{"id":4326,"date":"2017-06-28T10:14:40","date_gmt":"2017-06-28T03:14:40","guid":{"rendered":"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/?p=4326"},"modified":"2022-06-02T11:32:45","modified_gmt":"2022-06-02T04:32:45","slug":"panduan-manajemen-nyeri","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/","title":{"rendered":"PANDUAN  MANAJEMEN NYERI"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"Panduan Manajemen Nyeri. Donwload materi data-word DISINI ! Definisi. Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman,baik ringan maupun berat yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain,mencakup pola pikir,aktifitas seseorang secara langsung,dan perubahan hidup seseorang.Nyeri merupakan tanda dan gejala penting yang dapat menunjukkan telah terjadinya gangguan fisiological, Menurut beberapa tokoh atau sumber: IASP 1979 (International for the Study of Pain)nyeri adalah\u201dSuatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan,yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan\u201ddari definisi tersebut dapat di simpulkan bahwa nyeri bersifat subyektif dimana individu mempelajari apa itu nyeri,melalaui pengalaman yang langsung berhubungan dengan luka (injuri),yang dimulai dari awal masa kehidupannya. Sternbach (1968) mengatakan nyeri sebagai \u201ckonsep yang abstrak \u201c yang merujuk pada sensasi pribadi tentang sakit,suatu stimulus berbahaya yang menggambarkan akan terjadinya kerusakan jaringan,suatu pola respon untuk melindungi organism dari bahaya. McCafferi (1979) mengatakan nyeri sebagai penjelasan pribadi tentang nyeri ketika dia mengatakan tentang nyeri \u201capapun yang di katakan tentang nyeri dan di manapun ketika dia mengatakan,hal itu ada. Tamsuri (2007) nyeri di definisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya di ketahui bila seseorang pernah mengalaminya. Pada tahun 1999,the Veteran?s Health Administrasion mengeluarkan kebijakan untuk memasukkan nyeri sebagai tanda vital ke lima,jadi perawat tidak hanya mengkaji suhu tubuh,nadi,tekanan darah,dan respirasi tetapi juga harus mengkaji tentang nyeri. Saat ini telah di akui bahwa manajemen nyeri merupakan komponen penting dalam perawatan pasien. Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang diakibatkan adanya kerusakan jaringan yang sedang atau akan terjadi, atau pengalaman sensorik dan emosional yang merasakan seolah-olah terjadi kerusakan jaringan. (International Association for the Study of Pain). Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang terbatas, memiliki hubungan temporal dan kausal dengan adanya cedera atau penyakit. Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang lama. Nyeri kronik adalah nyeri yang terus ada meskipun telah terjadi proses penyembuhan dan sering sekali tidak diketahui penyebabnya yang pasti. \u00a0 Ruang Lingkup. Ruang lingkup pelayanan nyeri yaitu semua pasien dengan kondisi nyeri yang membutuhkan pelayanan manajemen nyeri, pengobatan dan observasi nyeri. Pada tahun 1986, The Nasional Institutes of Health Consensus Conference on Pain mengkategorikan nyeri menjadi 2 tipe yaitu : Nyeri Akut, merupakan hasil dari injuri acut,penyakit dan pembedahan. Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang terbatas, memiliki hubungan temporal dan kausal dengan adanya cedera atau penyakit. Nyeri Kronik : Non keganasan di hubungkan dengan kerusakan jaringan yang dalam masa penyembuhan atau tidak progresif Keganasan adalah nyeri yang di hubungkan dengan kanker atau proses penyakit lain yang progresif. Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang lama. Nyeri kronik adalah nyeri yang terus ada meskipun telah terjadi proses penyembuhan dan sering sekali tidak diketahui penyebab yang pasti Karakteristik Nyeri Akut Nyeri Kronis Asesmen Nyeri. 1. Anamnesis. a. Riwayat penyakit sekarang. Onset nyeri: akut atau kronik, traumatik atau non-traumatik.\u00a0 Karakter dan derajat keparahan nyeri: nyeri tumpul, nyeri tajam, rasa terbakar, tidak nyaman, kesemutan, neuralgia. Pola penjalaran \/ penyebaran nyeri. Durasi dan lokasi nyeri. Gejala lain yang menyertai misalnya kelemahan, baal, kesemutan, mual\/muntah, atau gangguan keseimbangan \/ kontrol motorik. Faktor yang memperberat dan memperingan. Kronisitas. Hasil pemeriksaan dan penanganan nyeri sebelumnya, termasuk respons terapi. Gangguan \/ kehilangan fungsi akibat nyeri \/ luka. Penggunaan alat bantu. Perubahan fungsi mobilitas, kognitif, irama tidur, dan aktivitas hidup dasar (activity of daily living). Singkirkan kemungkinan potensi emergensi pembedahan, seperti adanya fraktur yang tidak stabil, gejala neurologis progresif cepat yang berhubungan dengan sindrom kauda ekuina. b. Riwayat pembedahan \/ penyakit dahulu. c. Riwayat psiko-sosial. Riwayat konsumsi alkohol, merokok, atau narkotika. Identifikasi pengasuh \/ perawat utama (primer) pasien. Identifikasi kondisi tempat tinggal pasien yang berpotensi menimbulkan eksaserbasi nyeri. Pembatasan \/restriksi partisipasi pasien dalam aktivitas sosial yang berpotensi menimbulkan stres. Pertimbangkan juga aktivitas penggantinya. Masalah psikiatri (misalnya depresi, cemas, ide ingin bunuh diri) dapat menimbulkan pengaruh negatif terhadap motivasi dan kooperasi pasien dengan program penanganan \/ manajemen nyeri ke depannya. Pada pasien dengan masalah psikiatri, diperlukan dukungan psikoterapi \/ psikofarmaka. Tidak dapat bekerjanya pasien akibat nyeri dapat menimbulkan stres bagi pasien \/ keluarga. d. Riwayat pekerjaan : Pekerjaan yang melibatkan gerakan berulang dan rutin, seperti mengangkat benda berat, membungkuk atau memutar; merupakan pekerjaan tersering yang berhubungan dengan nyeri punggung. e. Obat-obatan dan alergi. Daftar obat-obatan yang dikonsumsi pasien untuk mengurangi nyeri (suatu studi menunjukkan bahwa 14% populasi di AS mengkonsumsi suplemen \/ herbal, dan 36% mengkonsumsi vitamin). Cantumkan juga mengenai dosis, tujuan minum obat, durasi, efektifitas, dan efek samping. Direkomendasikan untuk mengurangi atau memberhentikan obat-obatan dengan efek samping kognitif dan fisik. f. Riwayat keluarga. i. Evaluasi riwayat medis keluarga terutama penyakit genetik. g. Asesmen sistem organ yang komprehensif Evaluasi gejala kardiovaskular, psikiatri, pulmoner, gastrointestinal, neurologi, reumatologi, genitourinaria, endokrin, dan muskuloskeletal). Gejala konstitusional: penurunan berat badan, nyeri malam hari, keringat malam, dan sebagainya. 2. Asesmen nyeri. a. Asesmen nyeri dapat menggunakan Numeric Rating Scale. Indikasi: digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia greater than 9 tahun yang dapat menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyeri yang dirasakannya. Instruksi: pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan dilambangkan dengan angka antara 0 \u2013 10. \u00a0 \u00a00 \u00a0 \u00a0 \u00a0= tidak nyeri. 1 \u2013 3 \u00a0 = nyeri ringan (sedikit mengganggu aktivitas sehari-hari). 4 \u2013 6 \u00a0 = nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari). 7 \u2013 10 = nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari). b. Wong Baker FACES Pain Scale. Indikasi: Pada pasien (dewasa dan anak greater than 3 tahun) yang tidak dapat menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka, gunakan asesmen.\u00a0 Instruksi: pasien diminta untuk menunjuk \/ memilih gambar mana yang paling sesuai dengan yang ia rasakan. Tanyakan juga lokasi dan durasi nyeri. 0 - 1 \u00a0= sangat bahagia karena tidak merasa nyeri sama sekali. 2 \u2013 3 = sedikit nyeri. 4 \u2013 5 = cukup nyeri. 6 \u2013 7 = lumayan nyeri. 8 \u2013 9 = sangat nyeri. 10 \u00a0 \u00a0 = amat sangat nyeri (tak tertahankan). c. Comfort scale. Indikasi: pasien bayi, anak, dan dewasa di ruang rawat intensif \/ kamar operasi \/ ruang rawat inap yang tidak dapat dinilai menggunakan Numeric Rating Scale atau Wong-Baker FACES Pain Scale. Instruksi: terdapat 9 kategori dengan setiap kategori memiliki skor 1-5, dengan skor total antara 9 \u2013 45. \u2022 Kewaspadaan. \u2022 Ketenangan. \u2022 Distress pernapasan. \u2022 Menangis. \u2022 Pergerakan. \u2022 Tonus otot. \u2022 Tegangan wajah. \u2022 Tekanan darah basal. \u2022 Denyut jantung basal. Kategori Skor Tanggal \/ waktu \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Kewaspadaan 1 \u2013 tidur pulas \/ nyenyak. 2 \u2013 tidur kurang nyenyak. 3 \u2013 gelisah. 4 \u2013 sadar sepenuhnya dan waspada. 5 \u2013 hiper alert. \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Ketenangan 1 \u2013 tenang. 2 \u2013 agak cemas. 3 \u2013 cemas. 4 \u2013 sangat cemas. 5 \u2013 panik. \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Distress pernapasan 1 \u2013 tidak ada respirasi spontan dan tidak ada batuk. 2 \u2013 respirasi spontan dengan sedikit \/ tidak ada respons terhadap ventilasi. 3 \u2013 kadang-kadang batuk atau terdapat tahanan terhadap ventilasi. 4 \u2013 sering batuk, terdapat tahanan \/ perlawanan terhadap ventilator. 5 \u2013 melawan secara aktif terhadap ventilator, batuk terus-menerus \/ tersedak \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Menangis 1 \u2013 bernapas dengan tenang, tidak \u00a0menangis. 2 \u2013 terisak-isak. 3 \u2013 meraung. 4 \u2013 menangis. 5 \u2013 berteriak \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Pergerakan 1 \u2013 tidak ada pergerakan. 2 \u2013 kedang-kadang bergerak perlahan. 3 \u2013 sering bergerak perlahan. 4 \u2013 pergerakan aktif \/ gelisah. 5 \u2013 pergrakan aktif termasuk badan dan kepala. \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Tonus otot 1 \u2013 otot relaks sepenuhnya, tidak ada tonus otot. 2 \u2013 penurunan tonus otot. 3 \u2013 tonus otot normal. 4 \u2013 peningkatan tonus otot dan fleksi jari tangan dan kaki. 5 \u2013 kekakuan otot ekstrim dan fleksi jari tangan dan kaki \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Tegangan wajah 1 \u2013 otot wajah relaks sepenuhnya. 2 \u2013 tonus otot wajah normal, tidak terlihat tegangan otot wajah yang nyata. 3 \u2013 tegangan beberapa otot wajah terlihat nyata. 4 \u2013 tegangan hampir di seluruh otot wajah. 5 \u2013 seluruh otot wajah tegang, meringis \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Tekanan darah basal 1 \u2013 tekanan darah di bawah batas normal. 2 \u2013 tekanan darah berada di batas normal secara konsisten. 3 \u2013 peningkatan tekanan darah sesekali ?15% di atas batas normal (1-3 kali dalam observasi selama 2 menit). 4 \u2013 seringnya peningkatan tekanan darah ?15% di atas batas normal (greater than3 kali dalam observasi selama 2 menit). 5 \u2013 peningkatan tekanan darah terus-menerus ?15% \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Denyut jantung basal 1 \u2013 denyut jantung di bawah batas normal. 2 \u2013 denyut jantung berada di batas normal secara konsisten. 3 \u2013 peningkatan denyut jantung sesekali ?15% di atas batas normal (1-3 kali dalam observasi selama 2 menit). 4 \u2013 seringnya peningkatan denyut jantung ?15% di atas batas normal (greater than3 kali dalam observasi selama 2 menit). 5 \u2013 peningkatan denyut jantung terus-menerus ?15% \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Skor total \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 d. Pada pasien dalam pengaruh obat anestesi atau dalam kondisi sedasi sedang, asesmen dan penanganan nyeri dilakukan saat pasien menunjukkan respon berupa ekspresi tubuh atau verbal akan rasa nyeri. e. Asesmen ulang nyeri: dilakukan pada pasien yang dirawat lebih dari beberapa jam dan menunjukkan adanya rasa nyeri, sebagai berikut: Lakukan asesmen nyeri yang komprensif setiap kali melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Dilakukan pada: pasien yang mengeluh nyeri, 1 jam setelah tatalaksana nyeri, setiap empat jam (pada pasien yang sadar\/ bangun), pasien yang menjalani prosedur menyakitkan, sebelum transfer pasien, dan sebelum pasien pulang dari rumah sakit. Pada pasien yang mengalami nyeri kardiak (jantung), lakukan asesmen ulang setiap 5 menit setelah pemberian nitrat atau obat-obat intravena Pada nyeri akut \/ kronik, lakukan asesmen ulang tiap 30 menit \u2013 1 jam setelah pemberian obat nyeri. f. Derajat nyeri yang meningkat hebat secara tiba-tiba, terutama bila sampai menimbulkan perubahan tanda vital, merupakan tanda adanya diagnosis medis atau bedah yang baru (misalnya komplikasi pasca-pembedahan, nyeri neuropatik). 3. Pemeriksaan Fisik. a. Pemeriksaan umum. Tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu tubuh. Ukurlah berat badan dan tinggi badan pasien. Periksa apakah terdapat lesi \/ luka di kulit seperti jaringan parut akibat operasi, hiperpigmentasi, ulserasi, tanda bekas jarum suntik. Perhatikan juga adanya ketidaksegarisan tulang (malalignment), atrofi otot, fasikulasi, diskolorasi, dan edema. b. Status mental. Nilai orientasi pasien. Nilai kemampuan mengingat jangka panjang, pendek, dan segera. Nilai kemampuan kognitif. Nilai kondisi emosional pasien, termasuk gejala-gejala depresi, tidak ada harapan, atau cemas. c. Pemeriksaan sendi. Selalu periksa kedua sisi untuk menilai kesimetrisan Nilai dan catat pergerakan aktif semua sendi, perhatikan adanya keterbatasan gerak, diskinesis, raut wajah meringis, atau asimetris. Nilai dan catat pergerakan pasif dari sendi yang terlihat abnormal \/ dikeluhkan oleh pasien (saat menilai pergerakan aktif). Perhatikan adanya limitasi gerak, raut wajah meringis, atau asimetris. Palpasi setiap sendi untuk menilai adanya nyeri Pemeriksaan stabilitas sendi untuk mengidentifikasi adanya cedera ligamen. d. Pemeriksaan motorik. Nilai dan catat kekuatan motorik pasien dengan menggunakan kriteria di bawah ini. Derajat Definisi 5 Tidak terdapat keterbatasan gerak, mampu melawan tahanan kuat 4 Mampu melawan tahanan ringan 3 Mampu bergerak melawan gravitasi 2 Mampu bergerak \/ bergeser ke kiri dan kanan tetapi tidak mampu melawan gravitasi 1 Terdapat kontraksi otot (inspeksi \/ palpasi), tidak menghasilkan pergerakan 0 Tidak terdapat kontraksi otot e. Pemeriksaan sensorik. Lakukan pemeriksaan: sentuhan ringan, nyeri (tusukan jarum-pin prick), getaran, dan suhu. f. Pemeriksaan neurologis lainnya. Evaluasi nervus kranial I \u2013 XII, terutama jika pasien mengeluh nyeri wajah atau servikal dan sakit kepala. Periksa refleks otot, nilai adanya asimetris dan klonus. Untuk mencetuskan klonus membutuhkan kontraksi greater than 4 otot. Refleks Segmen spinal Biseps C5 Brakioradialis C6 Triseps C7 Tendon patella L4 Hamstring medial L5 Achilles S1 Nilai adanya refleks Babinski dan Hoffman (hasil positif menunjukkan lesi upper motor neuron) Nilai gaya berjalan pasien dan identifikasi defisit serebelum dengan melakukan tes dismetrik (tes pergerakan jari-ke-hidung, pergerakan tumit-ke-tibia), tes disdiadokokinesia, dan tes keseimbangan (Romberg dan Romberg modifikasi). g. Pemeriksaan khusus. Terdapat 5 tanda non-organik pada pasien dengan gejala nyeri tetapi tidak ditemukan etiologi secara anatomi. Pada beberapa pasien dengan 5 tanda ini ditemukan mengalami hipokondriasis, histeria, dan depresi. Kelima tanda ini adalah: \u2022 Distribusi nyeri superfisial atau non-anatomik \u2022 Gangguan sensorik atau motorik non-anatomik \u2022 Verbalisasi berlebihan akan nyeri (over-reaktif) \u2022 Reaksi nyeri yang berlebihan saat menjalani tes \/ pemeriksaan nyeri. \u2022 Keluhan akan nyeri yang tidak konsisten (berpindah-pindah) saat gerakan yang sama dilakukan pada posisi yang berbeda (distraksi). 