{"id":4271,"date":"2016-01-01T20:17:50","date_gmt":"2016-01-01T13:17:50","guid":{"rendered":"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/?p=4271"},"modified":"2022-10-06T22:28:44","modified_gmt":"2022-10-06T15:28:44","slug":"pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/","title":{"rendered":"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \/ ICU"},"content":{"rendered":"<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><button id=\"listenButton1\" class=\"responsivevoice-button\" type=\"button\" value=\"Play\" title=\"ResponsiveVoice Tap to Start\/Stop Speech\"><span>&#128266; Baca &amp; Dengarkan!<\/span><\/button>\n        <script>\n            listenButton1.onclick = function(){\n                if(responsiveVoice.isPlaying()){\n                    responsiveVoice.cancel();\n                }else{\n                    responsiveVoice.speak(\"BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Instalasi Rawat Intensif (IRI) \/ ICU adalah suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri (instalasi dibawah direktur pelayanan), dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa dengan prognosis dubia. IRI \/ ICU menyediakan kemampuan dan sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi-fungsi vital dengan menggunakan ketrampilan staf medic, perawat dan staf lain yang berpengalaman dalam pengelolaan keadaan-keaadaan tersebut. Kematian pasien yang mengalami pembedahan terbanyak timbul pada saat pasca bedah. Pada sekitar tahun 1860, Florence Nightingale mengusulkan anestesi sampai ke masa pasca bedah. Dimulai sekitar tahun 1942, Mayo Clinic membuat suatu ruangan khusus dimana pasien-pasien pasca bedah dikumpulkan dan diawasi sampai sadar dan stabil fungsi vitalnya, serta bebas dari pengaruh sisa obat anestesi. Keberhasilan unit pulih sadar merupakan awal dipandang perlunya untuk melanjutkan pelayanan serupa tidak pada masa pulih sadar saja, namun juga pada masa pasca bedah. Evolusi IRI\/ICU bermula dari timbulnya wabah poliomelytis di Scandinavia pada sekitar awal tahun 1950, dijumpai kematian yang disebabkan kelumpuhan otot-otot pernafasan. Dokter spesialis antologi yang dipelopori oleh Bj\u00d8rn Ibsen pada waktu itu, melakukan intubasi dan memeberikan bantuan napas secara manual mirip yang dilakukan selama anestesi. Dengan bantuan para mahasiswa kedokteran dan sekelompok sukarelawan mereka mempertahankan pasien poliomelytis bulbar dan bahkan menurunkan mortalitas menjadi sebanyak 40%, disbanding dengan cara sebelumnya yakni penggunaan iron lung yang mortalitasnya sebesar 90%. Pada tahun 1952 Engstrom membuat ventilasi mekanik bertekanan positif yang ternyata sangat efektif member pernafasan\u00a0jangka panjang. Sejak saat itulah Icu dengan perawatan pernapasan mulai terbantuk dan tersebar luas. Pada saat ini, IRI\/ICU modern tidak terbatas menangani pasien pasca bedah atau ventilasi mekanis saja, namun telah menjadi cabang ilmu sendiri yaitu intensive care medicine. Ruang lingkup pelayanan meliputi dukungan fungsi organ-organ vital seperti pernapasan, kardiosirkulasi, susunan saraf pusat, ginjal dan lain-lainya, baik pada pasien dewasa ataupun pasien anak. Rumah sakit sebagai penyedia pelayanan kesehatan mempunyai fungsi rujukan harus dapat memberikan pelayanan IRI\/ICU yang professional dan berkualitas. Dengan mengedepankan keselamatan pasien. Pada instalasi rawat intensif (IRI\/ICU), perawatan untuk pasien dilaksanakan dengan melibatkan berbagai tenaga profesional yang terdiri dari multidisiplin ilmu yang bekerja sama dalam tim. Pengembangan tim mulitidisplin yang kuat sangat penting dalam meningkatkan keselamatan pasien. Selain dukungan itu sarana, prasarana serta peralatan juga diperlukan dalam rangka meningkatkan pelayanan IRI\/ICU. Oleh karena itu, mengingat diperlukanya tenaga khusus, terbatasnya sarana dan prasarana, serta mahalnya peralatan, maka demi efisiensi, keberadaan IRI\/ICU perlu dikonsentrasikan. 1.2. Tujuan Pedoman 1.2.1. Tujuan Umum. Meningkatkan Pelayanan yang bermutu dan mengutamakan keselamatan pasien. 1.2.2. Tujuan Khusus. 1. Memberikan acuan pelaksanaan pelayanan IRI \/ ICU dirumah sakit . 2. Meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien IRI \/ ICU dirumah sakit . 3. Menjadi acuan pengembangan pelayanan IRI \/ ICU dirumah sakit . 1.3. Ruang Lingkup Pelayanan. Pelayanan di Instalasi Rawat Intensif rumah sakit meliputi penanganan kasus IRI \/ ICU , HCU dan penanganan kasus burn unit. 1.4. Batasan Operasional. Pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan RS dan Standar Prosedur Operasional. 1. Pelayanan IRI \/ ICU Pelayanan IRI \/ ICU meliputi dukungan fungsi organ-organ vital seperti pernapasan, kardiosirkulasi, susunan saraf pusat, ginjal dan lain-lainya, baik pada pasien dewasa ataupun pasien anak. Pelayanan HCU Pelayanan HCU diberikan kepada pasien dengan kondisi kritis stabil yang membutuhkan pelayanan, pengobatan dan observasi secara ketat. 2. Pelayanan Burn Unit Pelayanan Burn unit diberikan pada pasien dengan luka bakar yang membutuhkan pelayanan dan pengobatan khusus sesuai grade dan luas luka bakar. 1.5. Landasan Hukum Dasar hukum yang digunakan dalam penyusunan pedoman ini adalah sebagai berikut : 1. KMK No. 129\/\/MENKES\/SK\/II\/2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal RS 2. PMK No. 1438\/MENKES\/PER\/IX\/2010 Tentang Standar Pelayanan Kedokteran 3. Kepmenkes RI No 004\/Menkes\/SK\/I\/2003 Tentang Kebijakan Dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan. 4. Undang-Undang No.44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. 5. Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan --------------------------------------------------------------------------------- BAB II STANDAR KETENAGAAN 2.1. Kualifikasi Sumber Daya manusia. Kualifikasi tenaga kesehatan yang bekerja di IRI \/ ICU harus mempunyai pengetahuan yang memadai, mempunyai ketrampilan yang sesuai dan mempunyai komitmen terhadap waktu. 2.2. Tenaga Medis. Seorang dokter intensivis adalah seorang dokter yang memenuhi standar kompetensi berikut : a. Terdidik dan bersertifikat sebagai seorang spesialis anastesiologi melalui program pelatihan dan pendidikan yang diakui oleh perhimpunan profesi yang terkait. b. Menunjang kualitas pelayanan IRI \/ ICU dan menggunakan sumber daya IRI \/ ICU secara efesien c. Mendarmabaktikan lebih dari 50% waktu profesinya dalam pelayanan IRI \/ ICU d. Bersedia berpartisipasi dalam suatu unit yang memberikan pelayanan 24 jam\/hari, 7 hari\/minggu e. Mampu melakukan prosedur critical care, antara lain : 1) Sampel darah arteri 2) Memasang dan mempertahankan jalan napas termasuk intubasi trakeal, trakeostomi perkutan dan ventilasi mekanis 3) Mengambil kateter intravaskuler untk monitoring invasive maupun terapi invasif\u00a0misalnya; peralatan monitoring, termasuk :\u00a0a. Kateter vena central (CVP) 4) Resusitasi jantung paru 5) Pipa torakostomi f. Melaksanakan dua peran utama : 1) Pengelolaan pasien Mampu berperan sebagai pemimpin tim dalam memberikan pelayanan di IRI \/ ICU , menggabungkan dan melakukan titrasi pelayanan pada pasien penyakit kompleks atau cedera termasuk gagal organ multi-sistem. Dalam mengelola pasien, dokter intensivis dapat mengelola send IRI \/ ICU atau berkolaborasi dengan dokter lain. Seorang dokter intensivis mampu mengelola pasien sakit kritis dalam kondisi seperti : a) Hemodinamik tidak stabil b) Gangguan atau gagal napas, dengan atau tanpa memerlukan tunjangan ventilasi mekanis c) Gangguan neurologis akut termasuk mengatasi hipertensi intracranial d) Gangguan atau gagal ginjal akut e) Gangguan endokrin dan\/ atau metabolic akut yang mengancam nyawa f) Gangguan nutrisi yang memerlukan tunjangan nutrisi 2) \u00a0Manajemen Unit. Dokter intensivis berpartisipasi aktif dalam aktivitas-aktivitas manajemen unit yang diperlukan untuk memberi pelayanan-pelayanan IRI \/ ICU yang efisien, tepat waktu dan konsisten. Aktivitas-aktivitas tersebut meliputi antara lain : a. Triage, alokasi tempat tidur dan rencana pengeluaran pasien b. Supervisi terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan unit c. Partisipasi pada kegiatan-kegiatan perbaikan kualitas yang berkelanjutan termasuk supervisi koleksi data d. Berinteraksi seperlunya dengan bagian-bagian lain untuk menjamin kelancaran pelayanan di IRI \/ ICU g) Mempertahankan pendidikan berkelanjutan tentang critical care medicine. g. Selalu mengikuti perkembangan mutakhir dengan membaca literature kedokteran h. Berpartisipasi dalam program-program pendidikan dokter berkelanjutan i. Menguasai standar-standar untuk unit critical care. Ada dan bersedia untuk berpartisipasi pada perbaikan kualitas interdisipliner. 