{"id":5784,"date":"2017-09-20T13:22:55","date_gmt":"2017-09-20T06:22:55","guid":{"rendered":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/?p=5784"},"modified":"2017-09-21T10:13:52","modified_gmt":"2017-09-21T03:13:52","slug":"panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/","title":{"rendered":"Panduan Bantuan Hidup Dasar &#8211; BHD"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Bab 1 - Definisi. Bantuan hidup dasar adalah upaya mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melalui membantu mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melaluipenguasaan jalan nafas, memberikan bantuan penafasan dan membantu mengalirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh korban, sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah matinya sel otak. Bab 2 - Ruang Lingkup. BHD diberikan pada korban yang mengalami gangguan sumbatan jalan nafas, henti nafas dan henti nadi. Beberapa keadaan korban dibawah ini dapat menyebabkan terjadinya henti nafas : 1. Tenggelam. 2. Stroke. 3. Obstruksi jalan nafas. 4. Epiglotitis. 5. Overdosis obat \u2013 obatan. 6. Tersengat listrik. 7. Infark miokard. 8. Tersambar petir. 9. Koma akibat bertbagai macam kasus. BAB 3 - Tata Laksana. Kejadian gawat darurat biasanya berlangsung cepat dan tiba-tiba sehingga sulit memprediksi kapan terjadinya.Langkah terbaik untuk situasi ini adalah waspada dan melakukan upaya kongkrit untuk mengantisipasinya.Harus dipikirkan satu bentuk mekanisme bantuan kepada korban dari awal tempat kejadian, selama perjalanan menuju sarana kesehatan, bantuan di fasilitas kesehatan sampai pasca kejadian cedera.Tercapainya kualitas hidup penderita pada akhir bantuan harus tetap menjadi tujuan dari seluruh rangkai pertolongan yang diberikan. Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan : a. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi. b. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban yang mengalami henti jantung atau henti napas melalui Resusitasi Jantung Paru (RJP). Resusitasi Jantung Paru terdiri dari 2 tahap, yaitu : - Survei Primer (Primary Surgery), yang dapat dilakukan oleh setiap orang. - Survei Sekunder (Secondary Survey), yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan dari survei primer. 3.1. Survei Primer. Dalam survei primer difokuskan pada bantuan napas dan bantuan sirkulasi serta defibrilasi. Untuk dapat mengingatkan dengan mudah tindakan survei primer dirumuskan dengan abjad A, B, C, dan D, yaitu : A airway (jalan napas) B breathing (bantuan napas) C circulation (bantuan sirkulasi) Sebelum melakukan tahapan A(airway), harus terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada korban \/ pasien, yaitu : 1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong. 2. Memastikan kesadaran dari korban \/ pasien. Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak, penolong harus melakukan upaya agar dapat memastikan kesadaran korban \/ pasien, dapat dengan cara menyentuh atau menggoyangkan bahu korban \/ pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah pergerakan yang berlebihan, sambil memanggil namanya atau Pak! \/ Bu! \/ Mas! \/ Mbak! 3. Meminta pertolongan. Jika ternyata korban \/ pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan, segera minta bantuan dengan cara berteriak \u201cTolong !!!\u201d untuk mengaktifkan sistem pelayanan medis yang lebih lanjut. penolong dapat meminta bantuan kepada orang di sekitarnya untuk menghubungi panggilan darurat\/ rumah sakit terdekat supaya dapat mengirimkan bantuan tenaga kesehatan yang lebih ahli. 4. Memperbaiki posisi korban \/ pasien. Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif, korban \/ pasien harus dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras.Jika korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi korban ke posisi terlentang.Ingat !penolong harus membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh. 5. Mengatur posisi penolong. Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan bantuan napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi atau menggerakan lutut. A (Airway) Jalan Napas. Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan melakukan tindakan : 1. Pemeriksaan jalan napas. Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing.Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan.Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban. 2. Membuka jalan napas. Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak sadar tonus otot\u2013otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu (Head tilt \u2013 chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula. Teknik membuka jalan napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas kesehatan adalah tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan harus dapat melakukan manuver lainnya. B ( Breathing) Bantuan napas. Terdiri dari 2 tahap : 1. Memastikan korban \/ pasien tidak bernapas. Dengan cara melihat pergerakan naik turunnya dada, mendengar bunyi napas dan merasakan hembusan napas korban \/ pasien. Untuk itu penolong harus mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban \/ pasien, sambil tetap mempertahankan jalan napas tetap terbuka.Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10 detik. 2. Memberikan bantuan napas. Jika korban \/ pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang\u00a0dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5\u20132 detik dan volume udara yang\u00a0dihembuskan adalah 400 -500 ml (10 ml\/kg) atau sampai dada korban \/ pasien terlihat mengembang. Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16\u2013 17%.Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban \/ pasien setelah diberikan bantuan napas. Cara memberikan bantuan pernapasan : - Mulut ke mulut. Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara yang cepat dan efektif untuk memberikan udara ke paru\u2013paru korban \/ pasien. Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke mulut, penolong harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat menutup seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat menghembuskan napas dan juga\u00a0penolong harus menutup lubang hidung korban \/ pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang diberikan pada kebanyakan orang dewasa adalah 400 - 500 ml (10 ml\/kg). Volume udara yang berlebihan dan laju inspirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi distensi lambung. - Mulut ke hidung. Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak memungkinkan, misalnya pada Trismus atau dimana mulut korban mengalami luka yang berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung, penolong harus menutup mulut korban \/ pasien. C (Circulation) Bantuan sirkulasi. Terdiri dari 2 tahapan : 1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban \/ pasien. Ada tidaknya denyut jantung korban \/ pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher korban \/ pasien, dengan dua atau tifa jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira\u2013kira 1\u20132 cm, raba dengan lembut selama 5\u201310 detik. Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban \/ pasien.Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas. 2. Melakukan bantuan sirkulasi. Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut : - Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum). - Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi. - Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan diatas telapak tangan yang lainnya, hindari jari\u2013jari tangan menyentuh dinding dada korban \/ pasien, jari\u2013jari tangan dapat diluruskan atau menyilang. - Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1,5\u20132 inci (3,8\u20135 cm). - Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. (50% Duty Cycle). - Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi. - Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2 dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong jika korban \/ pasien tidak terintubasi dan kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit (dilakukan 4 siklus permenit), untuk kemudian dinilai apakah perlu dilakukan siklus berikutnya atau tidak. Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 60\u201380 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik. 3.2. MELAKUKAN BHD 1 DAN 2 PENOLONG. Orang awam hanya mempelajari cara melakukan BHD 1 penolong. Teknik BHD yang dilakukan oleh 2 penolong menyebabkan kebingungan koordinasi. BHD 1 penolong pada orang awam lebih efektif mempertahankan sirkulasi dan ventilasi yang adekuat, tetapi konsekuensinya akan menyebabkan penolong cepat lelah. BHD 1 penolong dapat mengikuti urutan sebagai berikut : 1. Penilaian korban. Tentukan kesadaran korban \/ pasien (sentuh dan goyangkan korban dengan lembut dan mantap), jika tidak sadar, maka 2. Minta pertolongan serta aktifkan sistem emergensi. 3. Jalan napas (AIRWAY). \u00a0 \u00a0 - Posisikan korban \/ pasien \u00a0 \u00a0 - Buka jalan napas dengan manuver tengadah kepala \u2013 topang dagu. 4. Pernapasan (BREATHING). Nilai pernapasan untuk melihat ada tidaknya pernapasan dan adekuat atau tidak pernapasan korban \/ pasien. - Jika korban \/ pasien dewasa tidak sadar dengan napas spontan, serta tidak adanya trauma leher (trauma tulang belakang) posisikan korban pada posisi mantap (Recovery position), dengan tetap menjaga jalan napas tetap terbuka. - Jika korban \/ pasien dewasa tidak sadar dan tidak bernapas, lakukan bantuan napas. Di\u00a0Amerika Serikat dan dinegara lainnya dilakukan bantuan napas awal sebanyak 2 kali, sedangkan di Eropa, Australia, New Zealand diberikan 5 kali. Jika pemberian napas awal terdapat kesulitan, dapat dicoba dengan membetulkan posisi kepala korban \/ pasien, atau ternyata tidak bisa juga maka dilakukan : - Untuk orang awam dapat dilanjutkan dengan kompresi dada sebanyak 30 kali dan 2 kali ventilasi, setiap kali membuka jalan napas untuk menghembuskan napas, sambil mencari benda yang menyumbat di jalan napas, jika terlihat usahakan dikeluarkan. - Untuk petugas kesehatan yang terlatih dilakukan manajemen obstruksi jalan napas oleh benda asing. - Pastikan dada pasien mengembang pada saat diberikan bantuan pernapasan. - Setelah memberikan napas 8-10 kali (1 menit), nilai kembali tanda \u2013 tanda adanya sirkulasi dengan meraba arteri karotis, bila nadi ada cek napas, jika tidak bernapas lanjutkan kembali bantuan napas. 5. Sirkulasi (Circulation). Periksa tanda\u2013tanda adanya sirkulasi setelah memberikan 2 kali bantuan pernapasan dengan cara melihat ada tidaknya pernapasan spontan, k atau pergerakan. Untuk petugas kesehatan terlatih hendaknya memeriksa denyut nadi pada arteri Karotis. Jika ada tanda\u2013tanda sirkulasi, dan ada denyut nadi tidak dilakukan kompresi dada, hanya menilai pernapasan korban \/ pasien (ada atau tidak ada pernapasan) Jika tidak ada tanda\u2013tanda sirkulasi, denyut nadi tidak ada lakukan kompresi dada : Letakkan telapak tangan pada posisi yang benar. Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali dengan kecepatan 100 kali per menit. Buka jalan napas dan berikan 2 kali bantuan pernapasan. Letakkan kembali telapak tangan pada posisi yang tepat dan mulai kembali kompresi 30 kali dengan kecepatan 100 kali per menit. 6. Penilaian Ulang. Sesudah 5 siklus ventilasi dan kompresi (+2Menit) kemudian korban dievaluasi kembali, - Jika tidak ada nadi dilakukan kembali kompresi dan bantuan napas dengan rasion 30 : 2. - Jika ada napas dan denyut nadi teraba letakkan korban pada posisi mantap. - Jika tidak ada napas tetapi nadi teraba, berikan bantuan napas sebanyak 8-10 kali permenit dan monitor nadi setiap saat. - Jika sudah terdapat pernapasan spontan dan adekuat serta nadi teraba, jaga agar jalan napas tetap terbuka kemudian korban \/ pasien ditidurkan pada posisi sisi mantap. Contoh Bantuan Hidup Dasar (BHD) : Pingsan buka henti nafas dan Jantung, jadi pertolongannya juga beda perlu disimak : .\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <\/span><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/95PjN4ppULc\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Bab 1 &#8211; Definisi.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Bantuan hidup dasar adalah upaya mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melalui membantu mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melaluipenguasaan jalan nafas, memberikan bantuan penafasan dan membantu mengalirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh korban, sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah matinya sel otak.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Bab 2 &#8211; Ruang Lingkup.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">BHD diberikan pada korban yang mengalami gangguan sumbatan jalan nafas, henti nafas dan henti nadi. Beberapa keadaan korban dibawah ini dapat menyebabkan terjadinya henti nafas :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 1. Tenggelam.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Stroke.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Obstruksi jalan nafas.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4. Epiglotitis.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 5. Overdosis obat \u2013 obatan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 6. Tersengat listrik.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 7. Infark miokard.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 8. Tersambar petir.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 9. Koma akibat bertbagai macam kasus.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>BAB 3 &#8211; Tata Laksana.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kejadian gawat darurat biasanya berlangsung cepat dan tiba-tiba sehingga sulit memprediksi kapan terjadinya.Langkah terbaik untuk situasi ini adalah waspada dan melakukan upaya kongkrit untuk mengantisipasinya.Harus dipikirkan satu bentuk mekanisme bantuan kepada korban dari awal tempat kejadian, selama perjalanan menuju sarana kesehatan, bantuan di fasilitas kesehatan sampai pasca kejadian cedera.Tercapainya kualitas hidup penderita pada akhir bantuan harus tetap menjadi tujuan dari seluruh rangkai pertolongan yang diberikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> a. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban yang mengalami henti jantung atau henti napas melalui Resusitasi Jantung Paru (RJP).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Resusitasi Jantung Paru terdiri dari 2 tahap, yaitu :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Survei Primer (Primary Surgery), yang dapat dilakukan oleh setiap orang.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Survei Sekunder (Secondary Survey), yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan dari survei primer.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>3.1. Survei Primer.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dalam survei primer difokuskan pada bantuan napas dan bantuan sirkulasi serta defibrilasi. Untuk dapat mengingatkan dengan mudah tindakan survei primer dirumuskan dengan abjad A, B, C, dan D, yaitu :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> A airway (jalan napas)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> B breathing (bantuan napas)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> C circulation (bantuan sirkulasi)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sebelum melakukan tahapan A(airway), harus terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada korban \/ pasien, yaitu :<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2. Memastikan kesadaran dari korban \/ pasien.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak, penolong harus melakukan upaya agar dapat memastikan kesadaran korban \/ pasien, dapat dengan cara menyentuh atau menggoyangkan bahu korban \/ pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah pergerakan yang berlebihan, sambil memanggil namanya atau Pak! \/ Bu! \/ Mas! \/ Mbak!<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">3. Meminta pertolongan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Jika ternyata korban \/ pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan, segera minta bantuan dengan cara berteriak \u201cTolong !!!\u201d untuk mengaktifkan sistem pelayanan medis yang lebih lanjut. penolong dapat meminta bantuan kepada orang di sekitarnya untuk menghubungi panggilan darurat\/ rumah sakit terdekat supaya dapat mengirimkan bantuan tenaga kesehatan yang lebih ahli.