuk kertas steril (dok steril), - Gel lubrikasi anastesi, - Katater urin sesuai ukuran, - Urine bag, - Syringe spuite dengan cairanaquabidest atau\u00a0saline untuk mengisi balon kateter. &quot;Sebelum memulai prosedur lakukan kebersihan tangan menggunakan cairan antiseptik atau alkohol handrubs, keringkan tangan dan gunakan sarung tangan steril&quot; Kateterisasi saluran kemih sebaiknya dilakukan jika ada indikasi klinis yang memerlukan tidakan spesifik penggunaan urine kateter, karena kateterisasi urine akan menimbulkan dampak risiko infeksi pada saluran kemih. Penggunaan metode saluran urine sistem tertutup telah terbukti nyata mengurangi risiko kejadian infeksi. Teknik aseptik yang dilakukan dengan benar sangat penting dalam pemasangan dan perawatan urine kateter,\u00a0dan kebersihan tangan merupakan metode pertahanan utama terhadap risiko kontaminasi bakteri penyebab infeksi bakteri sekunder pada saat pemasangan kateter. Kewaspadaan standar harus dipertahankan saat kontak dengan urine dan atau cairan tubuh lainnya. Sistim gravitasi perlu diperhatikan dalam sistim drainase dan pencegahan aliran balik urine, sehingga pastikan bahwa urine bag\u00a0selalu berada pada posisi lebih rendah dari uretra dengan mengikatkannya pada tempat tidur dan tidak terletak dilantai serta hindari terjadi tekukan pada saluran kateter urine. 3) Bundles Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Kemih: a) Pemasangan urine kateter digunakan hanya sesuai indikasi Pemasangan kateter urine digunakan hanya sesuai indikasi yang sangat diperlukan seperti adanya retensi urine, obstruksi kandung kemih, tindakan operasi tertentu, pasien bedrest, monitoringurine out put. jika masih dapat dilakukan\u00a0tindakan lain maka pertimbangkan untuk pemakaian kondom atau pemasangan intermitten. Lepaskan kateter urine sesegera mungkin jika sudah tidak sesuai indikasi lagi. b) Lakukan kebersihan tangan Kebersihan tangan dilakukan dengan mematuhi 6 (enam) langkah melakukan kebersihan tangan, untuk mencegah terjadi kontaminasi silang dari tangan petugas saat melakukan pemasangan urine kateter. c) Teknik insersi Teknik aseptik perlu dilakukan untuk mencegah kontaminasi bakteri pada saat pemasangan kateter dan gunakan peralatan steril dan sekali pakai pada peralatan kesehatan sesuai ketentuan. Sebaiknya pemasangan urine kateter dilakukan oleh orang yang ahli atau terampil. d) Pengambilan spesimen Gunakan sarung tangan steril dengan tehnik aseptik. Permukaan selang kateter swab alkohol kemudian tusuk kateter dengan jarum suntik untuk pengambilan sample urine\u00a0(jangan membuka kateter untuk mengambil sample urine), jangan mengambilsample urine\u00a0dari urine bag. Pengambilan sample urine dengan indwelling\u00a0kateter diambil hanya bila ada indikasi klinis. e) Pemeliharaan kateter urine Pasien dengan menggunakan kateter urine seharus dilakukan perawatan kateter dengan mempertahankan kesterilan sistim drainase tertutup, lakukan kebersihan tangan sebelum dan sesudah memanipulasi kateter, hindari sedikit mungkin melakukan buka tutup urine kateter karena akan menyebabkan masuknya bakteri, hindari meletakannya di lantai, kosongkan urine bag\u00a0secara teratur dan hindari kontaminasi bakteri. Menjaga posisi urine bag\u00a0lebih rendah dari pada kandung kemih, hindari irigasi rutin, lakukan perawatan meatus dan jika terjadi kerusakan atau kebocoran pada kateter lakukan perbaikan dengan tehnik aseptik. f) Melepaskan kateter Sebelum membuka kateter urine keluarkan cairan dari balon terlebih dahulu, pastikan balon sudah mengempes sebelum ditarik untuk mencegah trauma, tunggu selama 30 detik dan biarkan cairan mengalir mengikuti gaya gravitasi sebelum menarik kateter untuk dilepaskan. \u00a0 D, Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Daerah Operasi (IDO). Pengendalian Infeksi Daerah Operasi (IDO) atau Surgical Site\u00a0Infections (SSI) adalah suatu cara yang dilakukan untuk mencegah dan\u00a0mengendalikan kejadian infeksi setelah tindakan operasi, misalnyaoperasi mata. Risiko Infeksi daerah Operasi = ( Jumlah bakteri yang masuk X virelensi ) \/ resistensi pasien. Paling banyak infeksi daerah operasi bersumber dari patogen flora endogenous kulit pasien, membrane mukosa. Bila membrane mukosa atau kulit di insisi, jaringan tereksposur risiko dengan flora endogenous. Selain itu terdapat sumber\u00a0exogenous dari infeksi daerah\u00a0operasi. Sumber exogenous\u00a0tersebut adalah: 1) Tim bedah, 2) Lingkungan ruang operasi, 3) Peralatan, instrumen dan alat kesehatan, 4) Kolonisasi mikroorganisme, 5) Daya tahan tubuh lemah, 6) Lama rawat inap pra bedah. \u00a0 Kriteria Infeksi Daerah Operasi 1) Infeksi Daerah Operasi Superfisial Infeksi daerah operasi superfisial harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut ini: a) Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari pasca bedah dan hanya meliputi kulit, subkutan atau jaringan lain diatas fascia. b) Terdapat paling sedikit satu keadaan berikut: - Pus keluar dari luka operasi atau drain yang dipasang diatas fascia, - Biakan positif dari cairan yang keluar dari luka atau jaringan yang diambil secara aseptik, - Terdapat tanda\u2013tanda peradangan (paling sedikit terdapat satu dari tanda-tanda infeksi berikut: nyeri, bengkak lokal, kemerahan dan hangat lokal), kecuali jika hasil biakan negatif. - Dokter yang menangani menyatakan terjadi infeksi. 2) Infeksi Daerah Operasi Profunda\/Deep Incisional Infeksi daerah operasi profunda harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut ini: a) Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari pasca bedah atau sampai satu tahun pasca bedah (bila ada implant berupa non human derived implant yang dipasang permanan) dan meliputijaringan lunak yang dalam (misal lapisan fascia dan otot) dari insisi. b) Terdapat paling sedikit satu keadaan berikut: - Pus keluar dari luka insisi dalam tetapi bukan berasal dari komponen organ\/rongga dari daerah pembedahan. - Insisi dalam secara spontan mengalami dehisens atau dengan sengaja dibuka oleh ahli bedah bila pasien mempunyai paling sedikit satu dari tanda-tanda atau gejala-gejala berikut: demam (greater than 38\u00baC) atau nyeri lokal, terkecuali biakan insisi negatif. - Ditemukan abses atau bukti lain adanya infeksi yang mengenai insisi dalam pada pemeriksaan langsung, waktu pembedahan ulang, atau dengan pemeriksaan histopatologis atau radiologis. - Dokter yang menangani menyatakan terjadi infeksi. \u00a0 3) Infeksi Daerah Operasi Organ\/Rongga. Infeksi daerah operasi organ\/rongga memiliki kriteria sebagai berikut: a) Infeksi timbul dalam waktu 30 hari setelah prosedur pembedahan, bila tidak dipasang implantatau dalam waktu satu tahun bila dipasang implant\u00a0dan infeksi tampaknya ada hubungannya dengan prosedur pembedahan. b) Infeksi tidak mengenai bagian tubuh manapun, kecuali insisi kulit, fascia atau lapisan lapisan otot yang dibuka atau dimanipulasi selama\u00a0prosedur pembedahan. Pasien paling sedikit menunjukkan satu gejala berikut: a) Drainase purulen dari drain yang dipasang melalui luka tusuk ke dalam organ\/rongga. b) Diisolasi kuman dari biakan yang diambil secara aseptik dari cairan atau jaringan dari dalam organ atau rongga: - Abses atau bukti lain adanya infeksi yang mengenai organ\/rongga yang ditemukan pada pemeriksaan langsung waktu pembedahan ulang atau dengan pemeriksaan histopatologis atau radiologis. - Dokter menyatakan sebagai IDO organ\/rongga. Pencegahan infeksi daerah operasi terdiri dari pencegahan infeksi sebelum operasi (pra bedah), pencegahan infeksi selama operasi dan pencegahan infeksi setelah operasi. 1) Pencegahan Infeksi Sebelum Operasi (Pra Bedah) Persiapan pasien sebelum operasi : - Jika ditemukan ada tanda-tanda infeksi, sembuhkan terlebih dahulu infeksi nya sebelum hari operasi elektif, dan jika perlu tunda hari operasi sampai infeksi tersebut sembuh. - Jangan mencukur rambut, kecuali bila rambut terdapat pada sekitar daerah operasi dan atau akan menggangu jalannya operasi. - Bila diperlukan mencukur rambut, lakukan di kamar bedah beberapa saat sebelum operasi dan sebaiknya menggunakan pencukur listrik (Bila tidak ada pencukur listrik gunakan silet baru). - Kendalikan kadar gula darah pada pasien diabetes dan hindari kadar gula darah yang terlalu rendah sebelum operasi. - Sarankan pasien untuk berhenti merokok, minimun 30 hari sebelum hari elektif operasi. - Mandikan pasien dengan zat antiseptik malam hari sebelum hari operasi. - Cuci dan bersihkan lokasi pembedahan dan sekitarnya untuk menghilangkan kontaminasi sebelum mengadakan persiapan kulit dengan anti septik. - Gunakan antiseptik kulit yang sesuai untuk persiapan kulit. - Oleskan antiseptik pada kulit dengan gerakan melingkar mulai dari bagian tengah menuju ke arah luar. Daerah yang dipersiapkan haruslah cukup luas untuk memperbesar insisi, jika diperlukan membuat insisi baru atau memasang drain bila diperlukan. - Masa rawat inap sebelum operasi diusahakan sesingkat mungkin dan cukup waktu untuk persiapan operasi yang memadai. - Belum ada rekomendasi mengenai penghentian atau pengurangan steroid sistemik sebelum operasi. - Belum ada rekomendasi mengenai makanan tambahan yang berhubungan dengan pencegahan infeksi untuk pra bedah. - Belum ada rekomendasi untuk memberikan mupirocin melalui lubang hidung untuk mencegah IDO. - Belum ada rekomendasi untuk mengusahakan oksigenisasi pada luka untuk mencegah IDO. b) Antiseptik tangan dan lengan untuk tim bedah - Jaga agar kuku selalu pendek dan jangan memakai kuku palsu. - Lakukan kebersihan tangan bedah (surgical scrub) dengan antiseptik yang sesuai. Cuci tangan dan lengan