2.3. Tenaga Keperawatan IRI \/ ICU harus memiliki jumlah perawat yang cukup dan sebagaian besar terlatih. (diganti) menjadi : jumlah perawat di IRI \/ ICU ditentukan berdasarkan jumlah tempat tidur dan ketersediaan ventilasi mekanik. Perbandingan perawat : pasien 1:1, sedangkan perbandingan perawat : pasien yang tidak menggunakan ventilasi mekanik adalah 1:2. 2.4. Distribusi Ketenagaan NAMA JABATAN KUALIFIKASI FORMAL & INFORMAL \u00a0 FUNGSI JML SDM Ka. Instalasi \u00a0IRI \/ ICU Spesialis anastesiologi Pelatihan ACLS dan BLS Managerial 1 Ka. Perawat \u00a0IRI \/ ICU D3 keperawatan Pelatihan ICU Pelatihan manajemen bangsal Managerial 1 Penanggung jawab shift D3 keperawatan ( masa kerja 5 \u2013 10 tahun ) Bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut Melakukan Administrasi keperawatan &bertanggung jawab\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 terhadap kelancaran\u00a0\u00a0\u00a0 tugas dalam shift 4 Perawat Pelaksana D3 keperawatan Bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut Melakukan tindakan-tindakan keperawatan sesuai SPO 4 \u00a0 2.5. Pengaturan Jaga \/ Jam dinas: Dinas Pagi \u00a0 \u00a0 \u00a0: 07.00-14.00 Dinas Siang \u00a0 \u00a0: 14.00-21.00 Dinas Malam : 21.00-07.00 Dokter spesialis\u00a0\u00a0\u00a0 Anestesiologi\u00a0\u00a0\u00a0 siap\u00a0\u00a0\u00a0 24\u00a0\u00a0\u00a0 jam\u00a0\u00a0\u00a0 menangani\u00a0\u00a0\u00a0 kasus kegawatan \u00a0IRI \/ ICU Dokter spesialis konsulen siap 24 jam menangani kasus kegawatan IRI \/ ICU Tenaga perawat siap 24 jam melayani kasus IRI \/ ICU \u00a0(terjadwal). BAB III - STANDAR FASILITAS 3.1.\u00a0Denah\u00a0(Terlampir) 3.2. Standar Fasilitas. Standar Fasilitas Peralatan IRI \/ ICU . No Jenis Kelengkapan Standar\u00a0 IRI \/ ICU \u00a0primer Jumlah Yg Dimiliki 1 Ventilasi mekanik Sederhana 2 2 Alat hisap ada 2 3 Alat lain ada 2 Standar Alat Keperawatan Di Ruang\u00a0 IRI \/ ICU \u00a0 Standar Linen Bidang Keperawatan Di Ruang IRI \/ ICU Standar Alat Rumah Tangga Bidang Keperawatan Standar Alat Pencatatan Dan Pelaporan Di Ruang\u00a0 IRI\u00a0 ---------------------------------------------------------------------------------------------------- BAB IV -\u00a0TATA LAKSANA PELAYANAN Kriteria Masuk Dan Keluar IRI \/ ICU Sebelum pasien masuk ke\u00a0 IRI \/ ICU , pasien dan\/atau keluarganya harus mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai dasar pertimbangan mengapa pasien harus mendapat perawatan di\u00a0 IRI \/ ICU, serta tindakan kedokteran yang mungkin selama pasien dirawat di\u00a0 IRI \/ ICU . Penjelasan tersebut diberikan oleh kepala\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 atau dokter yang bertugas. Atas penjelasan tersebut pasien dan \/atau keluarganya dapat menerima\/menyatakan persetujuan untuk dirawat di\u00a0 IRI \/ ICU . Persetujuan dinyatakan dengan menandatangani formulir informed consent. Pada keadaan sarana dan prasarana\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 yang terbatas pada suatu Rumah Sakit, diperlukan mekanisme untuk membuat prioritas apabila kebutuhan atau permintaan akan pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 lebih tinggi dari kemampuan pelayanan\u00a0 yang dapat diberikan. Kepala\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 bertanggung jawab atas kesesuaian indikasi perawatan pasien di\u00a0 IRI \/ ICU . Bila kebutuhan pasien masuk\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 melebihi tempat tidur yang tersedia, kepala\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 menetukan kondisi berdasarkan prioritas kondisi medik, pasien mana yang akandirawat di \u00a0IRI \/ ICU . 4.2. Kriteria Masuk 4.2.1. Pasien Dengan Prioritas PRIORITAS 1 Pasien sakit kritis, kondisi tidak stabil yang memerlukan terapi intensif dan monitoring yang tidak bias dilakukan di ruang rawat ianap yang lain Pasien yang memerlukan bantuan ventilator, obat vasoactive kontinu, terapi tidak ARDS, Syok, hemodinamik tidak stabil PRIORITAS 2 Pasien yang memerlukan monitoring ketat dan berpotensi memerlukan Chronic comorbid disease eksaserbasi akut yang berat secara medis atau bedah PRIORITAS 3 Pasien kritis kronik yang cenderung masuk tahap recovery, menjalani terapi untuk kasus akutnya tetapi tidak memerlukan intubasi atau resusitasi jantung paru Keganasan dengan\u00a0\u00a0\u00a0 metastase\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 komplikasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 dengan\u00a0\u00a0\u00a0 infeksi, tamponade jantung atau obstruksi jalan nafas PRIORITAS 4 Pasien yang secara umum tidak perlu masuk ke IRI \/ ICU Tidak banyak keuntungannya di rawat di IRI \/ ICU . Misal : bedah vaskuler perifer, hemodinamik stabil pada ketoasidosis diabetikum, gagal jantung ringan Pasien stase terminal dan irreversible Misal : pada keganasan dengan metastase disertai multi organ failure. 4.2.2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Diagnosis Penyakit Yang Layak Untuk Rawat Di \u00a0IRI \/ ICU Cardiac System Acute myocard infarction with complications Cardiogenic shock Complex arrhythmia Acute congestive heart failure with respiratory failure Hypertensi emergensi Unstable angina,\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 dysrhytmia,\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 hemodinamik\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 instability, persistent chest pain Cardiac arrest Cardiac tamponade\u00a0\u00a0\u00a0 or\u00a0\u00a0\u00a0 constriction\u00a0\u00a0\u00a0 with\u00a0\u00a0\u00a0 hemodynamic instability Dissecting aortic aneurysms Complete heart block Pulmonary System Acute respiratory failure requ IRI \/ ICU ng ventilator support Pulmonary emboli with hemodynamic instability Patient inan intermediate care unit who are demonstrating respiratory deterioration Massive hemoptysis Respiratory failure with imminent intubation Neurologic Disorders Acute stroke with altered mental status Coma metabolic, toxic or antoxic Intracranial hemorrhage with potential for herniation Acute subarachnoid hemorrhage Meningitis with altered mental satatus or respiratory compromise Central nervous system or neuromuscular disorder with deteriorating pulmonary function Status epilepticus Brain dead or potentially brain dead, managed while determining organ donation status Vasospasm Severe head injury Drug Ingestion and drug overdose Hemodinamically unstable drug ingestion Drug ingestion with significantlyaltered mental status with inadequate airway protection Seizures following drug ingestion Gastrointestinal Disorder Life threatening gastrointestinal bleeding Fulminant hepatic failure Severe pancreatitis Esophageal perforation Endocrine Diabestic ketoacidosis complicated by hemodynamic instability, altered mental status, respiratory insufficiency, or severe acidosis Thyroid storm. Mix oedem with hemodynamic instability Coma hyperosmolar state Hypo or hypernatremia with seizure Hypo or hyperkalemia with dysrhytmia or muscular weakness Hypo or\u00a0\u00a0\u00a0 hypermagnesemia\u00a0\u00a0\u00a0 with\u00a0\u00a0 hemodynamic\u00a0\u00a0\u00a0 compromise\u00a0\u00a0\u00a0 or dysrhytmias Hypophosphatemia with muscular weakness Surgical Post operative patients requ IRI \/ ICU ng hemodynamic monitoring\/ventilator support or extensive nursing care Miscellaneous Septic shock with hemodynamic instability Hemodinamic monitoring Environment injuries New\/ experiment therapies with potensial complication 4.2.3. \u00a0Kriteria Keluar Prioritas pasien dipindahkan dari\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 berdasarkan pertimbangan\u00a0 medis oleh kepala\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 dan tim yang merawat pasien. Bila status fisik pasien sudah stabil dan tidak perlu monitoring ketat lebih lama Bila status fisik telah menurun jauh tetapi tidak ada rencana intervensi aktif. 