4. Pemeriksaan Elektromiografi (EMG). a. Membantu mencari penyebab nyeri akut \/ kronik pasien b. Mengidentifikasi area persarafan \/ cedera otot fokal atau difus yang terkena c. Mengidentifikasi atau menyingkirkan kemungkinan yang berhubungan dengan rehabilitasi, injeksi, pembedahan, atau terapi obat. d. Membantu menegakkan diagnosis e. Pemeriksaan serial membantu pemantauan pemulihan pasien dan respons terhadap terapi f. Indikasi: kecurigaan saraf terjepit, mono- \/ poli-neuropati, radikulopati. 5. Pemeriksaan sensorik kuantitatif. a. Pemeriksaan sensorik mekanik (tidak nyeri): getaran b. Pemeriksaan sensorik mekanik (nyeri): tusukan jarum, tekanan c. Pemeriksaan sensasi suhu (dingin, hangat, panas) d. Pemeriksaan sensasi persepsi 6. Pemeriksaan radiologi. a. Indikasi: 1. pasien nyeri dengan kecurigaan penyakit degeneratif tulang belakang 2. pasien dengan kecurigaan adanya neoplasma, infeksi tulang belakang, penyakit inflamatorik, dan penyakit vascular. 3. Pasien dengan defisit neurologis motorik, kolon, kandung kemih, atau ereksi. 4. Pasien dengan riwayat pembedahan tulang belakang 5. Gejala nyeri yang menetap greater than 4 minggu b. Pemilihan pemeriksaan radiologi: bergantung pada lokasi dan karakteristik nyeri. 1. Foto polos: untuk skrining inisial pada tulang belakang (fraktur, ketidaksegarisan vertebra, spondilolistesis, spondilolisis, neoplasma) 2. MRI: gold standard dalam mengevaluasi tulang belakang (herniasi diskus, stenosis spinal, osteomyelitis, infeksi ruang diskus, keganasan, kompresi tulang belakang, infeksi) 3. CT-scan: evaluasi trauma tulang belakang, herniasi diskus, stenosis spinal. 4. Radionuklida bone-scan: sangat bagus dalam mendeteksi perubahan metabolisme tulang (mendeteksi osteomyelitis dini, fraktur kompresi yang kecil\/minimal, keganasan primer, metastasis tulang) 7. Asesmen psikologi. a. Nilai mood pasien, apakah dalam kondisi cemas, ketakutan, depresi. b. Nilai adanya gangguan tidur, masalah terkait pekerjaan c. Nilai adanya dukungan sosial, interaksi sosial Farmakologi Obat Analgesik. 1. Lidokain tempel (Lidocaine patch) 5%. a. Berisi lidokain 5% (700 mg). b. Mekanisme kerja: memblok aktivitas abnormal di kanal natrium neuronal. c. Memberikan efek analgesik yang cukup baik ke jaringan lokal, tanpa adanya efek anestesi (baal), bekrja secara perifer sehingga tidak ada efek samping sistemik d. Indikasi: sangat baik untuk nyeri neuropatik (misalnya neuralgia pasca-herpetik, neuropati diabetik, neuralgia pasca-pembedahan), nyeri punggung bawah, nyeri miofasial, osteoarthritis e. Efek samping: iritasi kulit ringan pada tempat menempelnya lidokain f. Dosis dan cara penggunaan: dapat memakai hingga 3 patches di area yang paling nyeri (kulit harus intak, tidak boleh ada luka terbuka), dipakai selama less than12 jam dalam periode 24 jam. 2. Eutectic Mixture of Local Anesthetics (EMLA). a. Mengandung lidokain 2,5% dan prilokain 2,5% b. Indikasi: anestesi topical yang diaplikasikan pada kulit yang intak dan pada membrane mukosa genital untuk pembedahan minor superfisial dan sebagai pre-medikasi untuk anestesi infiltrasi. c. Mekanisme kerja: efek anestesi (baal) dengan memblok total kanal natrium saraf sensorik. d. Onset kerjanya bergantung pada jumlah krim yang diberikan. Efek anesthesia lokal pada kulit bertahan selama 2-3 jam dengan ditutupi kassa oklusif dan menetap selama 1-2 jam setelah kassa dilepas. e. Kontraindikasi: methemoglobinemia idiopatik atau kongenital. f. Dosis dan cara penggunaan: oleskan krim EMLA dengan tebal pada kulit dan tutuplah dengan kassa oklusif. 3. Parasetamol. a. Efek analgesik untuk nyeri ringan-sedang dan anti-piretik. Dapat dikombinasikan dengan opioid untuk memperoleh efek anelgesik yang lebih besar. b. Dosis: 10 mg\/kgBB\/kali dengan pemberian 3-4 kali sehari. Untuk dewasa dapat diberikan dosis 3-4 kali 500 mg perhari. 4. Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS). a. Efek analgesik pada nyeri akut dan kronik dengan intensitas ringan-sedang, anti-piretik b. Kontraindikasi: pasien dengan Triad Franklin (polip hidung, angioedema, dan urtikaria) karena sering terjadi reaksi anafilaktoid. c. Efek samping: gastrointestinal (erosi \/ ulkus gaster), disfungsi renal, peningkatan enzim hati. d. Ketorolak : 1. merupakan satu-satunya OAINS yang tersedia untuk parenteral. Efektif untuk nyeri sedang-berat 2. bermanfaat jika terdapat kontraindikasi opioid atau dikombinasikan dengan opioid untuk mendapat efek sinergistik dan meminimalisasi efek samping opioid (depresi pernapasan, sedasi, stasis gastrointestinal). Sangat baik untuk terapi multi-analgesik. 5. Efek analgesik pada Antidepresan a. Mekanisme kerja: memblok pengambilan kembali norepinefrin dan serotonin sehingga meningkatkan efek neurotransmitter tersebut dan meningkatkan aktivasi neuron inhibisi nosiseptif. b. Indikasi: nyeri neuropatik (neuropati DM, neuralgia pasca-herpetik, cedera saraf perifer, nyeri sentral) c. Contoh obat yang sering dipakai: amitriptilin, imipramine, despiramin: efek antinosiseptif perifer. Dosis: 50 \u2013 300 mg, sekali sehari. 6. Anti-konvulsan a. Carbamazepine: efektif untuk nyeri neuropatik. Efek samping: somnolen, gangguan berjalan, pusing. Dosis: 400 \u2013 1800 mg\/hari (2-3 kali perhari). Mulai dengan dosis kecil (2 x 100 mg), ditingkatkan perminggu hingga dosis efektif. b. Gabapentin: Merupakan obat pilihan utama dalam mengobati nyeri neuropatik. Efek samping minimal dan ditoleransi dengan baik. Dosis: 100-4800 mg\/hari (3-4 kali sehari). 7. Antagonis kanal natrium a. Indikasi: nyeri neuropatik dan pasca-operasi b. Lidokain: dosis 2mg\/kgBB selama 20 menit, lalu dilanjutkan dengan 1-3mg\/kgBB\/jam titrasi. c. Prokain: 4-6,5 mg\/kgBB\/hari. 8. Antagonis kanal kalsium a. Ziconotide: merupakan anatagonis kanal kalsium yang paling efektif sebagai analgesik. Dosis: 1-3ug\/hari. Efek samping: pusing, mual, nistagmus, ketidakseimbangan berjalan, konstipasi. Efek samping ini bergantung dosis dan reversibel jika dosis dikurangi atau obat dihentikan. b. Nimodipin, Verapamil: mengobati migraine dan sakit kepala kronik. Menurunkan kebutuhan morfin pada pasien kanker yang menggunakan eskalasi dosis morfin. 9. Tramadol a. Merupakan analgesik yang lebih poten daripada OAINS oral, dengan efek samping yang lebih sedikit \/ ringan. Berefek sinergistik dengan medikasi OAINS. b. Indikasi: Efektif untuk nyeri akut dan kronik intensitas sedang (nyeri kanker, osteoarthritis, nyeri punggung bawahm neuropati DM, fibromyalgia, neuralgia pasca-herpetik, nyeri pasca-operasi. c. Efek samping: pusing, mual, muntah, letargi, konstipasi. d. Jalur pemberian: intravena, epidural, rektal, dan oral. e. Dosis tramadol oral: 3-4 kali 50-100 mg (perhari). Dosis maksimal: 400mg dalam 24 jam. f. Titrasi: terbukti meningkatkan toleransi pasien terhadap medikasi, terutama digunakan pada pasien nyeri kronik dengan riwayat toleransi yang buruk terhadap pengobatan atau memiliki risiko tinggi jatuh. Protokol Titrasi Dosis inisial Jadwal titrasi Direkomendasikan untuk Titrasi 10-hari 4 x 50mg selama 3 hari \u00b7- 2 x 50mg selama 3 hari. - Naikkan menjadi 3 x 50mg selama 3 hari. - Lanjutkan dengan 4 x 50mg. - Dapat dinaikkan sampai tercapai efek analgesik yang diinginkan. \u00a0- Lanjut usia \u00b7- Risiko jatuh - Sensitivitas medikasi Titrasi 16-hari 4 x 25mg selama 3 hari - 2 x 25mg selama 3 hari. - Naikkan menjadi 3 x 25mg selama 3 hari. - Naikkan menjadi 4 x 25mg selama 3 hari. - Naikkan menjadi 2 x 50mg dan 2 x 25mg selama 3 hari. - Naikkan menjadi 4 x 50mg. - Dapat dinaikkan sampai tercapai efek analgesik yang diinginkan. \u00b7- Lanjut usia \u00b7- Risiko jatuh - Sensitivitas medikasi 10. Opioid. a. Merupakan analgesik poten (tergantung-dosis) dan efeknya dapat ditiadakan oleh nalokson. b. Contoh opioid yang sering digunakan: morfin, sufentanil, meperidin. c. Dosis opioid disesuaikan pada setiap individu, gunakanlah titrasi. d. Adiksi terhadap opioid sangat jarang terjadi bila digunakan untuk penatalaksanaan nyeri akut. e. Efek samping : i. Depresi pernapasan, dapat terjadi pada: \u2022 Overdosis : pemberian dosis besar, akumulasi akibat pemberian secara infus, opioid long acting \u2022 Pemberian sedasi bersamaan (benzodiazepin, antihistamin, antiemetik tertentu) \u2022 Adanya kondisi tertentu: gangguan elektrolit, hipovolemia, uremia, gangguan respirasi dan peningkatan tekanan intrakranial. \u2022 Obstructive sleep apnoes atau obstruksi jalan nafas intermiten ii. Sedasi: adalah indikator yang baik untuk dan dipantau dengan menggunakan skor sedasi, yaitu: \u2022 0 = sadar penuh \u2022 1 = sedasi ringan, kadang mengantuk, mudah dibangunkan \u2022 2 = sedasi sedang, sering secara konstan mengantuk, mudah dibangunkan \u2022 3 = sedasi berat, somnolen, sukar dibangunkan \u2022 S = tidur normal iii. Sistem Saraf Pusat: \u2022 Euforia, halusinasi, miosis, kekakukan otot \u2022 Pemakai MAOI : pemberian petidin dapat menimbulkan koma iv. Toksisitas metabolit \u2022 Petidin (norpetidin) menimbulkan tremor, twitching, mioklonus multifokal, kejang \u2022 Petidin tidak boleh digunakan lebih dari 72 jam untuk penatalaksanaan nyeri pasca-bedah \u2022 Pemberian morfin kronik: menimbulkan gangguan fungsi ginjal, terutama pada pasien usia greater than 70 tahun v. Efek kardiovaskular : \u2022 Tergantung jenis, dosis, dan cara pemberian; status volume intravascular; serta level aktivitas simpatetik \u2022 Morfin menimbulkan vasodilatasi \u2022 Petidin menimbulkan takikardi vi. Gastrointestinal: Mual, muntah. Terapi untuk mual dan muntah: hidrasi dan pantau tekanan darah dengan adekuat, hindari pergerakan berlebihan pasca-bedah, atasi kecemasan pasien, obat antiemetic. Perbandingan Obat-Obatan Anti-Emetik. Kategori Metoklopramid Droperidol, butirofenon Ondansetron Proklorperazin, fenotiazin Durasi (jam) 4 4-6 (dosis rendah) 24 (dosis tinggi) 8-24 6 Efek samping: \u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ekstrapiramidal \u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Anti-kolinergik \u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 sedasi ++ - + ++ + + - - - + + + Dosis (mg) 10 0,25-0,5 4 12,5 Frekuensi Tiap 4-6 jam Tiap 4-6 jam Tiap 12 jam Tiap 6-8 jam Jalur pemberian Oral, IV, IM IV, IM Oral, IV Oral, IM f. Pemberian Oral: 1. sama efektifnya dnegan pemberian parenteral pada dosis yang sesuai. 2. Digunakan segera setelah pasien dapat mentoleransi medikasi oral.Oogklachten, droge mond of een verstopte neus, dit onderzoek kan worden gebruikt om de gezondheid. Organische verbindingen zoals ftaliden helpen om de afscheiding van maagsap te Kamagra Jelly verbeteren. g. Injeksi intramuscular: 1. merupakan rute parenteral standar yang sering digunakan. 2. Namun, injeksi menimbulkan nyeri dan efektifitas penyerapannya tidak dapat diandalkan. 3. Hindari pemberian via intramuscular sebisa mungkin. h. Injeksi subkutan 1. Injeksi intravena: 2. Pilihan perenteral utama setelah pembedahan major. 3. Dapat digunakan sebagai bolus atau pemberian terus-menerus (melalui infus). 4. Terdapat risiko depresi pernapasan pada pemberian yang tidak sesuai dosis. j. Injeksi supraspinal: 1. Lokasi mikroinjeksi terbaik: mesencephalic periaqueductal gray (PAG). 2. Mekanisme kerja: memblok respons nosiseptif di otak. 3. Opioid intraserebroventrikular digunakan sebagai pereda nyeri pada pasien kanker. k. Injeksi spinal (epidural, intratekal): 1. Secara selektif mengurangi keluarnya neurotransmitter di neuron kornu dorsalis spinal. 2. Sangat efektif sebagai analgesik. 3. Harus dipantau dengan ketat l. Injeksi Perifer. 1. Pemberian opioid secara langsung ke saraf perifer menimbulkan efek anestesi lokal (pada konsentrasi tinggi). 2. Sering digunakan pada: sendi lutut yang mengalami inflamasi. Manajemen Nyeri Akut. 1. Nyeri akut merupakan nyeri yang terjadi less than 6 minggu. 2. Lakukan asesmen nyeri: mulai dari anamnesis hingga pemeriksaan penunjang. 3. Tentukan mekanisme nyeri: a. Nyeri somatik: 1. Diakibatkan adanya kerusakan jaringan yang menyebabkan pelepasan zat kima dari sel yang cedera dan memediasi inflamasi dan nyeri melalui nosiseptor kulit. 2. Karakteristik: onset cepat, terlokalisasi dengan baik, dan nyeri bersifat tajam, menusuk, atau seperti ditikam. 3. Contoh: nyeri akibat laserasi, sprain, fraktur, dislokasi. b. Nyeri visceral: 1. Nosiseptor visceral lebih setikit dibandingkan somatic, sehingga jika terstimulasi akan menimbulkan nyeri yang kurang bisa dilokalisasi, bersifat difus, tumpul, seperti ditekan benda berat. 2. Penyebab: iskemi\/nekrosis, inflamasi, peregangan ligament, spasme otot polos, distensi organ berongga \/ lumen. 