sampai ke siku. - Setelah cuci tangan, lengan harus tetap mengarah ke atas dan di jauhkan dari tubuh supaya air mengalir dari ujung jari ke siku. Keringkan tangan dengan handuk steril dan kemudian pakailah gaun dan sarung tangan. - Bersihkan sela-sela dibawah kuku setiap hari sebelum cuci tangan bedah yang pertama. - Jangan memakai perhiasan di tangan atau lengan. - Tidak ada rekomendasi mengenai pemakaian cat kuku, namun sebaiknya tidak memakai. c) Tim bedah yang terinfeksi atau terkolonisasi - Didiklah dan biasakan anggota tim bedah agar melapor jika mempunyai tanda dan gejala penyakit infeksi dan segera melapor kepada petugas pelayan kesehatan karyawan. - Susun satu kebijakan mengenai perawatan pasien bila karyawan mengidap infeksi yang kemungkinan dapat menular. Kebijakan ini mencakup: -) Tanggung jawab karyawan untuk menggunakan jasa pelayanan medis karyawan dan melaporkan penyakitnya. -) Pelarangan bekerja. -) Ijin untuk kembali bekerja setelah sembuh penyakitnya. -) Petugas yang berwewenang untuk melakukan pelarangan bekerja. - Ambil sampel untuk kultur dan berikan larangan bekerja untuk anggota tim bedah yang memiliki luka pada kulit, hingga infeksi sembuh atau menerima terapi yang memadai. - Bagi anggota tim bedah yang terkolonisasi mikroorganisme seperti AureusBagi anggota tim bedah yang terkolonisasi mikroorganisme seperti S. Aureus\u00a0atau Streptococcus\u00a0grup A tidak perlu dilarang bekerja, kecuali bila ada hubungan epidemiologis dengan penyebaran mikroorganisme tersebut di rumah sakit. 2) Pencegahan Infeksi Selama Operasi a) Ventilasi -) Pertahankan tekanan lebih positif dalam kamar bedah dibandingkan dengan koridor dan ruangan di sekitarnya. -) Pertahankan minimun 15 kali pergantian udara per jam, dengan minimun 3 di antaranya adalah udara segar. -) Semua udara harus disaring, baik udara segar maupun udara hasil resirkulasi. -) Semua udara masuk harus melalui langit-langit dan keluar melalui dekat lantai. -) Jangan menggunakan fogging\u00a0dan sinar ultraviolet di kamar bedah untuk mencegah infeksi IDO. - )Pintu kamar bedah harus selalu tertutup, kecuali bila dibutuhkan untuk lewatnya peralatan, petugas dan pasien. -) Batasi jumlah orang yang masuk dalam kamar bedah. b) Membersihkan dan disinfeksi permukaan lingkungan. -) Bila tampak kotoran atau darah atau cairan tubuh lainnya pada permukaan benda atau peralatan, gunakan disinfektan untuk membersihkannya sebelum operasi dimulai. -) Tidak perlu mengadakan pembersihan khusus atau penutupan kamar bedah setelah selesai operasi kotor. -) Jangan menggunakan keset berserabut untuk kamar bedah ataupun daerah sekitarnya. -) Pel dan keringkan lantai kamar bedah dan disinfeksi permukaan lingkungan atau peralatan dalam kamar bedah setelah selesai operasi terakhir setiap harinya dengan disinfektan. -) Tidak ada rekomendasi mengenai disinfeksi permukaan lingkungan atau peralatan dalam kamar bedah di antara dua operasi bila tidak tampak adanya kotoran. \u00a0 c) Sterilisasi instrumen kamar bedah -) Sterilkan semua instrumen bedah sesuai petunjuk. - ) Laksanakan sterilisasi kilat hanya untuk instrumen yang harus segera digunakan seperti instrumen yang jatuh tidak sengaja saat operasi berlangsung. Jangan melaksanakan sterilisasi kilat dengan alasan kepraktisan, untuk menghemat pembelian instrumen baru atau untuk menghemat waktu. \u00a0 d) Pakaian bedah dan drape. -) Pakai masker bedah dan tutupi mulut dan hidung secara menyeluruh bila memasuki kamar bedah saat operasi akan di mulai atau sedang berjalan, atau instrumen steril sedang dalam keadaan terbuka. Pakai masker bedah selama operasi berlangsung. -) Pakai tutup kepala untuk menutupi rambut di kepala dan wajah secara menyeluruh bila memasuki kamar bedah (semua rambut yang ada di kepala dan wajah harus tertutup). -) Jangan menggunakan pembungkus sepatu untuk mencegah IDO. -) Bagi anggota tim bedah yang telah cuci tangan bedah, pakailah sarung tangan steril. Sarung tangan dipakai setelah memakai gaun steril. -) Gunakan gaun dan drape yang kedap air. -) Gantilah gaun bila tampak kotor, terkontaminasi percikan cairan tubuh pasien. -) Sebaiknya gunakan gaun yang dispossable. \u00a0 e) Teknik aseptik dan bedah. -)Lakukan tehnik aseptik saat memasukkan peralatan intravaskuler (CVP), kateter anastesi spinal atau epidural, atau bila menuang atau menyiapkan obat-obatan intravena. -) Siapkan peralatan dan larutan steril sesaat sebelum penggunaan. -) Perlakukan jaringan dengan lembut, lakukan hemostatis yang efektif, minimalkan jaringan mati atau ruang kosong (deadspace) pada lokasi operasi. -) Biarkan luka operasi terbuka atau tertutup dengan tidak rapat, bila ahli bedah menganggap luka operasi tersebut sangat kotor atau terkontaminasi. -) Bila diperlukan drainase, gunakan drain penghisap tertutup. Letakkan drain pada insisi yang terpisah dari insisi bedah. Lepas drain sesegera mungkin bila drain sudah tidak dibutuhkan lagi. 3) Pencegahan Infeksi Setelah Operasi Perawatan luka setelah operasi: a) Lindungi luka yang sudah dijahit dengan perban steril selama 24 sampai 48 jam paska bedah. b) Lakukan Kebersihan tangan sesuai ketentuan: sebelum dan sesudah mengganti perban atau bersentuhan dengan luka operasi. c) Bila perban harus diganti gunakan tehnik aseptik. d) Berikan pendidikan pada pasien dan keluarganya mengenai perawatan luka operasi yang benar, gejala IDO dan pentingnya melaporkan gejala tersebut. Catatan: -) Belum ada rekomendasi mengenai perlunya menutup luka operasi yang sudah dijahit lebih dari 48 jam ataupun kapan waktu yang tepat untuk mulai diperbolehkan mandi dengan luka tanpa tutup. - Beberapa dokter membiarkan luka insisi operasi yang bersih terbuka tanpa kasa, ternyata dari sudut penyembuhan hasilnya baik. - Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa luka insisi operasi yang bersih dapat pulih dengan baik walaupun tanpa kasa. - Belum ada terbukti tertulis yang mengatakan bertambahnya tingkat kemungkinan terjadinya infeksi bila luka dibiarkan terbuka tanpa kasa. - Namun demikian masih banyak dokter tetap menutup luka operasi dengan kasa steril sesuai dengan prosedur pembedahan, dengan tujuan : a) Menutupi luka terhadap mikroorganisme yang dari tangan. b) Menyerap cairan yang meleleh keluar agar luka cepat kering. c) Memberikan tekanan pada luka supaya dapat menahan perdarahan perdarahan superficial. d) Melindungi ujung luka dari trauma lainnya. Selain pencegahan infeksi daerah operasi diatas, pencegahan infeksi dapat di lakukan dengan penerapan bundles\u00a0IDO yaitu :. 1) Pencukuran rambut, dilakukan jika mengganggu jalannya operasi dan dilakukan sesegera mungkin sebelum tindakan operasi. 2) Antibiotika profilaksis, diberikan satu jam sebelum tindakan operasi dan sesuai dengan empirik. 3) Temperatur tubuh, harus dalam kondisi normal. 4) Kadar gula darah, pertahankan kadar gula darah normal. \u00a0 E, Penerapan PPI Terkait Hais Pada Beberapa Kasus. 1. Multi Drug Resistance Tuberculosis (MDR-TB). Penularan MDR TB samaseperti penularan TB secara airborne, namun Mycobacterium Tuberculosis yang menjadi sumber penularan adalah\u00a0kuman yang resisten terhadap pemberian obat anti tuberkulosis dengan Rifampicin dan Izoniazid.Tatacara PPI pada pasien MDR TB adalah mengikuti prinsip-prinsip kewaspadaan standar dan kewaspadaan transmisi airborne\u00a0harus selalu dilakukan dengan konsisten.Pada petugas medis wajib memakai masker respiratory\u00a0particulate, pada saat memberikan pelayanan baik itu di poliklinik\u00a0maunpun di ruang perawatan.Pasien yang terbukti MDR TB\/suspek\u00a0diwajibkan memakai masker bedah dimanapun berada dan melakukan etiket batuk.Perlu diajarkan pada pasien sampai mengerti dan bahaya menularkan pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Pengobatan dengan pengawasan ketat minum obat adalah upaya penyakit ini bisa dicegah menularkan ke orang lain \u00a0 2. Ebola Virus Disease. Penyakit emerging disease\u00a0sulit diprediksi apa yang akan muncul, namun pencegahan dan pengendalian infeksi akan selalu tergantung dengan pola transmisi dari penyakit yang muncul tersebut. Seperti kasus Ebola saat ini sedang mewabah di Afrika Barat, maka PPI pada kasus ini adalah kewaspadaan standar dan kewaspadaan berdasarkan transmisi penyakit berdasarkan kontak. Pencegahan dengan memakai APD yang bisa melindungi petugas atau orang lain yang kontak dengan pasien Ebola. Adapun beberapa hal yang di rekomendasikan WHO untuk penyakit Ebola adalah sebagai berikut: a) Penerapan kewaspadaan standar pada semua pasien terlepas dari gejala dan tanda yang ada. b) Isolasi pasien suspek atau konfirmasi Ebola dalam ruangan tersendiri (single bed) atau jika tidak memungkinkan bisa di kohort dengan pasien diagnosis yang sama. Tidak boleh mencampurkan pasien suspek dan konfirmasi didalam satu kamar\/ruangan. Pastikan aksesnya aman dan terbatas hanya untuk yang berkepentingan serta tersedianya alat-alat yang memadai khusus untuk pasien yang dirawat tersebut. c) Perlu penunjukkan petugas khusus (terlatih) untuk penanganan kasus Ebola dengan tugas-tugas yang sudah dirincikan dengan baik. d) Pastikan semua petugas atau pengunjung memakai APD yang lengkap saat memasuki ruangan dan melakukan kebersihan tangan (hand hygiene) secara teratur sesuai \u2018five moments\u2019 dari WHO. Adapun APD yang digunakan adalah minimal: sarung tangan, gaun, bootatau sepatu tertutup dilapis dengan shoe cover, masker, dan penutup mata (google\u00a0atau face shield) untuk melindungi dari cipratan. Selalu lakukan \u2018risk assessment\u2019 untuk menentukan APD yang akandigunakan. (Tambahan: Beberapa\u00a0rekan ahli menyarankan face shield\u00a0karena