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">4. Memperbaiki posisi korban \/ pasien.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif, korban \/ pasien harus dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras.Jika korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi korban ke posisi terlentang.Ingat !penolong harus membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">5. Mengatur posisi penolong.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan bantuan napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi atau menggerakan lutut.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-5788 aligncenter\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-kesadaran.jpg\" alt=\"\" width=\"564\" height=\"277\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-kesadaran.jpg 564w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-kesadaran-300x147.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 564px) 100vw, 564px\" \/><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4><strong><span style=\"color: #000000;\">A (Airway) Jalan Napas.<\/span><\/strong><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan melakukan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> tindakan :<\/span><\/h4>\n<p><strong><span style=\"color: #000000;\">1. Pemeriksaan jalan napas.<\/span><\/strong><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing.Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan.Mulut dapat dibuka dengan tehnik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-5790 aligncenter\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-finger-sweep.jpg\" alt=\"\" width=\"417\" height=\"216\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-finger-sweep.jpg 417w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-finger-sweep-300x155.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 417px) 100vw, 417px\" \/><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Membuka jalan napas.<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak sadar tonus otot\u2013otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu (Head tilt \u2013 chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula. Teknik membuka jalan napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas kesehatan adalah tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan harus dapat melakukan manuver lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-5791 aligncenter\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-pembebasan-jalan-napas.jpg\" alt=\"\" width=\"469\" height=\"225\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-pembebasan-jalan-napas.jpg 469w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-pembebasan-jalan-napas-300x144.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 469px) 100vw, 469px\" \/><\/span><\/p>\n<h4><\/h4>\n<h4><span style=\"color: #000000;\"><strong>B ( Breathing) Bantuan napas.<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Terdiri dari 2 tahap :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 1. Memastikan korban \/ pasien tidak bernapas.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Dengan cara melihat pergerakan naik turunnya dada, mendengar bunyi napas dan merasakan hembusan napas korban \/ pasien. Untuk itu penolong harus mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban \/ pasien, sambil tetap mempertahankan jalan napas tetap terbuka.Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10 detik.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Memberikan bantuan napas.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Jika korban \/ pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang\u00a0dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5\u20132 detik dan volume udara yang\u00a0dihembuskan adalah 400 -500 ml (10 ml\/kg) atau sampai dada korban \/ pasien terlihat mengembang.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16\u2013 17%.Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban \/ pasien setelah diberikan bantuan napas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-5792 aligncenter\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-pernafasan.jpg\" alt=\"\" width=\"244\" height=\"301\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-pernafasan.jpg 244w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-pernafasan-243x300.jpg 243w\" sizes=\"auto, (max-width: 244px) 100vw, 244px\" \/><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Cara memberikan bantuan pernapasan :<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Mulut ke mulut.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara yang cepat dan efektif untuk memberikan udara ke paru\u2013paru korban \/ pasien.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-5793 aligncenter\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-nafas-mtom.jpg\" alt=\"\" width=\"260\" height=\"219\" \/><\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke mulut, penolong harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat menutup seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat menghembuskan napas dan juga\u00a0penolong harus menutup lubang hidung korban \/ pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang diberikan pada kebanyakan orang dewasa adalah 400 &#8211; 500 ml (10 ml\/kg).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Volume udara yang berlebihan dan laju inspirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi distensi lambung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>&#8211; Mulut ke hidung.