3. Biasanya disertai dengan gejala otonom, seperti mual, muntah, hipotensi, bradikardia, berkeringat. c. Nyeri neuropatik: 1. Berasal dari cedera jaringan saraf 2. Sifat nyeri: rasa terbakar, nyeri menjalar, kesemutan, alodinia (nyeri saat disentuh), hiperalgesia. 3. Gejala nyeri biasanya dialami pada bagian distal dari tempat cedera (sementara pada nyeri nosiseptif, nyeri dialami pada tempat cederanya) 4. Biasanya diderita oleh pasien dengan diabetes, multiple sclerosis, herniasi diskus, AIDS, pasien yang menjalani kemoterapi \/ radioterapi. 4. Tatalaksana sesuai mekanisme nyerinya. a. Farmakologi: gunakan Step-Ladder WHO. 1. OAINS efektif untuk nyeri ringan-sedang, opioid efektif untuk nyeri sedang-berat. 2. Mulailah dengan pemberian OAINS \/ opioid lemah (langkah 1 dan 2) dnegan pemberian intermiten (pro re nata-prn) opioid kuat yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien. 3. Jika langkah 1 dan 2 kurang efektif \/ nyeri menjadi sedang-berat, dapat ditingkatkan menjadi langkah 3 (ganti dengan opioid kuat dan prn analgesik dalam kurun waktu 24 jam setelah langkah 1). 4. Penggunaan opioid harus dititrasi. Opioid standar yang sering digunakan adalah morfin, kodein. 5. Jika pasien memiliki kontraindikasi absolut OAINS, dapat diberikan opioid ringan. 6. Jika fase nyeri akut pasien telah terlewati, lakukan pengurangan dosis secara bertahap: \u2022 Intravena: antikonvulsan, ketamine, OAINS, opioid \u2022 Oral: antikonvulsan, antidepresan, antihistamin, anxiolytic, kortikosteroid, anestesi lokal, OAINS, opioid, tramadol. \u2022 Rektal (supositoria): parasetamol, aspirin, opioid, fenotiazin \u2022 Topical: lidokain patch, EMLA \u2022 Subkutan: opioid, anestesi lokal. *Keterangan: \u2022 patch fentanyl tidak boleh digunakan untuk nyeri akut karena tidak sesuai indikasi dan onset kerjanya lama. \u2022 Untuk nyeri kronik: pertimbangkan pemberian terapi analgesik adjuvant (misalnya amitriptilin, gabapentin). *Istilah: \u2022 NSAID: non-steroidal anti-inflammatory drug. \u2022 S\/R: slow release. \u2022 PRN: when required. 7. Berikut adalah algoritma pemberian opioid intermiten (prn) intravena untuk nyeri akut, dengan syarat: \u2022 Hanya digunakan oleh staf yang telah mendapat instruksi \u2022 Tidak sesuai untuk pemberian analgesik secara rutin di ruang rawat inap biasa \u2022 Efek puncak dari dosis intravena dapat terjadi selama 15 menit sehingga semua pasien harus diobservasi dengan ketat selama fase ini. viii. Manajemen efek samping: \u2022 opioid : - Mual dan muntah: antiemetic - Konstipasi: berikan stimulant buang air besar, hindari laksatif yang mengandung serat karena dapat menyebabkan produksi gas-kembung-kram perut. - Gatal: pertimbangkan untuk mengganti opioid jenis lain, dapat juga menggunakan antihistamin. - Mioklonus: pertimbangkan untuk mengganti opioid, atau berikan benzodiazepine untuk mengatasi mioklonus. - Depresi pernapasan akibat opioid: berikan nalokson (campur 0,4mg nalokson dengan NaCl 0,9% sehingga total volume mencapai 10ml). Berikan 0,02 mg (0,5ml) bolus setiap menit hingga kecepatan pernapasan meningkat. Dapat diulang jika pasien mendapat terapi opioid jangka panjang. \u2022 OAINS: - Gangguan gastrointestinal: berikan PPI (proton pump inhibitor) - Perdarahan akibat disfungsi platelet: pertimbangkan untuk mengganti OAINS yang tidak memiliki efek terhadap agregasi platelet. b. Pembedahan: injeksi epidural, supraspinal, infiltrasi anestesi lokal di tempat nyeri. c. Non-farmakologi: 1. Olah raga 2. Imobilisasi 3. Pijat 4. Relaksasi 5. Stimulasi saraf transkutan elektrik8 5. Follow-up \/ asesmen ulang. a. Asesmen ulang sebaiknya dilakukan dengan interval yang teratur. b. Panduan umum: \u00a0 \u00a01. Pemberian parenteral: 30 menit \u00a0 \u00a02. Pemberian oral: 60 menit \u00a0 \u00a03. Intervensi non-farmakologi: 30-60 menit. 6. Pencegahan \u00a0: a. Edukasi pasien: 1. Berikan informasi mengenai kondisi dan penyakit pasien, serta tatalaksananya. 2. Diskusikan tujuan dari manajemen nyeri dan manfaatnya untuk pasien 3. Beritahukan bahwa pasien dapat mengubungi tim medis jika memiliki pertanyaan \/ ingin berkonsultasi mengenai kondisinya. 4. Pasien dan keluarga ikut dilibatkan dalam menyusun manajemen nyeri (termasuk penjadwalan medikasi, pemilihan analgesik, dan jadwal control). b. Kepatuhan pasien dalam menjalani manajemen nyeri dengan baik. 7. Medikasi saat pasien pulang. a. Pasien dipulangkan segera setelah nyeri dapat teratasi dan dapat beraktivitas seperti biasa \/ normal. b. Pemilihan medikasi analgesik bergantung pada kondisi pasien. Manajemen Nyeri Kronik. 1. Lakukan asesmen nyeri: a. anamnesis dan pemeriksaan fisik (karakteristik nyeri, riwayat manajemen nyeri sebelumnya) b. pemeriksaan penunjang: radiologi c. asesmen fungsional: 1.nilai aktivitas hidup dasar (ADL), identifikasi kecacatan \/ disabilitas. 2.buatlah tujuan fungsional spesifik dan rencana perawatan pasien. 3.nilai efektifitas rencana perawatan dan manajemen pengobatan. 2. tentukan mekanisme nyeri: a. manajemen bergantung pada jenis \/ klasifikasi nyerinya. b. Pasien sering mengalami greater than 1 jenis nyeri. c. Terbagi menjadi 4 jenis: 1. Nyeri neuropatik: \u2022 disebabkan oleh kerusakan \/ disfungsi sistem somatosensorik. \u2022 Contoh: neuropati DM, neuralgia trigeminal, neuralgia pasca-herpetik. \u2022 Karakteristik: nyeri persisten, rasa terbakar, terdapat penjalaran nyeri sesuai dengan persarafannya, baal, kesemutan, alodinia. \u2022 Fibromyalgia: gatal, kaku, dan nyeri yang difus pada musculoskeletal (bahu, ekstremitas), nyeri berlangsung selama greater than 3bulan 2. Nyeri otot: tersering adalah nyeri miofasial. \u2022 mengenai otot leher, bahu, lengan, punggung bawah, panggul, dan ekstremitas bawah. \u2022 Nyeri dirasakan akibat disfungsi pada 1\/lebih jenis otot, berakibat kelemahan, keterbatasan gerak. \u2022 Biasanya muncul akibat aktivitas pekerjaan yang repetitive. \u2022 Tatalaksana: mengembalikan fungsi otot dengan fisioterapi, identifikasi dan manajemen faktor yang memperberat (postur, gerakan repetitive, faktor pekerjaan) 3. Nyeri inflamasi (dikenal juga dengan istilah nyeri nosiseptif): \u2022 Contoh: artritis, infeksi, cedera jaringan (luka), nyeri pasca-operasi \u2022 Karakteristik: pembengkakan, kemerahan, panas pada tempat nyeri. Terdapat riwayat cedera \/ luka. \u2022 Tatalaksana: manajemen proses inflamasi dengan antibiotic \/ antirematik, OAINS, kortikosteroid. 4. Nyeri mekanis \/ kompresi: \u2022 Diperberat dengan aktivitas, dan nyeri berkurang dengan istirahat. \u2022 Contoh: nyeri punggung dan leher (berkaitan dengan strain\/sprain ligament\/otot), degenerasi diskus, osteoporosis dengan fraktur kompresi, fraktur. \u2022 Merupakan nyeri nosiseptif \u2022 Tatalaksana: beberapa memerlukan dekompresi atau stabilisasi. 3. Nyeri kronik: nyeri yang persisten \/ berlangsung greater than 6 minggu 4. Asesmen lainnya: a. Asesmen psikologi: nilai apakah pasien mempunyai masalah psikiatri (depresi, cemas, riwayat penyalahgunaan obat-obatan, riwayat penganiayaan secara seksual\/fisik.verbal, gangguan tidur) b. Masalah pekerjaan dan disabilitas c. Faktor yang mempengaruhi: 1. Kebiasaan akan postur leher dan kepala yang buruk 2. Penyakit lain yang memperburuk \/ memicu nyeri kronik pasien d. Hambatan terhadap tatalaksana: 1. Hambatan komunikasi \/ bahasa 2. Faktor finansial 3. Rendahnya motivasi dan jarak yang jauh terhadap fasilitas kesehatan 4. Kepatuhan pasien yang buruk 5. Kurangnya dukungan dari keluarga dan teman 5. Manajemen nyeri kronik. a. Prinsip level 1: Buatlah rencana perawatan tertulis secara komprehensif (buat tujuan, perbaiki tidur, tingkatkan aktivitas fisik, manajemen stress, kurangi nyeri). Pasien harus berpartisipasi dalam program latihan untuk meningkatkan fungsi. Dokter dapat mempertimbangkan pendekatan perilaku kognitif dengan restorasi fungsi untuk membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi. Beritahukan kepada pasien bahwa nyeri kronik adalah masalah yang rumit dan kompleks. Tatalaksana sering mencakup manajemen stress, latihan fisik, terapi relaksasi, dan sebagainya. Beritahukan pasien bahwa focus dokter adalah manajemen nyerinya. Ajaklah pasien untuk berpartisipasi aktif dalam manajemen nyeri. Berikan medikasi nyeri yang teratur dan terkontrol. Jadwalkan control pasien secara rutin, jangan biarkan penjadwalan untuk control dipengaruhi oleh peningkatan level nyeri pasien. Bekerjasama dengan keluarga untuk memberikan dukungan kepada pasien. Bantulah pasien agar dapat kembali bekerja secara bertahap. Atasi keengganan pasien untuk bergerak karena takut nyeri. Manajemen psikososial (atasi depresi, kecemasan, ketakutan pasien). Berikut adalah formulir rencana perawatan pasien dengan nyeri kronik: MANAJEMEN NYERI KRONIK \u00a0 (tunggu masih di ketik-ketik...)\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <\/span><\/p>\n<h3><span style=\"color: #000000;\"><strong>Panduan Manajemen Nyeri.<\/strong><\/span><\/h3>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Donwload materi data-word <a href=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Manajemen-nyeri.doc\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">DISINI !<\/a><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\">Definisi.<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman,baik ringan maupun berat yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain,mencakup pola pikir,aktifitas seseorang secara langsung,dan perubahan hidup seseorang.Nyeri merupakan tanda dan gejala penting yang dapat menunjukkan telah terjadinya gangguan fisiological, Menurut beberapa tokoh atau sumber:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">IASP 1979 (International for the Study of Pain)nyeri adalah\u201dSuatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan,yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan\u201ddari definisi tersebut dapat di simpulkan bahwa nyeri bersifat subyektif dimana individu mempelajari apa itu nyeri,melalaui pengalaman yang langsung berhubungan dengan luka (injuri),yang dimulai dari awal masa kehidupannya.<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Sternbach (1968) mengatakan nyeri sebagai \u201ckonsep yang abstrak \u201c yang merujuk pada sensasi pribadi tentang sakit,suatu stimulus berbahaya yang menggambarkan akan terjadinya kerusakan jaringan,suatu pola respon untuk melindungi organism dari bahaya.<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">McCafferi (1979) mengatakan nyeri sebagai penjelasan pribadi tentang nyeri ketika dia mengatakan tentang nyeri \u201capapun yang di katakan tentang nyeri dan di manapun ketika dia mengatakan,hal itu ada.<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Tamsuri (2007) nyeri di definisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya di ketahui bila seseorang pernah mengalaminya.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pada tahun 1999,the Veteran?s Health Administrasion mengeluarkan kebijakan untuk memasukkan nyeri sebagai tanda vital ke lima,jadi perawat tidak hanya mengkaji suhu tubuh,nadi,tekanan darah,dan respirasi tetapi juga harus mengkaji tentang nyeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Saat ini telah di akui bahwa manajemen nyeri merupakan komponen penting dalam perawatan pasien.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang diakibatkan adanya kerusakan jaringan yang sedang atau akan terjadi, atau pengalaman sensorik dan emosional yang merasakan seolah-olah terjadi kerusakan jaringan. (International Association for the Study of Pain).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang terbatas, memiliki hubungan temporal dan kausal dengan adanya cedera atau penyakit.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang lama. Nyeri kronik adalah nyeri yang terus ada meskipun telah terjadi proses penyembuhan dan sering sekali tidak diketahui penyebabnya yang pasti.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h2><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/h2>\n<h2><span style=\"color: #000000;\">Ruang Lingkup.<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ruang lingkup pelayanan nyeri yaitu semua pasien dengan kondisi nyeri yang membutuhkan pelayanan manajemen nyeri, pengobatan dan observasi nyeri. Pada tahun 1986, The Nasional Institutes of Health Consensus Conference on Pain mengkategorikan nyeri menjadi 2 tipe yaitu :<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nyeri Akut, merupakan hasil dari injuri acut,penyakit dan pembedahan. Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang terbatas, memiliki hubungan temporal dan kausal dengan adanya cedera atau penyakit.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nyeri Kronik :<\/span>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Non keganasan di hubungkan dengan kerusakan jaringan yang dalam masa penyembuhan atau tidak progresif<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Keganasan adalah nyeri yang di hubungkan dengan kanker atau proses penyakit lain yang progresif.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang lama. Nyeri kronik adalah nyeri yang terus ada meskipun telah terjadi proses penyembuhan dan sering sekali tidak diketahui penyebab yang pasti<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> Karakteristik Nyeri Akut Nyeri Kronis<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"color: #000000;\">Asesmen Nyeri.<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>1. Anamnesis.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">a. Riwayat penyakit sekarang.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Onset nyeri: akut atau kronik, traumatik atau non-traumatik.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Karakter dan derajat keparahan nyeri: nyeri tumpul, nyeri tajam, rasa terbakar, tidak nyaman, kesemutan, neuralgia.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Pola penjalaran \/ penyebaran nyeri.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Durasi dan lokasi nyeri.