lebih dapat\u00a0\u00a0rekan ahli menyarankan face shield\u00a0karena lebih dapat memberikan perlindungan dari percikan terhadap wajah\u00a0dibandingkan dengan google\u00a0yang hanya menutup bagian mata dan terkadang berembun sehingga kesulitan untuk melihat). e) Pastikan suntikan dan prosedur flebotomi dilakukan dengan aman serta management limbah tajam. Limbah tajam ditempatkan pada kontainer khusus yang tahan tusukan. f) Pastikan dilakukan pembersihan lingkungan yang potensial tercemar dengan baik, lakukan dekontaminasi pada permukaan alat yang dipakai, penanganan linen kotor serta sampah\/limbah yang ada. Dalam proses ini, pastikan petugas yang melakukan kegiatan tersebut juga terlindungi dan menggunakan APD yang sesuai dan melakukan hand hygienesecara teratur. g) Pastikan pengelolaan sampel di laboratorium dilakukan dengan aman. h) Pastikan pengelolaan mayat dilakukan dengan prinsip pengendalian infeksi yang ketat sampai dengan pemakaman. Lakukan evaluasi segera atau perawatan dan jika diperlukan dilakukan isolasi pada petugas kesehatan atau seseorang yang terpajan dengan darah atau cairan tubuhdari pasien suspek atau konfirmasi ebola. \u00a0\" data-rvtts-voice=\"Indonesian Female\" data-rvtts-brand-url=\"https:\/\/responsivevoice.org\/?utm_source=wordpress-plugin&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=powered-by\" data-rvtts-brand-label=\"Powered by ResponsiveVoice\"><svg class=\"rvtts-icon\" width=\"22\" height=\"22\" viewBox=\"0 0 22 22\" fill=\"currentColor\" aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\"><path fill-rule=\"evenodd\" clip-rule=\"evenodd\" d=\"M11 0C4.92345 0 0 4.92345 0 11C0 13.2683 0.690345 15.3772 1.86621 17.1221L0.811724 21.0517L4.70345 20.0124C6.48621 21.2641 8.65586 22 11 22C17.0766 22 22 17.0766 22 11C22 4.92345 17.0766 0 11 0ZM3.99793 9.99862C3.99793 9.44483 4.44552 8.99724 4.99931 8.99724C5.5531 8.99724 6.00069 9.44483 6.00069 9.99862V12.0014C6.00069 12.5552 5.5531 13.0028 4.99931 13.0028C4.44552 13.0028 3.99793 12.5552 3.99793 12.0014V9.99862ZM8.99724 13.9966C8.99724 14.5503 8.54966 14.9979 7.99586 14.9979C7.44207 14.9979 6.99448 14.5503 6.99448 13.9966V7.99586C6.99448 7.44207 7.44207 6.99448 7.99586 6.99448C8.54966 6.99448 8.99724 7.44207 8.99724 7.99586V13.9966ZM12.0014 17.0007C12.0014 17.5545 11.5538 18.0021 11 18.0021C10.4462 18.0021 9.99862 17.5545 9.99862 17.0007V4.99931C9.99862 4.44552 10.4462 3.99793 11 3.99793C11.5538 3.99793 12.0014 4.44552 12.0014 4.99931V17.0007ZM14.9979 13.9966C14.9979 14.5503 14.5503 14.9979 13.9966 14.9979C13.4428 14.9979 12.9952 14.5503 12.9952 13.9966V7.99586C12.9952 7.44207 13.4428 6.99448 13.9966 6.99448C14.5503 6.99448 14.9979 7.44207 14.9979 7.99586V13.9966ZM18.0021 12.0014C18.0021 12.5552 17.5545 13.0028 17.0007 13.0028C16.4469 13.0028 15.9993 12.5552 15.9993 12.0014V9.99862C15.9993 9.44483 16.4469 8.99724 17.0007 8.99724C17.5545 8.99724 18.0021 9.44483 18.0021 9.99862V12.0014Z\"\/><\/svg><span class=\"responsivevoice-button__label\">Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button><\/span><\/p>\n<h3><span style=\"color: #000000;\"><strong>BAB 3 &#8211;\u00a0Cara Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan Dengan Bundles H A Is.<\/strong><\/span><\/h3>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pemakaian peralatan perawatan pasien dan tindakan operasi terkait pelayanan kesehatan merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan. Pemakaian dan tindakan ini akan membuka jalan masuk kuman yang dapat menimbulkan risiko infeksi tinggi. Untuk itu diperlukan PPI terkait dengan pelayanan kesehatan tersebut melalui penerapan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya HAIs. Berikut dibahas <em><i>bundles <\/i><\/em>terhadap 4 (empat) risiko infeksi yang dapat menyebabkan<em><i>\u00a0<\/i><\/em>peningkatan morbiditas, mortalitas dan beban pembiayaan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><\/i><em><i>1. Ventilator Associated Pneumonia <\/i><\/em>(VAP)<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"><em><i>Ventilator \u00a0\u00a0Associated \u00a0\u00a0Pneumonia \u00a0<\/i><\/em>(VAP) \u00a0\u00a0merupakan \u00a0\u00a0infeksi\u00a0pneumonia yang terjadi setelah 48 jam pemakaian ventilasi mekanik baik pipa endotracheal maupun tracheostomi. Beberapa tanda infeksi berdasarkan penilaian klinis pada pasien VAP yaitu demam, takikardi, batuk, perubahan warna sputum. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan jumlah leukosit dalam darah dan pada <em><i>rontgent <\/i><\/em>didapatkan gambaran infiltrat baru atau persisten. Adapun<em><i>\u00a0<\/i><\/em>diagnosis VAP ditentukan berdasarkan tiga komponen tanda infeksi sistemik yaitu demam, takikardi dan leukositosis yang disertai dengan gambaran infiltrat baru ataupun perburukan di foto toraks dan penemuan bakteri penyebab infeksi paru.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"><em><i>Bundles <\/i><\/em>pada pencegahan dan Pengendalian VAP sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Membersikan tangan setiap akan melakukan kegiatan terhadap pasien yaitu dengan menggunakan lima momen kebersihan tangan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">2. Posisikan tempat tidur antara 30-45Obila tidak ada kontra indikasi misalnya trauma kepala ataupun cedera tulang belakang.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">3. Menjaga kebersihan mulut atau <em><i>oral hygiene<\/i><\/em>\u00a0setiap 2-4 jam dengan menggunakan bahan dasar anti septik <em><i>clorhexidine<\/i><\/em>\u00a00,02% dan dilakukan gosok gigi setiap 12 jam untuk mencegah timbulnya <em><i>flaque<\/i><\/em>\u00a0pada gigi karena <em><i>flaque<\/i><\/em>\u00a0merupakan media\u00a0tumbuh kembang bakteri patogen yang pada akhirnya akan masuk ke dalam paru pasien.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">4. Manajemen sekresi oroparingeal dan trakeal yaitu:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\"><em><i>a. Suctioning <\/i><\/em>bila dibutuhkan saja dengan memperhatikan<i><\/i>teknik aseptik bila harus melakukan tindakan tersebut.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Petugas yang melakukan <em><i>suctioning<\/i><\/em>pada pasien yang terpasang <em><i>ventilator<\/i><\/em>\u00a0menggunakan alat pelindung diri (APD).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Gunakan kateter <em><i>suction<\/i><\/em>sekali pakai.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d. Tidak sering membuka selang\/<em><i>tubing ventilator<\/i><\/em>.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> e. Perhatikan kelembaban pada <em><i>humidifire ventilator<\/i><\/em>.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> <em><i>f. Tubing ventilator <\/i><\/em>diganti bila kotor.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">5.\u00a0 Melakukan pengkajian setiap hari \u2018sedasi dan extubasi\u201d:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Melakukan pengkajian penggunaan obat sedasi dan dosis obat tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">b. Melakukan pengkajian secara rutin akan respon pasien terhadap penggunaan obat sedasi tersebut. Bangunkan pasien setiap hari dan menilai responnya untuk melihat apakah sudah dapat dilakukan penyapihan modus pemberian ventilasi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\"><em><i>6. Peptic ulcer disease Prophylaxis <\/i><\/em>diberikan pada pasien-pasien<i><\/i>dengan risiko tinggi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\"><em><i>7. Berikan Deep Vein Trombosis <\/i><\/em>(DVT)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>B. Infeksi Aliran Darah (Iad).<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Infeksi Aliran Darah (<em><i>Blood Stream Infection<\/i><\/em>\/BSI<em><i>)<\/i><\/em>\u00a0dapat terjadi\u00a0pada pasien yang menggunakan alat sentral intra vaskuler (CVC <em><u><i>Line<\/i><\/u><\/em><u>)<\/u>\u00a0setelah 48 jam dan ditemukan tanda atau gejala infeksi yang dibuktikan dengan hasil kultur positif bakteri patogen yang tidak berhubungan dengan infeksi pada organ tubuh yang lain dan bukan infeksi sekunder, dan disebut sebagai <em><i>Central Line Associated Blood<\/i><\/em>\u00a0<em><i>Stream Infection <\/i><\/em>(CLABSI).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-106 size-full\" src=\"https:\/\/akreditasi.my.id\/ppirs\/wp-content\/uploads\/2018\/01\/alur-infeksi-saluran-darah.png\" alt=\"\" width=\"417\" height=\"286\" srcset=\"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-content\/uploads\/2018\/01\/alur-infeksi-saluran-darah.png 417w, https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-content\/uploads\/2018\/01\/alur-infeksi-saluran-darah-300x206.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 417px) 100vw, 417px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Gambar 36. Alur kemungkinan terjadinya infeksi melalui aliran darah.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><em><i>Bundles <\/i><\/em>mencegah Infeksi Aliran Darah (IAD), sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">1, Melakukan prosedur kebersihan tangan dengan menggunakan sabun dan air atau cairan antiseptik berbasis alkohol, pada saat antara lain:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Sebelum dan setelah meraba area insersi kateter.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Sebelum dan setelah melakukan persiapan pemasangan intra vena.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Sebelum dan setelah melakukan palpasi area insersi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d. Sebelum dan setelah memasukan, mengganti, mengakses, memperbaiki atau <em><i>dressing.