<\/strong><\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak memungkinkan, misalnya pada Trismus atau dimana mulut korban mengalami luka yang berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung, penolong harus menutup mulut korban \/ pasien.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5794\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-mulut-hidung.jpg\" alt=\"\" width=\"262\" height=\"243\" \/><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000000;\"><strong>C (Circulation) Bantuan sirkulasi.<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Terdiri dari 2 tahapan :<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban \/ pasien.<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Ada tidaknya denyut jantung korban \/ pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher korban \/ pasien, dengan dua atau tifa jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira\u2013kira 1\u20132 cm, raba dengan lembut selama 5\u201310 detik.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-5795 aligncenter\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-pemeriksaan-denyut-nadi.jpg\" alt=\"\" width=\"522\" height=\"214\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-pemeriksaan-denyut-nadi.jpg 522w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-pemeriksaan-denyut-nadi-300x123.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 522px) 100vw, 522px\" \/><\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban \/ pasien.Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Melakukan bantuan sirkulasi.<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan diatas telapak tangan yang lainnya, hindari jari\u2013jari tangan menyentuh dinding dada korban \/ pasien, jari\u2013jari tangan dapat diluruskan atau menyilang.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 30 kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1,5\u20132 inci (3,8\u20135 cm).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 30 : 2 dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong jika korban \/ pasien tidak terintubasi dan kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit (dilakukan 4 siklus permenit), untuk kemudian dinilai apakah perlu dilakukan siklus berikutnya atau tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-5796 aligncenter\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-posisi-tangan-kompresi.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"230\" \/><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\"> Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 60\u201380 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-5797 aligncenter\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-posisi-penolong.jpg\" alt=\"\" width=\"498\" height=\"275\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-posisi-penolong.jpg 498w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-posisi-penolong-300x166.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 498px) 100vw, 498px\" \/><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4><span style=\"color: #000000;\"><strong>3.2. MELAKUKAN BHD 1 DAN 2 PENOLONG.<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Orang awam hanya mempelajari cara melakukan BHD 1 penolong. Teknik BHD yang dilakukan oleh 2 penolong menyebabkan kebingungan koordinasi. BHD 1 penolong pada orang awam lebih efektif mempertahankan sirkulasi dan ventilasi yang adekuat, tetapi konsekuensinya akan menyebabkan penolong cepat lelah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">BHD 1 penolong dapat mengikuti urutan sebagai berikut :<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">1. Penilaian korban.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Tentukan kesadaran korban \/ pasien (sentuh dan goyangkan korban dengan lembut dan mantap), jika tidak sadar, maka<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">2. Minta pertolongan serta aktifkan sistem emergensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">3. Jalan napas (AIRWAY).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">\u00a0 \u00a0 &#8211; Posisikan korban \/ pasien<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">\u00a0 \u00a0 &#8211; Buka jalan napas dengan manuver tengadah kepala \u2013 topang dagu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">4. Pernapasan (BREATHING).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Nilai pernapasan untuk melihat ada tidaknya pernapasan dan adekuat atau tidak pernapasan korban \/ pasien.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jika korban \/ pasien dewasa tidak sadar dengan napas spontan, serta tidak adanya trauma leher (trauma tulang belakang) posisikan korban pada posisi mantap (Recovery position), dengan tetap menjaga jalan napas tetap terbuka.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jika korban \/ pasien dewasa tidak sadar dan tidak bernapas, lakukan bantuan napas. Di\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Amerika Serikat dan dinegara lainnya dilakukan bantuan napas awal sebanyak 2 kali, sedangkan di Eropa, Australia, New Zealand diberikan 5 kali. Jika pemberian napas awal terdapat kesulitan, dapat dicoba dengan membetulkan posisi kepala korban \/ pasien, atau ternyata tidak bisa juga maka dilakukan :<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Untuk orang awam dapat dilanjutkan dengan kompresi dada sebanyak 30 kali dan 2 kali ventilasi, setiap kali membuka jalan napas untuk menghembuskan napas, sambil mencari benda yang menyumbat di jalan napas, jika terlihat usahakan dikeluarkan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Untuk petugas kesehatan yang terlatih dilakukan manajemen obstruksi jalan napas oleh benda asing.