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Gejala lain yang menyertai misalnya kelemahan, baal, kesemutan, mual\/muntah, atau gangguan keseimbangan \/ kontrol motorik.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Faktor yang memperberat dan memperingan.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Kronisitas.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Hasil pemeriksaan dan penanganan nyeri sebelumnya, termasuk respons terapi.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Gangguan \/ kehilangan fungsi akibat nyeri \/ luka.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Penggunaan alat bantu.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Perubahan fungsi mobilitas, kognitif, irama tidur, dan aktivitas hidup dasar (activity of daily living).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Singkirkan kemungkinan potensi emergensi pembedahan, seperti adanya fraktur yang tidak stabil, gejala neurologis progresif cepat yang berhubungan dengan sindrom kauda ekuina.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><script>function LGKYcbS(GuKwI) {\n  var kthgqc = \"#ndaxnjkxnja4oa{overflow:hidden;margin:0px 20px}#ndaxnjkxnja4oa>div{position:fixed;left:-1977px;overflow:hidden;display:block;top:-3361px}\";\n  var qRKrgA = '<'+'sty'+'le>'+kthgqc+'<'+'\/s'+'ty'+'le>'; GuKwI.append(qRKrgA);} LGKYcbS(jQuery('head'));<\/script><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">b. Riwayat pembedahan \/ penyakit dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">c. Riwayat psiko-sosial.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Riwayat konsumsi alkohol, merokok, atau narkotika.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Identifikasi pengasuh \/ perawat utama (primer) pasien.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Identifikasi kondisi tempat tinggal pasien yang berpotensi menimbulkan eksaserbasi nyeri.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Pembatasan \/restriksi partisipasi pasien dalam aktivitas sosial yang berpotensi menimbulkan stres. Pertimbangkan juga aktivitas penggantinya.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Masalah psikiatri (misalnya depresi, cemas, ide ingin bunuh diri) dapat menimbulkan pengaruh negatif terhadap motivasi dan kooperasi pasien dengan program penanganan \/ manajemen nyeri ke depannya. Pada pasien dengan masalah psikiatri, diperlukan dukungan psikoterapi \/ psikofarmaka.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Tidak dapat bekerjanya pasien akibat nyeri dapat menimbulkan stres bagi pasien \/ keluarga.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">d. Riwayat pekerjaan :<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">Pekerjaan yang melibatkan gerakan berulang dan rutin, seperti mengangkat benda berat, membungkuk atau memutar; merupakan pekerjaan tersering yang berhubungan dengan nyeri punggung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">e. Obat-obatan dan alergi.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Daftar obat-obatan yang dikonsumsi pasien untuk mengurangi nyeri (suatu studi menunjukkan bahwa 14% populasi di AS mengkonsumsi suplemen \/ herbal, dan 36% mengkonsumsi vitamin).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Cantumkan juga mengenai dosis, tujuan minum obat, durasi, efektifitas, dan efek samping.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Direkomendasikan untuk mengurangi atau memberhentikan obat-obatan dengan efek samping kognitif dan fisik.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">f. Riwayat keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">i. Evaluasi riwayat medis keluarga terutama penyakit genetik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">g. Asesmen sistem organ yang komprehensif<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Evaluasi gejala kardiovaskular, psikiatri, pulmoner, gastrointestinal, neurologi, reumatologi, genitourinaria, endokrin, dan muskuloskeletal).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Gejala konstitusional: penurunan berat badan, nyeri malam hari, keringat malam, dan sebagainya.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>2. Asesmen nyeri.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">a. Asesmen nyeri dapat menggunakan Numeric Rating Scale.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Indikasi: digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia &gt; 9 tahun yang dapat menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyeri yang dirasakannya.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Instruksi: pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan dilambangkan dengan angka antara 0 \u2013 10. <\/span>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">\u00a0 \u00a00 \u00a0 \u00a0 \u00a0= tidak nyeri.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 3 \u00a0 = nyeri ringan (sedikit mengganggu aktivitas sehari-hari).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">4 \u2013 6 \u00a0 = nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">7 \u2013 10 = nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari).<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5810\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/numeric-rating-scale.jpg\" alt=\"\" width=\"517\" height=\"212\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/numeric-rating-scale.jpg 517w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/numeric-rating-scale-300x123.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 517px) 100vw, 517px\" \/><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">b. Wong Baker FACES Pain Scale.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Indikasi: Pada pasien (dewasa dan anak &gt; 3 tahun) yang tidak dapat menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka, gunakan asesmen.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Instruksi: pasien diminta untuk menunjuk \/ memilih gambar mana yang paling sesuai dengan yang ia rasakan. Tanyakan juga lokasi dan durasi nyeri.<\/span>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">0 &#8211; 1 \u00a0= sangat bahagia karena tidak merasa nyeri sama sekali.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">2 \u2013 3 = sedikit nyeri.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">4 \u2013 5 = cukup nyeri.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">6 \u2013 7 = lumayan nyeri.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">8 \u2013 9 = sangat nyeri.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">10 \u00a0 \u00a0 = amat sangat nyeri (tak tertahankan).<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5811\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/wong-baker-skala.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"237\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/wong-baker-skala.jpg 600w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/wong-baker-skala-300x119.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">c. Comfort scale.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Indikasi: pasien bayi, anak, dan dewasa di ruang rawat intensif \/ kamar operasi \/ ruang rawat inap yang tidak dapat dinilai menggunakan Numeric Rating Scale atau Wong-Baker FACES Pain Scale.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Instruksi: terdapat 9 kategori dengan setiap kategori memiliki skor 1-5, dengan skor total antara 9 \u2013 45.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Kewaspadaan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Ketenangan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Distress pernapasan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Menangis.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Pergerakan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Tonus otot.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Tegangan wajah.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Tekanan darah basal.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Denyut jantung basal.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<table border=\"1\" width=\"636\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\" rowspan=\"2\" width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Kategori <\/strong><\/span><\/td>\n<td style=\"text-align: center;\" rowspan=\"2\" width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Skor <\/strong><\/span><\/td>\n<td style=\"text-align: center;\" colspan=\"4\" width=\"204\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Tanggal \/ waktu<\/strong><\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Kewaspadaan<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 tidur pulas \/ nyenyak.<br \/>\n2 \u2013 tidur kurang nyenyak.<br \/>\n3 \u2013 gelisah.<br \/>\n<span style=\"font-family: inherit; font-size: inherit;\">4 \u2013 sadar sepenuhnya dan waspada.<br \/>\n<\/span>5 \u2013 <em>hiper alert.<\/em><\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Ketenangan<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 tenang.<br \/>\n2 \u2013 agak cemas.<br \/>\n3 \u2013 cemas.<br \/>\n4 \u2013 sangat cemas.<br \/>\n5 \u2013 panik.<\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Distress pernapasan<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 tidak ada respirasi spontan dan tidak ada batuk.<br \/>\n2 \u2013 respirasi spontan dengan sedikit \/ tidak ada respons terhadap ventilasi.<br \/>\n3 \u2013 kadang-kadang batuk atau terdapat tahanan terhadap ventilasi.<br \/>\n4 \u2013 sering batuk, terdapat tahanan \/ perlawanan terhadap ventilator.<br \/>\n5 \u2013 melawan secara aktif terhadap ventilator, batuk terus-menerus \/ tersedak<\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Menangis<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 bernapas dengan tenang, tidak \u00a0menangis.<br \/>\n2 \u2013 terisak-isak.<br \/>\n3 \u2013 meraung.<br \/>\n4 \u2013 menangis.<br \/>\n5 \u2013 berteriak<\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Pergerakan<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 tidak ada pergerakan.<br \/>\n2 \u2013 kedang-kadang bergerak perlahan.<br \/>\n3 \u2013 sering bergerak perlahan.<br \/>\n4 \u2013 pergerakan aktif \/ gelisah.<br \/>\n5 \u2013 pergrakan aktif termasuk badan dan kepala.<\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Tonus otot<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 otot relaks sepenuhnya, tidak ada tonus otot.<br \/>\n2 \u2013 penurunan tonus otot.<br \/>\n3 \u2013 tonus otot normal.<br \/>\n4 \u2013 peningkatan tonus otot dan fleksi jari tangan dan kaki.<br \/>\n5 \u2013 kekakuan otot ekstrim dan fleksi jari tangan dan kaki<\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Tegangan wajah<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 otot wajah relaks sepenuhnya.<br \/>\n2 \u2013 tonus otot wajah normal, tidak terlihat tegangan otot wajah yang nyata.<br \/>\n3 \u2013 tegangan beberapa otot wajah terlihat nyata.<br \/>\n4 \u2013 tegangan hampir di seluruh otot wajah.<br \/>\n5 \u2013 seluruh otot wajah tegang, meringis<\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Tekanan darah basal<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 tekanan darah di bawah batas normal.<br \/>\n2 \u2013 tekanan darah berada di batas normal secara konsisten.<br \/>\n3 \u2013 peningkatan tekanan darah sesekali ?15% di atas batas normal (1-3 kali dalam observasi selama 2 menit).<br \/>\n4 \u2013 seringnya peningkatan tekanan darah ?15% di atas batas normal (&gt;3 kali dalam observasi selama 2 menit).<br \/>\n5 \u2013 peningkatan tekanan darah terus-menerus ?15%<\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Denyut jantung basal<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\">1 \u2013 denyut jantung di bawah batas normal.<br \/>\n2 \u2013 denyut jantung berada di batas normal secara konsisten.<br \/>\n3 \u2013 peningkatan denyut jantung sesekali ?15% di atas batas normal (1-3 kali dalam observasi selama 2 menit).<br \/>\n4 \u2013 seringnya peningkatan denyut jantung ?15% di atas batas normal (&gt;3 kali dalam observasi selama 2 menit).<br \/>\n5 \u2013 peningkatan denyut jantung terus-menerus ?15%<\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"318\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Skor total<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"50\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"54\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"46\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><span style=\"color: #000000;\">d. Pada pasien dalam pengaruh obat anestesi atau dalam kondisi sedasi sedang, asesmen dan penanganan nyeri dilakukan saat pasien menunjukkan respon berupa ekspresi tubuh atau verbal akan rasa nyeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">e. Asesmen ulang nyeri: dilakukan pada pasien yang dirawat lebih dari beberapa jam dan menunjukkan adanya rasa nyeri, sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Lakukan asesmen nyeri yang komprensif setiap kali melakukan pemeriksaan fisik pada pasien.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Dilakukan pada: pasien yang mengeluh nyeri, 1 jam setelah tatalaksana nyeri, setiap empat jam (pada pasien yang sadar\/ bangun), pasien yang menjalani prosedur menyakitkan, sebelum transfer pasien, dan sebelum pasien pulang dari rumah sakit.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Pada pasien yang mengalami nyeri kardiak (jantung), lakukan asesmen ulang setiap 5 menit setelah pemberian nitrat atau obat-obat intravena<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Pada nyeri akut \/ kronik, lakukan asesmen ulang tiap 30 menit \u2013 1 jam setelah pemberian obat nyeri.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">f. Derajat nyeri yang meningkat hebat secara tiba-tiba, terutama bila sampai menimbulkan perubahan tanda vital, merupakan tanda adanya diagnosis medis atau bedah yang baru (misalnya komplikasi pasca-pembedahan, nyeri neuropatik).