<br \/>\n<\/i><\/em>e. Ketika tangan diduga terkontaminasi atau kotor.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> f. Sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan invasif.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> g. Sebelum menggunakan dan setelah melepas sarung tangan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">2,\u00a0 Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Penggunaan APD pada tindakan invasif (tindakan membuka kulit dan pembuluh darah) direkomendasikan pada saat:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> a) Pada tindakan pemasangan alat intra vena sentral maka APD yang harus digunakan adalah topi, masker, gaun steril dan sarung tangan steril. APD ini harus dikenakan oleh petugas yang terkait memasang atau membantu dalam proses pemasangan <em><i>central line<\/i><\/em>.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b) Penutup area pasien dari kepala sampai kaki dengan kain steril dengan lubang kecil yang digunakan untuk area insersi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c) Kenakan sarung tangan bersih, bukan steril untuk pemasanagan kateter intra vena perifer.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d) Gunakan sarung tangan baru jika terjadi pergantian kateter yang diduga terkontaminasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> e) Gunakan sarung tangan bersih atau steril jika melakukan perbaikan (dressing) kateter intra vena.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">3, Antiseptik Kulit.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Bersihkan area kulit disekitar insersi dengan menggunakan cairan antiseptik (alkohol 70% atau larutan <em><i>klorheksidin glukonat<\/i><\/em>\u00a0alkohol 2-4%) dan biarkan antiseptik mengering sebelum dilakukan penusukan\/insersi kateter. Antiseptik adalah zat yang biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh mikroorganisme berbahaya (patogenik) yang terdapat pada permukaan tubuh luar makhluk hidup\/jaringan hidup atau kulit untuk mengurangi kemungkinan infeksi. Penggunaan cairan antiseptik dilakukan segera sebelum dilakukan insersi mengingat sifat cairan yang mudah menguap dan lakukan <em><i>swab<\/i><\/em>\u00a0dengan posisi melingkar dari area tengah keluar.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Persyaratan memilih cairan antiseptik antara lain:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Aksi yang cepat dan aksi mematikan yang berkelanjutan,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b) Tidak menyebabkan iritasi pada jaringan ketika digunakan,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c) Non-alergi terhadap subjek,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d) Tidak ada toksisitas sistemik (tidak diserap)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> e) Tetap aktif dengan adanya cairan tubuh misalnya: darah atau nanah.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">4, Pemilihan lokasi insersi kateter.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Pemasangan kateter vena sentral sebaiknya mempertimbangkan faktor risiko yang akan terjadi dan pemilihan lokasi insersi dilakukan dengan mempertimbangkan risiko yang paling rendah. Vena subklavia adalah pilihan yang berisiko rendah untuk kateter<em><i>non-tunneled catheter<\/i><\/em>\u00a0pada orang dewasa.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Pertimbangkan risiko dan manfaat pemasangan kateter vena sentral untuk mengurangi komplikasi infeksi terhadap risiko komplikasi mekanik (misalnya, pneumotoraks, tusukan arteri subclavia, hemotoraks, trombosis, emboli udara, dan lain-lain).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Hindari menggunakan vena femoralis untuk akses vena sentral pada pasien dewasa dan sebaiknya menggunakan\u00a0vena subclavia untuk mempermudah penempatan kateter vena sentral.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) hindari penggunaan vena subclavia pada pasien hemodialisis dan penyakit ginjal kronis.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">d) Gunakan panduan <em><i>ultra sound<\/i><\/em>saat memasang kateter vena sentral.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">e) Gunakan CVC dengan jumlah <em><i>minimum port<\/i><\/em>atau lumen penting untuk pengelolaan pasien.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">f) Segera lepaskan kateter jika sudah tidak ada indikasi lagi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">5, Observasi rutin kateter vena sentral setiap hari.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Pasien yang terpasang kateter vena sentral dilakukan pengawasan rutin setiap hari dan segera lepaskan jika sudah tidak ada indikasi lagi karena semakin lama alat intravaskuler terpasang maka semakin berisiko terjadi infeksi. Beberapa rekomendasi dalam pemakaian alat intravaskular sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1) Pendidikan dan Pelatihan Petugas Medis.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Laksanakan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan bagi petugas medis yang materinya menyangkut indikasi pemakaian alat intravaskuler, prosedur pemasangan kateter, pemeliharaan peralatan intravaskuler dan pencegahan infeksi saluran darah sehubungan dengan pemakaian kateter. Metode <em><i>audiovisual<\/i><\/em>\u00a0dapat digunakan sebagai alat bantu yang baik dalam pendidikan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">2) Surveilans infeksi aliran darah.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Laksanakan surveilans untuk menentukan angka infeksi masing-masing jenis alat, untuk memonitor kecenderungan angka-angka tersebut dan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dalam praktek pengendalian infeksi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Raba dengan tangan (palpasi) setiap hari lokasi pemasangan kateter melalui perban untuk mengetahui adanya pembengkakan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Periksa secara visual lokasi pemasangan kateter untuk mengetahui apakah ada pembengkakan, demam tanpa adanya penyebab yang jelas, atau gejala infeksi lokal atau infeksi bakterimia.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">d) Pada pasien yang memakai perban tebal sehingga susah diraba atau dilihat, lepas perban terlebih dahulu, periksa secara visual setiap hari dan pasang perban baru.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">e) Catat tanggal dan waktu pemasangan kateter di lokasi yang dapat dilihat dengan jelas.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">3) Kebersihan tangan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Kebersihan tangan dilakukan sebelum dan sesudah palpasi, pemasangan alat intravaskuler, penggantian alat intravaskuler, atau memasang perban.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">4) Penggunaan APD, Pemasangan dan Perawatan Kateter.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Gunakan sarung tangan pada saat memasang alat intravaskuler seperti dalam <em><i>standard Bloodborne<\/i><\/em><em><i>Pathogens <\/i><\/em>yang dikeluarkan oleh<em><i>\u00a0Occupational Safety and Health Administration <\/i><\/em>(OSHA).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Gunakan sarung tangan saat mengganti perban alat intravaskuler.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">5) Pemasangan Kateter.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Jangan menyingkat prosedur pemasangan kateter yang sudah ditentukan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">6) Perawatan Luka Kateterisasi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Antiseptik Kulit<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">1) Sebelum pemasangan kateter, bersihkan kulit di lokasi dengan antiseptik yang sesuai, biarkan antiseptik mengering pada lokasi sebelum memasang.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2) Bila dipakai <em><i>iodine tincture<\/i><\/em>untuk membersihkan kulit sebelum pemasangan kateter, maka harus dibilas dengan alkohol.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3) Jangan melakukan palpasi pada lokasi setelah kulit dibersihkan dengan antiseptik (lokasi dianggap daerah).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4) Perban Kateter<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Gunakan kasa steril atau perban transparan untuk menutup lokasi pemasangan kateter.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Ganti perban bila alat dilepas atau diganti, atau bila perban basah, longgar atau kotor. Ganti perban lebih sering bagi pasien diaphoretic.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Hindari sentuhan yang mengkontaminasi lokasi kateter saat mengganti perban.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b)\u00a0 Pemilihan dan Penggantian Alat Intravaskuler<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">1) Pilih alat yang risiko komplikasinya relatif rendah dan harganya paling murah yang dapat digunakan untuk terapi intravena dengan jenis dan jangka waktu yang sesuai. Keberuntungan penggantian alat sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan untuk mengurangi komplikasi infeksi harus dipertimbangkan dengan mengingat komplikasi mekanis dan keterbatasan alternatif lokasi pemasangan. Keputusan yang diambil mengenai jenis alat dan frekuensi penggantiannya harus melihat kasus per kasus.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">2) Lepas semua jenis peralatan intravaskuler bila sudah tidak ada indikasi klinis.