4.3. Persiapan Penerimaan Pasien. 4.3.1. Monitoring Pasien. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan guna mewujudkan pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 yang aman dan mengutamakan keselamatan pasien. Monitoring dan evaluasi dimaksud harus ditindaklanjuti untuk\u00a0 menentukan faktor-faktor yang potensial berpengaruh agar dapat diupayakan penyelesaian yang efektif. Indikator pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 yang digunakan adalah system skor prognosis dan keluaran dari\u00a0 IRI \/ ICU . Sistem\u00a0 skor prognosis dibuat dalam 24 jam pasien masuk ke\u00a0 IRI \/ ICU . Contoh\u00a0\u00a0 \u00a0system\u00a0skor prognosis yang dapat digunakan adalah APACHE II, SOFA skor. Rerata nilai skoring prognosis dalam periode tertentu dibandingkan\u00a0 dengan keluaran aktualnya. Pencapaian yang diharapkan adalah angka mortalitas yang sama atau lebih rendah dari angka mortalitas terhadap rerata nilai scoring prognosis. 4.4. \u00a0Prosedur Medik (Terlampir Di SPO). Pemasangan CVP Intubasi dan perawatannya Ekstubasi Balance cairan Penilaian kematian batang otak Indikasi penggunaan dan penghentian ventilator mekanik Penggunaan ventilator mekanik 4.5. \u00a0Pengunaan Alat Medik (Terlampir Di SPO) Syringe pump Infusion pump Suction Defibrilator 4.6. \u00a0Pencacatan Dan Pelaporan Kegiatan Pelayanan Catatan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 diverifikasi dan ditandatangani oleh dokter yang melakukan pelayanan di\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 dan bertanggung jawab atas semua yang dicatat tersebut. Pencatatan menggunakan status khusus\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 yang meliputi pencatatan lengkap terhadap diagnosis yang menyebabkan dirawat di\u00a0 IRI \/ ICU , data tanda vital, pemantauan fungsi organ khusus (jantung, paru, ginjal dan sebagainya) secara berkala, jenis dan jumlah asupan nutrisi dan cairan, catatan pemberian obat serta jumlah cairan tubuh yang keluar dari pasien. Pelaporan pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 terd IRI \/ ICU\u00a0 dari jenis indikasi pasien masuk serta jumlahnya,\u00a0 system\u00a0 skor\u00a0 prognosis,\u00a0 penggunaan\u00a0 alat\u00a0 bantu\u00a0 (ventilasi \u00a0mekanis,\u00a0hemodialisis, dan sebagainya), lama rawat dan keluaran (hidup atau meninggal) dari \u00a0IRI \/ ICU. BAB V LOGISTIK 5.1. Pengadaan Operasional 5.2. Dll .... ----------------------------------------------------------------------------------------- BAB VI KESELAMATAN PASIEN 6.1. Definisi Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. 6.2. Tujuan. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah Meningkatnya akuntabilitas\u00a0\u00a0\u00a0 rumah\u00a0\u00a0\u00a0 sakit\u00a0\u00a0\u00a0 terhadap\u00a0\u00a0\u00a0 pasien\u00a0\u00a0\u00a0 dan masyarakat. Menurunnya kejadian tidak diharapakan (KTD) di Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak 6.3. Standar Patient Safety Standar keselamatan pasien (patient safety) untuk pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 adalah : Ketepatan Target 100%. Label identitas tidak tepat apabila : Tidak terpasang, salah pasang, salah penulisan nama, salah penulisan gelar (Tn\/Ny\/An), salah jenis kelamin, salah Target 100%. Terpasang gelang identitas pasien rawat inap: Pasien yang masuk ke rawat inap terpasang gelang identitas Komunikasi SBAR Target 100%. Konsul ke dokter via telpon menggunakan metode SBAR Medikasi Ketepatan pemberian :\u00a0Target 100%. Yang dimaksud tidak tepat apabila : salah obat, salah dosis, salah jenis, salah rute pemberian, salah identitas pada etiket, salah pasien. Ketepatan Transfusi : \u00a0Target 100%. Yang dimaksud tidak tepat apabila : salah identitas pada permintaan, salah tulis jenis produk darah, salah pasien Pasien jatuh :\u00a0Target 100%.Tidak ada kejadian pasien jatuh di \u00a0IRI \/ ICU . --------------------------------------------------------------------------------------- BAB VII KESELAMATAN KERJA 7.1. Pengertian Keselamatan kerja merupakan suatu sistem dimana rumah sakit membuat kerja \/ aktifitas karyawan lebih aman. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan pribadi ataupun rumah sakit. 7.2. Tujuan Terciptanya budaya keselamatan kerja di RS Mencegah dan mengurangi Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah 7.3. Tata Laksana Keselamatan Karyawan Setiap petugas medis maupun non medis menjalankan prinsip pencegahan infeksi, yaitu : Menganggap bahwa pasien maupun d IRI \/ ICU nya send IRI \/ ICU dapat\u00a0 menularkan Menggunakan alat pelindung (sarung tangan, kacamata, sepatu boot\/alas kaki tertutup, celemek, masker dll) terutama bila terdapat kontak dengan spesimen pasien yaitu: urin, darah, muntah, sekret, Melakukan perasat yang aman bagi petugas maupun pasien, sesuai prosedur yang ada, mis: memasang kateter, menyuntik, menjahit luka, memasang infus, dll . Mencuci tangan dengan sabun antiseptik sebelum dan sesudah menangani Terdapat tempat sampah infeksius dan non Mengelola alat dengan mengindahkan prinsip sterilitas yaitu : Dekontaminasi dengan larutan klorin Pencucian dengan sabun Pengeringan Menggunakan baju kerja yang Melakukan upaya-upaya medis yang tepat dalam menangani kasus : HIV \/ AIDS (sesuai prinsip pencegahan infeksi). Flu burung Kewaspadaan standar karyawan \/ petugas IRI \/ ICU\u00a0 dalam menghadapi penderita dengan dugaan flu burung adalah : Cuci tangan Cuci tangan dilakukan dibawah air mengalir dengan menggunakan sikat selama \u00b1 5 menit, yaitu dengan menyikat selruh telapak tangan maupun punggung tangan. Hal ini dilakukan sebelum dan sesudah memeriksa Memakai masker N95 atau minimal masker badan Menggunakan pelindung wajah \/ kaca mata goggle (bila diperlukan) Menggunakan apron \/ gaun pelindung Menggunakan sarung tangan Menggunakan pelindung kaki (sepatu boot) Hepatitis B \/ C (sesuai prinsip pencegahan infeksi) ------------------------------------------------------------------------------------------------------ BAB VIII PENGENDALIAN MUTU 8.1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Standar Pelayanan Minimal. Pemberi Pelayanan Intensif. Judul Pemberi Pelayanan Intensif Dimensi Mutu Keselamatan dan Efektifitas Tujuan Kesiapan rumah sakit dalam menyediakan pelayanan intensif Definisi Operasional Pemberi pelayanan intensif adalah dokter spesialis, dokter umum dan perawat yang mempunyai kompetensi sesuai yang dipersyaratkan dalam persyaratan kelas rumah sakit Frekuensi Pengumpulan Data \u00a0 Tiga bulan sekali Periode Analisa Tiga bulan sekali Numerator Jumlah tim yang tersedia Denominator Tidak ada Sumber data Unit Pelayanan Intensif Standar Sesuai dengan ketentuan kelas rumah sakit Penanggung jawab pengumpul data Kepala Instalasi \u00a0IRI \/ ICU \u00a0Indikator mutu lainnya : Ketersediaan Fasilitas Dan Peralatan Ruang IRI \/ ICU Ketersediaan Fasilitas Dan Peralatan Ruang IRI \/ ICU Ketersediaan Tempat Tidur Dengan Monitoring Dan Ventilator Kepatuhan Terhadap Hand Hygiene Kejadian Infeksi Nosokomial Di Ruang IRI \/ ICU Rata-Rata Pasien Yang Kembali Ke Perawatan Intensif Dengan Kasus Yang Sama less than 72 Jam BAB IX - PENUTUP Pedoman pelayanan IRI \/ ICU di rumah sakit ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi seluruh petugas pemberi layanan yang menyelenggarakan pelayanan pada pasien IRI \/ ICU . Berdasarkan klasifikasi sumber daya,sarana, prasarana dan peralatan pelayanan IRI \/ ICU di rumah sakit dapat dikategorikan sebagai IRI \/ ICU primer. Oleh karena itu, rumah sakit diharapkan akan terus mengembangkan pelayanan sesuai dengan ketentuan pedoman standar IRI \/ ICU sesuai dengan situasi dan kondisi yang kondusif bagi setiap program pengembangan layanan IRI \/ ICU di rumah sakit . Sedangkan untuk kelancaran setiap pelaksanaan pelayanan di IRI \/ ICU perlu adanya penjabaran dari pedoman pelayanan dengan penyusunan prosedur tetap di unit layanan IRI \/ ICU sehingga hambatan dalam menjalankan pelaksanaan pelayanan bisa diminimalkan.