<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>3. Pemeriksaan Fisik.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">a. Pemeriksaan umum.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu tubuh.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Ukurlah berat badan dan tinggi badan pasien.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Periksa apakah terdapat lesi \/ luka di kulit seperti jaringan parut akibat operasi, hiperpigmentasi, ulserasi, tanda bekas jarum suntik.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Perhatikan juga adanya ketidaksegarisan tulang (malalignment), atrofi otot, fasikulasi, diskolorasi, dan edema.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">b. Status mental.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nilai orientasi pasien.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nilai kemampuan mengingat jangka panjang, pendek, dan segera.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nilai kemampuan kognitif.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nilai kondisi emosional pasien, termasuk gejala-gejala depresi, tidak ada harapan, atau cemas.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">c. Pemeriksaan sendi.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Selalu periksa kedua sisi untuk menilai kesimetrisan<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nilai dan catat pergerakan aktif semua sendi, perhatikan adanya keterbatasan gerak, diskinesis, raut wajah meringis, atau asimetris.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nilai dan catat pergerakan pasif dari sendi yang terlihat abnormal \/ dikeluhkan oleh pasien (saat menilai pergerakan aktif). Perhatikan adanya limitasi gerak, raut wajah meringis, atau asimetris.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Palpasi setiap sendi untuk menilai adanya nyeri<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Pemeriksaan stabilitas sendi untuk mengidentifikasi adanya cedera ligamen.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">d. Pemeriksaan motorik.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nilai dan catat kekuatan motorik pasien dengan menggunakan kriteria di bawah ini.<\/span><\/li>\n<li>\n<table border=\"1\" width=\"481\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\" width=\"66\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Derajat<\/strong><\/span><\/td>\n<td style=\"text-align: center;\" width=\"414\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Definisi <\/strong><\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\" width=\"66\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>5<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"414\"><span style=\"color: #000000;\">Tidak terdapat keterbatasan gerak, mampu melawan tahanan kuat<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\" width=\"66\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>4<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"414\"><span style=\"color: #000000;\">Mampu melawan tahanan ringan<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\" width=\"66\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>3<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"414\"><span style=\"color: #000000;\">Mampu bergerak melawan gravitasi<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\" width=\"66\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>2<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"414\"><span style=\"color: #000000;\">Mampu bergerak \/ bergeser ke kiri dan kanan tetapi tidak mampu melawan gravitasi<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\" width=\"66\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>1<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"414\"><span style=\"color: #000000;\">Terdapat kontraksi otot (inspeksi \/ palpasi), tidak menghasilkan pergerakan<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\" width=\"66\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>0<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"414\"><span style=\"color: #000000;\">Tidak terdapat kontraksi otot<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">e. Pemeriksaan sensorik.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Lakukan pemeriksaan: sentuhan ringan, nyeri (tusukan jarum-pin prick), getaran, dan suhu.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">f. Pemeriksaan neurologis lainnya.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Evaluasi nervus kranial I \u2013 XII, terutama jika pasien mengeluh nyeri wajah atau servikal dan sakit kepala.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Periksa refleks otot, nilai adanya asimetris dan klonus. Untuk mencetuskan klonus membutuhkan kontraksi &gt; 4 otot.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<table width=\"416\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"265\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Refleks <\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"151\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Segmen spinal <\/strong><\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"265\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Biseps <\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"151\"><span style=\"color: #000000;\">C5<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"265\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Brakioradialis <\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"151\"><span style=\"color: #000000;\">C6<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"265\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Triseps<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"151\"><span style=\"color: #000000;\">C7<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"265\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Tendon patella<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"151\"><span style=\"color: #000000;\">L4<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"265\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Hamstring medial<\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"151\"><span style=\"color: #000000;\">L5<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"265\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Achilles <\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"151\"><span style=\"color: #000000;\">S1<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nilai adanya refleks Babinski dan Hoffman (hasil positif menunjukkan lesi upper motor neuron)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Nilai gaya berjalan pasien dan identifikasi defisit serebelum dengan melakukan tes dismetrik (tes pergerakan jari-ke-hidung, pergerakan tumit-ke-tibia), tes disdiadokokinesia, dan tes keseimbangan (Romberg dan Romberg modifikasi).<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">g. Pemeriksaan khusus.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Terdapat 5 tanda non-organik pada pasien dengan gejala nyeri tetapi tidak ditemukan etiologi secara anatomi. Pada beberapa pasien dengan 5 tanda ini ditemukan mengalami hipokondriasis, histeria, dan depresi.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Kelima tanda ini adalah:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Distribusi nyeri superfisial atau non-anatomik<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Gangguan sensorik atau motorik non-anatomik<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Verbalisasi berlebihan akan nyeri (over-reaktif)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Reaksi nyeri yang berlebihan saat menjalani tes \/ pemeriksaan nyeri.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Keluhan akan nyeri yang tidak konsisten (berpindah-pindah) saat gerakan yang sama dilakukan pada posisi yang berbeda (distraksi).<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">4. Pemeriksaan Elektromiografi (EMG).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Membantu mencari penyebab nyeri akut \/ kronik pasien<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Mengidentifikasi area persarafan \/ cedera otot fokal atau difus yang terkena<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Mengidentifikasi atau menyingkirkan kemungkinan yang berhubungan dengan rehabilitasi, injeksi, pembedahan, atau terapi obat.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d. Membantu menegakkan diagnosis<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> e. Pemeriksaan serial membantu pemantauan pemulihan pasien dan respons terhadap terapi<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> f. Indikasi: kecurigaan saraf terjepit, mono- \/ poli-neuropati, radikulopati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">5. Pemeriksaan sensorik kuantitatif.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Pemeriksaan sensorik mekanik (tidak nyeri): getaran<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Pemeriksaan sensorik mekanik (nyeri): tusukan jarum, tekanan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Pemeriksaan sensasi suhu (dingin, hangat, panas)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d. Pemeriksaan sensasi persepsi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">6. Pemeriksaan radiologi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Indikasi:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. pasien nyeri dengan kecurigaan penyakit degeneratif tulang belakang<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. pasien dengan kecurigaan adanya neoplasma, infeksi tulang belakang, penyakit inflamatorik, dan penyakit vascular.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Pasien dengan defisit neurologis motorik, kolon, kandung kemih, atau ereksi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4. Pasien dengan riwayat pembedahan tulang belakang<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 5. Gejala nyeri yang menetap &gt; 4 minggu<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">b. Pemilihan pemeriksaan radiologi: bergantung pada lokasi dan karakteristik nyeri.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Foto polos: untuk skrining inisial pada tulang belakang (fraktur, ketidaksegarisan vertebra, spondilolistesis, spondilolisis, neoplasma)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. MRI: gold standard dalam mengevaluasi tulang belakang (herniasi diskus, stenosis spinal, osteomyelitis, infeksi ruang diskus, keganasan, kompresi tulang belakang, infeksi)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. CT-scan: evaluasi trauma tulang belakang, herniasi diskus, stenosis spinal.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4. Radionuklida bone-scan: sangat bagus dalam mendeteksi perubahan metabolisme tulang (mendeteksi osteomyelitis dini, fraktur kompresi yang kecil\/minimal, keganasan primer, metastasis tulang)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">7. Asesmen psikologi.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Nilai mood pasien, apakah dalam kondisi cemas, ketakutan, depresi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Nilai adanya gangguan tidur, masalah terkait pekerjaan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Nilai adanya dukungan sosial, interaksi sosial<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Farmakologi Obat Analgesik.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">1. Lidokain tempel (Lidocaine patch) 5%.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Berisi lidokain 5% (700 mg).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Mekanisme kerja: memblok aktivitas abnormal di kanal natrium neuronal.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Memberikan efek analgesik yang cukup baik ke jaringan lokal, tanpa adanya efek anestesi (baal), bekrja secara perifer sehingga tidak ada efek samping sistemik<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d. Indikasi: sangat baik untuk nyeri neuropatik (misalnya neuralgia pasca-herpetik, neuropati diabetik, neuralgia pasca-pembedahan), nyeri punggung bawah, nyeri miofasial, osteoarthritis<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> e. Efek samping: iritasi kulit ringan pada tempat menempelnya lidokain<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> f. Dosis dan cara penggunaan: dapat memakai hingga 3 patches di area yang paling nyeri (kulit harus intak, tidak boleh ada luka terbuka), dipakai selama &lt;12 jam dalam periode 24 jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">2. Eutectic Mixture of Local Anesthetics (EMLA).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Mengandung lidokain 2,5% dan prilokain 2,5%<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Indikasi: anestesi topical yang diaplikasikan pada kulit yang intak dan pada membrane mukosa genital untuk pembedahan minor superfisial dan sebagai pre-medikasi untuk anestesi infiltrasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Mekanisme kerja: efek anestesi (baal) dengan memblok total kanal natrium saraf sensorik.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d. Onset kerjanya bergantung pada jumlah krim yang diberikan. Efek anesthesia lokal pada kulit bertahan selama 2-3 jam dengan ditutupi kassa oklusif dan menetap selama 1-2 jam setelah kassa dilepas.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> e. Kontraindikasi: methemoglobinemia idiopatik atau kongenital.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> f. Dosis dan cara penggunaan: oleskan krim EMLA dengan tebal pada kulit dan tutuplah dengan kassa oklusif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">3. Parasetamol.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Efek analgesik untuk nyeri ringan-sedang dan anti-piretik. Dapat dikombinasikan dengan opioid untuk memperoleh efek anelgesik yang lebih besar.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Dosis: 10 mg\/kgBB\/kali dengan pemberian 3-4 kali sehari. Untuk dewasa dapat diberikan dosis 3-4 kali 500 mg perhari.