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Pengganti Perlengkapan dan Cairan Intra Vena<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">1) Set Perlengkapan<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">Secara umum, set perlengkapan intravaskular terdiri atas seluruh bagian mulai dari ujung selang yang masuk ke kontainer cairan infus sampai ke hubungan alat vaskuler. Namun kadang-kadang dapat dipasang selang penghubung pendek pada kateter dan dianggap sebagai bagian dari kateter untuk memudahkan dijalankannya tehnik saat\u00a0mengganti set perlengkapan. Ganti selang penghubung tersebut bila alat vaskuler diganti.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Ganti selang IV, termasuk selang <em><i>piggyback<\/i><\/em>dan <em><i>stopcock<\/i><\/em>, dengan interval yang tidak kurang dari 72<em><i>\u00a0<\/i><\/em>jam, kecuali bila ada indikasi klinis.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Belum ada rekomendasi mengenai frekuensi penggantian selang IV yang digunakan untuk <em><i>infuse<\/i><\/em><em><i>intermittent<\/i><\/em>.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Ganti selang yang dipakai untuk memasukkan darah, komponen darah atau emulsi lemak dalam 24 jam dari diawalinya infus.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">2) Cairan Parentral.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Rekomendasi tentang waktu pemakaian cairan IV, termasuk juga cairan nutrisi parentral yang tidak mengandung lemak sekurang-kurangnya 96 jam.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Infus harus diselesaikan dalam 24 jam untuk satu botol cairan parentral yang mengandung lemak.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Bila hanya emulsi lemak yang diberikan, selesaikan infus dalam 12 jam setelah botol emulsi mulai digunakan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">7) Port Injeksi Intravena<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Bersihkan port injeksi dengan alkohol 70 % atau <em><i>povidone-iodine <\/i><\/em>sebelum mengakses sistem.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">8) Persiapan dan Pengendalian Mutu Campuran Larutan Intravena<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Campurkan seluruh cairan perentral di bagian farmasi dalam <em><i>Laminar-flow hood<\/i><\/em>menggunakan tehnik aseptik.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Periksa semua kontainer cairan parentral, apakah ada kekeruhan, kebocoran, keretakan, partikel dan tanggal kedaluarsa dari pabrik sebelum penggunaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Pakai vial dosis tunggal aditif parenteral atau obat-obatan bilamana mungkin.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">d) Bila harus menggunakan vial multi dosis<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">\u207b\u00a0 Dinginkan dalam kulkas vial multi dosis yang\u00a0dibuka, bila direkomendasikan oleh pabrik.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u207b Bersihkan karet penutup vial multi dosis dengan\u00a0alkohol sebelum menusukkan alat ke vial.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Gunakan alat steril setiap kali akan mengambil cairan dari vial multi dosis, dan hindari kontaminasi alat sebelum menembus karet vial.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Buang vial multi dosis bila sudah kosong, bila dicurigai atau terlihat adanya kontaminasi, atau bila telah mencapai tanggal kedaluarsa.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"><i><\/i><em><i>9) Filtre In Line :\u00a0<\/i><\/em>Jangan digunakan secara rutin untuk pengendalian infeksi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">10) Petugas Terapi Intravena :\u00a0Tugaskan personel yang telah untuk pemasangan dan pemeliharaan peralatan intravaskuler.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">11) Alat Intravaskuler Tanpa Jarum :\u00a0Belum ada rekomendasi mengenai pemakaian, pemeliharaan atau frekuensi penggantian IV tanpa jarum.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">12) Profilaksis Antimikroba :\u00a0Jangan memberikan antimikroba sebagai prosedur rutin sebelum pemasangan atau selama pemakaian alat intravaskuler untuk mencegah kolonisasi kateter atau infeksi bakterimia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>C, Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Saluran Kemih (Isk).<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1) Diagnosis Infeksi Saluran Kemih.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Urin Kateter terpasang \u2265 48 jam.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Gejala klinis: demam, sakit pada suprapubik dan nyeri pada sudut <em><i>costovertebra<\/i><\/em>.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Kultur urin positif \u2265 105<em><i>Coloni Forming Unit<\/i><\/em>\u00a0(CFU) dengan 1 atau 2 jenis mikroorganisme dan Nitrit dan\/atau leukosit esterase positif dengan carik celup (<em><i>dipstick<\/i><\/em>).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">2) Faktor risiko Infeksi Saluran Kemih (ISK).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Diagnosis ISK akan sulit dilakukan pada pasien dengan pemasangan kateter jangka panjang, karena bakteri tersebut sudah berkolonisasi, oleh karena itu penegakan diagnosa infeksi dilakukan dengan melihat tanda klinis pasien sebagai acuan selain hasil biakan kuman dengan jumlah&gt;102\u00a0\u2013 103\u00a0cfu\/ml dianggap sebagai indikasi infeksi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Faktor risiko tersebut antara lain:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Lama pemasangan kateter &gt; 6 \u2013 30 hari berisiko terjadi infeksi,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Gender wanita,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Diabetes, malnutrisi, <em><i>renal insufficiency,<br \/>\n<\/i><\/em>&#8211; Monitoring <em><i>urine out put,<br \/>\n<\/i><\/em>&#8211; Posisi <em><i>drainage\u00a0<\/i><\/em>kateter lebih rendah dari <em><i>urine bag,<br \/>\n<\/i><\/em>&#8211; Kontaminasi selama pemasangan kateter urin,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Inkontinensia fekal (kontaminasi E.coli pada wanita),<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Rusaknya sirkuit kateter urin.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Komponen kateter urin<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Materi kateter: <em><i>Latex, Silicone, Silicone-elastomer,<\/i><\/em><em><i>Hydrogel-coated, Antimicrobial-coated, Plastic.<br \/>\n<\/i><\/em>&#8211; Ukuran kateter : 14 \u2013 18 French (French adalah skala kateter yang digunakan dengan mengukur lingkar luar kateter).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Balon kateter: diisi cairan 30 cc.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Kantong urin dengan ukuran 350 \u2013 750 cc.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Indikasi Pemasangan Kateter Urin Menetap.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Retensi urin akut atau obstruksi,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Tindakan operasi tertentu,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Membantu penyembuhan perinium dan luka sakral pada pasien inkontinensia,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Pasien <em><i>bedrest<\/i><\/em>dengan perawatan paliatif,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Pasien immobilisasi dengan trauma atau operasi,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Pengukuran <em><i>urine out put<\/i><\/em>pada pasien kritis.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">d) Prosedur Pemasangan Kateter Urin Menetap.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Prosedur pemasangan urin kateter menetapdilakukan dengan tehnik aseptik, sebelum dimulai periksa semua peralatan kesehatan yang dibutuhkan yang terdiri dari :<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Sarung tangan steril,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Antiseptik yang <em><i>non toxic,<br \/>\n<\/i><\/em>&#8211; Swab atau <em><i>cotton wool,<br \/>\n<\/i><\/em>&#8211; Handuk kertas steril (dok steril),<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Gel lubrikasi anastesi,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Katater urin sesuai ukuran,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> <em><i>&#8211; Urine bag,<br \/>\n<\/i><\/em><em><i>&#8211; Syringe spuite <\/i><\/em>dengan cairan<em><i>aquabidest <\/i><\/em>atau<em><i>\u00a0saline <\/i><\/em>untuk mengisi balon kateter.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"color: #000000;\">&#8220;Sebelum memulai prosedur lakukan kebersihan tangan menggunakan cairan antiseptik atau alkohol handrubs, keringkan tangan dan gunakan sarung tangan steril&#8221;<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Kateterisasi saluran kemih sebaiknya dilakukan jika ada indikasi klinis yang memerlukan tidakan spesifik penggunaan urine kateter, karena kateterisasi urine akan menimbulkan dampak risiko infeksi pada saluran kemih. Penggunaan metode saluran urine sistem tertutup telah terbukti nyata mengurangi risiko kejadian infeksi. Teknik aseptik yang dilakukan dengan benar sangat penting dalam pemasangan dan perawatan urine kateter,\u00a0dan kebersihan tangan merupakan metode pertahanan utama terhadap risiko kontaminasi bakteri penyebab infeksi bakteri sekunder pada saat pemasangan kateter. Kewaspadaan standar harus dipertahankan saat kontak dengan urine dan atau cairan tubuh lainnya. Sistim gravitasi perlu diperhatikan dalam sistim drainase dan pencegahan aliran balik urine, sehingga pastikan bahwa <em><i>urine bag<\/i><\/em>\u00a0selalu berada pada posisi lebih rendah dari uretra dengan mengikatkannya pada tempat tidur dan tidak terletak dilantai serta hindari terjadi tekukan pada saluran kateter urine.