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Pastikan dada pasien mengembang pada saat diberikan bantuan pernapasan.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; Setelah memberikan napas 8-10 kali (1 menit), nilai kembali tanda \u2013 tanda adanya sirkulasi dengan meraba arteri karotis, bila nadi ada cek napas, jika tidak bernapas lanjutkan kembali bantuan napas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">5. Sirkulasi (Circulation).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Periksa tanda\u2013tanda adanya sirkulasi setelah memberikan 2 kali bantuan pernapasan dengan cara melihat ada tidaknya pernapasan spontan, k atau pergerakan. Untuk petugas kesehatan terlatih hendaknya memeriksa denyut nadi pada arteri Karotis.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Jika ada tanda\u2013tanda sirkulasi, dan ada denyut nadi tidak dilakukan kompresi dada, hanya menilai pernapasan korban \/ pasien (ada atau tidak ada pernapasan)<\/span><\/li>\n<li style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Jika tidak ada tanda\u2013tanda sirkulasi, denyut nadi tidak ada lakukan kompresi dada :<\/span>\n<ul>\n<li style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Letakkan telapak tangan pada posisi yang benar.<\/span><\/li>\n<li style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali dengan kecepatan 100 kali per menit.<\/span><\/li>\n<li style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Buka jalan napas dan berikan 2 kali bantuan pernapasan.<\/span><\/li>\n<li style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Letakkan kembali telapak tangan pada posisi yang tepat dan mulai kembali kompresi 30 kali dengan kecepatan 100 kali per menit.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"> 6. Penilaian Ulang.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Sesudah 5 siklus ventilasi dan kompresi (+2Menit) kemudian korban dievaluasi kembali,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jika tidak ada nadi dilakukan kembali kompresi dan bantuan napas dengan rasion 30 : 2.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jika ada napas dan denyut nadi teraba letakkan korban pada posisi mantap.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jika tidak ada napas tetapi nadi teraba, berikan bantuan napas sebanyak 8-10 kali permenit dan monitor nadi setiap saat.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">&#8211; Jika sudah terdapat pernapasan spontan dan adekuat serta nadi teraba, jaga agar jalan napas tetap terbuka kemudian korban \/ pasien ditidurkan pada posisi sisi mantap.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5801 aligncenter\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-posisi-mantap.jpg\" alt=\"\" width=\"467\" height=\"289\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-posisi-mantap.jpg 467w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-posisi-mantap-300x186.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 467px) 100vw, 467px\" \/><\/p>\n<p>Contoh Bantuan Hidup Dasar (BHD) :<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/IXoVZEhPerw\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/N-lksbeDEBY\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/UYctimda6gU\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/Frv1ho7arMc\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/idjGAW1cpzM\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/XHRatUnbAgM\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/RyGnw492aTg\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/ozzZVQQTvo4\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p>Pingsan buka henti nafas dan Jantung, jadi pertolongannya juga beda perlu disimak :<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/GQpSpkXNBBQ\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p>.<\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_5784\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"5784\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bab 1 &#8211; Definisi. Bantuan hidup dasar adalah upaya mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melalui membantu mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melaluipenguasaan jalan nafas, memberikan bantuan penafasan dan membantu mengalirkan <a class=\"more-link\" href=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/\">Continue Reading &rarr;<\/a><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_5784\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"5784\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[137,168],"tags":[342,344,345,261,343],"class_list":["post-5784","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-panduan","category-panduan-praktek-klinis","tag-bhd","tag-jantung","tag-paru","tag-resusitasi","tag-rjp"],"a3_pvc":{"activated":true,"total_views":25719,"today_views":0},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Panduan Bantuan Hidup Dasar - BHD - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Panduan Bantuan Hidup Dasar - BHD - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bab 1 &#8211; Definisi. Bantuan hidup dasar adalah upaya mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melalui membantu mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melaluipenguasaan jalan nafas, memberikan bantuan penafasan dan membantu mengalirkan Continue Reading &rarr;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/akreditasirumahsakit\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-09-20T06:22:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2017-09-21T03:13:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-kesadaran.jpg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6\"},\"headline\":\"Panduan Bantuan Hidup Dasar &#8211; BHD\",\"datePublished\":\"2017-09-20T06:22:55+00:00\",\"dateModified\":\"2017-09-21T03:13:52+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/\"},\"wordCount\":1870,\"image\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/akreditasi.my.