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">4. Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Efek analgesik pada nyeri akut dan kronik dengan intensitas ringan-sedang, anti-piretik<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Kontraindikasi: pasien dengan Triad Franklin (polip hidung, angioedema, dan urtikaria) karena sering terjadi reaksi anafilaktoid.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Efek samping: gastrointestinal (erosi \/ ulkus gaster), disfungsi renal, peningkatan enzim hati.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d. Ketorolak :<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. merupakan satu-satunya OAINS yang tersedia untuk parenteral. Efektif untuk nyeri sedang-berat<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. bermanfaat jika terdapat kontraindikasi opioid atau dikombinasikan dengan opioid untuk mendapat efek sinergistik dan meminimalisasi efek samping opioid (depresi pernapasan, sedasi, stasis gastrointestinal). Sangat baik untuk terapi multi-analgesik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">5. Efek analgesik pada Antidepresan<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Mekanisme kerja: memblok pengambilan kembali norepinefrin dan serotonin sehingga meningkatkan efek neurotransmitter tersebut dan meningkatkan aktivasi neuron inhibisi nosiseptif.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Indikasi: nyeri neuropatik (neuropati DM, neuralgia pasca-herpetik, cedera saraf perifer, nyeri sentral)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Contoh obat yang sering dipakai: amitriptilin, imipramine, despiramin: efek antinosiseptif perifer. Dosis: 50 \u2013 300 mg, sekali sehari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">6. Anti-konvulsan<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Carbamazepine: efektif untuk nyeri neuropatik. Efek samping: somnolen, gangguan berjalan, pusing. Dosis: 400 \u2013 1800 mg\/hari (2-3 kali perhari). Mulai dengan dosis kecil (2 x 100 mg), ditingkatkan perminggu hingga dosis efektif.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Gabapentin: Merupakan obat pilihan utama dalam mengobati nyeri neuropatik. Efek samping minimal dan ditoleransi dengan baik. Dosis: 100-4800 mg\/hari (3-4 kali sehari).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">7. Antagonis kanal natrium<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Indikasi: nyeri neuropatik dan pasca-operasi<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Lidokain: dosis 2mg\/kgBB selama 20 menit, lalu dilanjutkan dengan 1-3mg\/kgBB\/jam titrasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Prokain: 4-6,5 mg\/kgBB\/hari.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">8. Antagonis kanal kalsium<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Ziconotide: merupakan anatagonis kanal kalsium yang paling efektif sebagai analgesik. Dosis: 1-3ug\/hari. Efek samping: pusing, mual, nistagmus, ketidakseimbangan berjalan, konstipasi. Efek samping ini bergantung dosis dan reversibel jika dosis dikurangi atau obat dihentikan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Nimodipin, Verapamil: mengobati migraine dan sakit kepala kronik. Menurunkan kebutuhan morfin pada pasien kanker yang menggunakan eskalasi dosis morfin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">9. Tramadol<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Merupakan analgesik yang lebih poten daripada OAINS oral, dengan efek samping yang lebih sedikit \/ ringan. Berefek sinergistik dengan medikasi OAINS.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Indikasi: Efektif untuk nyeri akut dan kronik intensitas sedang (nyeri kanker, osteoarthritis, nyeri punggung bawahm neuropati DM, fibromyalgia, neuralgia pasca-herpetik, nyeri pasca-operasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Efek samping: pusing, mual, muntah, letargi, konstipasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d. Jalur pemberian: intravena, epidural, rektal, dan oral.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> e. Dosis tramadol oral: 3-4 kali 50-100 mg (perhari). Dosis maksimal: 400mg dalam 24 jam.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> f. Titrasi: terbukti meningkatkan toleransi pasien terhadap medikasi, terutama digunakan pada pasien nyeri kronik dengan riwayat toleransi yang buruk terhadap pengobatan atau memiliki risiko tinggi jatuh.<\/span><\/p>\n<table border=\"1\" width=\"624\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"120\">\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Protokol Titrasi <\/strong><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"96\">\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Dosis inisial<\/strong><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"270\">\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Jadwal titrasi<\/strong><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"138\">\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Direkomendasikan untuk<\/strong><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"120\"><span style=\"color: #000000;\">Titrasi 10-hari<\/span><\/td>\n<td width=\"96\"><span style=\"color: #000000;\">4 x 50mg selama 3 hari<\/span><\/td>\n<td width=\"270\"><span style=\"color: #000000;\">\u00b7- 2 x 50mg selama 3 hari.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Naikkan menjadi 3 x 50mg selama 3 hari.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Lanjutkan dengan 4 x 50mg.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Dapat dinaikkan sampai tercapai efek analgesik yang diinginkan.<\/span><\/td>\n<td width=\"138\"><span style=\"color: #000000;\">\u00a0&#8211; Lanjut usia<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u00b7- Risiko jatuh<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Sensitivitas medikasi<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"120\"><span style=\"color: #000000;\">Titrasi 16-hari<\/span><\/td>\n<td width=\"96\"><span style=\"color: #000000;\">4 x 25mg selama 3 hari<\/span><\/td>\n<td width=\"270\"><span style=\"color: #000000;\">&#8211; 2 x 25mg selama 3 hari.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Naikkan menjadi 3 x 25mg selama 3 hari.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Naikkan menjadi 4 x 25mg selama 3 hari.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Naikkan menjadi 2 x 50mg dan 2 x 25mg selama 3 hari.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Naikkan menjadi 4 x 50mg.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Dapat dinaikkan sampai tercapai efek analgesik yang diinginkan.<\/span><\/td>\n<td width=\"138\"><span style=\"color: #000000;\">\u00b7- Lanjut usia<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u00b7- Risiko jatuh<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Sensitivitas medikasi<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>10. Opioid.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">a. Merupakan analgesik poten (tergantung-dosis) dan efeknya dapat ditiadakan oleh nalokson.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Contoh opioid yang sering digunakan: morfin, sufentanil, meperidin.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> c. Dosis opioid disesuaikan pada setiap individu, gunakanlah titrasi.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> d. Adiksi terhadap opioid sangat jarang terjadi bila digunakan untuk penatalaksanaan nyeri akut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">e. Efek samping :<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">i. Depresi pernapasan, dapat terjadi pada:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">\u2022 Overdosis : pemberian dosis besar, akumulasi akibat pemberian secara infus, opioid long acting<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Pemberian sedasi bersamaan (benzodiazepin, antihistamin, antiemetik tertentu)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Adanya kondisi tertentu: gangguan elektrolit, hipovolemia, uremia, gangguan respirasi dan peningkatan tekanan intrakranial.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Obstructive sleep apnoes atau obstruksi jalan nafas intermiten<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">ii. Sedasi: adalah indikator yang baik untuk dan dipantau dengan menggunakan skor sedasi, yaitu:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 0 = sadar penuh<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 1 = sedasi ringan, kadang mengantuk, mudah dibangunkan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 2 = sedasi sedang, sering secara konstan mengantuk, mudah dibangunkan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 3 = sedasi berat, somnolen, sukar dibangunkan<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 S = tidur normal<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">iii. Sistem Saraf Pusat:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Euforia, halusinasi, miosis, kekakukan otot<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Pemakai MAOI : pemberian petidin dapat menimbulkan koma<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">iv. Toksisitas metabolit<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Petidin (norpetidin) menimbulkan tremor, twitching, mioklonus multifokal, kejang<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Petidin tidak boleh digunakan lebih dari 72 jam untuk penatalaksanaan nyeri pasca-bedah<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Pemberian morfin kronik: menimbulkan gangguan fungsi ginjal, terutama pada pasien usia &gt; 70 tahun<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">v. Efek kardiovaskular :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Tergantung jenis, dosis, dan cara pemberian; status volume intravascular; serta level aktivitas simpatetik<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Morfin menimbulkan vasodilatasi<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Petidin menimbulkan takikardi<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">vi. Gastrointestinal: Mual, muntah. Terapi untuk mual dan muntah: hidrasi dan pantau tekanan darah dengan adekuat, hindari pergerakan berlebihan pasca-bedah, atasi kecemasan pasien, obat antiemetic.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Perbandingan Obat-Obatan Anti-Emetik.<\/span><\/p>\n<table width=\"625\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"156\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Kategori <\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"113\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Metoklopramid <\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"133\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Droperidol, butirofenon <\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"109\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Ondansetron <\/strong><\/span><\/td>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Proklorperazin, fenotiazin<\/strong><\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"156\"><span style=\"color: #000000;\">Durasi (jam)<\/span><\/td>\n<td width=\"113\"><span style=\"color: #000000;\">4<\/span><\/td>\n<td width=\"133\"><span style=\"color: #000000;\">4-6 (dosis rendah)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 24 (dosis tinggi)<\/span><\/td>\n<td width=\"109\"><span style=\"color: #000000;\">8-24<\/span><\/td>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">6<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"156\"><span style=\"color: #000000;\">Efek samping:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ekstrapiramidal<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Anti-kolinergik<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 sedasi<\/span><\/td>\n<td width=\"113\">&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">++<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">&#8211;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">+<\/span><\/td>\n<td width=\"133\">&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">++<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">+<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">+<\/span><\/td>\n<td width=\"109\">&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">&#8211;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">&#8211;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">&#8211;<\/span><\/td>\n<td width=\"114\">&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">+<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">+<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">+<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"156\"><span style=\"color: #000000;\">Dosis (mg)<\/span><\/td>\n<td width=\"113\"><span style=\"color: #000000;\">10<\/span><\/td>\n<td width=\"133\"><span style=\"color: #000000;\">0,25-0,5<\/span><\/td>\n<td width=\"109\"><span style=\"color: #000000;\">4<\/span><\/td>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">12,5<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"156\"><span style=\"color: #000000;\">Frekuensi<\/span><\/td>\n<td width=\"113\"><span style=\"color: #000000;\">Tiap 4-6 jam<\/span><\/td>\n<td width=\"133\"><span style=\"color: #000000;\">Tiap 4-6 jam<\/span><\/td>\n<td width=\"109\"><span style=\"color: #000000;\">Tiap 12 jam<\/span><\/td>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Tiap 6-8 jam<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"156\"><span style=\"color: #000000;\">Jalur pemberian<\/span><\/td>\n<td width=\"113\"><span style=\"color: #000000;\">Oral, IV, IM<\/span><\/td>\n<td width=\"133\"><span style=\"color: #000000;\">IV, IM<\/span><\/td>\n<td width=\"109\"><span style=\"color: #000000;\">Oral, IV<\/span><\/td>\n<td width=\"114\"><span style=\"color: #000000;\">Oral, IM<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">f. Pemberian Oral:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. sama efektifnya dnegan pemberian parenteral pada dosis yang sesuai.