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"><i><\/i><em><i>3) Bundles <\/i><\/em>Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Kemih:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Pemasangan urine kateter digunakan hanya sesuai indikasi Pemasangan kateter urine digunakan hanya sesuai indikasi yang sangat diperlukan seperti adanya retensi urine, obstruksi kandung kemih, tindakan operasi tertentu, pasien <em><i>bedrest, <\/i><\/em>monitoring<em><i>urine out put<\/i><\/em>. jika masih dapat dilakukan<em><i>\u00a0<\/i><\/em>tindakan lain maka pertimbangkan untuk pemakaian kondom atau pemasangan <em><i>intermitten<\/i><\/em>. Lepaskan kateter urine sesegera mungkin jika sudah tidak sesuai indikasi lagi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Lakukan kebersihan tangan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Kebersihan tangan dilakukan dengan mematuhi 6 (enam) langkah melakukan kebersihan tangan, untuk mencegah terjadi kontaminasi silang dari tangan petugas saat melakukan pemasangan urine kateter.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Teknik insersi<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Teknik aseptik perlu dilakukan untuk mencegah kontaminasi bakteri pada saat pemasangan kateter dan gunakan peralatan steril dan sekali pakai pada peralatan kesehatan sesuai ketentuan. Sebaiknya pemasangan urine kateter dilakukan oleh orang yang ahli atau terampil.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">d) Pengambilan spesimen<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Gunakan sarung tangan steril dengan tehnik aseptik. Permukaan selang kateter swab alkohol kemudian tusuk kateter dengan jarum suntik untuk pengambilan <em><i>sample urine<\/i><\/em>\u00a0(jangan membuka kateter untuk mengambil sample urine), jangan mengambil<em><i>sample urine<\/i><\/em>\u00a0dari <em><i>urine bag<\/i><\/em>. Pengambilan sample urine dengan <em><i>indwelling<\/i><\/em>\u00a0kateter diambil hanya bila ada indikasi klinis.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">e) Pemeliharaan kateter urine<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Pasien dengan menggunakan kateter urine seharus dilakukan perawatan kateter dengan mempertahankan kesterilan sistim drainase tertutup, lakukan kebersihan tangan sebelum dan sesudah memanipulasi kateter, hindari sedikit mungkin melakukan buka tutup urine kateter karena akan menyebabkan masuknya bakteri, hindari meletakannya di lantai, kosongkan <em><i>urine bag<\/i><\/em>\u00a0secara teratur dan hindari kontaminasi bakteri. Menjaga posisi <em><i>urine bag<\/i><\/em>\u00a0lebih rendah dari pada kandung kemih, hindari irigasi rutin, lakukan perawatan meatus dan jika terjadi kerusakan atau kebocoran pada kateter lakukan perbaikan dengan tehnik aseptik.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">f) Melepaskan kateter<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Sebelum membuka kateter urine keluarkan cairan dari balon terlebih dahulu, pastikan balon sudah mengempes sebelum ditarik untuk mencegah trauma, tunggu selama 30 detik dan biarkan cairan mengalir mengikuti gaya gravitasi sebelum menarik kateter untuk dilepaskan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>D, Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Daerah Operasi (IDO).<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Pengendalian Infeksi Daerah Operasi (IDO) atau <em><i>Surgical Site<\/i><\/em>\u00a0<em><i>Infections <\/i><\/em>(SSI) adalah suatu cara yang dilakukan untuk mencegah dan<em><i>\u00a0<\/i><\/em>mengendalikan kejadian infeksi setelah tindakan operasi, misalnyaoperasi mata.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong><em>Risiko Infeksi daerah Operasi = ( Jumlah bakteri yang masuk X virelensi ) \/ resistensi pasien.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Paling banyak infeksi daerah operasi bersumber dari patogen flora endogenous kulit pasien, membrane mukosa. Bila membrane mukosa atau kulit di insisi, jaringan tereksposur risiko dengan flora <em><i>endogenous. <\/i><\/em>Selain itu terdapat sumber<em><i>\u00a0exogenous <\/i><\/em>dari infeksi daerah<em><i>\u00a0<\/i><\/em>operasi. Sumber <em><i>exogenous<\/i><\/em>\u00a0tersebut adalah:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1) Tim bedah,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2) Lingkungan ruang operasi,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3) Peralatan, instrumen dan alat kesehatan,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4) Kolonisasi mikroorganisme,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 5) Daya tahan tubuh lemah,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 6) Lama rawat inap pra bedah.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Kriteria Infeksi Daerah Operasi<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"><u>1) Infeksi Daerah Operasi Superfisial<\/u><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Infeksi daerah operasi superfisial harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut ini:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari pasca bedah dan hanya meliputi kulit, subkutan atau jaringan lain diatas fascia.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Terdapat paling sedikit satu keadaan berikut:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Pus keluar dari luka operasi atau drain yang dipasang diatas fascia, &#8211; Biakan positif dari cairan yang keluar dari luka atau jaringan yang diambil secara aseptik,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Terdapat tanda\u2013tanda peradangan (paling sedikit terdapat satu dari tanda-tanda infeksi berikut: nyeri, bengkak lokal, kemerahan dan hangat lokal), kecuali jika hasil biakan negatif.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Dokter yang menangani menyatakan terjadi infeksi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"><u>2) Infeksi Daerah Operasi Profunda\/<\/u><em><u><i>Deep Incisional<\/i><\/u><\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Infeksi daerah operasi profunda harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut ini:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari pasca bedah atau sampai satu tahun pasca bedah (bila ada implant berupa <em><i>non human derived implant <\/i><\/em>yang dipasang permanan) dan meliputi<i><\/i>jaringan lunak yang dalam (misal lapisan fascia dan otot) dari insisi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Terdapat paling sedikit satu keadaan berikut:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Pus keluar dari luka insisi dalam tetapi bukan berasal dari komponen organ\/rongga dari daerah pembedahan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Insisi dalam secara spontan mengalami dehisens atau dengan sengaja dibuka oleh ahli bedah bila pasien mempunyai paling sedikit satu dari tanda-tanda atau gejala-gejala berikut: demam (&gt; 38\u00baC) atau nyeri lokal, terkecuali biakan insisi negatif.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Ditemukan abses atau bukti lain adanya infeksi yang mengenai insisi dalam pada pemeriksaan langsung, waktu pembedahan ulang, atau dengan pemeriksaan histopatologis atau radiologis.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Dokter yang menangani menyatakan terjadi infeksi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"><u>3) Infeksi Daerah Operasi Organ\/Rongga.<\/u><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Infeksi daerah operasi organ\/rongga memiliki kriteria sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Infeksi timbul dalam waktu 30 hari setelah prosedur pembedahan, bila tidak dipasang <em><i>implant<\/i><\/em>atau dalam waktu satu tahun bila dipasang <em><i>implant<\/i><\/em>\u00a0dan infeksi tampaknya ada hubungannya dengan prosedur pembedahan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Infeksi tidak mengenai bagian tubuh manapun, kecuali insisi kulit, fascia atau lapisan lapisan otot yang dibuka atau dimanipulasi selama\u00a0prosedur pembedahan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Pasien paling sedikit menunjukkan satu gejala berikut:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Drainase purulen dari drain yang dipasang melalui luka tusuk ke dalam organ\/rongga.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Diisolasi kuman dari biakan yang diambil secara aseptik dari cairan atau jaringan dari dalam organ atau rongga:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Abses atau bukti lain adanya infeksi yang mengenai organ\/rongga yang ditemukan pada pemeriksaan langsung waktu pembedahan ulang atau dengan pemeriksaan histopatologis atau radiologis.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Dokter menyatakan sebagai IDO organ\/rongga.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Pencegahan infeksi daerah operasi terdiri dari pencegahan infeksi sebelum operasi (pra bedah), pencegahan infeksi selama operasi dan pencegahan infeksi setelah operasi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">1) Pencegahan Infeksi Sebelum Operasi (Pra Bedah)<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">Persiapan pasien sebelum operasi : <\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jika ditemukan ada tanda-tanda infeksi, sembuhkan terlebih dahulu infeksi nya sebelum hari operasi elektif, dan jika perlu tunda hari operasi sampai infeksi tersebut sembuh.