\", \"Indonesian Female\");\n                }\n            };\n        <\/script>\n    <\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>BAB I PENDAHULUAN<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>1.1. Latar Belakang.<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Instalasi Rawat Intensif (IRI) \/ ICU adalah suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri (instalasi dibawah direktur pelayanan), dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa dengan prognosis dubia. IRI \/ ICU menyediakan kemampuan dan sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi-fungsi vital dengan menggunakan ketrampilan staf medic, perawat dan staf lain yang berpengalaman dalam pengelolaan keadaan-keaadaan tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Kematian pasien yang mengalami pembedahan terbanyak timbul pada saat pasca bedah. Pada sekitar tahun 1860, Florence Nightingale mengusulkan anestesi sampai ke masa pasca bedah. Dimulai sekitar tahun 1942, Mayo Clinic membuat suatu ruangan khusus dimana pasien-pasien pasca bedah dikumpulkan dan diawasi sampai sadar dan stabil fungsi vitalnya, serta bebas dari pengaruh sisa obat anestesi. Keberhasilan unit pulih sadar merupakan awal dipandang perlunya untuk melanjutkan pelayanan serupa tidak pada masa pulih sadar saja, namun juga pada masa pasca bedah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Evolusi IRI\/ICU bermula dari timbulnya wabah poliomelytis di Scandinavia pada sekitar awal tahun 1950, dijumpai kematian yang disebabkan kelumpuhan otot-otot pernafasan. Dokter spesialis antologi yang dipelopori oleh Bj\u00d8rn Ibsen pada waktu itu, melakukan intubasi dan memeberikan bantuan napas secara manual mirip yang dilakukan selama anestesi. Dengan bantuan para mahasiswa kedokteran dan sekelompok sukarelawan mereka mempertahankan pasien poliomelytis bulbar dan bahkan menurunkan mortalitas menjadi sebanyak 40%, disbanding dengan cara sebelumnya yakni penggunaan iron lung yang mortalitasnya sebesar 90%. Pada tahun 1952 Engstrom membuat ventilasi mekanik bertekanan positif yang ternyata sangat efektif member pernafasan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">jangka panjang. Sejak saat itulah Icu dengan perawatan pernapasan mulai terbantuk dan tersebar luas.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Pada saat ini, IRI\/ICU modern tidak terbatas menangani pasien pasca bedah atau ventilasi mekanis saja, namun telah menjadi cabang ilmu sendiri yaitu intensive care medicine.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Ruang lingkup pelayanan meliputi dukungan fungsi organ-organ vital seperti pernapasan, kardiosirkulasi, susunan saraf pusat, ginjal dan lain-lainya, baik pada pasien dewasa ataupun pasien anak.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Rumah sakit sebagai penyedia pelayanan kesehatan mempunyai fungsi rujukan harus dapat memberikan pelayanan IRI\/ICU yang professional dan berkualitas. Dengan mengedepankan keselamatan pasien. Pada instalasi rawat intensif (IRI\/ICU), perawatan untuk pasien dilaksanakan dengan melibatkan berbagai tenaga profesional yang terdiri dari multidisiplin ilmu yang bekerja sama dalam tim. Pengembangan tim mulitidisplin yang kuat sangat penting dalam meningkatkan keselamatan pasien. Selain dukungan itu sarana, prasarana serta peralatan juga diperlukan dalam rangka meningkatkan pelayanan IRI\/ICU. Oleh karena itu, mengingat diperlukanya tenaga khusus, terbatasnya sarana dan prasarana, serta mahalnya peralatan, maka demi efisiensi, keberadaan IRI\/ICU perlu dikonsentrasikan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>1.2. Tujuan Pedoman<\/strong><\/p>\n<p>1.2.1. Tujuan Umum.<br \/>\nMeningkatkan Pelayanan yang bermutu dan mengutamakan keselamatan pasien.<\/p>\n<p>1.2.2. Tujuan Khusus.<br \/>\n1. Memberikan acuan pelaksanaan pelayanan IRI \/ ICU dirumah sakit .<br \/>\n2. Meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien IRI \/ ICU dirumah sakit .<br \/>\n3. Menjadi acuan pengembangan pelayanan IRI \/ ICU dirumah sakit .<\/p>\n<p>1.3. Ruang Lingkup Pelayanan.<br \/>\nPelayanan di Instalasi Rawat Intensif rumah sakit meliputi penanganan kasus IRI \/ ICU , HCU dan penanganan kasus burn unit.<\/p>\n<p>1.4. Batasan Operasional.<br \/>\nPelayanan yang diberikan sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan RS dan Standar Prosedur Operasional.<br \/>\n1. Pelayanan IRI \/ ICU<br \/>\nPelayanan IRI \/ ICU meliputi dukungan fungsi organ-organ vital seperti pernapasan, kardiosirkulasi, susunan saraf pusat, ginjal dan lain-lainya, baik pada pasien dewasa ataupun pasien anak.<br \/>\nPelayanan HCU<br \/>\nPelayanan HCU diberikan kepada pasien dengan kondisi kritis stabil yang membutuhkan pelayanan, pengobatan dan observasi secara ketat.<\/p>\n<p>2. Pelayanan Burn Unit<br \/>\nPelayanan Burn unit diberikan pada pasien dengan luka bakar yang membutuhkan pelayanan dan pengobatan khusus sesuai grade dan luas luka bakar.<\/p>\n<p><strong>1.5. Landasan Hukum<\/strong><br \/>\nDasar hukum yang digunakan dalam penyusunan pedoman ini adalah sebagai berikut :<br \/>\n1. KMK No. 129\/\/MENKES\/SK\/II\/2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal RS<br \/>\n2. PMK No. 1438\/MENKES\/PER\/IX\/2010 Tentang Standar Pelayanan Kedokteran<br \/>\n3. Kepmenkes RI No 004\/Menkes\/SK\/I\/2003 Tentang Kebijakan Dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan.<br \/>\n4. Undang-Undang No.44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.<br \/>\n5. Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan<\/p>\n<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><br \/>\n<strong>BAB II STANDAR KETENAGAAN<\/strong><\/p>\n<p>2.1. Kualifikasi Sumber Daya manusia.<br \/>\nKualifikasi tenaga kesehatan yang bekerja di IRI \/ ICU harus mempunyai pengetahuan yang memadai, mempunyai ketrampilan yang sesuai dan mempunyai komitmen terhadap waktu.<\/p>\n<p>2.2. Tenaga Medis.<br \/>\nSeorang dokter intensivis adalah seorang dokter yang memenuhi standar kompetensi berikut :<\/p>\n<ul>\n<li>a. Terdidik dan bersertifikat sebagai seorang spesialis anastesiologi melalui program pelatihan dan pendidikan yang diakui oleh perhimpunan profesi yang terkait.<\/li>\n<li>b. Menunjang kualitas pelayanan IRI \/ ICU dan menggunakan sumber daya IRI \/ ICU secara efesien<\/li>\n<li>c. Mendarmabaktikan lebih dari 50% waktu profesinya dalam pelayanan IRI \/ ICU<\/li>\n<li>d. Bersedia berpartisipasi dalam suatu unit yang memberikan pelayanan 24 jam\/hari, 7 hari\/minggu<\/li>\n<li>e. Mampu melakukan prosedur critical care, antara lain :\n<ul>\n<li>1) Sampel darah arteri<\/li>\n<li>2) Memasang dan mempertahankan jalan napas termasuk intubasi trakeal, trakeostomi perkutan dan ventilasi mekanis<\/li>\n<li>3) Mengambil kateter intravaskuler untk monitoring invasive maupun terapi invasif\u00a0misalnya; peralatan monitoring, termasuk :\u00a0a. Kateter vena central (CVP)<\/li>\n<li>4) Resusitasi jantung paru<\/li>\n<li>5) Pipa torakostomi<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>f. Melaksanakan dua peran utama :<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 60px; text-align: justify;\">1) Pengelolaan pasien<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px; text-align: justify;\">Mampu berperan sebagai pemimpin tim dalam memberikan pelayanan di IRI \/ ICU , menggabungkan dan melakukan titrasi pelayanan pada pasien penyakit kompleks atau cedera termasuk gagal organ multi-sistem. Dalam mengelola pasien, dokter intensivis dapat mengelola send IRI \/ ICU atau berkolaborasi dengan dokter lain. Seorang dokter intensivis mampu mengelola pasien sakit kritis dalam kondisi seperti :<br \/>\na) Hemodinamik tidak stabil<br \/>\nb) Gangguan atau gagal napas, dengan atau tanpa memerlukan tunjangan ventilasi mekanis<br \/>\nc) Gangguan neurologis akut termasuk mengatasi hipertensi intracranial<br \/>\nd) Gangguan atau gagal ginjal akut<br \/>\ne) Gangguan endokrin dan\/ atau metabolic akut yang mengancam nyawa<br \/>\nf) Gangguan nutrisi yang memerlukan tunjangan nutrisi<\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px; text-align: justify;\">2) \u00a0Manajemen Unit.