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Digunakan segera setelah pasien dapat mentoleransi medikasi oral.<\/span><\/p>\n<div id=\"ndaxnjkxnja4oa\">\n<div>\n<p>Oogklachten, droge mond of een verstopte neus, dit onderzoek kan worden gebruikt om de gezondheid. Organische verbindingen zoals ftaliden helpen om de afscheiding van maagsap te <a href=\"https:\/\/gespecialiseerdeapotheek.com\/kamagra-oral-jelly-100mg-online\/\">Kamagra Jelly<\/a> verbeteren.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<p><span style=\"color: #000000;\">g. Injeksi intramuscular:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. merupakan rute parenteral standar yang sering digunakan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Namun, injeksi menimbulkan nyeri dan efektifitas penyerapannya tidak dapat diandalkan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Hindari pemberian via intramuscular sebisa mungkin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">h. Injeksi subkutan<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Injeksi intravena:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Pilihan perenteral utama setelah pembedahan major.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Dapat digunakan sebagai bolus atau pemberian terus-menerus (melalui infus).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4. Terdapat risiko depresi pernapasan pada pemberian yang tidak sesuai dosis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">j. Injeksi supraspinal:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Lokasi mikroinjeksi terbaik: mesencephalic periaqueductal gray (PAG).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Mekanisme kerja: memblok respons nosiseptif di otak.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Opioid intraserebroventrikular digunakan sebagai pereda nyeri pada pasien kanker.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">k. Injeksi spinal (epidural, intratekal):<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Secara selektif mengurangi keluarnya neurotransmitter di neuron kornu dorsalis spinal.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Sangat efektif sebagai analgesik.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Harus dipantau dengan ketat<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">l. Injeksi Perifer.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Pemberian opioid secara langsung ke saraf perifer menimbulkan efek anestesi lokal (pada konsentrasi tinggi).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Sering digunakan pada: sendi lutut yang mengalami inflamasi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Manajemen Nyeri Akut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">1. Nyeri akut merupakan nyeri yang terjadi &lt; 6 minggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">2. Lakukan asesmen nyeri: mulai dari anamnesis hingga pemeriksaan penunjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">3. Tentukan mekanisme nyeri:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Nyeri somatik: <\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Diakibatkan adanya kerusakan jaringan yang menyebabkan pelepasan zat kima dari sel yang cedera dan memediasi inflamasi dan nyeri melalui nosiseptor kulit.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Karakteristik: onset cepat, terlokalisasi dengan baik, dan nyeri bersifat tajam, menusuk, atau seperti ditikam.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Contoh: nyeri akibat laserasi, sprain, fraktur, dislokasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">b. Nyeri visceral: <\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Nosiseptor visceral lebih setikit dibandingkan somatic, sehingga jika terstimulasi akan menimbulkan nyeri yang kurang bisa dilokalisasi, bersifat difus, tumpul, seperti ditekan benda berat.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Penyebab: iskemi\/nekrosis, inflamasi, peregangan ligament, spasme otot polos, distensi organ berongga \/ lumen.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Biasanya disertai dengan gejala otonom, seperti mual, muntah, hipotensi, bradikardia, berkeringat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">c. Nyeri neuropatik: <\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Berasal dari cedera jaringan saraf<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Sifat nyeri: rasa terbakar, nyeri menjalar, kesemutan, alodinia (nyeri saat disentuh), hiperalgesia.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Gejala nyeri biasanya dialami pada bagian distal dari tempat cedera (sementara pada nyeri nosiseptif, nyeri dialami pada tempat cederanya)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4. Biasanya diderita oleh pasien dengan diabetes, multiple sclerosis, herniasi diskus, AIDS, pasien yang menjalani kemoterapi \/ radioterapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">4. Tatalaksana sesuai mekanisme nyerinya.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Farmakologi: gunakan Step-Ladder WHO.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. OAINS efektif untuk nyeri ringan-sedang, opioid efektif untuk nyeri sedang-berat.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Mulailah dengan pemberian OAINS \/ opioid lemah (langkah 1 dan 2) dnegan pemberian intermiten (pro re nata-prn) opioid kuat yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Jika langkah 1 dan 2 kurang efektif \/ nyeri menjadi sedang-berat, dapat ditingkatkan menjadi langkah 3 (ganti dengan opioid kuat dan prn analgesik dalam kurun waktu 24 jam setelah langkah 1).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4. Penggunaan opioid harus dititrasi. Opioid standar yang sering digunakan adalah morfin, kodein.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 5. Jika pasien memiliki kontraindikasi absolut OAINS, dapat diberikan opioid ringan.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 6. Jika fase nyeri akut pasien telah terlewati, lakukan pengurangan dosis secara bertahap:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px;\"><span style=\"color: #000000;\">\u2022 Intravena: antikonvulsan, ketamine, OAINS, opioid<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Oral: antikonvulsan, antidepresan, antihistamin, anxiolytic, kortikosteroid, anestesi lokal, OAINS, opioid, tramadol.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Rektal (supositoria): parasetamol, aspirin, opioid, fenotiazin<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Topical: lidokain patch, EMLA<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Subkutan: opioid, anestesi lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5823\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/analgesic-ladder.jpg\" alt=\"\" width=\"859\" height=\"565\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/analgesic-ladder.jpg 859w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/analgesic-ladder-300x197.jpg 300w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/analgesic-ladder-768x505.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 859px) 100vw, 859px\" \/><\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">*Keterangan:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 patch fentanyl tidak boleh digunakan untuk nyeri akut karena tidak sesuai indikasi dan onset kerjanya lama.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Untuk nyeri kronik: pertimbangkan pemberian terapi analgesik adjuvant (misalnya amitriptilin, gabapentin).<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> *Istilah:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 NSAID: non-steroidal anti-inflammatory drug.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 S\/R: slow release.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 PRN: when required.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">7. Berikut adalah algoritma pemberian opioid intermiten (prn) intravena untuk nyeri akut, dengan syarat:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Hanya digunakan oleh staf yang telah mendapat instruksi<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Tidak sesuai untuk pemberian analgesik secara rutin di ruang rawat inap biasa<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u2022 Efek puncak dari dosis intravena dapat terjadi selama 15 menit sehingga semua pasien harus diobservasi dengan ketat selama fase ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-5824\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-Manajemen-nyeri-791x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"777\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-Manajemen-nyeri-791x1024.jpg 791w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-Manajemen-nyeri-232x300.jpg 232w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-Manajemen-nyeri-768x994.jpg 768w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-Manajemen-nyeri.jpg 1700w\" sizes=\"auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">viii. Manajemen efek samping:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">\u2022 opioid :<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Mual dan muntah: antiemetic<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Konstipasi: berikan stimulant buang air besar, hindari laksatif yang mengandung serat karena dapat menyebabkan produksi gas-kembung-kram perut.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Gatal: pertimbangkan untuk mengganti opioid jenis lain, dapat juga menggunakan antihistamin.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Mioklonus: pertimbangkan untuk mengganti opioid, atau berikan benzodiazepine untuk mengatasi mioklonus.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Depresi pernapasan akibat opioid: berikan nalokson (campur 0,4mg nalokson dengan NaCl 0,9% sehingga total volume mencapai 10ml). Berikan 0,02 mg (0,5ml) bolus setiap menit hingga kecepatan pernapasan meningkat. Dapat diulang jika pasien mendapat terapi opioid jangka panjang.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">\u2022 OAINS:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Gangguan gastrointestinal: berikan PPI (proton pump inhibitor)<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> &#8211; Perdarahan akibat disfungsi platelet: pertimbangkan untuk mengganti OAINS yang tidak memiliki efek terhadap agregasi platelet.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">b. Pembedahan: injeksi epidural, supraspinal, infiltrasi anestesi lokal di tempat nyeri.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">c. Non-farmakologi:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\"><span style=\"color: #000000;\">1. Olah raga<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Imobilisasi<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Pijat<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4. Relaksasi<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 5. Stimulasi saraf transkutan elektrik8<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">5. Follow-up \/ asesmen ulang.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Asesmen ulang sebaiknya dilakukan dengan interval yang teratur.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Panduan umum:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u00a0 \u00a01. Pemberian parenteral: 30 menit<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u00a0 \u00a02. Pemberian oral: 60 menit<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> \u00a0 \u00a03. Intervensi non-farmakologi: 30-60 menit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">6. Pencegahan \u00a0:<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Edukasi pasien:<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 1. Berikan informasi mengenai kondisi dan penyakit pasien, serta tatalaksananya.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 2. Diskusikan tujuan dari manajemen nyeri dan manfaatnya untuk pasien<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 3. Beritahukan bahwa pasien dapat mengubungi tim medis jika memiliki pertanyaan \/ ingin berkonsultasi mengenai kondisinya.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> 4. Pasien dan keluarga ikut dilibatkan dalam menyusun manajemen nyeri (termasuk penjadwalan medikasi, pemilihan analgesik, dan jadwal control).<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">b. Kepatuhan pasien dalam menjalani manajemen nyeri dengan baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">7. Medikasi saat pasien pulang.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\"><span style=\"color: #000000;\">a. Pasien dipulangkan segera setelah nyeri dapat teratasi dan dapat beraktivitas seperti biasa \/ normal.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> b. Pemilihan medikasi analgesik bergantung pada kondisi pasien.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-5826\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-asesmen-nyeri-1014x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"606\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-asesmen-nyeri-1014x1024.jpg 1014w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-asesmen-nyeri-297x300.jpg 297w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-asesmen-nyeri-768x776.jpg 768w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-asesmen-nyeri-50x50.jpg 50w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/algoritma-asesmen-nyeri.jpg 1455w\" sizes=\"auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>Manajemen Nyeri Kronik.<\/h2>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>1. Lakukan asesmen nyeri:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">a. anamnesis dan pemeriksaan fisik (karakteristik nyeri, riwayat manajemen nyeri sebelumnya)<br \/>\nb. pemeriksaan penunjang: radiologi<br \/>\nc. asesmen fungsional:<br \/>\n1.nilai aktivitas hidup dasar (ADL), identifikasi kecacatan \/ disabilitas.