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jangan mencukur rambut, kecuali bila rambut terdapat pada sekitar daerah operasi dan atau akan menggangu jalannya operasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Bila diperlukan mencukur rambut, lakukan di kamar bedah beberapa saat sebelum operasi dan sebaiknya menggunakan pencukur listrik (Bila tidak ada pencukur listrik gunakan silet baru).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Kendalikan kadar gula darah pada pasien diabetes dan hindari kadar gula darah yang terlalu rendah sebelum operasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Sarankan pasien untuk berhenti merokok, minimun 30 hari sebelum hari elektif operasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Mandikan pasien dengan zat antiseptik malam hari sebelum hari operasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Cuci dan bersihkan lokasi pembedahan dan sekitarnya untuk menghilangkan kontaminasi sebelum mengadakan persiapan kulit dengan anti septik.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Gunakan antiseptik kulit yang sesuai untuk persiapan kulit.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Oleskan antiseptik pada kulit dengan gerakan melingkar mulai dari bagian tengah menuju ke arah luar. Daerah yang dipersiapkan haruslah cukup luas untuk memperbesar insisi, jika diperlukan membuat insisi baru atau memasang drain bila diperlukan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Masa rawat inap sebelum operasi diusahakan sesingkat mungkin dan cukup waktu untuk persiapan operasi yang memadai.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Belum ada rekomendasi mengenai penghentian atau pengurangan steroid sistemik sebelum operasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Belum ada rekomendasi mengenai makanan tambahan yang berhubungan dengan pencegahan infeksi untuk pra bedah.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Belum ada rekomendasi untuk memberikan mupirocin melalui lubang hidung untuk mencegah IDO.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Belum ada rekomendasi untuk mengusahakan oksigenisasi pada luka untuk mencegah IDO.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Antiseptik tangan dan lengan untuk tim bedah<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jaga agar kuku selalu pendek dan jangan memakai kuku palsu.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Lakukan kebersihan tangan bedah (<em><i>surgical scrub<\/i><\/em>) dengan antiseptik yang sesuai. Cuci tangan dan lengan sampai ke siku.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Setelah cuci tangan, lengan harus tetap mengarah ke atas dan di jauhkan dari tubuh supaya air mengalir dari ujung jari ke siku. Keringkan tangan dengan handuk steril dan kemudian pakailah gaun dan sarung tangan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Bersihkan sela-sela dibawah kuku setiap hari sebelum cuci tangan bedah yang pertama.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jangan memakai perhiasan di tangan atau lengan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Tidak ada rekomendasi mengenai pemakaian cat kuku, namun sebaiknya tidak memakai.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Tim bedah yang terinfeksi atau terkolonisasi<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Didiklah dan biasakan anggota tim bedah agar melapor jika mempunyai tanda dan gejala penyakit infeksi dan segera melapor kepada petugas pelayan kesehatan karyawan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Susun satu kebijakan mengenai perawatan pasien bila karyawan mengidap infeksi yang kemungkinan dapat menular. Kebijakan ini mencakup:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 150px;\"><span style=\"color: #000000;\">-) Tanggung jawab karyawan untuk menggunakan jasa pelayanan medis karyawan dan melaporkan penyakitnya.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Pelarangan bekerja.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Ijin untuk kembali bekerja setelah sembuh penyakitnya.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Petugas yang berwewenang untuk melakukan pelarangan bekerja.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Ambil sampel untuk kultur dan berikan larangan bekerja untuk anggota tim bedah yang memiliki luka pada kulit, hingga infeksi sembuh atau menerima terapi yang memadai.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Bagi anggota tim bedah yang terkolonisasi mikroorganisme seperti <em><i> Aureus<\/i><\/em>Bagi anggota tim bedah yang terkolonisasi mikroorganisme seperti <em><i>S. Aureus<\/i><\/em>\u00a0atau <em><i>Streptococcus<\/i><\/em>\u00a0grup A tidak perlu dilarang bekerja, kecuali bila ada hubungan epidemiologis dengan penyebaran mikroorganisme tersebut di rumah sakit.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">2) Pencegahan Infeksi Selama Operasi<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Ventilasi<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">-) Pertahankan tekanan lebih positif dalam kamar bedah dibandingkan dengan koridor dan ruangan di sekitarnya.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Pertahankan minimun 15 kali pergantian udara per jam, dengan minimun 3 di antaranya adalah udara segar.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Semua udara harus disaring, baik udara segar maupun udara hasil resirkulasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Semua udara masuk harus melalui langit-langit dan keluar melalui dekat lantai.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Jangan menggunakan <em><i>fogging\u00a0<\/i><\/em>dan sinar ultraviolet di kamar bedah untuk mencegah infeksi IDO.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; )Pintu kamar bedah harus selalu tertutup, kecuali bila dibutuhkan untuk lewatnya peralatan, petugas dan pasien.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Batasi jumlah orang yang masuk dalam kamar bedah.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Membersihkan dan disinfeksi permukaan lingkungan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">-) Bila tampak kotoran atau darah atau cairan tubuh lainnya pada permukaan benda atau peralatan, gunakan disinfektan untuk membersihkannya sebelum operasi dimulai.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Tidak perlu mengadakan pembersihan khusus atau penutupan kamar bedah setelah selesai operasi kotor.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Jangan menggunakan keset berserabut untuk kamar bedah ataupun daerah sekitarnya.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Pel dan keringkan lantai kamar bedah dan disinfeksi permukaan lingkungan atau peralatan dalam kamar bedah setelah selesai operasi terakhir setiap harinya dengan disinfektan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Tidak ada rekomendasi mengenai disinfeksi permukaan lingkungan atau peralatan dalam kamar bedah di antara dua operasi bila tidak tampak adanya kotoran.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Sterilisasi instrumen kamar bedah<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">-) Sterilkan semua instrumen bedah sesuai petunjuk.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; ) Laksanakan sterilisasi kilat hanya untuk instrumen yang harus segera digunakan seperti instrumen yang jatuh tidak sengaja saat operasi berlangsung. Jangan melaksanakan sterilisasi kilat dengan alasan kepraktisan, untuk menghemat pembelian instrumen baru atau untuk menghemat waktu.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">d) Pakaian bedah dan <em><i>drape.<\/i><\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">-) Pakai masker bedah dan tutupi mulut dan hidung secara menyeluruh bila memasuki kamar bedah saat operasi akan di mulai atau sedang berjalan, atau instrumen steril sedang dalam keadaan terbuka. Pakai masker bedah selama operasi berlangsung.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Pakai tutup kepala untuk menutupi rambut di kepala dan wajah secara menyeluruh bila memasuki kamar bedah (semua rambut yang ada di kepala dan wajah harus tertutup).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Jangan menggunakan pembungkus sepatu untuk mencegah IDO.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Bagi anggota tim bedah yang telah cuci tangan bedah, pakailah sarung tangan steril. Sarung tangan dipakai setelah memakai gaun steril.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Gunakan gaun dan drape yang kedap air.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Gantilah gaun bila tampak kotor, terkontaminasi percikan cairan tubuh pasien.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Sebaiknya gunakan gaun yang <em><i>dispossable<\/i><\/em>.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">e) Teknik aseptik dan bedah.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">-)Lakukan tehnik aseptik saat memasukkan peralatan intravaskuler (CVP), kateter anastesi spinal atau epidural, atau bila menuang atau menyiapkan obat-obatan intravena.