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px; text-align: justify;\">Dokter intensivis berpartisipasi aktif dalam aktivitas-aktivitas manajemen unit yang diperlukan untuk memberi pelayanan-pelayanan IRI \/ ICU yang efisien, tepat waktu dan konsisten. Aktivitas-aktivitas tersebut meliputi antara lain :<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px; text-align: justify;\">a. Triage, alokasi tempat tidur dan rencana pengeluaran pasien<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px; text-align: justify;\">b. Supervisi terhadap pelaksanaan kebijakan-kebijakan unit<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px; text-align: justify;\">c. Partisipasi pada kegiatan-kegiatan perbaikan kualitas yang berkelanjutan termasuk supervisi koleksi data<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px; text-align: justify;\">d. Berinteraksi seperlunya dengan bagian-bagian lain untuk menjamin kelancaran pelayanan di IRI \/ ICU<\/p>\n<p style=\"padding-left: 90px; text-align: justify;\">g) Mempertahankan pendidikan berkelanjutan tentang critical care medicine.<\/p>\n<ul>\n<li>g. Selalu mengikuti perkembangan mutakhir dengan membaca literature kedokteran<\/li>\n<li>h. Berpartisipasi dalam program-program pendidikan dokter berkelanjutan<\/li>\n<li>i. Menguasai standar-standar untuk unit critical care. Ada dan bersedia untuk berpartisipasi pada perbaikan kualitas interdisipliner.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>2.3. Tenaga Keperawatan<\/strong><br \/>\nIRI \/ ICU harus memiliki jumlah perawat yang cukup dan sebagaian besar terlatih. (diganti) menjadi : jumlah perawat di IRI \/ ICU ditentukan berdasarkan jumlah tempat tidur dan ketersediaan ventilasi mekanik. Perbandingan perawat : pasien 1:1, sedangkan perbandingan perawat : pasien yang tidak menggunakan ventilasi mekanik adalah 1:2.<\/p>\n<p><strong>2.4. Distribusi Ketenagaan<\/strong><\/p>\n<table style=\"height: 740px;\" width=\"732\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"140\"><strong>NAMA JABATAN<\/strong><\/td>\n<td width=\"151\"><strong>KUALIFIKASI FORMAL &amp; INFORMAL<\/strong><\/td>\n<td width=\"132\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>FUNGSI<\/strong><\/td>\n<td width=\"57\"><strong>JML SDM<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"140\">Ka. Instalasi \u00a0IRI \/ ICU<\/td>\n<td width=\"151\">Spesialis anastesiologi Pelatihan ACLS dan BLS<\/td>\n<td width=\"132\">Managerial<\/td>\n<td width=\"57\">1<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"140\">Ka. Perawat \u00a0IRI \/ ICU<\/td>\n<td width=\"151\">D3 keperawatan Pelatihan ICU Pelatihan manajemen bangsal<\/td>\n<td width=\"132\">Managerial<\/td>\n<td width=\"57\">1<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"140\">Penanggung jawab shift<\/td>\n<td width=\"151\">D3 keperawatan ( masa kerja 5 \u2013 10 tahun )<\/p>\n<p>Bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut<\/td>\n<td width=\"132\">Melakukan Administrasi keperawatan &amp;bertanggung jawab\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 terhadap kelancaran\u00a0\u00a0\u00a0 tugas dalam shift<\/td>\n<td width=\"57\">4<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"140\">Perawat Pelaksana<\/td>\n<td width=\"151\">D3 keperawatan Bantuan hidup dasar dan bantuan hidup lanjut<\/td>\n<td width=\"132\">Melakukan tindakan-tindakan keperawatan sesuai SPO<\/td>\n<td width=\"57\">4<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>2.5. Pengaturan Jaga \/ <\/strong><\/p>\n<p>Jam dinas:<\/p>\n<ol>\n<li>Dinas Pagi \u00a0 \u00a0 \u00a0: 07.00-14.00<\/li>\n<li>Dinas Siang \u00a0 \u00a0: 14.00-21.00<\/li>\n<li>Dinas Malam : 21.00-07.00<\/li>\n<li>Dokter spesialis\u00a0\u00a0\u00a0 Anestesiologi\u00a0\u00a0\u00a0 siap\u00a0\u00a0\u00a0 24\u00a0\u00a0\u00a0 jam\u00a0\u00a0\u00a0 menangani\u00a0\u00a0\u00a0 kasus kegawatan \u00a0IRI \/ ICU<\/li>\n<li>Dokter spesialis konsulen siap 24 jam menangani kasus kegawatan IRI \/ ICU<\/li>\n<li>Tenaga perawat siap 24 jam melayani kasus IRI \/ ICU \u00a0(terjadwal).<\/li>\n<\/ol>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><br \/>\n<strong>BAB III &#8211; STANDAR FASILITAS<\/strong><\/p>\n<p><strong>3.1.\u00a0<\/strong><strong>Denah\u00a0<\/strong>(Terlampir)<\/p>\n<p><strong>3.2. Standar Fasilitas.<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><strong>Standar Fasilitas Peralatan IRI \/ ICU .<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<table style=\"height: 314px;\" width=\"716\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"38\">\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>No<\/strong><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"216\"><strong>Jenis Kelengkapan<\/strong><\/td>\n<td width=\"95\"><strong>Standar\u00a0 IRI \/ ICU \u00a0primer<\/strong><\/td>\n<td width=\"190\"><strong>Jumlah Yg Dimiliki<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"38\">\n<p style=\"text-align: center;\">1<\/p>\n<\/td>\n<td width=\"216\">Ventilasi mekanik<\/td>\n<td width=\"95\">\n<p style=\"text-align: center;\">Sederhana<\/p>\n<\/td>\n<td width=\"190\">\n<p style=\"text-align: center;\">2<\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"38\">\n<p style=\"text-align: center;\">2<\/p>\n<\/td>\n<td width=\"216\">Alat hisap<\/td>\n<td width=\"95\">\n<p style=\"text-align: center;\">ada<\/p>\n<\/td>\n<td width=\"190\">\n<p style=\"text-align: center;\">2<\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"38\">\n<p style=\"text-align: center;\">3<\/p>\n<\/td>\n<td width=\"216\">Alat lain<\/td>\n<td width=\"95\">\n<p style=\"text-align: center;\">ada<\/p>\n<\/td>\n<td width=\"190\">\n<p style=\"text-align: center;\">2<\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Standar Alat Keperawatan Di Ruang\u00a0 IRI \/ ICU \u00a0<\/strong><\/li>\n<li><strong>Standar Linen Bidang Keperawatan Di Ruang IRI \/ ICU<\/strong><\/li>\n<li><strong>Standar Alat Rumah Tangga Bidang Keperawatan <\/strong><\/li>\n<li><strong>Standar Alat Pencatatan Dan Pelaporan Di Ruang\u00a0 IRI\u00a0<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<\/strong><br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><br \/>\n<strong>BAB IV &#8211;\u00a0<\/strong><strong>TATA LAKSANA PELAYANAN<\/strong><\/p>\n<p><strong>Kriteria Masuk Dan Keluar IRI \/ ICU<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum pasien masuk ke\u00a0 IRI \/ ICU , pasien dan\/atau keluarganya harus mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai dasar pertimbangan mengapa pasien harus mendapat perawatan di\u00a0 IRI \/ ICU, serta tindakan kedokteran yang mungkin selama pasien dirawat di\u00a0 IRI \/ ICU . Penjelasan tersebut diberikan oleh kepala\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 atau dokter yang bertugas. Atas penjelasan tersebut pasien dan \/atau keluarganya dapat menerima\/menyatakan persetujuan untuk dirawat di\u00a0 IRI \/ ICU . Persetujuan dinyatakan dengan menandatangani formulir <em>informed consent<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada keadaan sarana dan prasarana\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 yang terbatas pada suatu Rumah Sakit, diperlukan mekanisme untuk membuat prioritas apabila kebutuhan atau permintaan akan pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 lebih tinggi dari kemampuan pelayanan\u00a0 yang dapat diberikan. Kepala\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 bertanggung jawab atas kesesuaian indikasi perawatan pasien di\u00a0 IRI \/ ICU . Bila kebutuhan pasien masuk\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 melebihi tempat tidur yang tersedia, kepala\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 menetukan kondisi berdasarkan prioritas kondisi medik, pasien mana yang akandirawat di \u00a0IRI \/ ICU .