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/bhd-cek-kesadaran.jpg\",\"keywords\":[\"bhd\",\"jantung\",\"paru\",\"resusitasi\",\"rjp\"],\"articleSection\":[\"Panduan\",\"Panduan Praktek Klinis\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/\",\"url\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/\",\"name\":\"Panduan Bantuan Hidup Dasar - BHD - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/akreditasi.my.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/bhd-cek-kesadaran.jpg\",\"datePublished\":\"2017-09-20T06:22:55+00:00\",\"dateModified\":\"2017-09-21T03:13:52+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/#primaryimage\",\"url\":\"http:\\\/\\\/akreditasi.my.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/bhd-cek-kesadaran.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\\\/\\\/akreditasi.my.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/bhd-cek-kesadaran.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Panduan Bantuan Hidup Dasar &#8211; BHD\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/\",\"name\":\"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\",\"description\":\"Pedoman, Panduan, Kebijakan, SPO, TOR, dan lain-lain - Bantu Pembiayaan Web ini dengan KLIK IKLAN .\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"url\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/author\\\/admin-2\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Panduan Bantuan Hidup Dasar - BHD - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Panduan Bantuan Hidup Dasar - BHD - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","og_description":"Bab 1 &#8211; Definisi. Bantuan hidup dasar adalah upaya mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melalui membantu mempertahankan hidup seseorang untuk sementara melaluipenguasaan jalan nafas, memberikan bantuan penafasan dan membantu mengalirkan Continue Reading &rarr;","og_url":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/","og_site_name":"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/akreditasirumahsakit\/","article_published_time":"2017-09-20T06:22:55+00:00","article_modified_time":"2017-09-21T03:13:52+00:00","og_image":[{"url":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-kesadaran.jpg","type":"","width":"","height":""}],"author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"9 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6"},"headline":"Panduan Bantuan Hidup Dasar &#8211; BHD","datePublished":"2017-09-20T06:22:55+00:00","dateModified":"2017-09-21T03:13:52+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/"},"wordCount":1870,"image":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-kesadaran.jpg","keywords":["bhd","jantung","paru","resusitasi","rjp"],"articleSection":["Panduan","Panduan Praktek Klinis"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/","url":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/","name":"Panduan Bantuan Hidup Dasar - BHD - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","isPartOf":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/#primaryimage"},"image":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-kesadaran.jpg","datePublished":"2017-09-20T06:22:55+00:00","dateModified":"2017-09-21T03:13:52+00:00","author":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6"},"breadcrumb":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/#primaryimage","url":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-kesadaran.jpg","contentUrl":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/bhd-cek-kesadaran.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-bantuan-hidup-dasar-bhd\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Panduan Bantuan Hidup Dasar &#8211; BHD"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#website","url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/","name":"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","description":"Pedoman, Panduan, Kebijakan, SPO, TOR, dan lain-lain - Bantu Pembiayaan Web ini dengan KLIK IKLAN .","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g","caption":"admin"},"url":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/author\/admin-2\/"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5784","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5784"}],"version-history":[{"count":14,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5784\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5852,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5784\/revisions\/5852"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5784"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5784"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5784"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}