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Siapkan peralatan dan larutan steril sesaat sebelum penggunaan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Perlakukan jaringan dengan lembut, lakukan hemostatis yang efektif, minimalkan jaringan mati atau ruang kosong (<em><i>dead<\/i><\/em><em><i>space<\/i><\/em>) pada lokasi operasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Biarkan luka operasi terbuka atau tertutup dengan tidak rapat, bila ahli bedah menganggap luka operasi tersebut sangat kotor atau terkontaminasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">-) Bila diperlukan drainase, gunakan drain penghisap tertutup. Letakkan drain pada insisi yang terpisah dari insisi bedah. Lepas drain sesegera mungkin bila drain sudah tidak dibutuhkan lagi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">3) Pencegahan Infeksi Setelah Operasi <\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">Perawatan luka setelah operasi:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Lindungi luka yang sudah dijahit dengan perban steril selama 24 sampai 48 jam paska bedah.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Lakukan Kebersihan tangan sesuai ketentuan: sebelum dan sesudah mengganti perban atau bersentuhan dengan luka operasi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Bila perban harus diganti gunakan tehnik aseptik.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">d) Berikan pendidikan pada pasien dan keluarganya mengenai perawatan luka operasi yang benar, gejala IDO dan pentingnya melaporkan gejala tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">Catatan:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">-) Belum ada rekomendasi mengenai perlunya menutup luka operasi yang sudah dijahit lebih dari 48 jam ataupun kapan waktu yang tepat untuk mulai diperbolehkan mandi dengan luka tanpa tutup.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Beberapa dokter membiarkan luka insisi operasi yang bersih terbuka tanpa kasa, ternyata dari sudut penyembuhan hasilnya baik.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa luka insisi operasi yang bersih dapat pulih dengan baik walaupun tanpa kasa.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Belum ada terbukti tertulis yang mengatakan bertambahnya tingkat kemungkinan terjadinya infeksi bila luka dibiarkan terbuka tanpa kasa.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Namun demikian masih banyak dokter tetap menutup luka operasi dengan kasa steril sesuai dengan prosedur pembedahan, dengan tujuan :<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 150px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Menutupi luka terhadap mikroorganisme yang dari tangan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">b) Menyerap cairan yang meleleh keluar agar luka cepat kering.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">c) Memberikan tekanan pada luka supaya dapat menahan perdarahan perdarahan superficial.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">d) Melindungi ujung luka dari trauma lainnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 120px;\"><span style=\"color: #000000;\">Selain pencegahan infeksi daerah operasi diatas, pencegahan infeksi dapat di lakukan dengan penerapan <em><i>bundles<\/i><\/em>\u00a0IDO yaitu :.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 150px;\"><span style=\"color: #000000;\">1) Pencukuran rambut, dilakukan jika mengganggu jalannya operasi dan dilakukan sesegera mungkin sebelum tindakan operasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">2) Antibiotika profilaksis, diberikan satu jam sebelum tindakan operasi dan sesuai dengan empirik.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">3) Temperatur tubuh, harus dalam kondisi normal.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">4) Kadar gula darah, pertahankan kadar gula darah normal. <\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>E, Penerapan PPI Terkait Hais Pada Beberapa Kasus.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><\/i><em><i>1. Multi Drug Resistance Tuberculosis <\/i><\/em>(MDR-TB).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Penularan MDR TB samaseperti penularan TB secara <em><i>airborne<\/i><\/em>, namun <em><i>Mycobacterium Tuberculosis <\/i><\/em>yang menjadi sumber penularan adalah<em><i>\u00a0<\/i><\/em>kuman yang resisten terhadap pemberian obat anti tuberkulosis dengan Rifampicin dan Izoniazid.Tatacara PPI pada pasien MDR TB adalah mengikuti prinsip-prinsip kewaspadaan standar dan kewaspadaan transmisi <em><i>airborne<\/i><\/em>\u00a0harus selalu dilakukan dengan konsisten.Pada petugas medis wajib memakai masker <em><i>respiratory<\/i><\/em>\u00a0<em><i>particulate<\/i><\/em>, pada saat memberikan pelayanan baik itu di poliklinik<em><i>\u00a0<\/i><\/em>maunpun di ruang perawatan.Pasien yang terbukti MDR TB\/suspek\u00a0diwajibkan memakai masker bedah dimanapun berada dan melakukan etiket batuk.Perlu diajarkan pada pasien sampai mengerti dan bahaya menularkan pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Pengobatan dengan pengawasan ketat minum obat adalah upaya penyakit ini bisa dicegah menularkan ke orang lain<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><\/i><em><i>2. Ebola Virus Disease.<\/i><\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Penyakit <em><i>emerging disease<\/i><\/em>\u00a0sulit diprediksi apa yang akan muncul, namun pencegahan dan pengendalian infeksi akan selalu tergantung dengan pola transmisi dari penyakit yang muncul tersebut. Seperti kasus Ebola saat ini sedang mewabah di Afrika Barat, maka PPI pada kasus ini adalah kewaspadaan standar dan kewaspadaan berdasarkan transmisi penyakit berdasarkan kontak. Pencegahan dengan memakai APD yang bisa melindungi petugas atau orang lain yang kontak dengan pasien Ebola. Adapun beberapa hal yang di rekomendasikan WHO untuk penyakit Ebola adalah sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a) Penerapan kewaspadaan standar pada semua pasien terlepas dari gejala dan tanda yang ada.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">b) Isolasi pasien suspek atau konfirmasi Ebola dalam ruangan tersendiri (<em><i>single bed<\/i><\/em>) atau jika tidak memungkinkan bisa di kohort dengan pasien diagnosis yang sama. Tidak boleh mencampurkan pasien suspek dan konfirmasi didalam satu kamar\/ruangan. Pastikan aksesnya aman dan terbatas hanya untuk yang berkepentingan serta tersedianya alat-alat yang memadai khusus untuk pasien yang dirawat tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">c) Perlu penunjukkan petugas khusus (terlatih) untuk penanganan kasus Ebola dengan tugas-tugas yang sudah dirincikan dengan baik.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">d) Pastikan semua petugas atau pengunjung memakai APD yang lengkap saat memasuki ruangan dan melakukan kebersihan tangan (<em><i>hand hygiene<\/i><\/em>) secara teratur sesuai \u2018<em><i>five moments<\/i><\/em>\u2019 dari WHO. Adapun APD yang digunakan adalah minimal: sarung tangan, gaun, <em><i>boot<\/i><\/em>atau sepatu tertutup dilapis dengan <em><i>shoe cover<\/i><\/em>, masker, dan penutup mata (<em><i>google<\/i><\/em>\u00a0atau <em><i>face shield<\/i><\/em>) untuk melindungi dari cipratan. Selalu lakukan \u2018<em><i>risk assessment<\/i><\/em>\u2019 untuk menentukan APD yang akandigunakan. (Tambahan: Beberapa\u00a0rekan ahli menyarankan <em><i>face shield<\/i><\/em>\u00a0karena lebih dapat\u00a0\u00a0rekan ahli menyarankan <em><i>face shield<\/i><\/em>\u00a0karena lebih dapat memberikan perlindungan dari percikan terhadap wajah\u00a0dibandingkan dengan <em><i>google<\/i><\/em>\u00a0yang hanya menutup bagian mata dan terkadang berembun sehingga kesulitan untuk melihat).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">e) Pastikan suntikan dan prosedur flebotomi dilakukan dengan aman serta management limbah tajam. Limbah tajam ditempatkan pada kontainer khusus yang tahan tusukan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">f) Pastikan dilakukan pembersihan lingkungan yang potensial tercemar dengan baik, lakukan dekontaminasi pada permukaan alat yang dipakai, penanganan linen kotor serta sampah\/limbah yang ada. Dalam proses ini, pastikan petugas yang melakukan kegiatan tersebut juga terlindungi dan menggunakan APD yang sesuai dan melakukan <em><i>hand hygiene<\/i><\/em>secara teratur.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">g) Pastikan pengelolaan sampel di laboratorium dilakukan dengan aman.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">h) Pastikan pengelolaan mayat dilakukan dengan prinsip pengendalian infeksi yang ketat sampai dengan pemakaman.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Lakukan evaluasi segera atau perawatan dan jika diperlukan dilakukan isolasi pada petugas kesehatan atau seseorang yang terpajan dengan darah atau cairan tubuhdari pasien suspek atau konfirmasi ebola.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BAB 3 &#8211;\u00a0Cara Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan Dengan Bundles H A Is. Pemakaian peralatan perawatan pasien dan tindakan operasi terkait pelayanan kesehatan merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan. Pemakaian dan tindakan ini akan membuka jalan masuk kuman yang dapat menimbulkan risiko infeksi tinggi. Untuk itu diperlukan PPI terkait dengan pelayanan kesehatan tersebut &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":4,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-100","page","type-page","status-publish","hentry"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/100","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=100"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/100\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":110,"href":"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/100\/revisions\/110"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/snars.web.id\/ppirs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}