<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>4.2. Kriteria Masuk<\/strong><\/p>\n<p><strong>4.2.1. Pasien Dengan Prioritas<\/strong><\/p>\n<p>PRIORITAS 1<\/p>\n<ul>\n<li>Pasien sakit kritis, kondisi tidak stabil yang memerlukan terapi intensif dan monitoring yang tidak bias dilakukan di ruang rawat ianap yang lain\n<ul>\n<li>Pasien yang memerlukan bantuan ventilator, obat vasoactive kontinu, terapi tidak<\/li>\n<li>ARDS, Syok, hemodinamik tidak stabil PRIORITAS 2<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Pasien yang memerlukan monitoring ketat dan berpotensi memerlukan\n<ul>\n<li>Chronic comorbid disease eksaserbasi akut yang berat secara medis atau bedah<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>PRIORITAS 3<\/p>\n<ul>\n<li>Pasien kritis kronik yang cenderung masuk tahap recovery, menjalani terapi untuk kasus akutnya tetapi tidak memerlukan intubasi atau resusitasi jantung paru\n<ul>\n<li>Keganasan dengan\u00a0\u00a0\u00a0 metastase\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 komplikasi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 dengan\u00a0\u00a0\u00a0 infeksi, tamponade jantung atau obstruksi jalan nafas<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>PRIORITAS 4<\/p>\n<ul>\n<li>Pasien yang secara umum tidak perlu masuk ke IRI \/ ICU\n<ul>\n<li>Tidak banyak keuntungannya di rawat di IRI \/ ICU .<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">Misal : bedah vaskuler perifer, hemodinamik stabil pada ketoasidosis diabetikum, gagal jantung ringan<\/p>\n<ul>\n<li>Pasien stase terminal dan irreversible<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">Misal : pada keganasan dengan metastase disertai multi organ failure.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>4.2.2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Diagnosis Penyakit Yang Layak Untuk Rawat Di \u00a0IRI \/ ICU<\/p>\n<ol>\n<li>Cardiac System\n<ul>\n<li>Acute myocard infarction with complications<\/li>\n<li>Cardiogenic shock<\/li>\n<li>Complex arrhythmia<\/li>\n<li>Acute congestive heart failure with respiratory failure<\/li>\n<li>Hypertensi emergensi<\/li>\n<li>Unstable angina,\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 dysrhytmia,\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 hemodinamik\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 instability, persistent chest pain<\/li>\n<li>Cardiac arrest<\/li>\n<li>Cardiac tamponade\u00a0\u00a0\u00a0 or\u00a0\u00a0\u00a0 constriction\u00a0\u00a0\u00a0 with\u00a0\u00a0\u00a0 hemodynamic instability<\/li>\n<li>Dissecting aortic aneurysms<\/li>\n<li>Complete heart block<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Pulmonary System\n<ul>\n<li>Acute respiratory failure requ IRI \/ ICU ng ventilator support<\/li>\n<li>Pulmonary emboli with hemodynamic instability<\/li>\n<li>Patient inan intermediate care unit who are demonstrating respiratory deterioration<\/li>\n<li>Massive hemoptysis<\/li>\n<li>Respiratory failure with imminent intubation<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"3\">\n<li>Neurologic Disorders\n<ul>\n<li>Acute stroke with altered mental status<\/li>\n<li>Coma metabolic, toxic or antoxic<\/li>\n<li>Intracranial hemorrhage with potential for herniation<\/li>\n<li>Acute subarachnoid hemorrhage<\/li>\n<li>Meningitis with altered mental satatus or respiratory compromise<\/li>\n<li>Central nervous system or neuromuscular disorder with deteriorating pulmonary function<\/li>\n<li>Status epilepticus<\/li>\n<li>Brain dead or potentially brain dead, managed while determining organ donation status<\/li>\n<li>Vasospasm<\/li>\n<li>Severe head injury<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Drug Ingestion and drug overdose\n<ul>\n<li>Hemodinamically unstable drug ingestion<\/li>\n<li>Drug ingestion with significantlyaltered mental status with inadequate airway protection<\/li>\n<li>Seizures following drug ingestion<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Gastrointestinal Disorder\n<ul>\n<li>Life threatening gastrointestinal bleeding<\/li>\n<li>Fulminant hepatic failure<\/li>\n<li>Severe pancreatitis<\/li>\n<li>Esophageal perforation<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Endocrine\n<ul>\n<li>Diabestic ketoacidosis complicated by hemodynamic instability, altered mental status, respiratory insufficiency, or severe acidosis<\/li>\n<li>Thyroid storm. Mix oedem with hemodynamic instability<\/li>\n<li>Coma hyperosmolar state<\/li>\n<li>Hypo or hypernatremia with seizure<\/li>\n<li>Hypo or hyperkalemia with dysrhytmia or muscular weakness<\/li>\n<li>Hypo or\u00a0\u00a0\u00a0 hypermagnesemia\u00a0\u00a0\u00a0 with\u00a0\u00a0 hemodynamic\u00a0\u00a0\u00a0 compromise\u00a0\u00a0\u00a0 or dysrhytmias<\/li>\n<li>Hypophosphatemia with muscular weakness<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"7\">\n<li>Surgical\n<ul>\n<li>Post operative patients requ IRI \/ ICU ng hemodynamic monitoring\/ventilator support or extensive nursing care<\/li>\n<li><\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Miscellaneous\n<ul>\n<li>Septic shock with hemodynamic instability<\/li>\n<li>Hemodinamic monitoring<\/li>\n<li>Environment injuries<\/li>\n<li>New\/ experiment therapies with potensial complication<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>4.2.3. \u00a0Kriteria Keluar<\/strong><\/p>\n<p>Prioritas pasien dipindahkan dari\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 berdasarkan pertimbangan\u00a0 medis oleh kepala\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 dan tim yang merawat pasien.<\/p>\n<ul>\n<li>Bila status fisik pasien sudah stabil dan tidak perlu monitoring ketat lebih lama<\/li>\n<li>Bila status fisik telah menurun jauh tetapi tidak ada rencana intervensi aktif.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>4.3. Persiapan Penerimaan Pasien.<\/strong><\/p>\n<p><strong>4.3.1. Monitoring Pasien.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan guna mewujudkan pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 yang aman dan mengutamakan keselamatan pasien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Monitoring dan evaluasi dimaksud harus ditindaklanjuti untuk\u00a0 menentukan faktor-faktor yang potensial berpengaruh agar dapat diupayakan penyelesaian yang efektif. Indikator pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 yang digunakan adalah system skor prognosis dan keluaran dari\u00a0 IRI \/ ICU . Sistem\u00a0 skor prognosis dibuat dalam 24 jam pasien masuk ke\u00a0 IRI \/ ICU . Contoh\u00a0\u00a0 \u00a0system\u00a0skor prognosis yang dapat digunakan adalah APACHE II, SOFA skor. Rerata nilai skoring prognosis dalam periode tertentu dibandingkan\u00a0 dengan keluaran aktualnya. Pencapaian yang diharapkan adalah angka mortalitas yang sama atau lebih rendah dari angka mortalitas terhadap rerata nilai scoring prognosis.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>4.4. \u00a0Prosedur Medik (Terlampir Di SPO).<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Pemasangan CVP<\/li>\n<li>Intubasi dan perawatannya<\/li>\n<li>Ekstubasi<\/li>\n<li>Balance cairan<\/li>\n<li>Penilaian kematian batang otak<\/li>\n<li>Indikasi penggunaan dan penghentian ventilator mekanik<\/li>\n<li>Penggunaan ventilator mekanik<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>4.5. \u00a0Pengunaan Alat Medik (Terlampir Di SPO)<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Syringe pump<\/li>\n<li>Infusion pump<\/li>\n<li>Suction<\/li>\n<li>Defibrilator<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>4.6. \u00a0Pencacatan Dan Pelaporan Kegiatan Pelayanan<\/strong><\/p>\n<p>Catatan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 diverifikasi dan ditandatangani oleh dokter yang melakukan pelayanan di\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 dan bertanggung jawab atas semua yang dicatat tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pencatatan menggunakan status khusus\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 yang meliputi pencatatan lengkap terhadap diagnosis yang menyebabkan dirawat di\u00a0 IRI \/ ICU , data tanda vital, pemantauan fungsi organ khusus (jantung, paru, ginjal dan sebagainya) secara berkala, jenis dan jumlah asupan nutrisi dan cairan, catatan pemberian obat serta jumlah cairan tubuh yang keluar dari pasien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelaporan pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 terd IRI \/ ICU\u00a0 dari jenis indikasi pasien masuk serta jumlahnya,\u00a0 system\u00a0 skor\u00a0 prognosis,\u00a0 penggunaan\u00a0 alat\u00a0 bantu\u00a0 (ventilasi \u00a0mekanis,\u00a0hemodialisis, dan sebagainya), lama rawat dan keluaran (hidup atau meninggal) dari \u00a0IRI \/ ICU.