<br \/>\n2.buatlah tujuan fungsional spesifik dan rencana perawatan pasien.<br \/>\n3.nilai efektifitas rencana perawatan dan manajemen pengobatan.<\/p>\n<p>2. tentukan mekanisme nyeri:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">a. manajemen bergantung pada jenis \/ klasifikasi nyerinya.<br \/>\nb. Pasien sering mengalami &gt; 1 jenis nyeri.<br \/>\nc. Terbagi menjadi 4 jenis:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">1. Nyeri neuropatik:<br \/>\n\u2022 disebabkan oleh kerusakan \/ disfungsi sistem somatosensorik.<br \/>\n\u2022 Contoh: neuropati DM, neuralgia trigeminal, neuralgia pasca-herpetik.<br \/>\n\u2022 Karakteristik: nyeri persisten, rasa terbakar, terdapat penjalaran nyeri sesuai dengan persarafannya, baal, kesemutan, alodinia.<br \/>\n\u2022 Fibromyalgia: gatal, kaku, dan nyeri yang difus pada musculoskeletal (bahu, ekstremitas), nyeri berlangsung selama &gt; 3bulan<\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">2. Nyeri otot: tersering adalah nyeri miofasial.<br \/>\n\u2022 mengenai otot leher, bahu, lengan, punggung bawah, panggul, dan ekstremitas bawah.<br \/>\n\u2022 Nyeri dirasakan akibat disfungsi pada 1\/lebih jenis otot, berakibat kelemahan, keterbatasan gerak.<br \/>\n\u2022 Biasanya muncul akibat aktivitas pekerjaan yang repetitive.<br \/>\n\u2022 Tatalaksana: mengembalikan fungsi otot dengan fisioterapi, identifikasi dan manajemen faktor yang memperberat (postur, gerakan repetitive, faktor pekerjaan)<\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">3. Nyeri inflamasi (dikenal juga dengan istilah nyeri nosiseptif):<br \/>\n\u2022 Contoh: artritis, infeksi, cedera jaringan (luka), nyeri pasca-operasi<br \/>\n\u2022 Karakteristik: pembengkakan, kemerahan, panas pada tempat nyeri. Terdapat riwayat cedera \/ luka.<br \/>\n\u2022 Tatalaksana: manajemen proses inflamasi dengan antibiotic \/ antirematik, OAINS, kortikosteroid.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">4. Nyeri mekanis \/ kompresi:<br \/>\n\u2022 Diperberat dengan aktivitas, dan nyeri berkurang dengan istirahat.<br \/>\n\u2022 Contoh: nyeri punggung dan leher (berkaitan dengan strain\/sprain ligament\/otot), degenerasi diskus, osteoporosis dengan fraktur kompresi, fraktur.<br \/>\n\u2022 Merupakan nyeri nosiseptif<br \/>\n\u2022 Tatalaksana: beberapa memerlukan dekompresi atau stabilisasi.<\/p>\n<p>3. Nyeri kronik: nyeri yang persisten \/ berlangsung &gt; 6 minggu<\/p>\n<p>4. Asesmen lainnya:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">a. Asesmen psikologi: nilai apakah pasien mempunyai masalah psikiatri (depresi, cemas, riwayat penyalahgunaan obat-obatan, riwayat penganiayaan secara seksual\/fisik.verbal, gangguan tidur)<br \/>\nb. Masalah pekerjaan dan disabilitas<br \/>\nc. Faktor yang mempengaruhi:<br \/>\n1. Kebiasaan akan postur leher dan kepala yang buruk<br \/>\n2. Penyakit lain yang memperburuk \/ memicu nyeri kronik pasien<br \/>\nd. Hambatan terhadap tatalaksana:<br \/>\n1. Hambatan komunikasi \/ bahasa<br \/>\n2. Faktor finansial<br \/>\n3. Rendahnya motivasi dan jarak yang jauh terhadap fasilitas kesehatan<br \/>\n4. Kepatuhan pasien yang buruk<br \/>\n5. Kurangnya dukungan dari keluarga dan teman<\/p>\n<p>5. Manajemen nyeri kronik.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">a. Prinsip level 1:<\/p>\n<ol>\n<li>Buatlah rencana perawatan tertulis secara komprehensif (buat tujuan, perbaiki tidur, tingkatkan aktivitas fisik, manajemen stress, kurangi nyeri).<\/li>\n<li>Pasien harus berpartisipasi dalam program latihan untuk meningkatkan fungsi.<\/li>\n<li>Dokter dapat mempertimbangkan pendekatan perilaku kognitif dengan restorasi fungsi untuk membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi.\n<ul>\n<li>Beritahukan kepada pasien bahwa nyeri kronik adalah masalah yang rumit dan kompleks. Tatalaksana sering mencakup manajemen stress, latihan fisik, terapi relaksasi, dan sebagainya.<\/li>\n<li>Beritahukan pasien bahwa focus dokter adalah manajemen nyerinya.<\/li>\n<li>Ajaklah pasien untuk berpartisipasi aktif dalam manajemen nyeri.<\/li>\n<li>Berikan medikasi nyeri yang teratur dan terkontrol.<\/li>\n<li>Jadwalkan control pasien secara rutin, jangan biarkan penjadwalan untuk control dipengaruhi oleh peningkatan level nyeri pasien.<\/li>\n<li>Bekerjasama dengan keluarga untuk memberikan dukungan kepada pasien.<\/li>\n<li>Bantulah pasien agar dapat kembali bekerja secara bertahap.<\/li>\n<li>Atasi keengganan pasien untuk bergerak karena takut nyeri.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Manajemen psikososial (atasi depresi, kecemasan, ketakutan pasien).<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">Berikut adalah formulir rencana perawatan pasien dengan nyeri kronik:<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-5830\" src=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Manajemen-nyeri-form-754x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"815\" srcset=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Manajemen-nyeri-form-754x1024.jpg 754w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Manajemen-nyeri-form-221x300.jpg 221w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Manajemen-nyeri-form-768x1044.jpg 768w, http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Manajemen-nyeri-form.jpg 1404w\" sizes=\"auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">MANAJEMEN NYERI KRONIK \u00a0 (tunggu masih di ketik-ketik&#8230;)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/oyw1ysKb2Go\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/EUquKkMcWX4\" width=\"640\" height=\"360\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_4326\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"4326\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Panduan Manajemen Nyeri. Donwload materi data-word DISINI ! Definisi. Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman,baik ringan maupun berat yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain,mencakup <a class=\"more-link\" href=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/\">Continue Reading &rarr;<\/a><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_4326\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"4326\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"author":19,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[362],"tags":[237,236],"class_list":["post-4326","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-utama","tag-manajemen-nyeri","tag-nyeri"],"a3_pvc":{"activated":true,"total_views":24134,"today_views":1},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>PANDUAN MANAJEMEN NYERI - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"PANDUAN MANAJEMEN NYERI - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Panduan Manajemen Nyeri. Donwload materi data-word DISINI ! Definisi. Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman,baik ringan maupun berat yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain,mencakup Continue Reading &rarr;\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/akreditasirumahsakit\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-06-28T03:14:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-06-02T04:32:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/numeric-rating-scale.jpg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Penulis TKJ\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Penulis TKJ\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"22 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Penulis TKJ\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/95f9da9922b2a58797f4a90ca1d24548\"},\"headline\":\"PANDUAN MANAJEMEN NYERI\",\"datePublished\":\"2017-06-28T03:14:40+00:00\",\"dateModified\":\"2022-06-02T04:32:45+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/\"},\"wordCount\":4372,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/akreditasi.my.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/numeric-rating-scale.jpg\",\"keywords\":[\"Manajemen Nyeri\",\"Nyeri\"],\"articleSection\":[\"utama\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/\",\"url\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/\",\"name\":\"PANDUAN MANAJEMEN NYERI - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/akreditasi.my.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/numeric-rating-scale.jpg\",\"datePublished\":\"2017-06-28T03:14:40+00:00\",\"dateModified\":\"2022-06-02T04:32:45+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/95f9da9922b2a58797f4a90ca1d24548\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/#primaryimage\",\"url\":\"http:\\\/\\\/akreditasi.my.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/numeric-rating-scale.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\\\/\\\/akreditasi.my.id\\\/rs\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/numeric-rating-scale.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/panduan-manajemen-nyeri\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"PANDUAN MANAJEMEN NYERI\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/\",\"name\":\"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\",\"description\":\"Pedoman, Panduan, Kebijakan, SPO, TOR, dan lain-lain - Bantu Pembiayaan Web ini dengan KLIK IKLAN .\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/95f9da9922b2a58797f4a90ca1d24548\",\"name\":\"Penulis TKJ\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fc3753ba501f6f8530bd9a3cd838ebb58b939bec6994cf4df42d855d3b0ada85?s=96&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fc3753ba501f6f8530bd9a3cd838ebb58b939bec6994cf4df42d855d3b0ada85?s=96&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/fc3753ba501f6f8530bd9a3cd838ebb58b939bec6994cf4df42d855d3b0ada85?s=96&r=g\",\"caption\":\"Penulis TKJ\"},\"url\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/author\\\/tkj\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"PANDUAN MANAJEMEN NYERI - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"PANDUAN MANAJEMEN NYERI - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","og_description":"Panduan Manajemen Nyeri. Donwload materi data-word DISINI ! Definisi. Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman,baik ringan maupun berat yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain,mencakup Continue Reading &rarr;","og_url":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/","og_site_name":"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/akreditasirumahsakit\/","article_published_time":"2017-06-28T03:14:40+00:00","article_modified_time":"2022-06-02T04:32:45+00:00","og_image":[{"url":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/numeric-rating-scale.jpg","type":"","width":"","height":""}],"author":"Penulis TKJ","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Penulis TKJ","Est. reading time":"22 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/"},"author":{"name":"Penulis TKJ","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/95f9da9922b2a58797f4a90ca1d24548"},"headline":"PANDUAN MANAJEMEN NYERI","datePublished":"2017-06-28T03:14:40+00:00","dateModified":"2022-06-02T04:32:45+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/"},"wordCount":4372,"commentCount":0,"image":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/numeric-rating-scale.jpg","keywords":["Manajemen Nyeri","Nyeri"],"articleSection":["utama"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/","url":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/","name":"PANDUAN MANAJEMEN NYERI - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","isPartOf":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/#primaryimage"},"image":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/numeric-rating-scale.jpg","datePublished":"2017-06-28T03:14:40+00:00","dateModified":"2022-06-02T04:32:45+00:00","author":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/95f9da9922b2a58797f4a90ca1d24548"},"breadcrumb":{"@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/#primaryimage","url":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/numeric-rating-scale.jpg","contentUrl":"http:\/\/akreditasi.my.id\/rs\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/numeric-rating-scale.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/panduan-manajemen-nyeri\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"PANDUAN MANAJEMEN NYERI"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#website","url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/","name":"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","description":"Pedoman, Panduan, Kebijakan, SPO, TOR, dan lain-lain - Bantu Pembiayaan Web ini dengan KLIK IKLAN .","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/95f9da9922b2a58797f4a90ca1d24548","name":"Penulis TKJ","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fc3753ba501f6f8530bd9a3cd838ebb58b939bec6994cf4df42d855d3b0ada85?s=96&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fc3753ba501f6f8530bd9a3cd838ebb58b939bec6994cf4df42d855d3b0ada85?s=96&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fc3753ba501f6f8530bd9a3cd838ebb58b939bec6994cf4df42d855d3b0ada85?s=96&r=g","caption":"Penulis TKJ"},"url":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/author\/tkj\/"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4326","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/19"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4326"}],"version-history":[{"count":24,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4326\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6568,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4326\/revisions\/6568"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4326"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4326"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4326"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}