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><br \/>\n<strong>BAB V LOGISTIK<\/strong><\/p>\n<p>5.1. Pengadaan Operasional<\/p>\n<p>5.2. Dll &#8230;.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><br \/>\n<strong>BAB VI KESELAMATAN PASIEN<\/strong><\/p>\n<p>6.1. Definisi<\/p>\n<p>Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.<\/p>\n<p>6.2. Tujuan.<\/p>\n<ul>\n<li>Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah<\/li>\n<li>Meningkatnya akuntabilitas\u00a0\u00a0\u00a0 rumah\u00a0\u00a0\u00a0 sakit\u00a0\u00a0\u00a0 terhadap\u00a0\u00a0\u00a0 pasien\u00a0\u00a0\u00a0 dan masyarakat.<\/li>\n<li>Menurunnya kejadian tidak diharapakan (KTD) di<\/li>\n<li>Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian tidak<\/li>\n<\/ul>\n<p>6.3. Standar Patient Safety<\/p>\n<p>Standar keselamatan pasien (patient safety) untuk pelayanan\u00a0 IRI \/ ICU\u00a0 adalah :<\/p>\n<ol>\n<li>Ketepatan\n<ul>\n<li>Target 100%. Label identitas tidak tepat apabila : Tidak terpasang, salah pasang, salah penulisan nama, salah penulisan gelar (Tn\/Ny\/An), salah jenis kelamin, salah<\/li>\n<li>Target 100%. Terpasang gelang identitas pasien rawat inap: Pasien yang masuk ke rawat inap terpasang gelang identitas<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Komunikasi SBAR\n<ul>\n<li>Target 100%. Konsul ke dokter via telpon menggunakan metode SBAR<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Medikasi\n<ul>\n<li>Ketepatan pemberian :\u00a0Target 100%. Yang dimaksud tidak tepat apabila : salah obat, salah dosis, salah jenis, salah rute pemberian, salah identitas pada etiket, salah pasien.<\/li>\n<li>Ketepatan Transfusi : \u00a0Target 100%. Yang dimaksud tidak tepat apabila : salah identitas pada permintaan, salah tulis jenis produk darah, salah pasien<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"4\">\n<li>Pasien jatuh :\u00a0Target 100%.Tidak ada kejadian pasien jatuh di \u00a0IRI \/ ICU .<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><br \/>\n<strong>BAB VII KESELAMATAN KERJA<\/strong><\/p>\n<p>7.1. Pengertian<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keselamatan kerja merupakan suatu sistem dimana rumah sakit membuat kerja \/ aktifitas karyawan lebih aman. Sistem tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan pribadi ataupun rumah sakit.<\/p>\n<p>7.2. Tujuan<\/p>\n<ol>\n<li>Terciptanya budaya keselamatan kerja di RS<\/li>\n<li>Mencegah dan mengurangi<\/li>\n<li>Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses<\/li>\n<li>Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah<\/li>\n<\/ol>\n<p>7.3. Tata Laksana Keselamatan Karyawan<\/p>\n<p>Setiap petugas medis maupun non medis menjalankan prinsip pencegahan infeksi, yaitu :<\/p>\n<ol>\n<li>Menganggap bahwa pasien maupun d IRI \/ ICU nya send IRI \/ ICU dapat\u00a0 menularkan<\/li>\n<li>Menggunakan alat pelindung (sarung tangan, kacamata, sepatu boot\/alas kaki tertutup, celemek, masker dll) terutama bila terdapat kontak dengan spesimen pasien yaitu: urin, darah, muntah, sekret,<\/li>\n<li>Melakukan perasat yang aman bagi petugas maupun pasien, sesuai prosedur yang ada, mis: memasang kateter, menyuntik, menjahit luka, memasang infus, dll .<\/li>\n<li>Mencuci tangan dengan sabun antiseptik sebelum dan sesudah menangani<\/li>\n<li>Terdapat tempat sampah infeksius dan non<\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"6\">\n<li>Mengelola alat dengan mengindahkan prinsip sterilitas yaitu :\n<ol>\n<li>Dekontaminasi dengan larutan klorin<\/li>\n<li>Pencucian dengan sabun<\/li>\n<li>Pengeringan<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<li>Menggunakan baju kerja yang<\/li>\n<li>Melakukan upaya-upaya medis yang tepat dalam menangani kasus :\n<ol>\n<li>HIV \/ AIDS (sesuai prinsip pencegahan infeksi).<\/li>\n<li>Flu burung<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<li>Kewaspadaan standar karyawan \/ petugas IRI \/ ICU\u00a0 dalam menghadapi penderita dengan dugaan flu burung adalah :<\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li>Cuci tangan<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">Cuci tangan dilakukan dibawah air mengalir dengan menggunakan sikat selama \u00b1 5 menit, yaitu dengan menyikat selruh telapak tangan maupun punggung tangan.<\/p>\n<ul>\n<li>Hal ini dilakukan sebelum dan sesudah memeriksa<\/li>\n<li>Memakai masker N95 atau minimal masker badan<\/li>\n<li>Menggunakan pelindung wajah \/ kaca mata goggle (bila diperlukan)<\/li>\n<li>Menggunakan apron \/ gaun pelindung<\/li>\n<li>Menggunakan sarung tangan<\/li>\n<li>Menggunakan pelindung kaki (sepatu boot)<\/li>\n<li>Hepatitis B \/ C (sesuai prinsip pencegahan infeksi)<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br \/>\n<iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><br \/>\n<strong>BAB VIII PENGENDALIAN MUTU<\/strong><\/p>\n<p><strong>8.1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Standar Pelayanan Minimal.<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Pemberi Pelayanan Intensif.<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<table style=\"height: 831px;\" width=\"724\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"123\"><strong>Judul<\/strong><\/td>\n<td width=\"453\"><strong>Pemberi Pelayanan Intensif<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Dimensi Mutu<\/td>\n<td width=\"453\">Keselamatan dan Efektifitas<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Tujuan<\/td>\n<td width=\"453\">Kesiapan rumah sakit dalam menyediakan pelayanan intensif<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Definisi Operasional<\/td>\n<td width=\"453\">Pemberi pelayanan intensif adalah dokter spesialis, dokter umum dan perawat yang mempunyai kompetensi sesuai yang dipersyaratkan dalam persyaratan kelas rumah sakit<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Frekuensi Pengumpulan Data<\/td>\n<td width=\"453\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Tiga bulan sekali<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Periode Analisa<\/td>\n<td width=\"453\">Tiga bulan sekali<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Numerator<\/td>\n<td width=\"453\">Jumlah tim yang tersedia<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Denominator<\/td>\n<td width=\"453\">Tidak ada<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Sumber data<\/td>\n<td width=\"453\">Unit Pelayanan Intensif<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Standar<\/td>\n<td width=\"453\">Sesuai dengan ketentuan kelas rumah sakit<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"123\">Penanggung jawab pengumpul data<\/td>\n<td width=\"453\">Kepala Instalasi \u00a0IRI \/ ICU<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>\u00a0Indikator mutu lainnya :<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li><strong>Ketersediaan Fasilitas Dan Peralatan Ruang IRI \/ ICU<\/strong><\/li>\n<li>Ketersediaan Fasilitas Dan Peralatan Ruang IRI \/ ICU<\/li>\n<li>Ketersediaan Tempat Tidur Dengan Monitoring Dan Ventilator<\/li>\n<li>Kepatuhan Terhadap Hand Hygiene<\/li>\n<li>Kejadian Infeksi Nosokomial Di Ruang IRI \/ ICU<\/li>\n<li>Rata-Rata Pasien Yang Kembali Ke Perawatan Intensif Dengan Kasus Yang Sama &lt; 72 Jam<\/li>\n<\/ul>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><br \/>\n<strong>BAB IX &#8211; PENUTUP<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pedoman pelayanan IRI \/ ICU di rumah sakit ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi seluruh petugas pemberi layanan yang menyelenggarakan pelayanan pada pasien IRI \/ ICU . Berdasarkan klasifikasi sumber daya,sarana, prasarana dan peralatan pelayanan IRI \/ ICU di rumah sakit dapat dikategorikan sebagai IRI \/ ICU primer.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oleh karena itu, rumah sakit diharapkan akan terus mengembangkan pelayanan sesuai dengan ketentuan pedoman standar IRI \/ ICU sesuai dengan situasi dan kondisi yang kondusif bagi setiap program pengembangan layanan IRI \/ ICU di rumah sakit .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedangkan untuk kelancaran setiap pelaksanaan pelayanan di IRI \/ ICU perlu adanya penjabaran dari pedoman pelayanan dengan penyusunan prosedur tetap di unit layanan IRI \/ ICU sehingga hambatan dalam menjalankan pelaksanaan pelayanan bisa diminimalkan.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" src=\"http:\/\/akreditasi.web.id\/2012\/ga2.html\" width=\"620\" height=\"80\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" width=\"683\" height=\"384\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/VBRpS-uudoA\" title=\"Manajemen ICU\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" width=\"683\" height=\"384\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/3Rnvz3Umjes\" title=\"Introduction to ICU Training Video\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" width=\"683\" height=\"384\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/dDxXAX55GTY\" title=\"Tips Menjadi Perawat PERINA\/PICU\/NICU yang Handal | #perina #picu #nicu\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" width=\"683\" height=\"384\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/aGSGsRyVREg\" title=\"Rutinitas sehari hari di tempat kerja||Rumah sakit ruang bayi(nicu)\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" width=\"683\" height=\"384\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/AQ-LMddBprA\" title=\"WEBINAR TATALAKSANA ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN COVID 19 DI PICU | FASTE\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_4271\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"4271\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Instalasi Rawat Intensif (IRI) \/ ICU adalah suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri (instalasi dibawah direktur pelayanan), dengan staf yang khusus dan perlengkapan <a class=\"more-link\" href=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/\">Continue Reading &rarr;<\/a><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_4271\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"4271\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[152],"tags":[29,226],"class_list":["post-4271","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pedoman-pelayanan","tag-icu","tag-rawat-intensive"],"a3_pvc":{"activated":true,"total_views":18923,"today_views":0},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \/ ICU - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"pedoman pelayanan instalasi rawat intensif , untuk akreditasi rumah sakit kemenkes\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \/ ICU - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"pedoman pelayanan instalasi rawat intensif , untuk akreditasi rumah sakit kemenkes\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/akreditasirumahsakit\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-01-01T13:17:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-10-06T15:28:44+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"13 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6\"},\"headline\":\"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \\\/ ICU\",\"datePublished\":\"2016-01-01T13:17:50+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-06T15:28:44+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\\\/\"},\"wordCount\":2793,\"keywords\":[\"icu\",\"Rawat Intensive\"],\"articleSection\":[\"Pedoman Pelayanan\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\\\/\",\"name\":\"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \\\/ ICU - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2016-01-01T13:17:50+00:00\",\"dateModified\":\"2022-10-06T15:28:44+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6\"},\"description\":\"pedoman pelayanan instalasi rawat intensif , untuk akreditasi rumah sakit kemenkes\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \\\/ ICU\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/\",\"name\":\"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID\",\"description\":\"Pedoman, Panduan, Kebijakan, SPO, TOR, dan lain-lain - Bantu Pembiayaan Web ini dengan KLIK IKLAN .\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6\",\"name\":\"admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g\",\"caption\":\"admin\"},\"url\":\"http:\\\/\\\/snars.web.id\\\/rs\\\/author\\\/admin-2\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \/ ICU - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","description":"pedoman pelayanan instalasi rawat intensif , untuk akreditasi rumah sakit kemenkes","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \/ ICU - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","og_description":"pedoman pelayanan instalasi rawat intensif , untuk akreditasi rumah sakit kemenkes","og_url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/","og_site_name":"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/akreditasirumahsakit\/","article_published_time":"2016-01-01T13:17:50+00:00","article_modified_time":"2022-10-06T15:28:44+00:00","author":"admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin","Est. reading time":"13 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/"},"author":{"name":"admin","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6"},"headline":"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \/ ICU","datePublished":"2016-01-01T13:17:50+00:00","dateModified":"2022-10-06T15:28:44+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/"},"wordCount":2793,"keywords":["icu","Rawat Intensive"],"articleSection":["Pedoman Pelayanan"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/","url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/","name":"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \/ ICU - STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","isPartOf":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#website"},"datePublished":"2016-01-01T13:17:50+00:00","dateModified":"2022-10-06T15:28:44+00:00","author":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6"},"description":"pedoman pelayanan instalasi rawat intensif , untuk akreditasi rumah sakit kemenkes","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/pedoman-pelayanan-instalasi-rawat-intensif\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI RAWAT INTENSIF \/ ICU"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#website","url":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/","name":"STARKES 2024- Akreditasi RS Indonesia - SNARS.WEB.ID","description":"Pedoman, Panduan, Kebijakan, SPO, TOR, dan lain-lain - Bantu Pembiayaan Web ini dengan KLIK IKLAN .","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/snars.web.id\/rs\/#\/schema\/person\/ce28c97f238741fb79cb044fca84a5c6","name":"admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/39743362541c0f9957f02959d6d2b35af8c323b93d621a9de42faae3d2a5e6d0?s=96&r=g","caption":"admin"},"url":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/author\/admin-2\/"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4271","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4271"}],"version-history":[{"count":10,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4271\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6778,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4271\/revisions\/6778"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4271"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4271"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/snars.web.id\/rs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4271"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}